NovelToon NovelToon
Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:512.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Oot Nasrudin

Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]

Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?


Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecewa

...☕🍜Jangan sibuk mengamati punggung orang lain. Nanti, punggungmu sendiri tidak terawat🍜☕...

Juan POV

Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan wajah gantengku. Fu-fu-fu (Nyanyi mode on).

Aku tidak mau mengada-ada membersihkan tempat tidurku, seperti anak kecil saja. Karena nyatanya aku tak pernah serajin itu. Tapi, setiap mau berangkat kantor, aku tak lupa untuk membersihkan tubuh dan wajah gantengku ini.

Ya, tentu saja itu sudah cukup membantu Mamaku! Setidaknya membantu dia menghemat tenaga dari berteriak sampai keluar urat setiap pagi mengatai bujang lapuknya "Ganteng-ganteng Bau"

Duh! Alangkah baiknya diriku ini. Sudah ganteng, baik pula. Pantas saja wanita-wanita di kantor banyak yang menggodaku.

Andai saja Mama tahu, lapuk-lapuk gini, bujangnya banyak yang suka. Jadi, nasib kelapukanku ini bukan karena tidak laku. Tapi, memang belum ketemu dengan yang pas saja.

Sepulang dari kontrakan Maira, selera tidurku menghilang. Walau hanya dua jam mataku terlelap, yang terpenting sudah menunaikan permintaan maaf pada gadis itu, rasanya sudah cukup untuk membayar jam tidurku.

Sekarang aku sudah rapi, wangi, dan duduk dengan ganteng di kursi meja makan. Pagi ini memang aku duduk lebih cepat dari biasanya. Bahkan, lebih cepat dari Prischilla, adikku tercinta.

Wajar saja wajah Mama tampak terheran-heran. Bahkan, bola matanya hampir tak mau berpaling dari melihatku.

Aku membiarkannya. Bersikap santai, dan memasang wajah ganteng seperti biasa. Tak kurang satu senti pun.

Tiba-tiba sebuah tangan keibuan mendarat di dahiku. Beberapa detik tetap menempel. Lalu pemilik tangan keibuan itu berkata, "Hm. Normal."

Aku mematung. Berekspresi datar.

Tangan Mama sudah disingkirkan. Ia duduk berseberangan denganku. Tangan yang tadi digunakan untuk mengecek dahiku, kini sibuk digunakan untuk mengoles selai pada roti tawar.

Sesekali dia melirikku curiga. Aku tak peduli, ikutan sibuk mengoles roti dengan selai.

Saat mulai khusyuk menikmati sarapan, Chilla tergopoh-gopoh menuruni anak tangga.

"Mama, Chilla terlambat, ya?" katanya, seraya menarik kursi bersebelahan dengan Mama. Lalu duduk.

Ia panik, berkali-kali mengecek jam warna biru muda yang melingkar di pergelangan tangannya. Memastikan dia tidak terlambat. Tapi, wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Sebab, melihatku sudah duduk lebih dulu di kursi meja makan.

"Tidak, Sayang. Kakakmu saja yang entah sedang kerasukan setan apa sehingga sepagi ini sudah rapi dan—"

"Duduk ganteng di kursi meja makan lebih pagi dari biasanya." Aku memotong perkataan Mama.

Mama menyeringai, menunjukkan gigi serinya. Chilla menghela napas lega. Mengabaikan perseteruan aku dan Mama.

Chilla memang seperti itu, anaknya pendiam, tak begitu peduli dengan situasi. Yah, tak jauh beda denganku.

Aku juga tidak peduli dengan kecurigaan Mama. Terserah saja mau dilanjutkan curiga atau tidak. Aku segera menyelesaikan sarapan. Dan berangkat ke kantor lebih cepat.

Di perjalanan, aku kembali memikirkan gadis itu. Apa kabarnya, ya? Setelah menerima kopi dan secarik untaian kata dariku? Apakah hatinya langsung berbunga-bunga? Senang bukan kepalang, riang tak terkira seperti mendapat boneka dari India?

Ah! Pokoknya nanti malam aku akan ke sana. Walau hanya mengintip.

***

Waktu yang kutunggu telah tiba. Aku melipir dulu ke Ilfi Midi. Duduk santai di kursi yang selalu disediakan. Ngegame sembari menanti seseorang. Cie, seseorang. Bujang lapuk sepertiku memangnya punya seseorang?

Yak, seseorang itu kini telah terpantau oleh mataku. Sedang berbicara dengan tukang kebab yang mangkal di pinggir jalan depan Ilfi Midi.

Aku tidak menghampirinya. Tetap sabar menanti hingga dia selesai mendapatkan kebab pesanannya.

Tak lama, akhirnya kebab itu berhasil didapatkan. Pria itu pun bersiap mengendari motor maticnya lagi. Kendaraan itu melaju masuk ke gang arah kontrakan Maira.

Aku bersiap membuntuti. Berjalan kaki masuk ke gang, meninggalkan mobilku tetap terparkir di halaman Ilfi Midi.

Pria itu, tentu saja sudah sampai lebih dulu beberapa menit sebelum aku sampai di tempat persembunyianku—di balik pagar masuk halaman kontrakan.

