NovelToon NovelToon
Transmigation "Save The Male Lead"

Transmigation "Save The Male Lead"

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Romansa Fantasi
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lyn_11

Kianara Shernon Abraham

Seorang gadis berfrofesi aktrist berkarakter periang yang begitu tergila-gila pada novel berjudul “Save The Male Lead” tiba-tiba bertansmigrasi menjadi salah satu karakter novel yang sangat dibenci para pembaca yaitu Kianara Genevivie Anwealda.

Ya, karakter antagonis yang menjadi salah satu sumber penderitaan pemeran utama pria. Pun dengan suami yang sangat tidak peduli dengan istri bahkan anak nya. Bagaimana perjalanan kisah selanjutnya, ikuti jalan penuh lika-liku novel ini yang akan membawa kejutan ditiap plotnya.

Update 2-3 kali dalam seminggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

Pagi masih terasa sejuk. Udara tipis berembus pelan di halaman belakang kediaman Anwealda, membawa suara tawa anak-anak yang terdengar ringan—namun entah kenapa, tidak sepenuhnya menenangkan.

Kianara berdiri beberapa langkah dari mereka. Tatapannya tidak lepas dari Arcelio.

“Cylil, pelan…” suara kecil itu terdengar ragu.

“Kalau pelan telus, kapan selunya?” balas Cyril cepat sambil menarik tangannya.

Arcelio ikut berjalan, tapi langkahnya tertinggal sedikit. Tidak seperti tadi. Tidak seantusias beberapa saat lalu.

Perubahan kecil. Tapi cukup untuk membuat alis Kianara mengernyit. “Lihat,” ucapnya pelan tanpa menoleh.

Agerald mengikuti arah pandangnya. “Dia tidak merespons secepat tadi.”

“Bukan hanya itu,” jawab Kianara. “Dia seperti… menahan diri.”

Agerald menyipitkan mata, kini benar-benar memperhatikan.

Di sana, Cyril masih berbicara tanpa henti. Energinya tetap sama. Tapi Arcelio beberapa kali hanya mengangguk, bahkan sesekali terdiam cukup lama sebelum menjawab.

“Elila, kamu mau main apa?” tanya Cyril.

Gadis kecil itu berdiri dengan tenang, gaun putihnya bergerak pelan tertiup angin. Senyumnya tetap sama. Lembut. Terlalu rapi. “Apa saja tidak masalah,” jawabnya. “Selama bersama, semuanya pasti menyenangkan.” Nada bicaranya halus. Teratur. Tidak ada yang salah. Tapi justru itu yang membuat Kianara merasa tidak nyaman.

Cyril mengangguk cepat. “Kalau gitu kita—”

“Apa tidak sebaiknya kita duduk saja?” potong Elira dengan lembut. “Kita bisa saling bercerita.”

Cyril menghela napas. “Celita lagi…” Namun ia tetap duduk.

Arcelio ikut duduk pelan, tangannya masih memegang ujung bajunya. “Kamu ingin belcerita tentang apa?” tanyanya ragu.

Elira memiringkan kepala sedikit. “Tentang masa depan, mungkin.”

Agerald langsung menoleh.

Kianara tidak bergerak, tapi tatapannya menajam.

“Anak seusia itu… membicarakan masa depan?” gumam Agerald.

“Bukan sekadar topiknya,” balas Kianara pelan. “Cara dia menyampaikannya.”

Di sana, Elira menatap Arcelio. “Kalau Arcelio besar nanti, ingin menjadi apa?”

Arcelio terdiam cukup lama. “Tidak tahu…” jawabnya akhirnya.

Elira mengangguk kecil. “Tidak apa-apa. Tapi menjadi kuat saja tidak cukup.”

Cyril langsung menyela, “Dia sudah kuat! Dia kan anak keluarga Anwealda!”

“Benar,” jawab Elira tenang. “Tapi kekuatan harus punya alasan.”

Ia menatap lurus ke arah Arcelio. “Kau harus punya sesuatu yang ingin kau lindungi.”

Kali ini tidak ada yang langsung menanggapi.

