Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.
Suatu hari keduanya bertemu.
Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.
Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.
Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.
Apakah pria itu akan berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab dua belas.
"Jadi... apa yang kau lakukan di sini, Alya?"
Pertanyaan Maxime membuat Alya terdiam sejenak. Ia tidak menyangka jika pria itu akan tahu secepat ini.
Alya tetap berusaha terlihat tenang. Ia mengangkat wajahnya, menatap tuannya dengan sorot mata yang tegas.
"Saya bekerja di sini, Tuan." jawabnya.
"Sejak kapan?"
"Sejak satu minggu yang lalu, Tuan."
"Kenapa kau tidak izin padaku terlebih dahulu?" tanya Maxime lagi, sedikit meninggikan suaranya.
"Hmm... apa saya harus izin?" Alya malah balik bertanya karena tidak mengerti.
"Ya. Tentu saja kau harus izin padaku. Kau kan bekerja untukku." jelas Maxime dingin.
"Hmm... maaf, Tuan. Saya tidak tahu tentang hal itu sebelumnya." jawab Alya pelan. "Lain kali-"
"Tidak ada lain kali." potong Max cepat, bahkan sebelum Alya menyelesaikan perkataannya. "Kau harus berhenti dari pekerjaan ini, hari ini juga." perintahnya paksa.
Alya mengernyit.
"Kenapa saya harus berhenti bekerja? Saya kan tidak membuat kesalahan apa-apa." ucap Alya heran.
"Ya karena... hmm... karena..." Maxime baru sadar jika ia juga tak tahu kenapa.
Ia mencari-cari alasan yang logis. lalu menatap tajam ke arah gadis itu. "Karena aku majikanmu." jawabnya asal dengan nada tegas.
"Uuu... Sepertinya pembicaraan ini mulai serius." Jonathan yang sejak tadi menjadi pendengar, tiba-tiba ikut berbicara.
Namun, Maxime mengabaikannya. Tatapannya tetap fokus pada Alya, yang ternyata berani beradu argument dengannya.
"Anda memang majikan saya jika di rumah, tapi tidak di sini. Lagipula saya tidak melakukan kesalahan apa-apa. Pekerjaan saya di rumah juga selesai dengan baik. Saya juga selalu datang tepat waktu dan pulang pada jam yang sudah ditentukan." jelas Alya, berusaha untuk membela diri. "Lantas, apa yang membuat saya harus keluar dari sini?"
Maxime terdiam mendengar perkataannya yang dinilai terlalu berani.
"Lagipula, di dalam perjanjian kontrak kerja yang saya tanda tangani, tidak ada satu pun klausul yang melarang saya mengambil pekerjaan sampingan di tempat lain." lanjut Alya mencoba memberikan penjelasan kepada Maxime. "Saya tetap diperbolehkan memiliki pekerjaan lain, selama tidak mengganggu pekerjaan utama saya di Mansion."
"Itu memang benar." Maxime akhirnya bersuara. "Tapi, kau bekerja di klub malam. Itu bisa merusak reputasiku."
"Merusak bagaimana, Tuan?" tanya Alya bingung. "Saya tidak mengerti kenapa itu bisa merusak reputasi Anda."
"Orang-orang bisa berpikir bahwa pelayanku menjual dirinya di klub malam."
Kalimat itu menggantung cukup lama di udara, menyisakan keheningan yang panjang.
Kata-katanya terdengar begitu menusuk, seolah menembus tepat ke jantungnya.
"Tapi, saya tidak menjual diri, Tuan. Saya hanya bekerja sebagai pelayan yang mengantarkan makanan dan minuman kepada tamu." jelas Alya lirih. "Hanya itu..."
"Aku tahu..." sanggah Maxime. "Tapi, kau seorang wanita. Kau tidak cocok bekerja di tempat seperti ini." jelasnya lembut.
"Saya tahu." ucapnya pelan. "Tapi, saya butuh pekerjaan ini untuk mendapatkan tambahan uang." Alya tampak menundukkan kepalanya.
Maxime menghela napas pendek. "Bukankah aku sudah mengatakan padamu sebelumnya, kau bisa meminta bantuanku jika mengalami kesulitan biaya." tegur Maxime, nada suaranya terdengar menahan kesal.
"Saya tidak ingin merepotkan Anda, Tuan. Saya masih mampu menghasilkan uang dengan usaha saya sendiri." ucapnya Alya tegas.
Dia punya prinsip hidup yang bagus.
"Haa... baiklah. Aku memperbolehkanmu untuk bekerja di sini." ucap Maxime, akhirnya mengalah.
"Terima kasih, Tuan." sahut Alya senang.
Gadis itu kini menatapnya dengan mata yang berbinar.
"Pergi, dan kembalilah bekerja." perintah Maxime padanya. "Besok pagi, temui aku di ruang kerja sebelum kau memulai aktivitasmu." lanjutnya tegas.
"Baik, Tuan."
Alya lalu pergi, meninggalkan ruangan itu.
"Uuu... ternyata diam-diam kau menyembunyikan seekor angsa putih di rumahmu."
Jonathan melemparkan ledakannya, sesaat setelah Alya meninggalkan ruangan itu.
