Kehidupan Milly yang tenang di sebuah kota kecil, Glenmore, perlahan mulai berubah menjadi mencekam. Perburuan demi perburuan mengejarnya. Ia harus lari, sejauh mungkin dari rumah, menjauhkan dari nenek Dorothy. Nenek yang mengadopsinya dari panti asuhan.
Pelarian demi pelarian membawanya ke sebuah misteri hidup yang selama ini ia pertanyakan. Siapa dirinya? Darimana asalnya? Kenapa ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang sekitarnya? Mengapa mereka mengejarnya?
Akankah takdir akan membawa Milly menemukan jawaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Kecemburuan Alletta
Pagi-pagi, Wayne sudah datang ke rumah Milly. Ia mengayuh sepeda.
Di dalam rumah, ia mendengar dua suara yang saling tarik ulur, antara Milly dan neneknya. Nenek Dorothy dengan tegas melarang Milly pergi sekolah. Ia ingin Milly pulih dari lukanya dulu. Karena di luar rumah, apapun bisa terjadi. Dan ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi pada Milly.
Beberapa hari lalu Milly pulang dalam keadaan seluruh lengannya luka-luka. Hari berikutnya, ada yang merampok tas Milly. Kemarin Milly juga baru pulang usai dirawat akibat kecelakaan. Jika semua ini kebetulan, maka kebetulan ini terlalu janggal dan datang dalam waktu berdekatan.
Di sisi lain, Milly bersikeras tetap masuk sekolah. Ia sudah tidak masuk satu hari. Bukankah nenek sendiri yang mendidiknya sebisa mungkin tetap masuk sekolah apapun yang terjadi. Kecuali memang keadaan tidak memungkinkan--misal terbaring di ranjang dan tidak bisa bangun. Milly ingat, bahkan saat hujan atau sakit, selama masih bisa bangun dari tempat tidur, Milly kecil tetap dipaksa masuk sekolah. Jadi kenapa sekarang berubah? Kenapa sekarang jadi longgar? Milly tidak paham jalan pemikiran neneknya.
Saat-saat keduanya bersitegang, tiba-tiba pintu diketuk. Dan Wayne berdiri tepat di depan pintu.
"Aku mau menjemput Milly, nek," ujar Wayne tenang. Seolah ia tak mendengar apapun yang terjadi dari balik pintu. Padahal ia mendengarnya. Ia paham resiko yang mungkin terjadi. Tempat terbuka, tempat publik, kapan saja, dimana saja Milly bisa jadi sasaran empuk. Tapi ia juga tak mau mengurung Milly. Karena jika ia mau melakukannya, ia bisa melakukannya sejak Milly tinggal di rumahnya. Ia tidak akan mengembalikan Milly ke rumah Nenek Dorothy. Ia lebih tahu dari siapapun, bertemu dengan Nenek Dorothy akan membongkar perjodohan masa kecilnya. Tapi semua worth it, itu harga yang memang harus ia bayar. Ia ingin menjaga Milly dari dekat tanpa Milly harus kawatir bahaya apa yang sudah mengintainya.
Nenek Dorothy setengah tak rela, akhirnya mengijinkan Milly pergi ke sekolah.
"Untung kau datang," kata Milly menepuk ringan bahu Wayne.
"Ini caramu berterimakasih?" goda Wayne menggosok-gosok bahunya sendiri.
"Mulai lagi," desis Milly kesal.
Wayne menyeringai. Ia meminta Milly duduk di jok belakang sepeda dan mengalungkan salah satu tangan Milly ke pinggangnya. "Pegang yang erat, supaya tak jatuh," ujarnya enteng. Senyum terulas di sudut bibirnya.
"Ya ya ya, aku tahu," sahut Milly setengah meruntuk.
"Tidak naik mobil lagi?" tanya Milly memancing.
"Mobil terlalu mencolok. Kita masih SMA kelas 3. Sepeda lebih baik. Lebih sederhana," jawab Wayne sambil mulai mengayuh sepedanya.
