NovelToon NovelToon
CEO Dingin Dan Dua Pewaris Rahasia

CEO Dingin Dan Dua Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Kembar / Pernikahan Kilat / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Lima tahun lalu, Aluna dijebak, dihina, lalu diusir dari rumah dalam keadaan hamil. Semua orang mengira hidupnya hancur. Namun ia kembali sebagai wanita mandiri dan sukses, membawa sepasang anak kembar jenius: Arsen yang dingin dan pintar meretas sistem, serta Aruna yang manis tapi sangat cerdas.

Aluna hanya ingin membalas orang-orang yang menghancurkan hidupnya. Tapi semuanya berubah saat kedua anaknya bertemu Rafael Mahendra, CEO muda paling berkuasa dan terkenal dingin. Wajah Arsen yang sangat mirip Rafael membuat masa lalu mulai terbongkar.

Rafael pun curiga. Siapa sebenarnya dua anak itu?

Saat rahasia kelahiran si kembar terungkap, Aluna harus memilih: terus menyembunyikan kebenaran demi melindungi anak-anaknya, atau membiarkan Rafael mengetahui bahwa ia adalah ayah dari dua pewaris rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontrak Kerja Berbahaya

“Ada seseorang di dalam Mahendra Group yang sudah mengawasi Mama sejak sebelum kami kembali ke Jakarta.”

Ucapan Arsen membuat wajah Rafael berubah sedingin es.

Ia menatap folder keamanan di layar tablet. Data perjalanan Aluna, foto-foto lama, catatan sekolah si kembar, dan laporan tentang aktivitas Aluna Atelier tersusun berdasarkan tanggal.

Bukan pekerjaan orang yang sekadar penasaran.

Seseorang telah mengamati Aluna selama bertahun-tahun.

“Dari mana kau mendapatkan folder ini?” tanya Rafael.

Arsen menunjuk salah satu kode kecil di bagian bawah layar.

“Server cadangan milik Mahendra Group.”

“Itu tidak mungkin.” Raka mendekat. “Server tersebut terpisah dari jaringan publik.”

“Tidak sepenuhnya.”

Raka menatap anak itu tidak percaya.

Arsen memperbesar satu baris alamat akses.

“Enam bulan lalu seseorang membuka jalur eksternal agar bisa mengambil data dari luar kantor. Jalurnya disembunyikan di dalam sistem pemeliharaan.”

“Siapa yang membuka jalur itu?” tanya Rafael.

“Aku belum tahu. Jejak identitasnya dibersihkan setiap tujuh puluh dua jam.”

Rafael menoleh kepada Raka.

“Berapa orang yang memiliki kewenangan masuk ke server cadangan?”

“Direktur keamanan, kepala teknologi informasi, sekretaris dewan, dan beberapa anggota keluarga inti.”

“Nama.”

Raka segera membuka ponselnya.

“Pak Darmawan, saya, Pak Reza dari divisi teknologi, Nyonya Besar, Tuan Adrian, serta Anda sendiri.”

Nama Adrian membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat.

Aluna mengambil tablet dari tangan Rafael.

“Kenapa data saya ada di perusahaan Anda?”

“Saya tidak memerintahkannya.”

“Tapi orang Anda yang melakukannya.”

“Orang di dalam perusahaan saya tidak selalu bekerja untuk saya.”

Aluna menatapnya tajam. “Itu seharusnya membuat saya merasa lebih tenang?”

“Tidak.”

Jawaban Rafael terlalu jujur untuk dibantah.

Ia mengalihkan perhatian kepada Arsen.

“Kau menyalin seluruh folder?”

“Ya.”

“Di mana salinannya?”

“Tempat aman.”

“Berikan kepada saya.”

“Tidak.”

Raka menarik napas perlahan. Rafael sendiri tidak langsung bereaksi.

“Arsen,” kata Aluna, “serahkan datanya.”

Anak itu memandang ibunya.

“Kalau data hanya ada pada Om Rafael, orang jahat di perusahaannya bisa menghapus semuanya.”

“Saya bisa mengamankannya,” ujar Rafael.

Arsen menggeleng. “Sistem Om sudah ditembus. Berarti Om belum bisa.”