"Tutup mulutmu!!"
"Kenapa kau tidak cerita padaku jika kau memelihara seorang gadis cantik di rumahmu." ucap Jonathan rendah. "Apa dia pelayan baru yang kau tugaskan untuk mengurus keperluanmu?" lanjutnya bertanya.
"Pelihara kepalamu!" geram Maxime, mencubit bibirnya gemas. "Kau pikir dia hewan peliharaan!"
"Haha... maksudku... pelayan barumu. Apa dia orangnya?" tanyanya dengan sangat penasaran.
"Kalau ya, memangnya kenapa?"
"Bagus kalau begitu."
Maxime tampak mengernyit. "Bagus? Kenapa?"
"Kau mungkin bisa melupakan Amanda sepenuhnya." jawabnya sambil tersenyum penuh arti ke arahnya.
Maxime seolah dapat menebak jalan pikiran sahabatnya itu. Ia sudah bisa memperkirakan apa yang kini tengah memenuhi otak kotor orang di hadapannya.
Tanpa ragu, ia lalu meraih leher sahabatnya dan memitingnya kuat. "Kau pikir aku ini mesum seperti dirimu. Apa cuma itu saja yang ada di otak kotormu ini. hah!" desis Maxime tajam.
"Lepaskan aku, sialan!!" gerutu Jonathan kesal.
Maxime melepaskan cengkramannya. Lalu, kembali duduk dengan tenang dan santai.
Sementara Jonathan tampak lelah, setelah berkali-kali di aniaya olehnya.
Pria itu mengatur napasnya yang masih tersengal. Tenaga pria itu memang sangat kuat. Lengannya yang berotot itu mungkin bisa mematahkan lehernya dengan sekali putar jika ia benar-benar serius menggunakan kekuatannya.
"Maksudku bukan begitu. Kau kan bisa merebut hatinya." jelas Jonathan pelan. "Mungkin saja kehadirannya, bisa membuat hatimu luluh dan berpaling dari Amanda."
"Jangan sebut nama itu lagi di hadapanku! Aku sudah melupakannya!" serunya tajam.
"Apa kau yakin?" tanya Jonathan ragu.
"Ya." jawab Maxime singkat, namun nada suaranya terdengar ragu.
"Jika sudah lupa, kenapa mengajakku minum?"
"Aku hanya ingin minum. Memangnya tidak boleh." sanggah Maxime, dingin.
Jonathan mendengus kesal. "Alasan."
"Diamlah!! Kau ini cerewet sekali." keluh Maxime kesal.
🌺🌺🌺
Alya pulang ke rumahnya dengan hati yang gelisah. Ia terus memikirkan tindakannya yang berani, melawan perkataan tuannya.
"Bisa-bisanya aku mendebat setiap perkataannya. Bagaimana jika aku dipecat?" Ia bertanya pada dirinya sendiri.
Ia melewati lorong sepi yang mengarah ke rumahnya. Lampu jalan tampak mati. Bahkan rumah-rumah yang ia lewati, tampak padam.
"Apa sedang ada pemadaman listrik? Kenapa semua pada mati."
Alya memacu langkahnya lebih cepat. Bukan karena takut gelap, melainkan karena khawatir pada ibunya yang sendirian di rumah.
Ia merasa lega ketika melihat rumahnya diterangi oleh cahaya lampu minyak.
Ia lalu mengambil kunci dari dalam tas, untuk membuka pintu. Tangannya terulur, meraih gagang pintu dan memutarnya perlahan.
Pintu itu lalu terbuka.
Ruangan itu tampak temaram, hanya di sinari oleh cahaya lilin yang tinggal setengah.
Ia lalu pergi ke kamar ibunya, namun wanita itu tidak ada di sana.
"Ibu!" panggilnya dengan kuat.
Perasaan khawatir seketika melanda pikirannya. Ia takut jika ibunya kembali tidak sadarkan diri lagi seperti kemarin.
Namun, hatinya seketika merasa lega ketika mendengar sahutan ibunya dari dalam kamar mandi.
Wanita paruh baya itu lalu keluar.
"Ibu sedang apa?" tanya Alya. "Kenapa belum tidur? Ini sudah hampir jam satu pagi."
"Ibu terbangun karena mati lampu. Baru saja." jelasnya. "Kau baru pulang?" lanjutnya bertanya.
"Iya, Bu." sahut Alya.
Ibunya tampak menghela napas pelan. "Ya, sudah. Ganti baju, lalu istirahat. Ibu mau shalat tahajud dulu, mumpung terbangun." jelasnya.
"Ya, Bu." sahut Alya.
Walaupun awalnya, Junita tidak menyetujui keputusan putrinya untuk bekerja di klub malam, namun ia akhirnya luluh dan menyetujuinya.
Alya berjanji untuk menjaga diri dan tidak terjerumus dalam pekerjaan yang haram.
Walaupun sebenarnya hatinya tidak bisa tenang memikirkannya sepanjang malam.
Ia hanya bisa berdoa, agar putrinya selalu dilindungi oleh Allah di manapun ia berada.
🌺🌺🌺
I
kalo iya semoga lekas ditolong maxime 😭