Saat Larisa ketahuan hamil, pihak keluarga syok dan juga tak menyangka.
Larisa dituntut untuk jujur siapa pria yang sudah menghamilinya sampai mencuat satu nama pria yang tak lain saudara sepupunya sendiri.
Setelah menikah hubungan Bassta dan Larisa semakin ricuh, jauh dari rukun dan tenteram. Bassta juga sudah memilih perempuan lain yang jauh di atas Larisa yakni Jema, tetapi Jema belum tahu bahwa pria yang dia cintai sudah beristri.
Dalam niat yang begitu besar, Larisa ingin mengubah rumah tangga hambarnya menjadi rumah tangga yang harmonis. Sementara Bassta sudah mengatur dan meniatkan perpisahan setelah bayi yang dikandung Larisa lahir.
Terombang-ambing dalam rasa kecewa dan juga bimbang atas perasaannya, Larisa dihadapkan pada sosok pria yang berusaha dia lupakan tetapi malah mendadak muncul dan mengaku ingin bertanggung jawab.
Lantas, apakah Larisa akan kembali ke pelukan pria berinisial J atau bertahan dengan Bassta yang mulai menyadari ketulusannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Bassta
Bassta mengerutkan keningnya ketika membaca pesan singkat dari Larisa. Ia khawatir tapi untuk pulang juga tidak mungkin. Bassta takut Vivian bertingkah, ia sangat mengenal adiknya sepenuhnya. Ia takut Vivian melontarkan banyak hal yang membuat Larisa terpancing emosi. Bassta juga meyakini bahwa Larisa tidak pintar-pintar amat, dia takut istrinya itu keceplosan perihal apa pun yang akan menimbulkan petaka.
Bassta: Kalau Vivian ngomong aneh-aneh, lebih baik kamu menghindar. Jangan sampai kamu melakukan hal yang salah, yang bakalan bikin hidup kita makin rumit. Kalau bisa, buat alasan supaya Mbak Fiona sama Vivian cepat pergi. Vivian itu jiwa keponya tinggi, aku takut dia melakukan hal konyol yang akan merugikan. Ingat itu, Larisa, awas kamu kalau nggak nurutin apa yang aku bilang.
Panjang lebar Bassta membalas pesan istrinya.
Ketakutannya memang kejadian, Vivian menaruh kecurigaan.
***
“Emmm, emmm, Larisa.” Vivian terbata-bata, matanya membulat begitu waspada.
Tenang, itulah yang berusaha Larisa perlihatkan.
“Ngapain kamu di sini? Kamu lupa kalau kakak kamu sudah menikah. Belum menikah pun, kamar adalah privasi bagi pemiliknya. Kamu perlu izin buat masuk, jangan menyelonong tanpa izin kayak begini. Kamu bukan cuman nggak menghargai kakak kamu, tapi kakak ipar kamu yaitu aku.” Larisa mencerca tanpa ampun, membuat Vivian bingung harus membuat alasan bagaimana.
“Aku cuman....” Kalimat Vivian menggantung karena Larisa menyela.
“Nggak usah bikin alasan basi kamu mau ke toilet. Ini rumah kakak kamu, dan kamu juga nggak bodoh sampai keliru membedakan mana toilet dan mana kamar,” tutur Larisa sinis dan Vivian menyibak rambutnya ke belakang.
Wajah gadis itu sudah memerah padam karena ucapan Larisa yang terus menyerangnya.
“Kamu mau aku ngomong sama Bassta? Sama Mbak Fiona sekarang karena kamu lancang masuk ke kamar kami sembarangan,” tegas Larisa dan Vivian menggerakkan tangannya ke kanan ke kiri.
“Jangan, Larisa. Maaf, aku nggak bakalan begini lagi. Jangan bilang-bilang sama mas Bassta, ya, aku mohon.” Vivian mendadak mendekat, mengapit tangan Larisa erat, tidak akan dia lepas sebelum wanita itu mengiyakan permintaannya.
Dalam benaknya, Vivian tidak bisa menyerang Larisa dengan pertanyaan buah dari kecurigaannya. Ia perlu bukti lebih untuk menyerang wanita yang sedang dia rangkul tangannya tersebut.
Vivian memang selalu waspada, dan dia sudah berniat untuk mengadukan apa yang dia temukan kepada Novia.
“Larisa, Vivian!” seru Fiona dari luar kamar, keduanya pun saling memandang dan Vivian merasa ini adalah kesempatan untuknya melarikan diri.
“Vivian, kita belum selesai bicara!” tegas Larisa saat Vivian melepas tangannya, dengan cepat pula gadis itu keluar meninggalkan kamar.
Tak lama, Larisa menyusul dan menutup pintu rapat-rapat.
Sekarang, Fiona mendekati keduanya dan Vivian mendekat.
“Kalian ini, aku nyari-nyari sampai ke balkon,” kata Fiona.
“Tadi Vivian masuk ke kamar aku sama Bassta, Mbak,” adu Larisa.
Vivian memekik, tak menyangka bahwa Larisa akan comel.
Fiona langsung menatap Vivian tak senang.
“Ngapain? Masmu sudah beristri sekarang. Kamu jangan begitu, Vivian.” Fiona menegur dengan keras.
Larisa diam, memerhatikan gerak-gerik Vivian yang tampak kikuk.
