Kayla anak korban brokenhome, papa yang dulu jadi panutan dan paling dia hormati menghancurkan semua yang harapan dan membuat Kayla kehilangan mama tercinta dia. yang membuat Kayla semakin membenci mamanya itu saat dia membawa wanita lain beserta anak yang seusia Kayla kerumah yang penuh kenangan mamanya.
sehingga membuat Kayla tahu akan penghianatan papa pada mamanya yang membuat mamanya sakit dan pergi meninggalkan Kayla selamanya.
disitulah awal kebencian dan perubahan sikap Kayla pada papanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafma yuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11
Alvaro mengendap masuk dalam rumahnya karena saat ini sudah jam 19.00 WIB dia sampai dirumah, Alvaro takut jika nanti mamanya ngamuk lagi-lagi dia pulang telat hingga matahari juga sudah pergi diganti bulan yang muncul.
Alvaro melihat rumah yang sepi dengan sedikit lari pelan, dia perlu menghindari mama yang akan memberikan petuah membuat telinga panas.
"Habis dari mana alvaro" tanya Sintya saat alvaro berjalan menuju tangga tapi tiba-tiba.
Sintya duduk di meja dapur menatap Alvaro tajam membuat Alvaro mengusap lehernya pelan, Sintya hanya mengendus malas lihat tingkah Alvaro yang tidak bisa dinasehati.
"Dari apartemen Kayla ma" kata Alvaro jujur karena dia memang dari apartemen Kayla tapi ke asyikkan ngobrol dengan Kayla sehingga lupa dengan perintah mamanya cepat pulang.
"Jangan bohong Alvaro, kamu keluyuran lagi" tuding Sintya kesal membuat Alvaro menggelengkan kepalanya menjawab tudingan mamanya.
"Di suruh cepat pulang malah pulang jam segini? Kamu itu susah banget di nasehati" kata Sintya sambil mencubit dan memukul Alvaro membuat Alvaro mengaduh kesakitan.
"Ampun ma, beneran saya dari apartemen kayla" jawab Alvaro mengusap pinggangnya bekas cubitan mamanya.
"Emang kamu ngapain ke tempat Kayla" tanya Sintya membuat Alvaro mengendus malas.
"Aku buat Kayla tersinggung gurauan aku ma, karena itu Alvaro menemui Kayla dan minta maaf" ucap Alvaro jujur membuat mamanya menatapnya prihatin.
"Kasihan sekali kamu, jika bercanda itu jangan keterlaluan lihat Kayla jadi marahkan" kata Sintya membuat Alvaro hanya menganggu pelan.
"Iya, alvaro juga tahu tapi ini hanya salah paham saja dan sudah diselesaikan juga" ujar Alvaro pelan dan menatap mamanya pelan.
"Baiklah, sana mandi dan ganti baju! Mama tunggu di meja makan oke" kata Sintya mendorong Alvaro menuju tangga.
"Ya ma" kata Alvaro menaiki tangga menuju kamarnya, Alvaro meletakkan tasnya dikursi belajarnya duduk dipinggir ranjang sambil membuka sepatu dan meletakkan ditepi ranjang.
Alvaro hanya menghela nafas panjang membuka kancing seragamnya, membuka seragamnya meninggalkan baju kaus di dalamnya.
Alvaro mengambil handuk langsung menuju kamar mandi membersihkan dirinya yang bau dan lengket.
Tidak lama alvaro keluar dengan pakaian lengkap dan meletakkan handuk, langsung menuju meja makan pasti mamanya menunggu lama. Alvaro nyakin jika mamanya sudah lama menunggu Alvaro untuk makan bersama.
Alvaro melihat mama dan papanya sudah ada di meja makan sambil berbicara sesuatu sehingga tidak menyadari kehadiran Alvaro.
"Sudah pulang pa" tanya Alvaro duduk di depan papanya menatap Alvaro yang baru datang.
"Dari tadi alvaro, kamu aja yang main di luar dulu" sindir Andrea membuat Alvaro mendengus pelan.
Alvaro mengambil nasi dan gulai ayam yang dibuat mamanya. "tumben papa cepat pulang" tanya Alvaro mulai makan melihat mamanya meletakkan sayur kangkung diatas piring papanya.
Alvaro tersenyum geli lihat wajah merinding papanya yang tidak menyukai makan sayuran, tetapi mamanya sering membuat dan memberi papanya sayuran jika makan bersama, terpaksa papanya harus menghabiskan sayuran tersebut.
"Ya, karena mendengar keluhan mama yang kesepian jadi papa memutuskan pulang cepat" ujar Andrea yang menyantap makanannya.
"Alvaro pa, buat Kayla bersedih" adu Sintya membuat Alvaro kaget.
"Kamu apakan anak orang Alvaro, cewek itu dilindungi bukan disakiti, mereka itu ibarat barang mahal jika tersentuh saja bisa pecah" tutur Andrea membuat Alvaro dan mamanya mengendus malas.