Arcelio menunduk. Jarinya mencengkeram kain bajunya lebih erat. “Melindungi…” ulangnya pelan.

Cyril tertawa kecil. “Kalau gitu lindungi aku saja!”

Arcelio sedikit tersenyum. Namun Elira kembali berbicara. “Teman memang penting,” katanya. “Tapi tidak semua orang akan tetap berada di sisimu.”

Kalimat itu disampaikan seperti sesuatu yang wajar. Namun efeknya langsung terasa.

Arcelio terdiam. “Kenapa bilang begitu?” tanyanya lirih.

Elira tersenyum lagi, seolah tidak ada apa-apa. “Hanya kemungkinan.”

Kianara menarik napas pelan. "Aku tidak suka itu,” katanya pelan.

Agerald menoleh. “Yang mana?”

“Cara dia berbicara,” jawab Kianara. “Itu bukan sekadar anak yang cerdas.”

Agerald kembali melihat ke arah Elira. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihatnya sebagai anak kecil. Ia memperhatikan jeda dalam ucapannya. Cara matanya bergerak. Ketepatan kata-katanya.

Semuanya… terlalu tepat.

“Seolah dia sudah pernah hidup lebih lama,” gumam Agerald.

Kianara tidak menjawab. Tatapannya beralih ke Arcelio. Anak itu kini lebih banyak diam. Sesekali menjawab Cyril, tapi tidak benar-benar terlibat seperti tadi. Tangannya bahkan perlahan terlepas dari genggaman Cyril.

Perubahan kecil.

Tapi nyata.

“Ini mulai terlihat,” ucap Agerald.

Kianara mengangguk pelan. “Ya.”

“Menurutmu ini karena dia?” tanya Agerald, mengarah pada Elira.

Kianara tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan sekali lagi. Urutan yang salah. Interaksi yang terasa dipaksa. Dan Arcelio… yang perlahan menjauh tanpa sadar.

Di kejauhan, Cyril kembali menarik Arcelio berdiri. “Ayo! Kita main lagi!”

Arcelio bangkit, tapi gerakannya lebih lambat. Ia sempat menoleh Ke arah Kianara. Seolah mencari sesuatu.

Kianara tanpa sadar melangkah sedikit maju. Namun ia berhenti. Tatapannya melembut. “Dia mulai merasa,” gumamnya.

“Merasa apa?” tanya Agerald.

“Bahwa ada sesuatu yang tidak beres.”

Agerald menarik napas pelan. Untuk pertama kalinya, ia tidak menolak perasaan itu. Tidak mengabaikannya. Ia kembali melihat ke arah Elira.

Gadis kecil itu masih tersenyum. Tetap sama. Tidak berubah. Dan justru itu— yang membuatnya semakin mencurigakan.

“Ini bukan kebetulan,” ucap Agerald akhirnya.

Kianara mengangguk. “Ya.”

Sementara itu, Suasana halaman perlahan mereda.

Cyril kembali menarik Arcelio untuk bermain. Tawa kecil itu masih terdengar, tapi tidak lagi seutuh sebelumnya. Ada jeda. Ada ragu. Hal-hal kecil yang hanya bisa ditangkap oleh mata yang benar-benar memperhatikan.

Kianara menarik napas pelan, lalu mengalihkan pandangan. “Ada yang ingin kau bicarakan?” tanyanya tanpa menoleh.

Agerald sempat diam sejenak. Seolah menimbang. “…iya,” jawabnya akhirnya. Nada suaranya kembali datar. Lebih seperti biasanya. Namun kali ini tidak sepenuhnya dingin.

“Bukan di sini,” lanjutnya. “Ikut denganku.”

Kianara melirik sekilas, lalu mengangguk. “Baik.”

Mereka berjalan meninggalkan halaman. Tanpa suara tambahan. Tanpa percakapan. Namun suasana di antara mereka… tidak lagi seasing dulu.

Ruang kerja Agerald terasa rapi seperti biasa.

Terlalu rapi. Setiap dokumen tersusun. Setiap benda berada di tempatnya.

Kianara berdiri di depan meja besar itu, sementara Agerald berjalan melewatinya, mengambil beberapa berkas. “Duduk,” ucapnya singkat.