“Iya, Mbak. Maaf.” Vivian menunduk lemah.
“Seharusnya kamu minta maaf sama Larisa,” kata Fiona sambil menatap Larisa yang hanya diam tetapi wajahnya menunjukkan gurat ketidaknyamanan atas kelancangan Vivian.
“Sudah, Mbak. Jangan terus dimarahi Viviannya. Mungkin dia kangen sama Bassta,” kata Larisa.
Vivian memicingkan mata, menerka bahwa Larisa pura-pura menolongnya dari kemarahan Fiona untuk menarik simpatiknya. Padahal, Larisa hanya tidak mau kejadian tersebut berlarut-larut, dan dia juga ingin keduanya lekas pergi. Keduanya sudah terlalu lama di rumahnya, ditambah tingkah Vivian yang menyebalkan, membuatnya lelah.
“Untung kamu punya kakak ipar yang baik kayak Larisa,” kata Fiona dan Vivian langsung manyun.
Larisa tersenyum tipis saat Fiona menatapnya.
“Ris, Mbak sama Vivian pulang dulu, ya. Maaf kalau sudah mengganggu waktu kamu, maaf juga sekali lagi karena Vivian sedikit nakal.” Fiona tersenyum dan Larisa membalasnya.
“Nggak apa-apa, kok, Mbak. Aku malah seneng kalian datang, terima kasih ya, Mbak buat semua belanjaannya.”
“Iya sama-sama,” balas Fiona.
Kini, ketiganya turun meninggalkan lantai dua. Larisa berjalan paling belakang, sesekali ia menyentuh perut bagian bawahnya juga pinggangnya yang mendadak ngilu.
Mungkin ia kurang istirahat, pikirnya.
Larisa mengabaikannya satu hal bahwa beban pikiran juga sangat mempengaruhi kesehatan ibu hamil.
Setelah di luar rumah, Fiona dan Larisa berpelukan. Larisa berdiri, menunggu keduanya benar-benar meninggal rumah. Larisa melambaikan tangan saat mobil melewati pintu gerbang.
Setelah Fiona dan si tengil Vivian pergi, Larisa baru merasa bisa bernapas lega.
Ia lekas masuk sekarang, ingin beristirahat.
***
Malam harinya, Bassta pulang dan dengan terburu-buru ia menaiki tangga untuk lekas menemui Larisa. Ia penasaran apa saja yang terjadi saat Fiona dan Vivian berada di rumahnya.
“Aku di sini, Bass!” seru Larisa dari dapur.
Bassta yang baru naik setengah tangga pun menoleh, memutar tubuh lalu menuruni tangga dengan perlahan.
Bassta mendekati Larisa yang sedang membuat jus. Entah kenapa Larisa ingin yang segar-segar malam ini.
“Apa yang terjadi selama mereka di sini?” Todong Bassta melontarkan tanya.
Larisa mengernyit kemudian memberikan segelas jus buah naga padanya.
Bassta menggeleng tetapi Larisa mendesak, ia akhirnya menerima lalu keduanya duduk bersama.
“Vivian masuk ke kamar kamu,” adu Larisa.
Bassta langsung mengerutkan kedua alis tebalnya.
“Ngapain tuh anak?” katanya kesal.
Larisa menggeleng, “Jelasnya aku nggak tahu dia cari apa di kamar kamu, tapi mungkin aja dia menemukan sesuatu yang berkaitan dengan hubungan kita.” Larisa berbicara, dan ungkapannya membuat Bassta menggaruk kepala.
“Apa maksud kamu?” Pria ini tak paham.
Larisa tersenyum, mengejek.
“Doyan ngatain orang bodoh, tapi sendirinya.....” Larisa berhenti karena Bassta langsung melotot. “Ya, iya, kamu aneh.”
“Ayo ngomong, maksud kamu apa?” desak Bassta kemudian Larisa meminum jusnya.
Bassta diam menunggu, sembari memperhatikan bibir Larisa sudutnya berwarna keunguan dari jus yang barusan dia minum.
“Di kamar kamu nggak ada satu pun barang milik aku. Lumrahnya seorang suami dan istri, kan, hidup satu rumah dan tidur satu kamar. Bukan tinggal satu atap tapi beda tempat tidur,” ujar Larisa dan Bassta langsung terdiam.
“Bisa jadi Vivian curiga. Kenapa bisa di kamar kakaknya nggak ada barang kakak iparnya sama sekali. Setelah ini, dia pasti bisa menebak kalau kita nggak tidur di kamar yang sama.”
Bassta terenyak mendengarnya, juga dia sandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Jika dugaan Larisa benar, habislah dia terkena masalah lagi.
Larisa kembali menyesap minuman segarnya, sementara Bassta hanya diam menatapi gelas di tangannya.
Bassta takut Vivian mengadu pada ibunya. Sementara Bassta tahu bahwa ibunya menduga bahwa dia dijebak oleh Larisa, ibunya tak percaya bahwa Larisa mengandung anaknya. Bassta merasa pusing memikirkan hal ini, salahnya, kenapa pula dia memiliki adik yang begitu usil macam Vivian?
“Awas aja tuh anak,” kata Bassta dalam hati.
semoga sehat2 ya
masih setia menunggu kabarmu