Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Atmosfer di dalam ruangan mendadak menjadi begitu berat. Tanpa membuang waktu untuk berpikir atau berdebat, Vano segera meraih tangan kanannya sendiri. Jari-jarinya sedikit gemetar saat ia membungkukkan badan, menarik paksa cincin yang sejak tadi tersemat erat di jarinya. Begitu terlepas, ia meletakkan benda logam itu di atas lantai, tepat sejajar dengan posisi kakinya, sebelum akhirnya melangkah mundur beberapa depak.
Rael memejamkan mata, menghela napas panjang seolah sedang mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ketika matanya kembali terbuka, kilatan tekad memancar dari sana.
Matteo, I need your help,
"Matteo, aku butuh bantuanmu," bisik Rael.
Matteo, yang sejak tadi berdiri dalam diam di sudut ruangan, langsung mengangguk paham. Ia tahu tugasnya: mengontrol dan meredam aura apa pun yang akan dipaksa keluar secara paksa dari cincin tersebut.
Detik berikutnya, udara di sekitar mereka mendadak mendingin.
Wuuussshhhhh!
Rael mulai melepaskan energinya sendiri untuk memancing isi dari cincin di lantai. Sedetik kemudian, sebuah tekanan magis yang masif mulai menguar.
"Matteo!!!" Rael berteriak lantang, memberi aba-aba bahwa segel tak kasat mata telah terbuka.
Yes, My Lord!
"Baik, Tuan!" sahut Matteo sigap.
Matteo langsung mengambil posisi kuda-kuda, merentangkan kedua tangannya ke depan.
Wuuussshhhhh!
Gantian aura pekat milik Matteo yang berembus kuat, membentuk pusaran pelindung di sekeliling cincin untuk mengendalikan luapan energi yang mulai mendidih.
Vano tertegun, tubuhnya mendadak kaku menyaksikan pemandangan di depannya. Dua pengguna aura tingkat tinggi sedang saling bersahut-sahutan melepaskan kekuatan yang luar biasa besar. Gelombang energi yang bertabrakan di udara membuat jubah mereka berkibar kasar.
Vano melongo, merapatkan punggungnya ke dinding, dan bergumam takjub sekaligus ngeri di dalam hati,
'Wah, luar biasa sekali aura yang dipancarkan oleh kedua orang besar ini. Aku pasti akan langsung hancur menjadi debu kalau sampai mencari masalah dengan mereka.'
Namun, kekaguman itu menguap dalam sekejap, tergantikan oleh horor yang nyata.
Aura yang bersarang di dalam cincin itu ternyata bukan sekadar energi biasa. Alih-alih keluar sedikit demi sedikit, energi tersebut mendadak meledak dan mengalir deras laksana air bah yang menjebol tanggul. Kekuatan yang meluap-luap dan pekat itu seketika berbalik menekan Matteo dan Rael. Ruangan tersebut mulai bergetar hebat.
Ugh, My Lord, this is too much!
"Ugh, Tuan, ini terlalu kuat!" keluh Matteo. Wajahnya memucat seketika, urat-urat di keningnya menonjol menahan beban energi yang hampir meremukkan tulang-tulangnya.
Rael terkejut bukan main. Saat energi itu menyentuh kulitnya, sebuah memori lama yang menyakitkan mendadak terhantam ke dalam benaknya.
'Aliran aura ini ...' ia sangat mengenalnya.
Hold on, Matteo! Don't let the ring shatter!
"Tahan, Matteo! Jangan sampai cincinnya pecah!" teriak Rael dengan keputusasaan yang kentara. Jika cincin itu pecah, ledakannya akan menghancurkan seluruh tempat ini.
Matteo sudah berada di batas kemampuannya. Napasnya terputus-putus, seolah-olah ia sedang dicekik dan hampir mati tertelan oleh pusaran aura yang mengamuk liar. Melihat Matteo yang mulai goyah, Rael menoleh cepat ke arah Vano dengan mata membelalak.
Vano!!! Release your aura and support Matteo from behind!!!
"Vano!!! Keluarkan auramu dan tahan Matteo dari belakang!!!"
Sontak Vano tersentak dari syoknya. Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, ia maju menerjang badai angin energi yang menusuk kulit. Ia menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Matteo, mengalirkan seluruh aura yang ia miliki demi menstabilkan keadaan.
