NovelToon NovelToon
Lidah Perak Tinta Darah

Lidah Perak Tinta Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.

Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.

Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.

Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.

Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

BAB 10: Lidah Ular Berbunga

[Sudut Pandang: SURA]

"Salah," kata Kian datar.

Sura mendengus kesal, melempar buku Etiket Bicara Kerajaan ke atas meja.

"Apa lagi yang salah? Aku sudah bilang 'Terima kasih atas pendapat Anda, Tuan', kan? Itu sopan!" protes Sura.

Kian duduk di seberangnya, menyesap teh sambil memijat pelipisnya. Mereka berada di ruang rahasia The Sanctum. Di luar sudah lewat tengah malam, tapi "Sesi Penyiksaan"—begitu Sura menyebutnya—masih berlanjut.

"Kalimat itu sopan untuk pedagang pasar, Sura," jelas Kian sabar, namun matanya menyiratkan kelelahan. "Tapi di Turnamen Debat, jika kau bilang 'Terima kasih atas pendapat Anda', itu artinya kau mengakui argumen lawanmu valid. Kau baru saja menyerahkan lehermu untuk disembelih."

Sura menyandarkan punggungnya kasar ke kursi. "Bahasa orang kaya itu rumit. Kenapa tidak bilang saja 'Kau bodoh dan ide-mu sampah'?"

"Karena kita bukan barbar," Kian berdiri, berjalan mengelilingi Sura seperti predator mengitari mangsa. "Di istana, kita tidak melempar batu. Kita melempar bunga... yang potnya masih menempel."

Kian berhenti di depan Sura.

"Dengar, Sura. Bahasa Tinggi (High Tongue) bukan tentang apa yang kau katakan. Tapi tentang apa yang tidak kau katakan. Ini adalah seni menyembunyikan belati di balik senyuman."

Kian mengambil sebuah kipas tangan dari meja (properti latihan). Dia membukanya dengan anggun. Srek.

"Coba hina aku," tantang Kian. "Gunakan bahasa jalananmu."

Sura menyeringai. Ini dia ahlinya. "Kau sombong, bajumu terlalu mahal, dan kau terlihat seperti mayat yang didandani."

Kian tidak berkedip. Dia mengibas kipasnya pelan.

"Sekarang, terjemahkan itu ke Bahasa Tinggi. Gunakan eufemisme. Gunakan metafora."

Sura berpikir keras. Dia menatap Kian, mencoba mencari padanan kata.

"Emm... Tuan Kian memiliki... kepercayaan diri yang tinggi?"

"Membosankan. Itu pujian, bukan hinaan."

"Tuan Kian sangat... peduli pada penampilan?"

"Lemah."

Sura mengerang frustrasi. "Ah, persetan! Aku tidak bisa melakukan ini! Lidahku kaku!"

Kian menghela napas panjang. Dia menutup kipasnya keras-keras. Tak!

"Ren," panggil Kian.

Ren, yang sedang sibuk melukis stempel palsu di sudut ruangan, mendongak kaget. "Y-ya?"

"Jadilah juri. Sura, perhatikan baik-baik," kata Kian. Dia menatap Sura dengan tatapan merendahkan yang dibuat-buat.

"Nona Valerine," mulai Kian, suaranya halus seperti sutra, "Saya sangat mengagumi keberanian Anda mengenakan gaun itu. Warnanya sungguh... berani. Mengingatkan saya pada lumut yang tumbuh subur di selokan istana, begitu alami dan penuh perjuangan."

Sura ternganga. Itu kalimat paling jahat yang pernah dia dengar, tapi terdengar seperti puisi.

"Kau baru saja bilang aku terlihat seperti sampah selokan?" tanya Sura tak percaya.

"Secara teknis, aku bilang kau 'alami dan penuh perjuangan'," Kian tersenyum polos. "Tidak ada kata kotor. Jika kau marah, kau yang terlihat sensitif. Itulah kuncinya, Sura. Pancing emosi lawan tanpa memberinya alasan untuk menuduhmu kasar."

Mata Sura berbinar. Tiba-tiba, semuanya masuk akal.

Ini bukan pelajaran tata krama.

Ini adalah manipulasi psikologis.

Ini sama seperti mencopet: Alihkan perhatian dengan tangan kiri (pujian), lalu tusuk dengan tangan kanan (hinaan).

"Coba lagi," kata Sura, menegakkan duduknya. Semangatnya kembali terbakar. "Hina aku lagi."

Kian tersenyum miring. "Baiklah. Mari kita lihat seberapa tebal kulitmu."

"Nona Valerine," kata Kian. "Mendengar argumen Anda tadi sungguh membuka wawasan. Saya tidak pernah menyangka bahwa seseorang bisa berbicara begitu banyak tanpa menyampaikan isi apa pun. Sungguh bakat yang... efisien."

