Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Jantung Arien mendadak berdesir hebat saat mendapati jari manisnya terasa kosong. Cincin pernikahan yang biasanya melingkar kukuh di sana kini lenyap.
'Cincinku ...!' batinnya menjerit penuh keresahan.
Bagaimana bisa dia seceroboh ini menghilangkan benda paling sakral dalam hidupnya?
'Cincin nikahku?! Kapan aku menjatuhkannya?!'
Rasa panik yang membakar dada membuat Arien bergerak impulsif. Dia mulai menyusuri setiap sudut ruangan yang sempat dilaluinya selama bekerja. Matanya menyapu lantai dengan sangat teliti. Karena terlalu fokus mencari, Arien sama sekali tidak menyadari kehadiran Selma, rekan kerjanya, yang sejak tadi berdiri memperhatikan tingkah anehnya dengan dahi berkerut.
Keur naon eta, Rien?
"Lagi apa sih, Rien?"
Arien tersentak. Dia langsung mendongakkan kepala, terkejut mendengar suara Selma yang tiba-tiba menginterupsi di belakangnya.
"Ah! Selma!" serunya spontan.
Namun, tangannya tetap bergerak menyisir area sekitar, berharap keajaiban datang dan cincin itu mendadak terlihat.
Sambil melangkah menghampiri Selma, Arien bertanya dengan nada penuh harap,
Sel, ningali cincin abi teu?
"Sel, lihat cincin aku gak?"
Kah? Cincin?
"Hah? Cincin?" Selma melongo.
Cincin nu kumaha, Rien? Abi teu ningal cincin,
"Cincin yang gimana, Rien? Aku enggak lihat cincin," jawab Selma polos, benar-benar kebingungan karena tidak tahu apa-apa.
Keputusasaan mulai menggelayuti benak Arien. Dengan tubuh yang terasa lemas, dia menarik kursi di samping Selma dan duduk pasrah. Pikirannya buntu. Dia sama sekali tidak ingat kapan dan di mana cincin itu terlepas. Apakah ini memang sudah takdirnya untuk hilang?
Arien termenung menatapi jemarinya yang polos tanpa perhiasan kesayangannya. Wajar saja jika dia sefrustrasi ini; cincin itu adalah simbol ikatannya dengan suami tercinta.
"Hah ..."
Sebuah helaan napas berat lolos dari bibirnya, menyiratkan penyesalan yang mendalam. Wajahnya tampak sangat lesu.
Kumaha nyariosna, nya ...,
"Gimana ngomongnya, ya ...," gumamnya bingung membayangkan reaksi sang suami.
Gagabah!
"Sembrono!" rutuknya pada diri sendiri.
Di tengah lamunan Arien yang masih dihantui rasa penasaran, tiba-tiba Elisha datang menghampiri.
"Arien!"
Mendengar suara itu, Arien mendongak seketika. Harapan yang sempat padam kini memercik kembali.
El! Ningal cincin abi?!
"El! Lihat cincinku?!" cecarnya cepat, berharap Elisha membawa kabar baik.
"Ya—"
Belum sempat Elisha menyelesaikan kalimatnya, Arien sudah memotong duluan saking bahagianya.
Nya? Cincin na aya di maneh, El?!
"Ya? Cincinnya ada sama kamu, El?!"
Melihat perubahan emosi Arien yang mendadak gembira, Elisha justru menjadi bingung. Dia pun buru-buru menjelaskan maksud kedatangannya.
Ya ... abi ngadangu ti Selma, kalengitan barang cenah. Cincin?
"Ya ... aku mendengar dari Selma, katanya kamu kehilangan sesuatu. Cincin?"
Arien menjawab dengan nada yang jauh lebih santai, masih sangat yakin kalau cincinnya aman di tangan temannya itu.
Nya, aya jeung maneh kan, El?
"Ya, ada sama kamu kan, El?"
Elisha langsung menepuk dahinya.
Hey! Abi keur nanya ka maneh! Lain manggihan cincin maneh?!
"Hey! Aku lagi nanya sama kamu! Bukan nemuin cincin kamu?!" tegas Elisha meluruskan kesalahpahaman.