Kianara tidak membantah. Ia duduk dengan tenang.

“Jadi?” tanyanya.

Agerald meletakkan berkas di atas meja. “Ini tentang kediaman,” ujarnya.

“Kediaman?” ulang Kianara.

“Pengelolaan,” lanjut Agerald. “Pelayan, jadwal, tamu… dan beberapa hal yang selama ini tidak sepenuhnya berada di tanganmu.”

Kianara melirik berkas itu sekilas. “…aku sudah menangani sebagian,” katanya datar.

“Pelayan dalam, beberapa keputusan pendidikan Arcelio… juga urusan tertentu.”

Agerald mengangguk. “Aku tahu.” Sedikit jeda. “Termasuk insiden dengan Countess Diana,” tambahnya.

Kianara tidak membantah.

“Dan kau membiarkannya setelah itu tetap berjalan seperti biasa,” lanjutnya.

Kianara menyandarkan punggungnya. “Karena tidak ada yang perlu aku ubah saat itu.”

“Aku juga berpikir begitu,” balas Agerald singkat.

Hening sebentar.

“Tapi sekarang berbeda.”

Kianara menatapnya. “Berbeda bagaimana?”

Agerald mendorong beberapa berkas ke arahnya.

“Selama ini, kendali itu terbagi. Kepala pelayan, pengawas dalam, dan sebagian keputusan tetap berjalan tanpa keterlibatan penuh darimu.”

“Dan itu berjalan baik,” sahut Kianara.

“Ya,” jawab Agerald. “Tapi bukan berarti itu yang seharusnya.”

Tatapan mereka bertemu.

“Posisimu bukan sekadar simbol,” lanjutnya tenang. “Kau adalah Grand Duchess Anwealda.”

Kalimat itu sederhana, Namun kali ini terasa lebih tegas.

“Termasuk pengaruhmu di luar,” tambahnya.

“Keluarga Ferentie. Beberapa lini bisnis Anwealda. Dan… milik pribadimu.”

Kianara sedikit mengangkat alis. “…kau memperhatikannya juga?”

“Sudah cukup lama,” jawab Agerald.

Kianara membuka salah satu berkas. Di dalamnya—laporan keuangan, daftar pelayan, hingga catatan distribusi dari butik miliknya. “…kau mengumpulkan semuanya,” gumamnya.

“Karena semuanya saling terhubung,” jawab Agerald.

Kianara menutup berkas itu perlahan. “…lalu kau ingin aku mengambil alih semuanya sekaligus?”

“Aku ingin semuanya kembali berada di bawah kendalimu,” jawab Agerald.

“Tapi bukan berarti sekaligus.”

“Lalu?”

“Prioritas,” ujarnya singkat.

“Bagian dalam dulu. Pelayan. Jadwal. Lalu perlahan ke yang lain.”

Nama itu kembali muncul—

“…Arcelio juga termasuk,” lanjut Agerald.

Kianara terdiam sesaat. “…itu sudah mulai aku lakukan,” katanya pelan.

“Aku tahu,” balas Agerald.

Sedikit jeda.

“Dan itu alasan aku membicarakan ini sekarang.”

Kianara menatapnya.

“Kau berubah dalam cara yang tidak biasa,” lanjut Agerald. “Dan untuk pertama kalinya… aku melihatmu benar-benar mengambil peran itu.”

“kau menilai hanya dari itu?” tanya Kianara.

“Bukan hanya itu,” jawab Agerald.

“Tapi itu cukup jelas.”

Kianara menghela napas pelan. “aku tidak akan menjanjikan semuanya berjalan sempurna.”

“Aku tidak meminta itu.”

“Tapi aku akan menjalankannya,” lanjut Kianara tenang.

Agerald menatapnya sejenak, lalu mengangguk tipis. “Cukup.”

Kianara berdiri. Namun sebelum melangkah—

“Ada satu hal lagi,” ucap Agerald.

Ia berhenti.

“Pastikan tidak ada keputusan yang berjalan tanpa sepengetahuanmu,” lanjutnya.

“Terutama di bagian dalam.”

