Side Story dari "GHEA: Cinta Lama Belum Usai"
Juna Attala yang baru saja kehilangan istrinya karena sebuah kecelakaan, sedang mencari seorang pengasuh untuk putrinya yang baru berusia dua tahun.
Lalu suatu malam, Juna yang pulang dalam kondisi setengah mabuk tak sengaja menabrak seorang wanita bernama Lilyana.
Juna menolong Lilyana dan membawanya pulang ke rumah.
Lilyana yang mengaku sebatang kara, akhirnya dipekerjakan Juna sebagai pengasuh untuk putrinya, Alsya Attala karena keduanya langsung akrab di pertemuan pertama.
Tahun berganti, kedekatan Lily dan Alsya rupanya juga menumbuhkan sebuah perasaan di hati seorang Juna hingga akhirnya Juna memutuskan untuk mempersunting Lily menjadi istrinya sekaligus ibu sambung untuk Alsya.
Namun beberapa bulan setelah pernikahan Juna dan Lily, sebuah fakta tentang kematian Emma yang merupakan mendiang istri Juna sekaligus mama kandung Alsya terungkap.
Kecelakaan yang menimpa Emma bukanlah sebuah kecelakaan biasa, melainkan sebuah pembunuhan berencana dengan Lily sebagai aktor utama pelaku pembunuhan.
Lantas bagaimana selanjutnya nasib pernikahan Lily dan Juna?
Lalu, apa sebenarnya alasan Lily membunuh Emma?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAU MAU?
Mobil Juna tiba di rumah saat hari menjrlang sore. Alsya yang sudah tertidur saat perjalanan pulang, segera di gendong oleh Juna masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar gadis kecil tersebut.
Lily mengekor dan ikut masuk ke kamar Alsya, untuk membantu melepaskan sepatu Alsya.
"Kau bisa istirahat, Ly!" Ucap Juna yang sudah selesai membaringkan Alsya ke atas tempat tidur.
Lily menyelimuti putri Juna tersebut, dan mengusap lembut kepalanya sebelum ikut beranjak dan keluar dari kamar.
Juna menutup pintu kamar Alsya perlahan, setelah Lily keluar.
"Kau juga sebaiknya istirahat, Jun," ucap Lily sedikit canggung karena kini ia berdiri di samping Juna yang masih menatapnya dengan aneh.
Ada apa sebenarnya dengan pria ini?
"Kau benar tidak punya pacar?" Tanya Juna tiba-tiba yang sudah merentangkan kedua tangannya ke tembok dan mengungkung tubuh Lily di dalamnya.
"Iya, be-nar," Lily menjawab dengan sedikit grogi dan terbata. Gadis itu mendongakkan kepalanya dan menatap pada wajah Juna, yang biasanya hanya berani ia tatap secara diam-diam.
Belum pernah sedekat dan seintim ini.
"Jika aku meminta kau untuk menjadi mami sambung untuk Alsya, apa kau bersedia?"
Deg!
Pertanyaan Juna benar-benar membuat Lily membeku di tempatnya.
Lidah Lily ikut kelu dan membeku tanpa bisa berucap sepatah katapun.
Apa Juna sedang bercanda?
Atau pria ini sedang mengerjai Lily?
Lily masih diam dan wajahnya menunjukkan raut bingung saat tiba-tiba Juna tertawa dan mendekatkan wajahnya ke arah Lily.
Semakin dekat!
Semakin dekat.
Hingga akhirnya dahi Juna dan Lily kini saling menyentuh. Lily memejamkan matanya dan bernafas dengan susah payah.
"Kau tidak harus menjawabnya sekarang," Juna berbisik pada Lily.
Sangat dekat, hingga Lily bisa merasakan hembusan nafas Juna yang menerpa wajahnya.
"Tapi aku akan tetap menunggu jawaban itu," sambung Juna seraya menyatukan keningnya dengan kening Lily sekali lagi.
Tangan Juna terulur dan mengusap wajah Lily denagn lembut.
"Kau gadis baik hati, yang mengasuh Alsya dengan sepenuh hati, dan aku bisa melihat tulusnya kasih sayangmu pada putriku." Pungkas Juna sebelum berbalik dan meninggalkan Lily yang masih membisu.
Aku bukan gadis baik hati, Jun!
Aku seorang pembunuh!
Aku yang sudah membuat Alsya kehilangan kasih sayang dari Mami kandungnya.
Lily hanya mampu berteriak dalam hati.
Kini Lily benar-benar dilema.