Ugh! Sir, the ring is going to break!
"Ugh! Tuan, cincinnya akan pecah!" teriak Vano di tengah gemuruh angin, matanya menangkap siluet cincin di lantai yang mulai memancarkan retakan cahaya tidak stabil.
No! No! Just hold on!
"Tidak! Tidak! Bertahanlah!" sahut Rael, suaranya parau menahan tangis dan kepanikan yang luar biasa.
Rael, Matteo, dan Vano mengerahkan setiap tetes kekuatan yang tersisa di dalam tubuh mereka. Namun, pusaran aura kuno itu terlalu masif. Pertahanan mereka perlahan-lahan mulai runtuh. Di ambang kepasrahan, ketika pandangannya mulai mengabur, sebutir air mata kepedihan perlahan menetes dan mengalir di sudut mata Rael. Dadanya terasa pilu, dihantam rasa bersalah yang teramat sangat karena menyadari siapa sebenarnya pemilik asli dari cincin aura yang telah terusik ini.
Namun, tepat sebelum pertahanan mereka hancur total, sebuah keajaiban datang.
"Vano!!!"
Sebuah seruan kompak memecah ketegangan. Eren dan Liu tiba-tiba menerobos masuk ke dalam ruangan. Tanpa perlu diberi perintah, melihat situasi yang kritis, keduanya langsung mengambil posisi di belakang Vano dan Matteo, menyatukan telapak tangan mereka dan menyalurkan seluruh energi cadangan yang mereka miliki.
Kekompakan dan tambahan energi murni dari Eren dan Liu bagaikan tetesan air di padang pasir. Matteo yang tadinya hampir pingsan mendadak merasakan gelombang kekuatan baru mengalir di tubuhnya. Dengan satu hentakan napas terakhir, mereka semua mendorong balik aura liar tersebut.
Pusaran angin perlahan mengecil. Luapan energi merah yang mengamuk lambat laun menyusut, kembali tersedot masuk ke dalam inti cincin, hingga akhirnya menyisakan keheningan yang mati di dalam ruangan yang kini berantakan.
Hosh... hosh... hosh...
Suara napas yang terengah-engah saling bersahutan. Vano, Eren, dan Liu jatuh terduduk di lantai, memegangi dada mereka yang naik turun dengan cepat.
We did it!
"Kita berhasil!" seru mereka bertiga serempak, mencoba merayakan keberhasilan mereka bertahan hidup.
Namun, kegembiraan itu sama sekali tidak menyentuh Matteo dan Rael. Keduanya masih mematung, lunglai, dan lemas bukan hanya karena terkurasnya tenaga, melainkan karena sebuah kebenaran yang menghantam jiwa mereka.
Melihat keanehan tersebut, Vano, Eren, dan Liu perlahan mendekat dengan raut wajah cemas.
Are you two alright?
"Anda berdua baik-baik saja?" tanya Vano pelan.
Rael tidak menjawab. Ia berlutut di depan cincin kuno yang kini tergeletak tenang di lantai. Tubuhnya bergetar hebat, dan air matanya mengalir semakin deras. Ia berada dalam fase syok yang teramat dalam, menolak untuk mempercayai kenyataan kejam yang baru saja terbentang di depan matanya.
Cincin yang ditemukan oleh Vano secara sembarangan di tempat antah-berantah itu... aura murni yang hampir membunuh mereka tadi... tidak salah lagi. Itu adalah milik adik perempuan bungsunya.
Sosok berharga yang telah dinyatakan tewas ratusan tahun lalu dalam sebuah peristiwa sejarah berdarah yang sangat tragis di masa lalu. Kenyataan bahwa benda peninggalan adiknya, tergeletak di tempat sembarangan, membuat luka lama di hati Rael terkoyak kembali dengan begitu hebatnya.
^^^Bersambung...^^^
liat gekagatnya arien yg sefrustrasi itu cincin hilang aku jadi ikutan ngeri, takut suaminya galak 😭
tapi ini konteks nya benda sakral .. seharusnya mending di jadiin kalung atau simpen di rumah .. jadi repot kan kalau ilang begini ... beda cerita kalau emng cincinnya yang bisa teleportasi 🤭