Kianara menoleh sedikit. “…kau mencurigai sesuatu?”

Agerald terdiam sejenak. “…aku tidak suka sistem yang berjalan tanpa pusat kendali,” jawabnya.

Kianara menatapnya lebih dalam. Untuk sesaat—bayangan di halaman tadi kembali muncul.

Elira. Cara bicara itu. Tatapan itu.

“…aku mengerti,” jawabnya pelan.

Kianara berjalan menuju pintu.

Tangannya menyentuh gagang.

Lalu berhenti.

“Agerald.”

“…ya?”

“Kau benar,” ucapnya tanpa menoleh.

“…ada yang berubah.”

Sedikit jeda.

“…dan kali ini aku tidak akan membiarkannya berjalan sendiri.”

Agerald tidak menjawab.

Tatapannya mengikuti Kianara hingga pintu tertutup.

Ruangan kembali sunyi. Ia berdiri diam beberapa saat. Lalu pandangannya turun ke berkas-berkas di meja. Bukan hanya tentang kediaman. Tapi juga—

tentang Kianara.

Tentang perubahan itu.

“…kalau ini benar-benar mulai bergerak…” gumamnya pelan.

Tatapannya mengeras.“…aku harus tahu siapa yang menggerakkannya.”

Dan tanpa disadari—

keduanya kini tidak lagi berjalan terpisah.

Melainkan—

menuju arah yang sama.

...*******...

Di sebuah ruangan nyaris tanpa cahaya. Hanya beberapa lilin yang menyala, cahayanya bergetar pelan, memantulkan bayangan panjang di dinding batu yang dingin.

Dua sosok berdiri berhadapan. Keduanya berjubah.

Wajah tertutup. Namun aura yang mereka bawa—berbeda.

Yang satu tegak, tenang, penuh kendali.

Yang satu lagi… gelisah.

“Sudah mulai terasa,” suara perempuan itu rendah. “Gangguan itu.”

Sosok di depannya tidak langsung menjawab. Hanya sedikit memiringkan kepala. “Bukan gangguan biasa,” jawabnya akhirnya. “Polanya berubah.”

Perempuan itu menyipitkan mata. “Selama ini tidak pernah bermasalah.”

“Karena selama ini… alurnya stabil.”

Hening sesaat.

Suara lilin berdesis halus.

“Dan sekarang tidak?” tanyanya.

“Tidak sepenuhnya.”

Jeda.

Perempuan itu melangkah satu langkah mendekat.

“Kau bilang semuanya sudah terkendali,” ucapnya pelan, tapi tajam.

“Emosi, keputusan… bahkan hubungan di dalam rumah itu.”

Sosok berjubah di depannya tetap diam.

“Tidak ada yang menyimpang,” lanjut perempuan itu.

“Tidak ada yang keluar dari jalur.”

Senyap.

Lalu—

“Sekarang ada,” jawabnya singkat.

Lilin bergetar lebih kuat. Bayangan di dinding bergerak.

Perempuan itu mengepalkan tangan di balik jubahnya. “Apa penyebabnya?”

Sosok itu mengangkat tangan perlahan. Udara di sekitarnya terasa lebih berat.n“Bukan sesuatu yang bisa kau sentuh,” katanya pelan.

“Bukan pula sesuatu yang bisa langsung dihilangkan.”

“Jangan berputar,” potong perempuan itu. “Katakan.”

Hening sejenak.

“…ada variabel baru.”

Perempuan itu terdiam.

“Variabel?” ulangnya pelan.

“Ya.”

“Siapa?”

“Belum bisa dipastikan.”

Jawaban itu membuat udara terasa lebih dingin.

“Tidak mungkin,” gumamnya. “Semua sudah berada di jalurnya.”

“Dulu,” balas sosok itu.

Jeda.

“Sekarang… ada sesuatu yang tidak mengikuti alur yang telah ditetapkan.”

Perempuan itu menatap tajam ke arah lawan bicaranya. “Sejak kapan?”

Sosok itu tidak langsung menjawab. “Sejak… ikatan itu mulai berubah.”

Perempuan itu terdiam.

Ikatan. Kata itu cukup. “…mustahil,” ucapnya pelan.

