Nayla Thalita Firliany 21 tahun, gadis cantik yang biasa di panggil Nayla ini merantau dari Riau ke ibu kota Jakarta untuk menuntut ilmu di salah satu kampus ternama.
Dan Naas Nayla harus kehilangan ke Virginan nya dalam sebuah insiden pemerkosaan saat ia tengah mabuk.
Karena pelaku bukan pria yang Nayla kenal, serta dirinya juga tidak hamil maka Nayla memilih melupakan kejadian itu dan menganggapnya sebagai mimpi buruk semata.
Namun beda halnya dengan Giovani Farmost 29 tahun, seorang Presdir sebuah perusahaan kontruksi yang merasa jika Nayla adalah takdirnya.
Gion panggilan dari Giovani menghalalkan segala cara untuk bisa membuat Nayla selalu di sisihnya
Namun kesalah pahaman yang terjadi di awal pertemuan mereka membuat keduanya tidak pernah akur. Terlebih Nayla yang tidak mencintai Gion membuat Gion selalu cemburu berlebihan.
Lalu apa yang akan terjadi pada kisah mereka berdua?
Simak kisah mereka selanjutnya dalam
I'M JUST FOR YOU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jujuk Aza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Di Sebuah gedung pencakar langit.
“BRENGSEK!”
Seorang pria tampan layaknya aktor sinetron, membanting Handphone yang tengah ia pegang, sehingga benda pipih berwarna hitam itu pecah berserakan di lantai.
Barusan seorang wanita meneleponnya, menanyakan tentang sesuatu yang berhubungan dengan masalah pribadinya yang membuat Pria itu sangat geram dengan gosip murahan yang kini tengah menghampiri dirinya.
"Aaaggghhh!!"
Pria itu mengacak rambutnya Frustasi. Bagaiman bisa ia di kabarkan sudah impotensi lantaran beberapa kali melewatkan kesempatan tidur dengan para pel*cur murahan itu.
Ia masih sehat dan masih mampu membuat para wanita mendesah nikmat serta melayang-layang keenakan ketika berada di bawah tubuhnya, meski semua itu bohong.
Jujur saja, ia juga tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, semenjak ia tidur dengan seorang pel*cur yang diketahui bernama Nayla tubuhnya seolah enggan untuk menyentuh wanita lain.
Meski ia memaksa namun otaknya dan tubuhnya selalu menolak melakukan hal itu. Otaknya selalu mengatakan jika ia tidak akan terpuaskan seperti kepuasan yang di berikan sosok gadis itu kepadanya. Sehingga lawan mainnya kehilangan pesona begitu saja.
Kadang ia mulai bertanya-tanya, apakah benar dirinya sudah tidak mampu untuk bercinta lagi? Meski ia menolak pemikiran itu, karena kenyataanya ia juga tidak tertarik dengan kaum pria, serta libidonya masih naik ketika mendapati seorang cewek berpakaian seksi, meskipun tidak pernah berakhir di ranjang.
Dan sialnya sosok pel*cur murahan yang sudah memporak-porandakan hidupnya kini hilang bgai ditelan bumi. Bukan hanya wanita itu, bahkan orang yang menghubungkan ia dengan Nayla juga ikut menyembunyikan gadis sialan itu.
Nayla, gadis sialan itu bukanlah sosok cantik jelita yang membuat semua mata terpana ketika melihatnya. Nayla tidak cantik menurutnya. Karena ia mengenal banyak wanita yang lebih cantik dari gadis amatir itu.
Jika dibandingkan dengan kekasihnya yang dulu-dulu cewek itu tidak ada apa-apanya, meski Nayla tidak bisa dikatakan jelek juga.
Yasetandar SNI lah, antar nilai delapan sampai delapan koma lima. Namun entah kenapa segala yang berhubungan dengan gadis itu seolah sangat sepesial baginya. Apalagi sentuhan dia yang lembut, juga aroma tubuhnya.
Nayla mempunyai aroma tubuh yang sangat unik. Berbeda dari cewek-cewek pada umunya. Harum keringat gadis itu seperti wangi aroma terapi yang dapat menenangkan seluruh Syaraf otaknya, sehingga tidak heran jika habis bercinta dengan Nayla, ia bisa tidur nyenyak yang membuat gadis itu lolos begitu saja. Melarikan diri, meninggalkan dirinya, saat terlelap tertidur. Layaknya k*ndom yang langsung di buang begitu habis dipakai.
