NovelToon NovelToon
Istri Manis Tuan Regan

Istri Manis Tuan Regan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Romanova

Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.

"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.

Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.

Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Mobil Rolls-Royce berwarna hitam yang sudah disiapkan oleh pihak Benedict bergerak stabil di jalanan yang awalnya penuh dengan gedung pencakar langit di kiri dan kanan berubah menjadi pepohonan tinggi.

Di dalam kabin penumpang, Zara duduk sendirian dengan gaun pengantin yang kini terasa berat dan sesak. Bunga di tangannya terasa layu, bahkan tak ada satupun ucapan selamat dari keluarga Benedict, dan yang paling menyakitkan lagi tak ada sosok suami yang seharusnya mendampinginya di hari pernikahan ini.

Regantara menghilang begitu saja tepat setelah membisikkan kalimat bernada ancaman itu pada Zara, hingga membuatnya menjadi pusat bisikan para tamu undangan dari kalangan atas yang tentunya akan siap menggoreng rumor jelek.

"Kita sudah sampai, Nyonya." suara sopir pribadi terdengar datar namun sopan. Ia adalah seorang pria paruh baya berseragam rapi bernama Pak Karta.

Zara langsung menatap keluar jendela.

Ia bisa melihat gerbang hitam yang menjulang tinggi di depan sana, dan di balik gerbang besi itu berdiri sebuah kediaman megah berarsitektur modern-klasik. Mewah, benar-benar mewah, namun didominasi warna-warna gelap dan marmer hitam yang menegaskan kesan misterius.

Pak Karta membukakan pintu mobil bagian penumpang dengan sopan.

"Silakan, Nyonya."

Zara mengangguk pelan.

"Terima kasih, Pak."

Ia melangkah masuk menaiki anak tangga yang terbuat dari marmer. Setiap ketukan hak sepatunya langsung bergema di rumah yang luas itu.

Beberapa pelayan berseragam langsung berbaris rapi di dekat pintu masuk, mereka menundukkan kepala dengan patuh tanpa berani menatap mata Zara secara langsung.

Seorang wanita paruh baya bertubuh tegap dengan wajah tegas mendekat dan kemudian memperkenalkan dirinya sebagai kepala pelayan bernama Bibi Tara.

"Selamat datang di kediaman Benedict, Nyonya Zara. Mari, saya antar Anda ke kamar Tuan. Barang-barang Anda yang dikirim dari rumah Adhitama sudah ditata rapi di dalam." ucap Tara dengan suara datar tanpa ekspresi.

"Terima kasih, apakah... Regantara sudah pulang?" bisik Zara lirih.

Tara melirik Zara sekilas sebelum akhirnya berjalan menaiki tangga utama.

"Tuan Regantara tidak ada di rumah malam ini, Nyonya," jawab Tara. "Tuan pergi ke bandara untuk terbang ke Jenewa, ada urusan bisnis mendesak di Swiss yang memerlukan kehadirannya secara langsung." jelasnya.

Zara terpaku.

Jenewa?

Pria itu bahkan tidak repot-repot menginjakkan kaki di rumah ini setelah acara pernikahan mereka. Ia memilih terbang melintasi benua dibanding harus berada di bawah satu atap dengan pengantin pengganti yang tidak pernah diinginkannya.

Mereka sampai di depan sebuah pintu ganda yang berukir rumit berwarna hitam, Tara lalu membalikkan badan untuk berhadapan dengan Zara.

"Beliau tidak menyampaikan kapan akan kembali, pesan Tuan hanya satu. Anda diminta untuk mengurus diri Anda sendiri dan tidak melewati batas area pribadi Tuan di lantai tiga. Selamat malam, Nyonya."

Tara membungkuk sopan sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Zara yang berdiri sendirian di sana.

Zara mendorong pintu kamar itu dengan perlahan. Ruangan itu sangat luas, tapi didominasi oleh warna abu-abu gelap, dan hitam.

Sebuah tempat tidur berukuran king-size berdiri di tengah ruangan, dan jendelanya begitu tinggi hingga memperlihatkan pemandangan kota yang gemerlap indah di malam hari.

