"Aku lelah, aku lelah mengejar dan mengemis cinta mu. Mulai sekarang aku akan berhenti, berhenti mengharap cinta yang tidak mungkin bisa ku gapai".
Amanda, seorang gadis muda yang terjerat cinta seorang dokter, cinta nya bertepuk sebelah tangan, namun ia tidak menyerah untuk bisa mendapatkan cinta itu. Berharap suatu saat nanti cinta itu akan membalas cintanya.
Akankah manda bisa mendapatkan cinta itu? atau hanya akhir yang menyakitkan karena cinta tak kunjung terbalas?
Nantikan kisahnya di "Mengejar cinta dokter tampan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon umi ayi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
"Makasih ya." Ucap Julian tersenyum.
"Kamu memang terbaik. Aku mencintaimu." Ucap Julian tersenyum.
Hilda tersenyum girang mendengar ungkapan Julian. "Aku juga sangat mencintai mu." Sahut Hilda Dnegan senyum merekah.
"Da, Hilda." Panggil Julian sembari mengibaskan tangannya depan wajah Hilda agar Hilda tersadar dari lamunan nya.
"Eh Jul." Kaget Hilda yang tersadar. Ia gugup, ternyata itu hanya khayalan nya. Ia pikir itu beneran terjadi. "Ada apa Jul?" Sambung Hilda gugup.
"Kamu kenapa?" Tanya Julian heran.
"Gak papa kok." Sahut Hilda mengelak. Ia tidak mau julian tahu apa yang ia pikirkan saat ini. "Oh ya, kamu sudah selesai kan? makan yuk!" Ajak Hilda menarik Julian.
Mereka makan di sebuah cafe dekat rumah sakit. Tidak mau jauh karena jam istirahat Julian hanya sebentar.
Hilda memesan makanan begitupun Julian. Sembari menunggu makanan mereka datang. Mereka melanjutkan obrolan ringan.
"Kamu sibuk banget Jul, menurut ku kamu tuh butuh istri yang supaya bisa memberi semangatmu." Ucap Hilda.
Julian mengernyitkan dahinya. Apa hubungannya istri dengan semangat? batinnya.
"Apa hubungannya?" Sahut Julian.
"Tentu ada lah hubungannya. Jika kamu memiliki istri kan otomatis ada yang nemenin dan support kamu setiap hari, saat pulang rasa lelah kamu pasti akan hilang saat melihat sambutan dari istrimu. Dan banyak hal yang positif lainnya." Sambung Hilda.
"Begitu kah?" Tanya Julian penasaran.
Hilda hanya mengangguk membenarkan.
"Apakah sudah ada calon nya?" Tanya Hilda penasaran.
"He'em" Sahut Julian pasti.
Raut wajah Hilda berubah seketika, ia pikir Julian masih sendiri. "Boleh aku tahu siapa?" sambung Hilda.
"Kamu" Sahut Julian tersenyum.
Deg.
Hilda membola mendengarnya. Apakah yang ia dengar ini sungguhan atau hanya khayalan nya lagi. Baru saja ia hendak bicara, pelayan datang dengan membawa makanan yang mereka pesan.
"Silahkan mbak, tuan." Ucap pelayan itu setelah selesai menyajikan di atas meja.
"Makasih ya mbak." Ucap Hilda berterima kasih. Hilda kembali menoleh pada Julian. Ia menarik nafas sebelum bicara.
"Aku serius Jul dengan pertanyaan ku tadi. Siapa wanita itu." Sambung Hilda lagi.
Julian langsung tertawa kecil melihat Hilda yang penasaran. "Kenapa kamu begitu ingin tahu?" sahut Julian bertanya. Kemudian ia menyuap makanan nya.
"Ya,ya karena aku mau tahu aja, siapa wanita yang beruntung mendapatkan hati seorang dokter Julian William." Sahut Hilda.
"Yang jelas, dia wanita yang sangat baik. Lembut juga keras kepala. Kita sering banget berdebat namun dia tidak pernah malu untuk meminta maaf." Sahut Julian tersenyum sembari ingatan nya tentang Kiara terlintas.
Hilda jadi sulit menelan makanan nya. Makanan yang begitu enak tiba-tiba menjadi tawar karena mendengar ungkapan Julian.