Untuk membuktikan jika dirinya masih mampu bercinta lagi atau tidak, maka ia harus mencari Nayla dan mencobanya dengan pel*cur itu.
Masih dengan menahan geram dan emosi, pria tampan itu, menekan tombol interkom yang berada di meja kerjanya.
"Panggil Aky kesini! Suruh dia menemui ku sekarang!!" Perintahnya pada seseorang dengan nada marah.
*
*
*
*
Ruang CEO,
“Cari Nayla buat gue!”
Perintah seorang pria kepada orang duduk di depannya, sambil menyerahkan selembar foto wanita.
“Bawa dia dihadapan gue secepatnya mengerti?!” tegasnya pada pria yang usianya dua tahun tahun lebih muda darinya.
"Siapa dia?"
Tanya pria yang mendapat perintah, sambil mengamati foto sosok gadis itu.
"Sepertinya gue tidak pernah lihat cewek ini sebelumnya? Nemu dari mana elo cewek cantik model begini?" Tanya pria itu kepo.
Tidak perduli dengan wajah garang sang bos yang lebih mirip barongsai ketimbang manusia.
"Sudah jangan banyak tanya, tugas elo hanya cari dia buat gue bukan jadi wartawan gadungan!" Makinya kesal.
Sang pria yang bernama Aky mengeluarkan cengiran khasnya, "Kemana dulu gue harus mencari dia?" Tanya Aky lagi,
"Ke neraka!" jawabnya penuh emosi. "Banyak bacot Lo, kayak amatir saja. Elo cari dia dimana saja gue gak perduli. Ke ujung dunia sekalipun gue juga kagak perduli, yang penting dia temukan dan bawa dia ke hadapan gue secepatnya. Karena gue harus membuat perhitungan sama dia, harus!" tegasnya
"Gue harus membuat wanita itu bertekuk lutut dihadapan gue dan meminta maaf karena sudah melecehkan gue. Dan elo harus mencari dia. Dimana pun gadis sialan itu berada, mesti itu harus ke neraka sekalipun. Karena gue tidak akan membiarkan dia pergi begitu saja setelah mempermainkan hidup gue,” ujar CEO muda itu geram, serta memendam kebencian yang teramat sangat.
"Ya ya ya.... i'm agree"
"Ingat secepatnya! Kalau kagak mau elo gue habisi!" Ancamnya sambil tidak mengurangi nada suaranya.
“Tentang, Gue akan bawa dia kehadapan elo secepatnya. Biar elo puas. Bos brengsek!” Balas Aky penuh penekanan, kemudia cepat-cepat dia pergi dari kantor CEO itu sebel benar-benar dihabisi.
Karena jika kelamaan di sana dia bisa di tendang dan di bunuh oleh pria muda yang kini menjadi bosnya. Seorang CEO tampan dengan tinggi 186 cm yang memiliki harga diri setinggi langit.
*
*
*
*
Sebuah rumah sederhana
Pukul 10.00 pagi, Nayla baru saja selesai mandi setelah sebelumnya ia menjadi PRT di rumah pamannya.
Sebenarnya tidak ada yang meminta ia untuk membersihkan dan merapihkan rumah bercat cream tersebut, tapi sebagai orang yang numpang gratis disana, tentu ia harus tahu diri. Dehingga tanpa disuruh Nayla akan dengan suka rela membersihkan jika memang ia sedang tidak sibuk.
Sang bibi memang tidak punya pembantu yang tinggal di rumah mereka, namun ada Mbak Yani seorang Mahmud Abbas yang bertugas membersihkan rumah dan menyetrika baju disana. Dan mbak Yani tinggal di rumah petak yang tidak jauh dari rumah sang bibi.
Biasanya mbak Yani akan datang jam sembilan atau sepuluh pagi dan langsung pulang setelah selesai menyapu, Ngepel, nyuci piring, ngelap kaca, nyiram kebun dan nyapu halaman. Sedangkan baju-baju yang belum disetrika, akan dia bawa pulang untuk dikerjakan di kontrakan.
Bibi Ani sengaja memperkerjakan orang seperti itu bukan tanpa Alasan, selain karena rumahnya tidak memiliki kamar pembantu, dia juga tidak ingin kedua putrinya tumbuh jadi anak yang malas dan manja. Karena itu sang bibi menegaskan jika merapihkan kamar dan perlengkapan pribadi mereka adalah tugas pemilik kamar itu sendiri.
