Dipertemukan lagi dengan mantan sugar daddy nya secara tidak terduga membuat Bryssa Kalysandra menginginkan laki-laki yang pernah dengan sengaja ia tinggalkan itu, untuk sekali lagi memilikinya.
Terdengar egois dan sangat tidak tahu diri memang, pasalnya laki-laki yang pernah dekat dan membiayai sekolah semasa SMA nya itu kini sudah menjadi pacar sang kaka.
Nyatanya, itu tidak menjadi penghalang bagi Bryssa, 2 Tahun tidak bertemu dengan Davion Sakya Maharu ternyata banyak yang berubah, laki-laki tampan, matang, dan mapan itu membuat Bryssa merasa sedikit gila, tidak rela sekalipun Davion bersama dengan kakanya. Tetapi Davion yang sekarang tidak semudah itu untuk ditaklukan. Bryssa harus berjuang lebih untuk mendapatkan cinta pertamanya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Berdua
Memoleskan pewarna bibirnya, Amora menatap pantulan dirinya di depan cermin kecil yang ia bawa, wajah cantik yang terlihat cukup lelah karena seharian sudah bekerja. Tetapi senyumnya mengembang untuk menyemangati dirinya.
Ia lalu merapihkan tatanan rambutnya, bukan untuk membuat Davion terkesan seperti dulu diawal-awal ia bekerja, tetapi semua dia lakukan untuk menyempurnakan penampilannya.
Setelah dirasa semuanya sempurna, ia turun dari mobil dan segera masuk ke restoran dekat kantor, restoran yang pernah ia kunjungi karena undangan dari orang tua Davion. Sekali lagi Amora menginjakan kakinya di sana, tetapi kali ini hanya berdua dengan Davion, tanpa undangan dari orang tua laki-laki itu yang sudah cukup lama tidak bertemu dengannya.
"Mba Amora ya?" tanya pegawai yang langsung diangguki oleh Amora. "Benar."
"Mari, pak Dav sudah menunggu," beritahu pegawai tersebut kembali diangguki oleh wanita yang menebar aroma harum menyegarkan.
Amora masuk ke ruang VIP yang sudah mungkin saja sudah dipesan oleh Davion, laki-laki dengan kaos putih dan celana panjang cream itu sudah duduk di sana, terlihat santai dan tanpa ekspresi wajah bahkan ketika Amora datang.
Tidak kaget lagi bagi Amora melihat ekspresi datar Davion, sudah hampir sebulan bekerja di sana membuatnya cukup tahu seperti apa karakter laki-laki itu.
"Maaf kalau menunggu lama pak," ujar Amora dengan sopan.
Davion menyunggingkan senyum tipisnya, lalu mengganti posisi duduknya.
"Saya juga baru saja datang," ungkapnya.
Amora hanya mengangguk saja dan duduk di depan Davion. Sangat kontras sekali penampilan keduanya, Amora yang masih menggunakan baju kerja, sementara Davion dengan penampilan santainya.
"Pesan apa yang anda suka bu menjer," ujar Davion sempat membuat Amora terkejut dengan panggilan untuknya dari Davion.
"Oke, sebentar ya pak, mohon waktunya," balas Amora lagi-lagi membuat Davion terkekeh.
"Saya rasa bahasa yang anda gunakan terlalu formal, santai saja kita tidak di kantor."
"Tapi bapak tetap atasan saya."
"Baiklah, terserah anda bu menejer."
Amora melirik Davion sekilas, lalu kembali fokus dengan menu di depannya.
Setelah memesan makanan lewat tab yang ada di restoran tersebut. Amora kini mengganti posisi duduknya, menatap Davion yang sedari tadi Amora rasa memperhatikannya, entah lah Amora tidak ingin terlalu percaya diri, tetapi dari posisi duduk dan tubuh Davion yang tidak berubah sama sekali sepertinya tebakan Amora ada benarnya.
"Anda mengamati saya pak?"
Pertanyaan yang sangat tepat sasaran, Davion menaikan sebelah alisnya dan berusaha untuk tetap tenang agar tidak gugup.
"Mungkin," balasnya singkat.
Sungguh jawaban yang membuat Amora harus menahan emosi. Davion ini laki-laki jenis apa sampai tidak merasa malu padahal dengan jelas ia ketahuan memperhatikan lawannya.
"Baiklah pak, sepertinya tujuan saya ingin bebicara dengan bapak sekarang akan langsung saya sampaikan saja," ujar Amora dipersilahkan langsung oleh Davion melalui gerakan tangannya.
"Sebelumnya maaf kalau saya lancang membahas hal yang cukup pribadi dan seharusnya tidak ada hubungannya dengan saya." Amora menjeda ucapannya, melihat reaksi Davion yang sialnya masih sangat santai sekali.
"Saya dengar, pak Dav baru saja putus cinta."
Davion mendengarkan dengan serius ucapan Amora itu.