Namun kali ini nada suaranya tidak seyakinn sebelumnya. “Pengaruh itu sudah ditanam cukup lama,” lanjutnya.

“Tidak mungkin goyah hanya karena perubahan kecil.”

“Ini bukan perubahan kecil.” Suara itu tetap tenang, Namun lebih berat. “Yang terganggu bukan hasilnya.”

Sedikit jeda, “…tapi fondasinya.”

Untuk pertama kalinya perempuan itu tidak langsung membalas.

Lilin kembali bergetar. Api kecilnya meredup sesaat… lalu kembali menyala.

“…kalau begitu perbaiki,” ucapnya akhirnya. “Nyalakan kembali seperti sebelumnya.”

Sosok berjubah itu menggeleng pelan. “Tidak sesederhana itu.”

“Kenapa?”

“Karena sesuatu itu… tidak berasal dari dalam sistem.”

Kalimat itu jatuh pelan. Namun cukup untuk membuat suasana berubah.

Perempuan itu menegang. “Jelaskan.”

Sosok itu sedikit mendongak. Meski wajahnya tidak terlihat, terasa jelas bahwa tatapannya tajam.

“…ini bukan penyimpangan.”

Jeda.

“…ini intervensi.”

Hening beberapa detik, tidak ada yang bergerak.

Perempuan itu menarik napas pelan. “…kau bilang sebelumnya semua berada di bawah kendali.”

“Benar.”

“Dan sekarang?”

Sosok itu terdiam. Lalu menjawab pelan—

“…tidak sepenuhnya.”

Lilin di sudut ruangan tiba-tiba meredup.

Bayangan mereka membesar di dinding. “Kalau ini terus berlanjut…” ucap perempuan itu pelan.

“apa yang akan terjadi?”

Sosok itu tidak langsung menjawab.

Namun ketika ia bicara, suaranya lebih rendah. Lebih dalam. “…yang selama ini kau kendalikan…”

sedikit jeda. “…akan mulai memilih jalannya sendiri.”

perempuan itu tidak berkata apa-apa.

Tangannya mengepal.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Di balik jubah— getaran kecil itu tidak terlihat. Namun terasa. “…aku tidak akan membiarkannya,” ucapnya akhirnya. Suaranya kembali dingin. Keras.

“Kalau itu variabel…”

“…maka aku akan menghapusnya.”

Sosok di depannya tidak langsung menjawab.

Hanya diam. Seolah menunggu sesuatu. Atau mungkin… menilai.

Lilin kembali bergetar. Dan di antara cahaya yang tidak stabil itu—

percakapan mereka berakhir tanpa kesimpulan pasti. Namun satu hal menjadi jelas—sesuatu yang seharusnya terkendali… mulai lepas dari jalurnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...To Be Continue...

1
Siska Sutartini
wowo. penuh misteri. kira2 siapa nihbpara pelaku yg terlibat dalam jaringan tersebut ya? 🤔
Siska Sutartini
hah, untunglag arcelio cepat ditemukan dan belum disiksa. pelakunya mesti dijerat pasal. berlapis ini. jahat sekali
Siska Sutartini
ini yg satu countess bibinya agerald ya, satu lagi siapa ya?. asli tegang baca part ini, penuh misteri 😱
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 1 replies
Siska Sutartini
intrik antar sesama bangsawan, wah sungguh melelahkan 😁😁
rose lilian
lanjut
waw jadi tegang banget baca nya ih🤭🤣
janggal Thor,bukan ganjil🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,tapi ga papa malah lucu kok semngt thorrr😍😍
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 2 replies
Wahyuningsih
thor buat duke menyesal d buat segan matipun tk mau enak aja
Wahyuningsih
thor buat kianara badaz abiz bla prlu dot bonus ruang dimendi biar mkin sru n buat duke menyesal d buat segan mtipun tk mau biar nyakho dia
Wahyuningsih: maaf ya q gk suka klau peran utamanya cowok tpi klau cewek q suka 🙏🙏🙏
total 3 replies
Wahyuningsih
mampir q thor.....
Intan Aprilia Rahmawati
lanjut dong kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!