"Lebay banget" kata Sintya cemberut.
"Alvaro gak apa-apain Kayla hanya salah paham saja, Alvaro gak pernah buat anak orang sedih" kata Alvaro penuh percaya diri.
"Sedih tidak tapi buat patah hati dan menangis pernah" sindir Andrea membuat Alvaro mengendus malas.
"Ya ya, kok kamu hobby banget mainkan hati cewek? Ingat mereka itu punya perasaan dan bisa sakit hati jika kamu kayak gitu kan" tegur Sintya membuat Alvaro menganggu pelan.
"Ya, ini gak ada macam-macam lagi, hanya satu macam kok" sewot Alvaro meneguk minumannya.
"Ya satu macam? Satu macamnya sama Kayla ya Alvaro" goda Andrea buat Alvaro mengendus malas.
"Aku dengan Kayla hanya teman papa" elak alvaro malas karena papanya mulai mengoda dia.
"Iya teman, nanti teman hidup kan" jawab Andrea memainkan alisnya minta menggoda Alvaro.
Alvaro mengendus malas lihat papanya yang mengira jika dia menyukai kayla padahal Alvaro hanya sebatas teman dan mereka tidak ada ketertarikan lain antara mereka jadi Alvaro tidak mungkin memacari kayla yang sangat bertolak belakang dengan dia.
"Alvaro keatas dulu pa ma! " pamit Alvaro langsung menuju kamarnya menghindari papanya yang menggoda inya sekarang.
Jika disana terus alvaro akan digoda habis-habisan oleh papanya, karena Alvaro tipe cowok gak betahan berteman dengan cewek? Lantaran Alvaro pikir cewek itu menyusahkan tapi entah kenapa Alvaro nyaman saja berteman dengan Kayla yang merupakan anak perempuan.
Mungkin sifat Kayla yang berbeda dengan cewek kebanyakkan sehingga Alvaro bisa berteman dengan kayla, kadang Alvaro hanya dibuat jengkel saja sama anak ini.
Alvaro duduk tepi ranjangnya dan menyambar HP nya melihat banyak notifikasi yang masuk, Alvaro membuka satu persatu pesan yang masuk.
Alvaro melihat pesan dari Syifa membuat dia menautkan alisnya heran.
Syifa: Malam Alvaro, kamu perlu softcopy laporannya besok kita akan presentasi di depan kelas.
Alvaro baru ingat jika besok laporan itu akan dikumpulkan dan dipresentasikan didepan kelas.
Alvaro: Ya ya, boleh kamu kirim saja melalui WA saja nanti aku print di rumah
Setelah membalas WA dari Syifa tidak lama softcopy laporan itu masuk Alvaro membuka laporan itu untuk membacanya.
Alvaro: Terimakasih Syifa, kamu yang terbaik
Syifa : Ya ya sama-sama, jangan lupa dibaca ya!
Alvaro : Hasiaaap, aku baca, buat kamu apa yang gak
Alvaro berjalan arah mesin printer dia yang memiliki aplikasi yang bisa memprint melalui hpnya. Alvaro menghidupkan mesin printer tidak lama ada notifikasi masuk membuat Alvaro membuka nya.
Syifa : Kamu bisa saja☺☺☺
Alvaro tersenyum tipis melihat balasan dari Syifa. Banyak cewek yang mendekatinya hanya Syifa ini adem ayem banget melakukannya tidak buat Alvaro risih dan terlalu muak jika berinteraksi dengannya. yang lainnya hanya membuat Alvaro risih dan merinding ngeri karena kebanyakkan mereka terlalu agresif.
Alvaro : Bisa dong, buat kamu? Aku mau bahkan menemui orangtua kamu saja aku mampu
Syifa : Buat apa menemui orangtua aku
Alvaro tersenyum tipis : Buat minta restu mungkin☺☺☺
Alvaro sangat menyukai membalas dari Syifa yang jarang menanyakan sesuatu yang buat dirinya muak, Syifa hanya menghubunginya jika ada yang perlu. Syifa tipe cewek tidak pernah cari-cari alasan buat menghubungi nya.
Syifa : Gombal dan receh banget
Alvaro : Gak kok, buat apa gombalin kamu jika ujungnya aku bisa miliki kamu
Syifa: 😤😤😤
Alvaro: Cepat tidur jangan lupa mimpiin aku😜😜
Syifa: Selamat tidur 😴😴😴
lagi-lagi Alvaro mengumbar kata rayuan mematikannya, setiap kata yang Alvaro katakan hanya untuk kesenangannya sendiri tampa memikirkan rasa sakit orang yang nantinya berharap lebih padanya.
.
.
.
*B**ersambung*.....
Tolong perhatikan tulisan dan kLimatnya,,Typo berterbangan,,,Tp aku coba utk paham,,