Zhao Xinyue sadar dirinya bukan villain utama, bukan heroine, melainkan selir berpangkat rendah yang di novel asli mati karena tanpa sengaja melihat rahasia kaisar. Begitu sadar, targetnya cuma satu. "Aku tidak ingin naik pangkat. Aku cuma ingin hidup sampai akhir cerita."
Masalahnya... Semakin dia berusaha tidak mencolok, semakin banyak orang memperhatikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Hening.
Keheningan yang turun di ruangan itu begitu pekat hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu liar. Di luar, suara jangkrik seolah membeku, enggan mengganggu momen absurd yang baru saja tercipta. Xiu'er yang masih menempelkan dahinya ke lantai kayu terdengar menahan napas, bahunya menegang kaku seperti batu.
Kaisar Li Jingchen menatapku. Pedang berlumuran darah masih bertumpu di lantai, sementara mata elangnya menyipit perlahan. Tidak ada amarah yang meledak, tidak ada teriakan murka karena kelancanganku. Dan justru di situlah letak kengerian aslinya. Pria ini seperti permukaan danau yang membeku; kau tidak pernah tahu monster apa yang berenang di bawahnya.
Alih-alih menebas leherku hingga putus, ia justru menggerakkan tangannya dalam satu gerakan mulus yang nyaris tak kasat mata.
Sring.
Pedang panjang itu kembali ke sarungnya. Suara logam bergesekan memecah ketegangan, membuatku tanpa sadar menghembuskan napas yang sedari tadi kutahan.
Li Jingchen melangkah mundur. Tubuh besarnya sedikit terhuyung, sebelum akhirnya ia menjatuhkan diri ke satu-satunya kursi kayu jati di ruanganku yang sudah agak reyot. Kursi itu berderit memprotes beban tubuhnya. Sang tiran memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya dengan tangan yang berlumuran darah kering. Napasnya memburu pelan, dan kini, di bawah cahaya bulan yang redup, kulihat kulit wajahnya seputih kertas, sangat kontras dengan noda darah segar di kerah jubah hitamnya.
Aku memberanikan diri mencuri pandang. Di novel, Li Jingchen malam ini mengeksekusi seorang menteri korup yang juga merupakan mata-mata dari Faksi Selir Agung Gui. Tapi mengapa ia bersembunyi di sini?
Kecuali... eksekusi itu tidak berjalan semulus yang diceritakan di buku. Menteri itu pasti memiliki pengawal bayangan yang tangguh, atau seseorang telah mengkhianati rencana Kaisar. Kediaman Bambu Kuning terletak di sudut paling ujung harem, tersembunyi oleh pepohonan rindang dan jalan setapak yang membingungkan. Ini adalah tempat pelarian yang paling masuk akal jika kau tidak ingin kembali ke istana utama dan memicu kepanikan massal.
"Yang Mulia," bisikku perlahan. Aku buru-buru turun dari ranjang, merangkak turun, dan ikut berlutut di samping Xiu'er. Lebih baik merendah daripada dianggap menantang otoritasnya. "Apakah Yang Mulia terluka? Apakah Hamba perlu memanggil tabib istana?"
"Diam."
Satu kata. Dingin, datar, dan mutlak. Li Jingchen membuka matanya, menatapku dari atas kursinya. Lalu, perlahan hidung mancungnya berkerut tipis. Ekspresi jijik yang sangat samar melintas di wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi.
"Bau apa ini?" tanyanya serak.
Aku langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Mampus. Tentu saja. Tadi sore, demi menghindari jamuan makan dan memastikan tidak ada kasim yang berani mendekatiku, aku mengunyah tiga siung bawang putih mentah.
"Hamba sedang tidak enak badan, Yang Mulia," jawabku dengan nada memelas yang kubuat-buat. "Tabib di kampung halaman hamba di perbatasan berkata, bawang putih mentah adalah penangkal racun dan roh jahat terbaik. Hamba hanya berusaha menjaga kesehatan."
Kaisar mendengus pelan. Suara itu nyaris terdengar seperti tawa yang dipaksakan untuk menahan rasa sakit.
"Bawang putih," gumamnya, matanya memindai wajahku yang berlumuran bedak tebal dengan alis yang sengaja kugambar mencong. "Di saat seluruh selirku di luar sana melumuri tubuh mereka dengan minyak mawar dan parfum kasturi terbaik untuk menarik perhatianku di jamuan musim semi... kau bersembunyi di paviliun kumuh ini. Mengunyah bawang putih, dan berdandan seperti mayat yang baru bangkit dari kubur."
"Hamba miskin, Yang Mulia. Jatah bulanan hamba tidak cukup untuk membeli parfum kasturi," jawabku mantap, mempertahankan ekspresi polos tanpa dosa.