**
"Vano dan vino sangat lucu ya Tan" Ucap Manda menatap Vano dan vino yang tertidur pulas di kamar Sania.
vano dan vino di titipkan Almira pada Sania sementara ia bekerja. Ia menjadi dosen di sebuah universitas tempat ia kuliah dulu. Dan karena hati ini ada kegiatan di kampus memungkinkan ia akan pulang malam, itu sebabnya ia menitipkan Vano dan vino pada sania.
Manda menatap Vano dan vino sembari mengingat tingkah dua bocil itu.
"Kakak, kau sangat cantik, cocok untuk uncle Julian." Ucap Vano pada manda. Saat ini ia sedang menemani Vano dan vino bermain. Sepulang dari kampus ia melihat Vano dan vino ternyata masih ada di rumah sania.
"iya benar. Uncle Julian tampan, dan kak Manda cantik." Timpal vino. Manda menggeleng mendengar ucapan kedua bocil itu. Umur saja kecil tapi pikiran dewasa.
"Eh, kalian itu masih kecil, jadi gak boleh ngomong begitu." sahut Manda sembari menarik hidung Vano dan vino.
"Kami bukan anak kecil kak, kami sudah dewasa." Vano tidak terima di bilang masih kecil.
Manda tertawa mendengar jawaban Vano. Ia sangat gemas dengan tingkah mereka.
"Kalau kalian sudah dewasa, apa bisa kalian bantu kakak mendapatkan uncle Julian?" Tanya Manda tertawa kecil.
"Tentu, kami akan bantu agar kakak bisa bersama uncle Julian." sahut Vano.
"Iya" Sambung vino. Vino hanya mengikuti apa yang Vano lakukan, dan ia pasti akan ikut mendukung.
Manda benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak menggeram. Ia mencubit pipi Vano dan vino hingga mereka meringis kemudian menangis. Manda terhenyak takut karena Vano dan vino menangis. Ia takut jika ia akan di tuduh melakukan kekerasan pada anak kecil.
"Sudah, jangan menangis ya." Ucap Manda panik.
"Jangan menangis dong" Manda lesu, bingung apa yang harus ia lakukan agar Vano dan vino diam. "Diam ya, nanti kita beli es krim." Sambung Manda seketika Vano dan vino diam.
"Es krim?" Ucap mereka kompak dengan mata yang berbinar.
Manda melongo melihat dua bocil itu. Tadi yang menangis kejer, sekarang diam tanpa sisa tangis.
"Benar-benar ajaib kalian." Ucap Manda tertawa.
"Iya, mereka sangat lucu. Jika ada mereka berdua rumah ini pasti akan jadi Ramai." Sahut Sania tersenyum. Ia mengenang tingkah-tingkah lucu Vano dan vino. Rasanya sangat bahagia melihat mereka.
"Kamu menyukai anak-anak Nda?" Sambung Sania bertanya.
"Suka banget Tan. Aku pernah minta adik sama mama, tapi mama bilang cukup aku aja. Mama dan papa sibuk takutnya tidak bisa memberi perhatian kepada anak-anaknya. Gitu kata mama." Ucap Manda memberi tahu Sania. "Kalau aku nanti punya anak, aku mau punya banyak anak Tan, biar gak sepi dirumah." Sambung Manda lagi.
Sania tertawa mendengar ungkapan Manda. "Wah, pasti bakal ramai ya, apalagi anak-anak kamu nanti seperti kamu." Sahut Sania tertawa.
"Seperti aku gimana Tan?" Tanya Manda yang tidak paham.
"Seperti kamu, pasti cantik dan tampan. Dan pasti aktif tentunya, kamu Yang sendiri aja rumah jadi ramai. Tante jadi gak kesepian lagi deh." Jelas Sania.
"Tante bisa aja." Sahut Manda malu. Manda jadi menghayal bagaimana anak nya kelak, perpaduan antara wajahnya dan wajah Julian. Pasti akan sangat lucu dan menggemaskan. Seolah Manda benar-benar yakin jika Julian akan menjadi suaminya.
.
.
Bersambung.
Happy reading all 🥰🥰
Semoga suka ya dengan cerita nya.🤗
Jangan lupa kasih dukungan kalian semua buat othor ya🙏🙏 dengan like komen dan vote nya🙏
kayak nya
para pembaca...
pasti itu bukan julian...
lanjut thor ceritanya
terimakasih sudah up
di tunggu kelanjutan nya
ceritanya
semoga tripel up...
yg donorin...
semoga Manda hamil
Manda...
Dasar suami plin plan...
nyesel belakang Julian...
lucky, biar julian tau rasa...