"Tuan putri suka naik mobil?" goda balik Wayne. Ia tersenyum tipis.
"Bukan. Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin bertanya apa kabar mobilmu?" Ingatan Milly flashback ke kecelakaan kemarin. Meski mobil Wayne tidak hancur seperti mobilnya, tapi bumper depan juga ringsek cukup parah.
"Aku jadi cemburu pada mobilku. Kenapa kau tak menanyakan tentang aku?" komentar Wayne dengan nada memelas.
Haizzz--batin Milly. Ia ingin menepuk jidatnya sendiri. Tapi ia mengurungkan niatnya. "Tidak bertanya lagi. Tidak bertanya lagi," desisnya kesal.
Wayne tertawa renyah. Ketika ia berhenti dari tawanya, baru ia menjawab Milly dengan wajah serius, "Mobilku masuk bengkel. Rusak parah bumpernya. Itu gara-gara tunanganku tidak mau nurut."
"Berapa biayanya? Aku akan menggantinya."
"Tidak perlu," tolak Wayne tegas. "Apalah arti sebuah mobil jika dibandingkan nyawa tunanganku," imbuhnya dramatis.
"Gombal," timpal Milly ketus. Ia ingin menarik tangannya yang melingkar di pinggang Wayne, tapi tangan Wayne dengan sigap menahannya.
"Jangan bergerak!" kata Wayne dengan nada setengah memberi peringatan.
Milly mengalah. Ia menurut. Baginya tak lucu harus bertengkar dengan Wayne di atas sepeda. Apalagi Wayne yang memegang kendali.
Sepeda mereka terus dikayuh. Embun menyelimuti jalan di depan. Semilir angin pagi menggoyahkan dedaunan yang mereka lewati.
"Aku tak mengerti. Kenapa dari awal kau tak pernah menyebut perjodohan ini?"
"Karena aku mau dikenal sebagai diriku, bukan dengan embel-embel perjodohan. Karena hubungan yang dipaksa, tak akan manis," urai Wayne menjelaskan.
"Jangan bahas lagi masalah perjodohan ini," sungut Milly sedikit tak suka.
"Kenapa? Kita kan memang ada perjodohan," protes Wayne, ada nada tak terima dalam suaranya. Padahal Milly dulu yang mulai membahas, tapi begitu ia sebut, Milly yang malah menarik diri.
"Aku belum menyetujuinya," jawab Milly enggan.
"Ok. Aku akan menunggu," ujar Wayne lirih. Suaranya terdengar jauh lebih keruh dan sendu.
Milly tidak pernah tahu betapa paniknya Wayne saat Pak Herman membawanya. Ia berlari mengejarnya sekuat tenaga, tapi nyaris tak terkejar. Untung, anak buahnya mengantarkan mobil di moment yang tepat.
Begitu melihat, mobil Milly keluar jalur dan menjauhi pusat kota. Ia tanpa pikir panjang melajukan mobilnya lebih kencang dan banting setir, putar arah kembali, dari arah berlawanan menghadang mobil Milly. Berkat kecanggihan modifikasi mesinnya, Milly terselamatkan. Meski luka dan benturan tidak dapat dihindari.
Sesampainya di sekolah, Wayne menurunkan Milly di pintu gerbang. Sementara ia sendiri pergi ke tempat parkir sepeda, kemudian ia ikut menyusul ke kelas.
***
Di kelas, Milly langsung berlari ke bangku tempat biasa ia duduk. Ia melihat Alletta sudah ada di kelas. "Kau sudah masuk?" ujarnya girang.
Alletta mengiyakan. "Sejak kemarin," katanya dengan nada malas.
Entah kenapa Milly merasa ada sekelumit perasaan tak senang dalam suara Alletta.
"Kapan keluar dari rumah sakit?" Milly sengaja mengganti topik pembicaraan.
"Malam, kemarin lusa," jawab Alletta singkat.