Li Jingchen menatapku lekat-lekat. Dalam keheningan yang kembali menggantung, aku bisa merasakan tatapannya seolah menguliti setiap kebohonganku. Pria ini telah bertahan hidup belasan tahun di istana yang dipenuhi serigala berbulu domba. Ia tahu persis kapan seorang wanita sedang memancing perhatiannya, dan kapan seorang wanita sungguh-sungguh ingin ia enyah dari hadapannya.
Mungkin karena aku sama sekali tidak memancarkan aura 'ingin di- notice ', ia tampak sedikit menurunkan kewaspadaannya. Tangannya mencengkeram sandaran kursi, mencoba mengubah posisi duduknya, tetapi tubuhnya justru menegang.
Darah segar kembali menetes dari balik jubahnya, menggenang di lantai kayu.
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar derap langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa mendekati area tembok luar halamanku. Suara obor yang berderak membakar udara malam terdengar semakin jelas.
"Periksa area ini! Pria bertopeng itu pasti lari ke arah utara! Cari sampai dapat!" teriak sebuah suara parau dari balik tembok.
Jantungku anjlok ke perut. Pembunuh bayaran? Pengawal menteri? Siapa pun mereka, mereka berani mengejar Kaisar di dalam wilayah istananya sendiri. Ini membuktikan seberapa dalam akar korupsi faksi musuh.
Jika para pembunuh itu menerobos masuk dan menemukan Kaisar terluka di kamarku, mereka pasti akan membunuh Kaisar. Dan otomatis, kepalaku juga akan terlepas dari lehernya sebagai bonus penghilang jejak.
Masa depanku melintas cepat di depan mata. Mati dipenggal sebelum sempat melihat matahari terbit esok.
Sialan. Prinsip hidup figuran nomor satu: Jika tokoh utama dalam bahaya di wilayahmu, selamatkan dia, atau kau akan ikut mati bersamanya!
"Xiu'er, jangan bergerak!" desisku cepat, membuang semua etiket kerajaan.
Tanpa ragu, aku melompat berdiri, berlari ke arah Kaisar, dan meraih lengan kirinya yang besar. Bau darah dan keringat dingin seketika menyerbu hidungku. Ototnya sekeras baja, tapi tubuhnya terasa dingin.
"Apa yang kau lakukan, Wanita Gila?" geram Li Jingchen rendah. Ia menahan tanganku dengan cengkeraman yang nyaris meremukkan tulang pergelanganku.
"Menyelamatkan nyawa Hamba sendiri, Yang Mulia!" balasku tak kalah sengit, menariknya sekuat tenaga menuju ranjangku. "Naik ke atas ranjang. Sekarang!"
Karena cedera dan kehilangan banyak darah, Li Jingchen tidak melawan dengan tenaga penuh. Ia membiarkan dirinya ditarik. Aku mendorong tubuh besarnya ke bagian dalam ranjang yang merapat ke dinding gelap, lalu menarik kelambu sutra merah muda pudar itu hingga menutupi kami.
Tanpa mempedulikan batas kesopanan antara pria dan wanita, apalagi raja dan selirnya, aku naik ke atas ranjang. Kubaringkan diriku di bagian luar, menutupi tubuh kaisar sepenuhnya dengan selimut sutra tebalku.
"Jika kau berani berteriak, aku akan menggorok lehermu malam ini juga," ancam Li Jingchen tepat di samping telingaku. Napasnya yang hangat dan berbau tembaga menyapu tengkukku. Tubuhnya menegang di bawah selimut, dan aku bisa merasakan ujung pedangnya yang dingin menempel tepat di pinggangku.
"Percayalah, Yang Mulia, Hamba seribu kali lebih takut mati daripada Anda," balasku berbisik cepat, merapatkan selimut ke leher kami berdua.
Brak!
Tepat saat kalimatku selesai, pintu kamarku ditendang terbuka dengan kasar. Tiga pria berpakaian hitam pekat dengan wajah tertutup kain menerobos masuk, pedang telanjang di tangan mereka memantulkan cahaya bulan yang pucat.
"Siapa di dalam?!" bentak pemimpin mereka, matanya menyapu ruangan yang gelap. Ia menatap Xiu'er yang masih bersujud gemetar di lantai, lalu pandangannya beralih ke arah ranjang berbalut kelambu.
Aku menarik napas dalam-dalam, mengacak-acak rambut lepekku, dan menendang selimut sedikit agar celana tidur putihku terlihat dari luar kelambu. Lalu, aku menjerit.
"KYAAAAAA!"
Jeritanku melengking tajam, merobek malam, sekelas penyanyi sopran yang sedang diinjak kakinya.
"Siapa kalian?! Berani-beraninya kalian mendobrak kamar Selir Kesayangan Kaisar?!" teriakku histeris, menyingkap sedikit kelambu dan melempar bantal keras ke arah mereka. "Xiu'er! Cepat panggil Pasukan Pengawal Kekaisaran! Ada pria-pria hidung belang yang ingin melecehkanku! Kaisar baru saja menghadiahi aku tiga peti emas tadi siang! Kalau kalian maju selangkah lagi, Kaisar akan memenggal seluruh keluarga kalian sampai ke akar-akarnya!"