Sedangkan mencuci baju seluruh anggota keluarga adalah tugas kedua putrinya, lalu sang ibu bertugas menyiapkan sarapan, dan makanan malam seluruh anggota keluarga yang kebanyakan lebih senang makan di rumah ketimbang jajan diluar.
Sekarang, sudah satu minggu mbak Yani tidak datang, karena dia sedang pulang kampung. Katanya adik beliau ada yang mau menikah jadi dia dan suaminya izin untuk libur sebentar.
Nah, karena tidak ada mbak Yani, maka tugas perempuan itu digantikan dengan Nayla selagi ia tinggal di rumah sang paman dan tidak ada kerjaan lain.
Jika pagi hari rumah bergaya minimalis itu sangat sepi, lantaran semua penghuninya sibuk dengan aktivitas di luar rumah. Sehingga sendirian disana, maka Nayla bisa sedikit lebih santai. Nayla baru mandi setelah matahari agak tinggi kira-kira jam sepuluhan lah.
Kini cewek itu buru-buru memakai baju ketika mendengar bell rumahnya berbunyi beberapa kali.
Siapa sih yang pagi-pagi begini bertamu ke rumah, pikir gadis itu. Karena jika masyarakat sekitar, tentu tahu kalau pagi begini rumah itu kosong. Dengan mengenakan daster midi, cewek berambut sepunggung itu membuka pintu, melongok siapa yang datang.
“Ada apa pak?” tanyanya penuh sopan, ketika ia menemukan dua sosok pria berjaket hitam, dengan badan tinggi tegap layaknya pasukan angkatan darat sedang berdiri didepan teras rumahnya.
“Apa benar ini rumah mbak Nayla?” tanya pria yang berbadan agak pendek dengan potongan rambut cepak.
“Iya saya sendiri," Jawab Nayla, “Ada apa pak? Apa ada paket buat saya?” tanyanya lagi, karena baru-baru ini ada pegawai pos mengabari jika ia dapat kiriman paket dari orang tuanya.
"Iya mbak, paket mbak ada di kantor saya. sekarang mbak bisa ke sana untuk mengambilnya," Ujar sang pria memberi tahu.
"Kenapa tidak diantarkan saja pak? Biasanya kalau ada paket untuk saya selalu diantar ke rumah, tanpa saya harus menjemputnya ke kantor," Tanya Nayla tanpa curiga.
"Iya mbak, karena paket kali ini sangat sepesial, makanya bos kami ingin memberikan nya secara langsung pada mbak Nayla."
"Mari mbak kami antarkan ke kantor!" ujarnya meminta Nayla berjalan.
"Oh begitu ya pak. Tapi maaf pak saya tidak bisa pergi. Kalau memang paketnya harus saya ambil sendiri, biarkan saja dulu disana. Saya ambil besok saja bersama paman saya," Tolak Nayla.
Bagaimana pun juga ia tidak mau mudah percaya dengan orang asing, yang belum dikenalnya.
Apalagi belum lama ini ia sempat mengalami kejadian pahit yang membuatnya hampir putus asa, yaitu pemerkosaan. Meski ia tidak terlalu ingat benar bagaiman kejadian itu bisa sampai terjadi padanya, karena ia berada dibawah pengaruh alkohol dan sampai sekarang juga belum mengingat seratus persen, tapi Nayla tidak bisa melupakannya begitu saja.
“Tapi mbak..."
“Maaf," Kata Nayla cepat, sebelum pria itu melanjutkan ucapannya.
"Maafkan saya pak, saya tidak bisa pergi," ujarnya, seraya sambil menutup pintu.
Ia takut, jika kejadian penculikan yang sering muncul disiaran berita akhir-akhir ini memang benar adanya. Nayla tidak mau diculik, kemudian di jual untuk dijadikan wanita penghibur seperti gosip-gosip yang sering ia dengar. Ia tidak mau.
Sebelum pintu tertutup sempurna, Pria yang bertubuh lebih tinggi dengan potongan rambut cepak mirip anggota TNI itu menarik mendorong pintu agar terbuka lagi, kemudian cepat dia menarik tangan Nayla kekuatan tenaga, sehingga membuat tubuh Nayla langsung terseret kearahnya.
Dengan gerakan cepat pria itu mendepak hidung Nayla dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius sebelum nya, sehingga hanya dalam hitungan detik saja Nayla sudah tidak sadarkan diri.
*
*
*
*
Jangan lupa
Like
Komen
Hadiah