Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana menegangkan
( ZIA CEPAT KEMBALI, DETAK JANTUNG ARKAN BERHENTI )
Dunia di sekitar Zia seakan kehilangan gravitasi. Pesan singkatnya terasa seperti belati yang menghujam jantungnya. Namun di depannya, Valerie dan dewan direksi masih mengawasi dengan penuh intimidasi.
Zia tahu, jika dia menunjukkan kepanikan sekarang, mereka akan menerkamnya seperti serigala. Ia harus membuat pilihan paling gila dalam hidupnya, Tetap di sini dan mengunci kemenangan Arkan, atau lari ke rumah sakit dan membiarkan musuh-musuhnya menang.
Zia menarik napas panjang, meremas jemarinya di bawah meja agar tidak terlihat getaran dan kepanikan. Ia menoleh ke arah Rio yang berdiri di belakangnya. "Rio, siapkan tim medis terbaik. Jangan biarkan siapa pun masuk ke kamar Arkan kecuali Dokter Andre. Dan... berikan telepon ini pada Dokter."
Zia menyerahkan ponselnya ke Rio dengan kode mata yang hanya dipahami oleh asisten kepercayaan itu. Rio mengangguk cepat dan keluar dari ruangan.
Zia kembali menatap Valerie. "Aku punya waktu lima menit sebelum polisi datang untuk menjemputmu, Valerie. Jadi, sebaiknya kau mulai bicara tentang bagaimana 'orang mati' sepertimu bisa bekerja untuk Hendra."
Valerie tertawa sumbang, namun matanya memancarkan ketakutan. "Kau hanya anak kecil yang bermain peran, Zia. Kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi. Arkan bukan pahlawan. Dia menyimpan sesuatu di brankas pribadinya yang jika dunia tahu, dia tidak akan pernah bisa bangun dengan tenang."
"Apa maksudmu?" desis Zia.
“Tanya pada dirimu sendiri,” Valerie condong ke depan, suaranya merendah. "Kenapa Arkan memilihmu? Dari ribuan gadis di luar sana, kenapa anak dari seorang pria yang berkumpul di sana? Itu bukan karena dia kasihan. Itu karena kamu adalah kunci untuk membuka proyek 'Aeterna'. proyek yang bisa membuat siapa pun yang menguasainya menjadi orang terkaya di dunia. Arkan tidak mencintai, Zia. Dia sedang memanfaatkan mu."
Tepat pada saat itu, pintu ruang rapat kembali terbuka. Bukan polisi yang datang, melainkan seorang pria misterius mengenakan setelan abu-abu dengan pin perak berbentuk lidah api di kerahnya.
"Maaf mengganggu," ucap pria itu. Suaranya datar tanpa emosi. "Saya dari The Oversight . Kami datang untuk mengambil alih aset Arkana karena pelanggaran protokol keamanan tingkat tinggi."
Zia tertegun. Pengawasan ? Nama itu pernah disebut Arkan sekali sebagai organisasi yang lebih kuat dari pemerintahan mana pun.
Zia menyadari situasi ini sudah di luar kendalinya. Valerie tampak terkejut melihat kedatangan pria itu, yang artinya pria ini tidak diganggu juga.
Rio tiba-tiba masuk kembali, wajahnya pucat. Ia membisikkan sesuatu di telinga Zia. "Nona, ambulans tuan Arkan sedang dikejar. Mereka tidak di rumah sakit. tuan Arkan diculik oleh tim medis palsu!"
Zia tidak berpikir lagi. Ia menyambar tabletnya, menekan satu tombol darurat yang pernah Arkan membukanya. "Protokol Pemadaman."
Seluruh lampu di gedung Holding padam seketika. Sistem keamanan terkunci. Dalam kegelapan total, Zia merasakan tangan Rio menariknya keluar melalui pintu rahasia di belakang kursi arah.
"Kita harus ke mana, Rio?!" tanya Zia terengah-engah saat mereka berlari di lorong darurat yang hanya diterangi lampu merah redup.
"Ke lokasi ambulans, Nona. Tapi kita butuh kendaraan yang tidak bisa dilacak."
Mereka sampai di ruangan paling bawah. Di sana, sebuah motor sport yang sama dengan yang dipakai Arkan di gedung tua sudah menunggu.
"Nona bisa mengendarainya?" tanya Rio ragu.
Zia teringat saat Arkan diam-diam mengajarinya menyetir di vila. "Zia, suatu hari tamengmu akan direbut. Saat itu terjadi, kau harus menjadi pedangmu sendiri," suara Arkan terngiang di kepalanya.
Zia memakai helmnya. "Naiklah, Rio. Kita jemput suamiku."
Kejar-kejaran di Jalanan Jakarta
Motor itu melesat memecahkan kemacetan Jakarta di bawah rintik hujan. Melalui GPS di helmnya, Zia melihat titik merah ambulans itu bergerak menuju bandara swasta.
"Mereka mau membawanya keluar negeri!" teriak Rio dari kursi belakang.
Saat mereka mendekati ambulans, sebuah mobil hitam besar mencoba menghimpit motor mereka. Zia memacu gas lebih dalam, melakukan manuver berbahaya di antara truk-truk besar. Di dalam hatinya, ia terus berdoa agar detak jantung Arkan benar-benar masih ada.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Ambulans itu tiba-tiba berhenti mendadak di tengah jalan tol yang sepi.
Zia mengerem tiba-tiba. Ia turun dari motor dengan napas berburu, mendekati pintu belakang ambulans yang perlahan terbuka.
Bukan Arkan yang terbaring lemah yang ia temukan.
Di dalam ambulans itu, terbaring tiga orang pria dengan seragam medis yang sudah tewas bersimbah darah. Dan di tengah-tengah mereka, duduk seorang pria dengan punggung tegak, memegang alat pacu jantung manual di tangannya sendiri seolah-olah itu adalah mainan.
Pria itu menoleh. Mata yang tajam dan dingin menatap Zia.
"Om... Arkan?" teriak Zia tidak percaya.
Arkan menarik lepas selang oksigen dari mulut. Ia tersenyum miring, meskipun wajahnya sepucat kertas.
“Aku bilang jangan panggil aku 'Om' di depan umum, Bocil,” ucap Arkan parau. Ia memegang luka di punggung yang kembali terbuka. "Dan kau... kau terlambat tiga menit dari jadwal yang aku tetapkan."
Namun, senyuman Arkan memudar saat dia melihat ke arah belakang Zia. Di sana, di atas jembatan layang, puluhan lampu laser merah kini berbunyi tepat ke dada Arkan dan Zia.
"Zia, tiarap!" teriak Arkan.
DOR! DOR! DOR!
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