Update setiap hari
Ketika pacarnya mengkhianatinya, cahaya kehidupan seolah musnah dalam kehidupan Anna. Untuk membalas dendam mantannya, gadis yang masih SMA itu rela mengorbankan diri menggantikan posisi Kakaknya yang menolak perjodohan ayahnya. Beberapa hari sebelum hari pengumuman kelulusan sekolah, Anna bahkan sudah menyandang status istri Allan, keturunan pengusaha sukses. Anna berpikir bahwa dia akan menemukan kebahagiaan dan dendamnya terbalaskan, namun ia tidak tahu rahasia yang suaminya simpan rapi. Anna butuh bukti akurat untuk memastikan bahwa kecurigaannya tentang suaminya adalah benar. Sayangnya tidak akan mungkin ada kata perceraian antara Anna dan Allan karena adanya kesepakatan hitam diatas putih sebelum pernikahan berlangsung, yang salah satunya menyatakan kalau Anna dilarang meminta cerai dari Allan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Menikah?
Anna menutup pintu dengan hentakan kuat. Untung saja di rumah itu tidak ada nenek-nenek yang pastinya akan kejang-kejang bila mendengarnya. Niat ingin meminjam buku pelajaran pada Joli jadi batal gara-gara pemandangan Amboi yang membuat dada Anna sesak sekali.
Anna berlari menelusuri beberapa ruangan hingga sampai ke teras.
“Loh, kok udah pulang aja, Non? Katanya mau pinjem buku Non Joli. Non Joli ada di kamarnya, tuh.” Pembantu yang tengah menyapu teras menegur Anna.
Tanpa memperdulikan ucapan si pembantu, Anna menaiki motor dan mengegasnya kencang-kencang. Hampir menabrak pagar, tapi untung saja ia gesit ngerem. Kebanyakan nonton film animasi, dikira bisa nembus dinding beton. Jika motor metiknya benar-benar menabrak pagar beton itu, ia sudah membayangkan Joli tertawa puas menertawakan giginya yang ompong gara-gara mencium beton. Anna mengusap air matanya di atas motor yang melaju kencang. Dasar bandel, air matanya meleleh terus.
Mata Anna sempat menangkap motor Rafa yang terparkir di samping rumah Joli. Oh, motor sengaja diumpetin di samping rumah supaya tidak kelihatan dari jalan, begitu rapinya Rafa menyembunyikan perselingkuhannya sampai-sampai ngumpetin motor segala saat kencan.
***
Sudah jam lima sore, Alan baru pulang. Langkahnya masih bersemangat meski hampir seharian bergelut dengan pekerjaan yang tiada jeda. Bahkan dalam sehari ia bisa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain sebanyak lima kali untuk urusan yang berbeda-beda.
Alan menoleh ke arah sofa saat mendengar gelak tawa. Dahinya terlipat menatap Papanya berbincang dengan seseorang, tak lain Herlambang.
“Ini Alan?” Herlambang menunjuk Alan dengan takjub, kemudian manik matanya mengarah ke William.
“Ya. Dia terlihat semakin tampan, bukan?” sahut William bangga pada sulungnya.
“Masyaa Allah... Lama tidak bertemu membuatku jadi pangling. Lihatlah, badanmu jauh lebih gagah dari sebelumnya.” Herlambang menyambut uluran tangan Alan yang menyalaminya.
Alan mengangguk dengan sudut bibir tertarik lalu duduk berseberangan dengan Herlambang.
“Kamu masih ingat Pak Herlambang? Sudah hampir tujuh tahun kamu tidak bertemu dengannya, bukan?” tanya William pada Alan.
“Tentu aku masih mengingatnya,” jawab Alan.
“Kamu masih sangat muda waktu itu. Dan sekarang ada banyak perubahan pada tubuhmu. Berbeda denganku, yang hanya bertambah tua saja,” ujar Herlambang.
Alan tersenyum menanggapi.
“O ya, Pak Haji ini adalah calon mertuamu,” tutur William. “Kami baru saja membicarakan pernikahanmu. Dan tanggal pernikahan sudah ditentukan.”
Alan mengangguk tanpa ekspresi.
“Kamu akan kupertemukan dengan putriku sebelum pernikahan berlangsung,” ucap Herlambang.
Manik mata Alan yang tadinya menatap Papanya, kini beralih menatap Herlambang. Begitu seterusnya saat kedua pria tengah baya itu saling sahut membicarakan tentang pernikahannya.
“Alan, pernikahanmu dengan putri Pak Haji tidak lama lagi akan berlangsung. Papa sudah mengatur semuanya,” ucap William.
Alan mengangguk kemudian berkata, “Aku permisi ke atas dulu. Papa lanjutkan saja dengan Pak Haji.”
Alan bangkit berdiri dan menaiki anak tangga. Tidak ada yang perlu ia bahas bersama kedua pria tengah baya itu, mereka sudah sepakat dengan rundingan yang mereka buat. Dan ia hanya perlu menyetujui saja. Mulai dari A sampai Z, Papanyalah yang mengurus segala urusan dalam pernikahannya kelak. Bahkan untuk urusan baju pernikahan, menu makanan, tamu undangan, sampai urusan terecil pun Alan tidak ikut campur. Ia serahkan semuanya pada Papanya. Dia tahu beres.
TBC