Raka menundukkan wajah, mungkin untuk menyembunyikan ekspresinya.

Rafael menatap Arsen lama.

“Baik. Simpan satu salinan. Berikan salinan lainnya kepada Raka.”

“Aku akan mengirim versi yang tidak bisa diubah.”

“Lakukan.”

Arsen membuka tabletnya kembali.

Aluna menyentuh bahu putranya. “Setelah itu, kamu berhenti menyelidiki.”

Arsen tidak menjawab.

“Arsen.”

“Orang itu mengawasi Mama.”

“Dan Mama tidak ingin kamu menjadi target berikutnya.”

“Aku sudah menjadi target sejak mereka mengambil rambutku.”

Kalimat sederhana itu menghantam Aluna lebih keras daripada tuduhan Celine.

Ia menatap putranya. Arsen hanya berusia lima tahun, tetapi kini berbicara tentang pencurian sampel tubuh dan pengawasan seolah semua itu bagian biasa dari kehidupannya.

Aluna berjongkok di hadapannya.

“Itu sebabnya kamu harus berhenti.”

“Kalau aku berhenti, siapa yang melindungi Mama?”

“Mama bisa melindungi diri sendiri.”

Arsen melirik Rafael.

“Lima tahun lalu Mama juga berpikir begitu.”

Wajah Aluna menegang.

Rafael mengambil tablet dari tangan Arsen, lalu memberikannya kepada Raka.

“Kirim tim untuk memeriksa rumah aman. Ganti seluruh sistem jaringan dan perangkat komunikasi.”

“Baik, Pak.”

“Tidak,” potong Aluna.

Rafael menoleh. “Apa?”

“Anda tidak akan mengambil alih kehidupan kami.”

“Seseorang dari perusahaan saya mengawasi kalian.”

“Lalu periksa perusahaan Anda.”

“Saya akan melakukan keduanya.”

“Saya tidak membutuhkan pasukan di setiap pintu.”

“Yang kau butuhkan dan yang kau sukai adalah dua hal berbeda.”

Aluna berdiri.

“Dan Anda selalu menganggap keputusan Anda paling benar.”

“Dalam masalah keamanan, ya.”

“Saya tidak bekerja untuk Anda.”

Rafael menatapnya tanpa ekspresi.

“Belum.”

Aluna mengerutkan kening.

“Apa maksudnya?”

Namun Rafael tidak menjawab. Ia hanya melihat jam tangannya.

“Kita pergi.”

Keesokan paginya, Aluna tiba di gedung utama Mahendra Group dengan perasaan tidak nyaman.

Bangunan pencakar langit itu berdiri di pusat Jakarta seperti simbol kekuasaan. Dinding kaca memantulkan langit kelabu, sementara puluhan pegawai berjalan cepat melewati lobi luas dengan kartu identitas di dada.

Aluna datang bukan untuk mengunjungi Rafael.

Setidaknya, itulah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.

Tiga jam sebelumnya, Raka mengirim undangan rapat resmi atas nama Mahendra Group. Isi pesannya singkat.

Pembahasan kerja sama eksklusif antara Mahendra Luxury Residence dan Aluna Atelier. Kehadiran Nona Aluna Prameswari diperlukan pukul 09.00.

Aluna hampir menolaknya.

Namun proyek Mahendra Luxury Residence bernilai sangat besar. Jika berhasil mendapatkannya, Aluna Atelier bukan hanya mampu membuka cabang Jakarta, tetapi juga masuk ke pasar hotel dan hunian premium di Asia Tenggara.

Kesempatan itu terlalu penting untuk diabaikan.

Pintu lift eksekutif terbuka di lantai empat puluh delapan.

Raka telah menunggu.

“Selamat pagi, Nona Aluna.”

“Di mana Rafael?”

“Di ruang rapat.”

“Siapa saja yang hadir?”

“Bapak Rafael dan tim hukum.”

Aluna berhenti berjalan.

“Hanya itu?”

“Untuk tahap awal.”

“Kerja sama desain biasanya melibatkan bagian pengembangan, pembelian, dan pemasaran.”

“Bapak Rafael meminta pembicaraan dilakukan secara tertutup.”

Itu bukan pertanda baik.

Raka membuka pintu ruang rapat.