"Ini di luar ranah saya, dan saya minta maaf sekali lagi, tetapi karena apa yang menimpa pak Dav itu sepertinya cukup mengganggu pekerjaan bapak, mungkin saya memang tidak berhak berbicara seperti ini, tetapi karena di sini saya sebagai menejer baru dan saya sudah bekerja sebisa saya, semaksimal saya untuk perusahaan, mohon kerja samanya juga pak, jangan bawa masalah pribadi bapak ke pekerjaan."
Tidak ada tanggapan apa-apa dari Davion setelah Amora berhasil mengutarakan niatnya itu, hingga makanan Amora datang, Davion masih bungkam.
"Silahkan dimakan bu menejer, kita bahas ini nanti lagi," ujar Davion dengan seulas senyum tipis.
Amora tergagap dengan tanggapan Davion yang terlampau santai, bahkan setelah dia protes dengam bahasa yang menurutnya sangat sopan Davion masih sesantai itu.
"Oke, baiklah," jawab Amora tidak ingin mengambil pusing. Yang terpenting baginya, ia sudah mengutarakan unek-uneknya yang bisa saja membuat kinerjanya ikut buruk karena Davion.
Di tengah makan keduanya, Davion salah fokus dengan salah satu pesanan Amora, membuatnya kembali mengingatkan pada seorang gadis kecil yang tiba-tiba menghilang dari hidupnya.
Ah, mengingat itu lagi membuat hati Davion mencelos, ia memang belum melakukan apa-apa untuk menemukan gadis itu, bahkan semua akses termasuk media sosial miliknya sudah diblokir oleh gadis kecil pemberi warna dalam hidupnya.
"Bu menjer diet?" tanya Davion melirik salad sayur yang dipesan oleh Amora tadi.
Kegiatan Amora terhenti, matanya memicing menatap aneh Davion, mengapa dari sekian makanan yang Amora pesan Davion justru tertuju pada segerombolan sayuran dengan saus bawang di atasnya?
"Tidak, saya memesan banyak makanan ini, sepertinya pak Dav hanya melihat salah yang saya pesan."
Davion tersentak, ia baru saja jika Amora bahkan memesan steak juga udang mentega bakar, kenapa yang menjadi perhatiannya hanya sayuran hijau di piring putih itu.
"Tanpa nasi? Bukannya itu diet?" tanya Davion mencari alasan.
Alasan yang tepat sepertinya sampai membuat Amora tidak lagi mendebat dan memilih untuk melanjutkan makan dengan gelengan di kepalanya.
"Saya sedang mengurangi karbo," balas Amora singkat.
"Ah, tebakan saya meleset sedikit," balas Davion melanjutkan makannya.
Terlihat tidak ada yang mau mengalah, tetapi justru karena itu yang membuat keduanya terlihat cocok, tidak ada yang mendominasi sekalipun Davion laki-laki, dan Amora wanita karir yang hebat. Semua terukur sama jika keduanya sedang bersama. Bahkan dari segi bicara pun terlihat demikian.
Selesai makan, Amora dan Davion melanjutkan yang tadi sudah dibicarakan terlebih dahulu oleh Amora.
"Katakan, apa saja yang membuat anda kesusahan karena sikap saya selama ini bu menejer?" sorot mata Davion menatap serius Amora.
Bahkan jika Amora tidak mempersiapkan diri pastinya ia sudah terjebak oleh sorot mata itu, terlihat tegas dan menambah kesan maskulin pada laki-laki yang sebenarnya lagi menggalau itu.
"Pak Dav benar-benar lupa? Atau kebanyakan minum di bar sampai tidak ingat berapa kali membatalkan rapat yang seharusnya sekarang sudah menjadi kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan lain?"
Tidak ingin terkecoh dengan tatapan penuh pesona itu, Amora membalas dengan tatapan tidak kalah tegas, tetapi masih terdapat keteduhan di mata wanita cantik itu.
"Apa nada merasa direpotkan?" tanya Davion langsung diangguki Amora.
"Tentu saja," balas Amora percaya diri.
"Kalau begitu, sepertinya anda belum cukup siap menjadi menejer di perusahaan saya."
Mendengar ucapan Davion membuat Amora melongo, kata-kata Davion benar-benar di luar prediksinya.
"Jadi anda meragukan kemampuan saya? setelah saya mengganti kekacauan karena anda?"
Davion menyunggingkan senyumnya melihat reaksi Amora yang langsung berubah serius.
"Saya hanya becanda bu menjer, anda tidak harus seserius itu, tentang sikap saya selama ini, saya minta maaf karena sudah merepotkan anda."
Davion bangkit dari duduknya, menatap Amora yang sedang kebingungan karena ucapannya barusan.
"Terimakasih sudah menemani makan malam saya, besok jam 8, saya tunggu di ruang rapat," ujar Davion berlalu pergi meninggalkan Amora yang masih terbengong-bengong.
nunggu cerita yg baru , beralih ke alsa dan gerald lagi ahh . . ❤️