****
Jam sudah menunjukkan pukul dua dinihari, dan Lily masih membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan gelisah. Mata Lily sulit sekali terpejam dan pikirannya tak berhenti memikirkan ucapan Juna sore tadi.
"Mi," suara serak dari Alsya bersamaan dengan pintu kamar Lily yang di dorong dari luar, membuat Lily kaget dan gadis itu langsung bangun dan duduk di atas tempat tidur.
"Ada apa, Sya?" Tanya Lily seraya membantu Alsya yang hendak naik ke atas tempat tidurnya.
"Mami jangan pergi, ya!" Ucap Alsya yang tiba-tiba sudah memeluk Lily yang terlihat bingung.
"Memangnya Mami kemana, Sya? Mami kan disini," jawab Lily seraya mengusap lembut punggung Alsya yang masih memeluknya dengan erat.
"Mami akan disini terus, kan? Bersama Papi dan Alsya?" Tanya Alsya selanjutnya yang sesaat membuag Lily terdiam.
Setelah tadi Juna meminta Liky untuk tetap tinggal dan menjadi mama sambung Alsya, kenapa sekarang Alsya juga tiba-tiba mengajukan permintaan yang sama?
Ada apa sebenarnya dengan bapak dan anak ini?
"Mami," teguran Alsya menyentak lamunan Lily.
Lily menatap ke dalam mata bening gadis empat tahun tersebut. Rasa bersalah yang awalnya membuat Lily menjadi dekat dengan gadis kecil ini. Lalu seiring berjalannya waktu dan karena kebersamaan mereka yang terus menerus selama dua tahun ini, perasaan Lily seakan sudah tertaut pada Alsya.
Ya,
Alsya hanya butuh sosok seorang mami, Lily!
Tak masalah jika kau menjadi mami untuk Alsya, dan memberikannya kasih sayang yang berlimpah. Sekalipun itu tak akan mengurangi dosamu ataupun mengampuni kesalahanmu karena sudah membunuh Emma. Tapi setidaknya, kau tak perlu membuat gadis kecil yang tak berdosa ini bersedih karena tidak mendapatkan kasih sayang seorang mami.
Lily kembali memeluk Alsya, sebelum kemudian gadis itu menangkup wajah mungil Lily dan melontarkan pertanyaan,
"Apa Alsya keberatan jika Mami Ly menjadi Mami untuk Alsya?"
"Mami beneran?" Tanya Alsya yang matanya sudah berbinar bahagia.
Lily mengangguk sambil terus meyakinkan dirinya sendiri kalau ini bukan suatu kesalahan.
Toh, Juna yang terlebih dahulu menyatakan perasaannya pada Lily dan bukan Lily yang menggoda Papi Alsya tersebut. Meskipun tak bisa dipungkiri kalau sebenarnya Lily juga menaruh perasaan pada Juna.
Lagipula, gadis mana yang tidak akan terkena jika mendapat perhatian serta perlakuan romantis dari pria seperti Juna?
"Nanti Mami menikah sama Papi?" Tanya Alsya lagi yang sontak membuat wajah Lily bersemu merah.
"Apa Alsya keberatan?" Tanya Lily sekali lagi.
Alsya menggeleng berulang kali.
"Alsya mau, Alsya mau!" Alsya sudah berseru kegirangan saat Lily meminta gadis kecil itu untuk diam.
"Jangan berisik! Nanti Papi bangun," ucap Lily seraya meletakkan telunjuknya di bibir, memberikan kode pada Alsya agar merendahkan volume suaranya.
Alsya mengangguk paham dan masih terus tersenyum lalu memeluk Lily semakin erat.
"Alsya bobok, ya!" Bujuk Lily selanjutnya dan Alsya langsung mengangguk patuh. Gadis kecil itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Lily.
"Loh?"
"Alsya mau bobok bareng mami!" Jawab Alsya cepat seraya menarik tubuh Lily agar ikut berbaring dan memeluknya.
"Baiklah!" Lily memeluk Alsya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Alsya.
Seseorang yang sejak tadi mengintip serta menguping obrolan Lily dan Alsya, melangkah perlahan dan menjauh dari kamar Lily tanpa sedikitpun disadari oleh Lily.
Orang itu masuk ke kamarnya, lalu tersenyum penuh kemenangan.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
APA GK JERIT2 TU LIDYA DIGILIR...
RASAKN, JDI WANITA, TRLALU JAHAT DN PNGIRI SAMA SAUDARI SENDIRI..