Rafael duduk di ujung meja panjang. Setelan hitamnya sempurna seperti biasa. Di sebelahnya terdapat tiga orang dari tim hukum. Beberapa map tebal tersusun di atas meja.

Aluna masuk tanpa menunggu dipersilakan.

“Saya tidak punya banyak waktu.”

Rafael melihat jam tangan. “Kau terlambat empat menit.”

“Anak saya mengganti kata sandi sistem keamanan rumah karena tidak percaya teknisi Anda.”

“Keputusan yang masuk akal.”

“Jangan mendukungnya.”

Rafael menggeser sebuah map ke kursi di seberangnya.

“Duduk.”

Aluna tetap berdiri.

“Jelaskan proyeknya.”

Salah seorang pengacara membuka presentasi.

“Mahendra Group sedang mengembangkan dua belas properti premium yang terdiri atas hotel, hunian eksklusif, pusat perbelanjaan, serta ruang acara. Kami menawarkan Aluna Atelier posisi sebagai mitra desain utama untuk tekstil interior, seragam khusus, koleksi eksklusif, dan kebutuhan acara.”

Aluna membuka halaman pertama.

Nilai kontraknya membuatnya berhenti bernapas selama sesaat.

Angka tersebut lebih dari cukup untuk memperbesar Aluna Atelier tiga kali lipat.

Namun pengalaman mengajarinya bahwa hadiah yang terlalu besar biasanya menyimpan harga yang tidak terlihat.

“Kenapa saya?”

Rafael menjawab, “Desainmu memenuhi konsep proyek.”

“Ada puluhan rumah mode yang lebih besar.”

“Mereka tidak memiliki gaya yang saya butuhkan.”

“Atau Anda hanya ingin membuat saya tetap dekat agar lebih mudah diawasi?”

Tim hukum saling bertukar pandang.

Rafael tidak terlihat terganggu.

“Keduanya bisa benar.”

Aluna menutup map.

“Kalau begitu saya menolak.”

“Kau belum membaca seluruhnya.”

“Saya tidak akan menjadikan perusahaan saya alat untuk penyelidikan pribadi Anda.”

“Baca pasal tujuh.”

Aluna membalik halaman hingga menemukan bagian tersebut.

Pasal tujuh mengatur perlindungan kekayaan intelektual. Semua desain Aluna Atelier tetap menjadi hak Aluna. Mahendra Group tidak boleh menggunakan, menggandakan, atau menyerahkannya kepada pihak ketiga tanpa persetujuan tertulis.

Tidak ada jebakan di sana.

Justru klausul itu jauh lebih menguntungkan dibanding kontrak yang biasanya ditawarkan perusahaan besar.

Ia melanjutkan membaca.

Mahendra Group juga menanggung biaya hukum terkait pencurian desain oleh Prameswari Fashion. Tim independen akan membantu audit digital dan mengamankan seluruh data bisnis Aluna Atelier.

“Ini terlalu menguntungkan,” kata Aluna.

“Saya tidak menawarkan kontrak buruk.”

“Tidak ada pengusaha yang memberikan perlindungan sebesar ini tanpa meminta sesuatu.”

Rafael menatapnya.

“Buka halaman terakhir.”

Aluna melakukannya.

Ada tiga ketentuan tambahan yang ditulis terpisah.

Pertama, seluruh pekerjaan utama dilakukan di studio khusus dalam gedung Mahendra Group.

Kedua, Aluna wajib menghadiri rapat perkembangan proyek minimal tiga kali seminggu.

Ketiga, Mahendra Group berhak memberikan pengamanan pribadi selama masa kontrak.

Aluna meletakkan dokumen itu.

“Jadi benar. Ini hanya cara agar Anda bisa mengawasi saya.”

“Ini cara untuk memastikan orang yang mengawasi kalian tidak bisa bergerak tanpa saya ketahui.”

“Anda bisa menyelidiki masalah itu tanpa mengikat perusahaan saya.”

“Saya bisa. Tapi kontrak ini juga melindungi pekerjaanmu dari serangan Celine.”

“Saya tidak takut kepadanya.”

“Perusahaanmu baru saja dituduh mencuri desain. Investor bisa mundur, pemasok bisa membatalkan kesepakatan, dan media bisa menghancurkan reputasimu sebelum proses hukum selesai.”