Mereka tampak sudah asik sekali berbincang. Apalagi gadis berambut sebahu itu. Sepertinya dia sedang sangat bahagia melahap bolu berlapis keju itu.

Tapi, bukan gadis itu yang sedang aku intip. Melainkan gadis berjilbab warna mustard, yang sedari tadi lebih banyak diam. Sesekali dia tersenyum menanggapi gurauan sahabatnya.

"Sangat anggun dan manis sekali!"

Aku larut dalam perbincangan mereka. Entah mengapa seolah aku sedang ikut bergabung di dalamnya. Aku merasakan hubungan persahabatan yang begitu hangat. Yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

Aku memang tak pernah punya hubungan apapun dengan orang lain. Pertemanan, persahabatan, apalagi yang lebih dari itu. Hidupku hanya ada aku, mama, papa, dan Prischilla. Selebihnya hanyalah teman seperkantoran dan teman pada saat masih sekolah. Semua itu tak ada yang ku anggap berarti.

Apakah aku menyedihkan?

Ku rasa tidak. Aku punya wajah yang tampan, yang membuat banyak wanita tergila-gila padaku. Tapi, tak ada satu pun wanita yang mampu mendapatkan hatiku. Entah mengapa, di antara sekian banyak wanita tidak ada yang menarik perhatianku.

Justru, yang tidak tergila-gila padaku malah membuatku menjadi melakukan hal sebodoh ini. Ku akui, apa yang aku lakukan akhir-akhir ini memanglah sangat bodoh. Bukan Juan banget.

Dari pertama kali aku melihat air mata jatuh membasahi pipinya, kemudian bertemu lagi menjadi driver taksi onlinenya, bertemu lagi bahwa ternyata dia adalah penjahit gaun Mama. Ku rasa itu bukanlah suatu hal yang kebetulan.

Barangkali itu adalah takdir, maka hal itu sudah cukup dijadikan alasan bagiku untuk mengikuti dia hingga sejauh ini.

***

"Jadi, gimana, Mai?"

Nama Maira terdengar di telingaku. Pertanyaan dari gadis berambut sebahu itu sukses menyita perhatianku yang tadi sempat termenung sejenak.

"Aku akan pulang."

Deg!

Itu jawaban Maira. Membuatku menahan napas mendengar jawabannya.

"Aku akan pulang kampung."

Dia mengulangi lagi perkataannya. Memastikan sahabatnya mendengar dengan baik apa yang dia katakan.

Aku menghela napas kecewa. Kenapa? Ada apa? Sejurus kemudian aku mendengar alasannya.

"Bapakku, sakit."

Sama terkejut dan kecewanya denganku. Gadis dan pria di sebelahnya terdiam sesaat. Tidak tahu harus berkata apa.

Aku diam. Menahan kecewa. Entahlah mengapa aku kecewa. Mendengar Maira hendak pulang kampung, rasanya seperti hendak ditinggal pergi jauh oleh sang kekasih dan dalam waktu yang lama.

Walaupun hingga selapuk ini aku belum pernah punya kekasih, tapi aku yakin rasanya sama persis dengan apa yang aku rasakan saat ini. Atau yang ku rasakan malah jauh lebih parah?

Hm. Tentu saja lebih parah. Aku 'kan bukan siapa-siapanya gadis itu. Tapi, aku malah merasa seolah yang paling kecewa.

Sembari terus menelan rasa kecewa, telingaku masih tajam mendengar apa saja yang diucapkan oleh gadis itu.

Sampai akhirnya, tak lagi terdengar suara cakap-cakap di antara mereka. Semua saling terdiam, termenung, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Aku juga. Ku rasa sudah cukup acara mengintip malam ini. Dengan langkah gontai, aku beranjak dari tempat persembunyianku. Menuju mobil, dan bergegas pulang.

***

1
matcha
duuh mbk Maira ini kalem2.. sindirannya kyk sabetan pisau.. wkwkwk
Santi Herman
bagus
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Cancer
😄 aku suka gaya maira
hoomano1D
bukan meminang cucu kali thor,
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
hoomano1D
maaf ya thor, gw adalah golongan pembaca yg selalu bahagia. kalo gak bahagia, gw udh uninstall apk nt ini
hoomano1D
yg janji gw ada bukunya. emang keren
hoomano1D
umbel sing kuning keijoan kayane
hoomano1D
hmmm.,
malah curcol
hoomano1D
eh, bukannya punten yak?
hoomano1D
gw anggota klub tinggal baca aja nggak usah protes
hoomano1D
ganti namanya:
calon author famous
ASA
Part ini sungguh 🥺🥺🥺
ASA
masih betah di sini
Hamano Michiyo
wahh thor,,gimana caranya nyusun kata2 sebagus itu??bisa baginya ilmunya gak thor?
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
ApriL
sukaa 🥰🥰 auto pencet favorit..
gulaJawa🐏
hiyayyay baca lagi di tahun 2022,
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺

kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.

ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗
Ani Dyah
masih kurang "kue satu" oleh2nya 👍
Ani Dyah
kota beriman....kebumen kah? 😀😀
Pocut
Jakaaaaa...😢😢😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!