Sura menahan keinginan untuk memukul wajah tampan itu. Dia menarik napas, memproses kalimat itu, lalu memutar otaknya. Balas dengan bunga. Balas dengan bunga.

Sura tersenyum. Senyum termanis yang bisa dia buat.

"Terima kasih, Tuan Arselio," jawab Sura lembut. "Pujian dari seseorang yang menghabiskan seumur hidupnya mendengarkan suaranya sendiri tentu sangat berarti bagi saya. Saya mengerti mengapa Anda menyukai keheningan... mungkin karena itu satu-satunya saat di mana Anda tidak merasa terancam oleh kecerdasan orang lain?"

Hening.

Ren di pojok menjatuhkan kuasnya. "Wow."

Kian terdiam. Matanya membelalak sedikit, lalu perlahan, senyum tulus merekah di wajahnya.

"Lumayan," kata Kian. "Nilainya 7 dari 10. Sedikit terlalu panjang, tapi 'serangan' di bagian akhir cukup tajam."

Sura tertawa puas. "Ini menyenangkan. Rasanya seperti menampar orang tanpa menyentuh."

"Tepat," Kian kembali duduk. "Sekarang, kita naikkan levelnya. Topik debat tahun ini adalah: 'Apakah Kesejahteraan Rakyat Lebih Penting daripada Stabilitas Negara?'"

"Itu pertanyaan jebakan," gumam Sura.

"Benar. Faksi Iron Wall akan memilih Stabilitas (Negara/Raja). Faksi Silver Quill akan memilih Kesejahteraan (Rakyat). Kita, Golden Key, harus bisa mengambil posisi mana pun yang menguntungkan."

Kian mengambil selembar kertas berisi daftar peserta turnamen yang baru saja dipalsukan Ren cap posnya.

"Dan lawan kita di babak penyisihan pertama sudah keluar," kata Kian.

"Siapa?" tanya Sura. "Anak bawang?"

Kian menggeleng. Dia meletakkan kertas itu di meja.

"Justru sebaliknya. Kita langsung dapat 'Bos Terakhir' di level 1."

Sura membaca nama yang dilingkari tinta merah.

Tim Oposisi: The Twins (Lira & Liro).

Faksi: Silver Quill.

"Si Kembar Lira dan Liro?" Sura mengerutkan kening. "Mereka yang bicaranya selalu barengan itu?"

"Mereka jenius sinkronisasi," jelas Kian serius. "Mereka bisa menyelesaikan kalimat satu sama lain. Berdebat dengan mereka seperti melawan satu otak dengan dua mulut. Mereka tidak pernah kalah dalam tiga tahun terakhir."

"Bagus," Sura menyandarkan dagunya di tangan, matanya berkilat menantang. "Aku selalu ingin tahu bagaimana cara membungkam dua mulut sekaligus."

Kian menatap Sura. Transformasi gadis itu mencengangkan. Dua jam lalu dia masih mengumpat seperti pelaut. Sekarang, dia sudah merencanakan strategi retorika.

"Ingat, Sura," pesan Kian. "Di panggung nanti, kau adalah Nona Valerine, putri bangsawan pemilik kebun anggur. Jangan biarkan 'Sura si Pencopet' keluar, kecuali..."

"...Kecuali kita butuh seseorang untuk mencuri perhatian?" potong Sura sambil mengedipkan sebelah mata.

Kian menggelengkan kepala, tapi dia tidak bisa menahan senyumnya.

"Istirahatlah. Besok kita perang lidah."

Malam itu, Sura bermimpi.

Dalam mimpinya, dia berdiri di sebuah panggung megah di depan Raja. Tapi dia tidak membawa pedang. Dia hanya memegang setangkai mawar berduri. Setiap kali dia membuka mulut, kelopak mawar berguguran, berubah menjadi pisau yang melukai lawan-lawannya.

Dan di sampingnya, Kian berdiri dalam bayangan, membisikkan kata-kata yang menjadi amunisinya.

Sura terbangun dengan keringat dingin. Dia menatap langit-langit kamar asramanya.

Dia sadar satu hal: Dia tidak lagi sekadar berpura-pura. Dia mulai menjadi peran yang dia mainkan. Dan pertanyaan besarnya adalah... jika dia terus memakai topeng ini, apakah wajah aslinya akan terlupakan?

Sura meraba lehernya sendiri. Masih ada bekas luka kecil di sana, kenang-kenangan dari kehidupan jalanannya.

"Aku Sura," bisiknya pada kegelapan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Aku Sura."

Tapi suara yang membalas di kepalanya terdengar seperti suara Nona Valerine yang halus dan mematikan.

"Kau adalah siapa pun yang kau butuhkan untuk menang, Sayang."

1
riana rayyan
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!