Zara duduk di tepi tempat tidur yang meskipun mewah namun terasa dingin.

Tanpa kehadiran Regantara, ruangan ini sebenarnya terasa menenangkan tanpa membuatnya was-was. Ada rasa lega di dada Zara karena ia tidak harus berhadapan langsung dengan suaminya malam ini. Namun di sisi lain juga, ada hal yang membuatnya merasa tak berharga sedikitpun, karena nyatanya ia langsung ditinggalkan begitu saja di malam pertamanya.

Itu berarti, di mata Regantara Benedict, Zara Adhitama hanyalah sebuah istri formalitas di atas kertas yang tak bernilai sama sekali.

Zara melepaskan mahkota kecil di kepalanya, lalu menatap pantulan dirinya di cermin besar.

"Kau pikir aku tidak tahu kalau kau hanyalah umpan pengganti?"

Kata-kata Regantara di altar tadi itu kembali bergema di kepalanya. Pria itu mungkin membencinya, dan keluarganya sendiri mungkin telah membuangnya. Tapi jika Regantara berpikir Zara akan menyerah dan menangis meratapi nasibnya di rumah ini, maka pria itu salah besar.

Zara bangkit, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan riasan pengantinnya. Ia menarik ritsleting gaun pengantinnya dengan jemari yang bergetar. Gaun itu akhirnya jatuh menumpuk di lantai, hingga menyisakan dirinya yang kini hanya terbalut gaun tidur tipis.

"Pergi ke Jenewa ya..."

Senyum tipis tiba-tiba terukir di bibir Zara, senyum yang akan menjungkirbalikkan segalanya.

Ibu tirinya pikir, dia telah berhasil menjadikan Zara sebagai kambing hitam demi menyelamatkan Selene dari cengkeraman pria yang mereka anggap monster. Mereka juga pasti mengira Zara akan meratapi nasibnya di kediaman Benedict sambil menangis dan membiarkan dirinya dihancurkan.

Mereka salah besar.

Kepergian Regantara ke Jenewa justru menjadi awal baik bagi Zara. Pria itu memberinya waktu, dan kedudukan tinggi sebagai Nyonya Benedict.

Sebuah posisi resmi yang dilindungi oleh hukum dan nama besar Benedict, yang bahkan tidak akan bisa disentuh oleh ibu tirinya.

"Roselin... Oh Roselin, let's play the game."

Setelah itu, Zara masuk ke kamar mandi. Ia memutar keran dan mencuci wajahnya, saat air itu melunturkan riasannya, topeng kepatuhan yang selama ini ia pakai di rumah Adhitama terasa ikut luruh bersamanya.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang basah. Matanya kini berkilat tajam.

"Kalian membuangku ke sini agar Selene selamat kan? Maka mulai detik ini, pastikan kalian siap menanggung akibatnya saat aku kembali sebagai pemilik nama Benedict."

Zara mengingat jelas bagaimana kekalahan yang ia terima. Bagaimana Roselin perlahan menyingkirkan warisan mendiang ibu kandungnya, bagaimana Selene merebut semua yang ia miliki, dan bagaimana ayahnya selalu menutup mata atas semua ketidakadilan itu.

Sekarang papan catur telah berubah.

"Ah, segarnya."

Zara mengeringkan wajahnya dengan handuk lembut, lalu melangkah kembali ke dalam kamar.

Ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. Layar ponselnya menyala, memperlihatkan beberapa pesan singkat dari Selene yang menanyakan apakah Regantara sudah menyakitinya malam ini.

Tcih!

Zara tidak membalas pesan itu.

Ia hanya menyunggingkan senyum dingin, lalu mengetik sebuah nama seorang pengacara kepercayaan mendiang ibunya.

"Pak Arya, ini Zara. Sekarang, kita bisa mulai mengambil kembali seluruh aset milik Ibu. Tapi secara perlahan, jangan sampai ayah sadar apalagi Roselin."

1
jenny
coba Zara dibawa sama kakek Sehari... kira² Regan kelabakan gak tuh?? 😄
Ipan Pratama
menarik
Ipan Pratama
lanjut dong thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!