Aluna mengepalkan tangannya.

Rafael melanjutkan, “Satu pengumuman bahwa Mahendra Group memilih Aluna Atelier sebagai mitra utama akan membungkam sebagian besar keraguan pasar.”

“Anda ingin menjadi penyelamat?”

“Saya ingin kontrak yang menguntungkan.”

“Kepada siapa?”

“Kedua pihak.”

Aluna menatap angka proyek sekali lagi.

Ia membenci kenyataan bahwa Rafael benar.

Aluna Atelier sedang berada dalam masa penting. Cabang Jakarta belum resmi dibuka. Serangan Celine bisa membuat calon investor menunggu, bahkan menarik diri.

Kerja sama dengan Mahendra Group akan memberi legitimasi yang tidak bisa dibeli dengan kampanye apa pun.

Namun menerima kontrak berarti memasuki wilayah Rafael.

Tiga kali rapat dalam seminggu.

Pengamanan pribadi.

Studio di gedung miliknya.

Terlalu dekat.

Terlalu berbahaya.

“Saya ingin mengubah beberapa pasal.”

“Bicaralah.”

“Pengamanan hanya dilakukan dengan persetujuan saya. Tidak boleh ada akses ke rumah, perangkat pribadi, atau informasi anak-anak tanpa izin tertulis.”

Rafael mengangguk kepada tim hukum.

“Tambahkan.”

“Studio dapat diaudit oleh tim saya sendiri.”

“Setuju.”

“Mahendra Group tidak berhak mencampuri keputusan kreatif.”

“Selama masih sesuai anggaran dan konsep.”

“Keputusan akhir mengenai desain berada pada saya.”

“Setelah persetujuan klien.”

Aluna menatapnya. “Anda kliennya.”

“Benar.”

“Berarti tetap Anda yang memutuskan.”

“Saya membayar.”

“Saya yang menciptakan.”

Tim hukum di ruangan itu mendadak sibuk menunduk.

Rafael menyandarkan tubuh ke kursi.

“Keputusan kreatif berada padamu. Keputusan penggunaan akhir berada pada perusahaan.”

“Ditulis jelas.”

“Tambahkan,” perintah Rafael.

Pengacara segera mencatat.

Aluna melanjutkan, “Saya juga tidak akan datang tiga kali seminggu. Dua kali.”

“Tiga.”

“Dua.”

“Setiap hari kerja.”

Aluna menatapnya tidak percaya. “Anda sengaja mencari masalah?”

“Saya sedang bernegosiasi.”

“Lima hari menjadi tiga hari bukan negosiasi.”

“Bagiku itu kelonggaran.”

“Dua kali rapat. Selebihnya secara daring.”

Rafael terdiam beberapa detik.

“Tiga kali dalam dua minggu.”

“Setuju.”

Salah seorang pengacara menyusun ulang dokumen. Printer di sudut ruangan mulai bekerja.

Aluna membaca setiap halaman dengan teliti sebelum menandatangani bagian akhir.

Namun ketika ia hendak meletakkan pena, Rafael menahan lembar kontrak tersebut.

“Masih ada satu lampiran.”

Ia mengeluarkan map tipis berwarna hitam dari bawah meja.

Aluna langsung curiga.

“Apa ini?”

“Kesepakatan terpisah.”

“Saya tidak akan menandatangani apa pun yang tidak berkaitan dengan perusahaan.”

“Baca dulu.”

Aluna membuka map itu.

Isinya hanya satu halaman.

Judulnya membuat wajahnya berubah.

PERSETUJUAN PEMERIKSAAN HUBUNGAN BIOLOGIS

Ia menutup map dengan keras.

“Tidak.”

“Aluna.”

“Kontrak bisnis tidak memberi Anda hak memasukkan anak-anak saya.”

“Lampiran itu tidak menjadi syarat kerja sama.”

“Lalu kenapa ada di sini?”

“Karena saya menginginkan jawaban.”

“Saya sudah mengatakan belum setuju.”

“Arsen menginginkan tes.”

“Dia anak kecil.”

“Dia memiliki hak untuk mengetahui ayahnya.”

“Dan saya memiliki kewajiban melindunginya.”