Ketiga pembunuh itu tertegun. Langkah mereka terhenti seketika. Mereka saling berpandangan, tampak sangat kebingungan melihat seorang wanita dengan rambut awut-awutan, wajah putih seperti hantu, dan alis mencong, berteriak histeris di balik kelambu.
"Selir kesayangan?" bisik salah satu pembunuh kepada pemimpinnya. "Bos, bukankah informan kita bilang ini Kediaman Bambu Kuning yang kosong?"
"Aku Selir Shen! Bunga tercantik di harem ini! Pergi kalian dari sini atau aku akan mengadukan wajah jelek kalian pada Yang Mulia!" gertakku lagi. Tanganku bergetar hebat di bawah selimut, namun suaraku terdengar penuh arogansi khas antagonis rendahan.
Dari kejauhan, suara peluit bambu tanda bahaya dari arah istana utama mulai terdengar bersahutan. Obor-obor Pasukan Pengawal Kekaisaran mulai dinyalakan. Para pembunuh itu masuk ke sini untuk mencari pria terluka, bukan untuk berurusan dengan selir gila yang teriakannya bisa memancing satu batalyon pengawal.
"Kita buang-buang waktu. Pria itu tidak mungkin bersembunyi di kamar selir," decih pemimpinnya kesal. "Ayo pergi!"
Mereka langsung berbalik dan melesat pergi, melompati tembok halaman dan menghilang ke dalam gelapnya malam.
Aku menghembuskan napas yang sedari tadi menyumbat paru-paruku. Tubuhku lemas seketika, jatuh bersandar pada bantal. Aku selamat. Nyawaku dan kepalaku masih menyatu malam ini.
Perlahan, aku menoleh ke samping.
Di dalam keremangan kelambu yang sempit, mata elang Li Jingchen menatapku dengan intensitas yang membuatku merinding. Posisi kami sangat dekat. Aku bisa merasakan panas tubuhnya, dan napasnya berhembus lembut menerpa dahiku.
"Selir Kesayangan?" suara bariton kaisar memecah keheningan. Nada bicaranya menyimpan geli yang sangat samar namun mematikan. "Tiga peti emas? Bunga tercantik di harem?"
Aku menelan ludah.
Habislah aku. Menyelamatkan nyawa kaisar adalah satu hal, tapi mengarang kebohongan narsis menggunakan nama besarnya adalah tindak pidana penipuan tingkat tinggi.
Aku menyunggingkan senyum paling kaku yang pernah ada di sejarah kekaisaran. "Itu... taktik psikologis, Yang Mulia. Para pembunuh bodoh itu pasti berpikir tidak mungkin ada buronan yang bersembunyi di kamar selir kesayangan. Hamba hanya berimprovisasi."
Li Jingchen tidak menjawab. Ia terus menatapku dengan tatapan gelap yang tak terbaca. Perlahan, tangannya yang dingin dan kasar terangkat, menyentuh pipiku yang belepotan bedak. Ibu jarinya mengusap noda di sudut bibirku.
"Kau," bisiknya rendah, suaranya menggetarkan udara di antara kami. "Sangat berbeda dari yang kuduga."
Kata-kata itu seharusnya terdengar romantis bagi para selir lain. Namun di telingaku, itu terdengar seperti lonceng kematian yang ditabuh kencang-kencang.
TIDAK! Aku menjerit dalam hati. Jangan tertarik padaku! Pergi cari Su Wan, Heroine aslimu! Aku hanya figuran yang ingin tidur siang!
Aku baru saja akan membuka mulut untuk mencari alasan agar ia segera pergi dari ranjangku, ketika tiba-tiba, kepala Li Jingchen terkulai. Tubuh besarnya ambruk menimpaku, berat dan tak sadarkan diri. Darah dari lukanya merembes cepat, menodai selimut sutra satu-satunya milikku.
"Y-Yang Mulia?!" panikku.
Belum sempat aku mendorong tubuhnya yang pingsan, terdengar suara langkah kaki yang teratur dan rapi mendekati halamanku. Kali ini bukan pembunuh.
"Yang Mulia? Selir Shen? Apakah Anda di dalam?"
Itu suara Kepala Kasim Su, kasim pribadi Kaisar. Diikuti oleh puluhan obor yang menerangi halamanku hingga terang benderang.
Aku menatap tubuh Kaisar yang pingsan berlumuran darah di atas ranjangku, di bawah selimutku.
Bagaimana caraku menjelaskan hal ini kepada Kepala Kasim besok pagi tanpa terlihat seperti rubah betina yang menggunakan ilmu hitam untuk memikat Kaisar ke ranjangnya?
karena makan buah simalakama 🤭🤭🤭😭😭😭😭
tapi aku penasaran tor itu "Selir" istri Kaisar juga??? atau apa kurang paham 🤭🤭
berharap Kaisar jijik ealah malah tetap nempel 🥰🥰🥰