Luna yang hidup dengan kakeknya yang sudah tua mau tidak mau menerima pernikahan paksa yang sudah diatur oleh sahabat kakeknya.
"Kakek aku hanya ingin menemani Kakek dimasa tua," Luna berkata lirih sambil menyentuh tangan keriput kakeknya.
Tidak pernah terlintas di pikiran Luna jika akan menikah dalam perjodohan, Luna gadis polos dan tidak neko-neko harus menikah dengan CEO yang dingin dan galak tidak pernah dekat dengan seorang wanita.
Lalu bagaimana Luna bisa menjalani pernikahan dengan suami yang super Perfect, sedangkan dirinya merasa seperti Upik abu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Humaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senjata makan tuan
"Sayang, makan sepiring berdua bisa menambah kedekatan kita, jadi lebih baik kita makan berdua saja." Raditya menggeser piring yang akan Luna pakai, nahkan pria itu juga menggeser kursi duduknya agar lebih dekat dengan Luna.
Mata Luna melotot menatap Raditya yang tersenyum menyeringai tanpa kakek Seto tahu.
"Kalian ini, ada-ada saja. Tapi nak Radit benar kalian harus belajar untuk dekat satu sama lain. Mengingat kalian menikah karena dijodohkan." Ucap kakek Seto yang justru tersenyum senang.
Raditya semakin melebarkan seringainya, ia sodorkan satu sendok makanan kedepan mulut Luna.
"Makan sayang, bukanya kamu harus berangkat bekerja, biar kuat kerjanya." ucap Raditya dengan senyum.
Tapi jika Luna yang melihat senyum Raditya adalah sebuah senyuman mengerikan.
"T-tidak perlu aku bisa-"
"Kakek, bukankah seorang istri harus mematuhi suaminya agar mendapat pahala?" Raditya memang berucap tapi tatapan matanya tidak lepas dari wajah Luna yang kaku.
"Ya, kau benar. Jika tidak ingin disebut istri durhaka maka turuti ucapan suami."
Luna menelan ludah kasar, matanya menatap tajam Raditya yang begitu menyebalkan.
"A, buka mulut mu." Titah Raditya pelan namum tersirat akan perintah.
Luna semakin menelan ludah susah payah, pasalnya nasi goreng khusus buat Raditya sudah ia berikan garam banyak dan cabai tabur. Mana mungkin Luna memakannya bisa-bisa dirinya bolak balik ke kamar mandi. Tapi saat melihat tatapan kakeknya yang seorang memerintahnya untuk menurut, Luna tidak bergeming akhirnya mulutnya terbuka dan menerima suapan nasi goreng mematikan buatannya sendiri.
Inikah yang namanya senjata makan tuan?
Dasar Raditya sialan!!
*
*
Sejak tadi Luna bolak balik ke toilet sudah Lima kali, teman kerjanya mendadak melirik Luna dengan tatapan berbeda-beda.
"Lun, kamu salah makan apa, sampai bolak balik ke kamar mandi?" tanya rekan Luna yang bernama Indah.
"Mungkin tadi makan pedas mbak pagi-pagi jadi perutnya melilit seperti ini," Luna mendesis sambil kembali memegangi perutnya.
"Lebih baik kamu ambil libur dan cepat berobat, nanti aku bilang sama pak Kiki." Ucap Indah yang tidak tega melihat wajah pucat Luna.
"Terima kasih mbak, maaf aku merepotkan kalian."
Luna berjalan keluar dari kafe tempatnya bekerja, wajahnya pucat dengan tangan selalu memegangi perutnya, sampainya diluar kepala Luna semakin pusing apalagi matahari cukup terik membuatnya benar-benar merasakan lemas.
"Bagaimana caranya pulang," Lirihnya tak bertenaga, jika harus mengendarai motornya sudah pasti Luna tidak akan selamat.
Mata Luna tampak sayu, semakin lama pandanganya semakin menciut.
"Tuhan kirimkan dewa penyelamat untukku," gumamnya sebelum tubuhnya merosot ambruk ke tanah.
Apartemen
Raditya merebahkan tubuh lemas Luna diatas rajang, pria itu membuang napas kasar meskipun tubuhnya sendiri merasa tidak enak.
"Kau sengaja ingin membuatku tumbang, tapi aku tidak akan merasakannya sendirian," Gumam Raditya dengan tatapan datar.
Sengaja Raditya mendatangi tempat kerja Luna, ia ingin tahu efek apa yang Luna rasakan setelah makan nasi goreng buatannya sendiri. Bukan hanya nasi goreng Raditya harus merasakan tubuhnya tidak nyaman setelah meminum kopi yang begitu manis seperti kolak, belum lagi nasi goreng yang super asin dan juga pedas.
"Kenapa kau selalu membuat ulah," Gumam Raditya lagi sambil menghubungi dokter kelurga.
Raditya sendiri memilih duduk disofa sambil menunggu dokter datang, pria itu juga merasakan tubuhnya yang tidak nyaman, bahkan selama dua jam di kantor ia habiskan hanya untuk bolak balik ke dalam kamar mandi, mengingat kejadian itu Raditya tampak kesal menatap gadis yang sedang terbaring lemah dengan wajah pucat.
"Sepertinya kau harus di hukum, agar tidak mengulanginya lagi," ucapnya dengan tatapan tajam pada Luna yang tidak bergeming.
*
*
Hukuman apa hayoo??