Rafael berdiri.

“Saya juga mungkin memiliki kewajiban yang sama.”

“Kata ‘mungkin’ tidak membuat Anda menjadi ayah.”

“Itulah tujuan pemeriksaan.”

Aluna memasukkan kembali dokumen itu ke map, lalu mendorongnya kepada Rafael.

“Kerja sama ini hanya tentang bisnis. Jangan mencoba memakai kontrak untuk mendekati anak-anak.”

Rafael menatap map tersebut.

“Saya tidak membutuhkan kontrak untuk mendekati mereka.”

“Jangan terlalu percaya diri.”

“Saya sudah berbicara dengan Arsen pagi tadi.”

Aluna membeku.

“Apa?”

“Dia menghubungi saya.”

“Bagaimana dia memiliki nomor Anda?”

“Dia tidak membutuhkan nomor.”

Tentu saja.

Anak itu mungkin masuk ke jaringan komunikasi Rafael tanpa kesulitan.

“Apa yang kalian bicarakan?”

“Rahasia antara saya dan dia.”

“Dia anak saya.”

“Dan mungkin anak saya.”

Aluna berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Jangan ulangi kalimat itu tanpa bukti.”

Rafael tidak mundur.

“Kalau begitu izinkan pembuktiannya.”

Sebelum Aluna sempat menjawab, pintu ruang rapat terbuka.

Arsen masuk sambil menggandeng Aruna. Raka berjalan di belakang mereka dengan wajah yang menunjukkan bahwa ia sudah mencoba menghentikan keduanya.

“Mama,” panggil Aruna ceria.

Aluna menatap kedua anaknya dengan kaget.

“Kenapa kalian di sini?”

Aruna menunjuk Rafael.

“Om Wajah Serius mengundang kami makan siang.”

Aluna perlahan menoleh kepada Rafael.

“Anda mengundang anak-anak saya tanpa izin?”

“Saya mengundang mereka melalui Raka.”

“Itu bukan izin saya.”

Arsen berjalan menuju meja, lalu mengambil map pemeriksaan biologis.

“Aku sudah membaca dokumennya.”

Aluna merebut map itu.

“Kamu tidak boleh membaca berkas pribadi orang dewasa.”

“Namaku ada di dalamnya. Berarti itu juga berkas pribadiku.”

“Arsen.”

Anak itu memandang ibunya dengan serius.

“Aku ingin melakukan tes.”

Aluna terdiam.

Aruna mengangkat tangan kecilnya.

“Aku juga.”

Rafael berdiri di belakang mereka tanpa mengatakan apa pun.

Aluna menatap dua anak yang selama lima tahun ia lindungi dari pertanyaan tentang ayah mereka.

Kini pertanyaan itu berdiri tepat di hadapannya dan tidak lagi bisa dihindari.

Arsen menyentuh tangan ibunya.

“Mama tidak perlu takut. Apa pun hasilnya, kami tetap anak Mama.”

Mata Aluna terasa panas.

Rafael mengambil pena dari atas meja, lalu meletakkannya di samping dokumen.

Namun sebelum Aluna menyentuhnya, Raka menerima panggilan.

Wajahnya berubah.

“Pak Rafael, ada masalah.”

“Apa?”

“Laboratorium yang tercantum dalam dokumen palsu Adrian baru saja mengirimkan hasil pemeriksaan baru.”

“Dari sampel siapa?”

Raka menatap Arsen dan Aruna.

“Dari kedua anak itu.”

Aluna mencengkeram map di tangannya.

“Bagaimana hasilnya?”

Raka menelan ludah.

“Hasilnya menyatakan Rafael Mahendra adalah ayah biologis Aruna.”

Ia berhenti sesaat.

“Tapi bukan ayah biologis Arsen.”

1
Anonim
Ngaku2 ni ye
Anonim
Lanjut 💪 💪💪
Anonim
Mantap 💪💪💪
Anonim
😍😍😍
Anonim
Seru nya
Carina Yuda: Thanks kakak
total 1 replies
Anonim
Heremm 🤭🤭🤭
Carina Yuda: Hihihihi agak gimana ya
total 1 replies
Anonim
Aku suka 😍😍😍
Carina Yuda: Selamat membaca kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!