"Dimana sekarang kau tinggal?" tanya Milly lagi. Andai belum ada tempat tinggal, ia ingin menawarkan rumah Nenek Dorothy kepada Alletta untuk ditinggali. Karena mereka berteman sudah lama, Nenek Dorothy pasti tidak akan keberatan.
"Sementara ini Papa mengajak tinggal di rumah paman. Rumahnya dekat dari sekolah. Hanya beberapa blok dari sini."
"Apa kabar Papamu? Sudah lama aku tak melihatnya."
"Dia baik."
"Apa tanggapan Papamu soal kebakaran ini?"
"Saat kebakaran terjadi, Papa ada di ibukota. Papa juga kaget. Papa dikabari polisi dan langsung pulang."
"Lalu apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Milly lagi.
"Belum ada rencana apapun." Alletta merasa pertanyaan Milly tak ada habisnya. Kini giliran ia yang mengalihkan topik. "Kudengar kemarin lusa kau kecelakaan?"
Milly mengangguk pelan.
"Apa kau tahu kenapa Wayne kemarin juga tidak masuk?" pancing Alletta mencari tahu.
"Ia merawatku," desis Milly yang tanpa sadar menyentuh perban di kepalanya.
"Memang separah apa kecelakaan mu? Apa kau tidak tahu, bagi seorang seperti Wayne, tidak masuk sekolah membuatnya banyak ketinggalan pelajaran?" timpal sarkas Alletta.
Kening Milly mengerut. "Aku tidak sadarkan diri, Letta," jawab Milly jengah. Pertanyaan yang dilontarkan itu tidak mirip pertanyaan, lebih mirip serangan.
"Kau hanya memikirkan dirimu sendiri," cerca Alletta tak terima. Batinnya dipenuhi dengki--Kenapa Wayne mau susah-susah merawat Milly. Padahal dia dan Milly sama-sama tertimpa musibah. Kenapa Wayne tidak pergi merawatnya juga. Apa kelebihan Milly dibanding dirinya. Ia tak habis pikir.
"Itu inisiatif Wayne sendiri. Dan aku juga tak pernah memintanya." imbuh Milly mencoba menjelaskan duduk perkaranya.
Mata Milly membola. Speechless. Susah berurusan dengan orang yang matanya sudah tertutup dengan prasangka buruk.
"Letta, sebaiknya kau tanya sendiri kepada Wayne," ujar Milly tak mau menyulut emosi Alletta lebih besar.
"Kau.." kata-kata Alletta mendadak terhenti saat melihat kedatangan Wayne.
Wayne masuk kelas dengan langkah ringan. Ia menarik tangan Milly. "Seharusnya kau duduk denganku," katanya. Ia ingat beberapa hari lalu memang Wayne pernah memberitahu jika guru menukar tempat duduk Alletta dan Wayne.
"Bagaimana bisa?" protes Alletta menahan tangan Milly.
"Sejak kau tidak masuk Letta," ucap Milly lirih.
"Siapa yang memutuskan?" gerutu Alletta masih menahan.
"Guru," sahut Wayne acuh tak acuh. "Aku butuh bantuan Milly untuk memperbaiki nilai bahasaku. Timbal baliknya aku membantu Milly belajar Fisika dan Matematika."
"Aku juga bisa membantumu," runtuk Alletta, tapi Wayne sama sekali tak menggubris.
"Kau berubah Letta," komentar Milly pelan. Ia menepis pelan tangan Alletta dan mengikuti Wayne ke bangkunya.
Dengan penuh kemarahan, Alletta mengacak buku yang ada di mejanya. Dari ekor matanya, ia melihat Milly duduk dengan Wayne di bangku depan.
"Mulai sekarang kita duduk disini," ujar Wayne dingin. Ekspresi itu biasanya dilihat saat Wayne tak mau dibantah.
Milly mengangguk pelan. Ia mengambil buku pelajaran dari dalam tasnya. Tak lama bel masuk berbunyi dan kelas dimulai.
***