Dan dia kemudian menambahkan sebuah petunjuk,
Lain tadi nu miceun runtah teh maneh?
"Bukannya tadi kamu yang buang sampah?"
Deg.
Mental Arien langsung ambruk seketika mendengar jawaban Elisha. Harapan tingginya dijatuhkan dalam sekejap. Kenyataan bahwa cincin itu juga tidak ada pada Elisha membuatnya kembali terduduk lemas, termenung mencoba merangkai kembali ingatan yang terputus.
Hening sejenak, sampai tiba-tiba Arien berdiri sentak. Sebuah memori mendadak terlintas tajam di benaknya—sebuah sensasi aneh yang sempat dia rasakan sesaat sebelum menyadari cincin pernikahannya hilang.
"Astaga!!!"
...****************...
Langkah kaki mereka baru menjauh sekitar beberapa ratus meter ketika suhu udara mendadak turun drastis, menyisakan embusan napas yang mengental menjadi kabut putih. Di dalam saku jaket Vano, cincin itu terasa menghangat. Benda itu memancarkan denyut teratur yang anehnya mulai selaras dengan detak jantungnya sendiri. Vano mencengkeram sakunya dari luar, berusaha meredam getaran aneh yang mulai menjalar ke lengan
Vano, I don't think we're alone,
"Vano, kurasa kita tidak sendirian," bisik Eren tertahan.
Matanya bergerak liar memindai kegelapan malam perbukitan Bandung yang sunyi.
Yeah, I know,
"Ya, aku tahu," jawab Vano lirih.
Ia heran karena bisa merasakan kehadiran beberapa orang yang membuntuti mereka. Anehnya, orang-orang itu tidak berusaha mendekat, melainkan hanya mengintai dari kejauhan.
They're just taling us. If they wanted trouble, they would've cornered us by now. But they didn't,
"Mereka hanya mengikuti kita. Kalau mereka punya urusan, mereka pasti sudah menghadang kita dari tadi. Tapi itu tidak mereka lakukan." analisis Vano.
Then we need to get out of here right now!
"Kalau begitu, kita harus pergi dari sini sekarang juga!" desak Eren.
I took this ring because it's my responsibility to protect it,
"Aku mengambil cincin ini karena tanggung jawabku untuk menjaganya," tegas Vano.
Besides, we still have unfinished business with the Abimanyu Group in Jakarta.
"Lagi pula, masih banyak urusan yang belum kita selesaikan dengan pihak Abimanyu Group di Jakarta."
Tanpa memedulikan para pengintai di kegelapan, Vano dan Eren bergegas melanjutkan perjalanan. Tujuan mereka adalah sebuah gedung pencakar langit milik Abimanyu Group di Jakarta, demi menandatangani dokumen persetujuan kontrak kerja sama.
Setibanya di sana, Vano dan Eren langsung diarahkan masuk ke ruang kerja sang pemilik perusahaan, Bara Abimanyu Maheswara. Diskusi mengenai kontrak berjalan lancar hingga selesai. Namun, setelah Bara meninggalkan ruangan, suasana di dalam kantor besar milik Abimanyu Group itu mendadak berubah mencekam.
Di sudut ruangan yang remang-remang, Vano dan Eren terdiam. Mereka sengaja menyembunyikan cincin yang baru saja mereka temukan di Bandung tadi. Langkah penyelamatan ini harus dilakukan agar keberadaan benda tersebut tidak terendus oleh orang lain yang peka terhadap gelombang energi asing.
Are you sure you don't want to report this?
"Kau yakin tidak ingin melaporkan ini?" tanya Eren dengan suara bergetar.
Rasa khawatir akan keselamatan nyawa mulai menggerogoti pikirannya. Ia berusaha meyakinkan Vano yang saat ini tampak terlalu tenang, seolah sedang bermain-main dengan maut.
I know you're not afraid to die!
"Aku tahu kau adalah orang yang tidak takut mati!" seru Eren lagi, suaranya naik satu oktaf.
But this time, you're going up against the ones who pull the strings, Vano!
"Tapi kali ini, kau akan berhadapan langsung dengan para penguasa itu, Vano!"
Jari telunjuk Eren menunjuk tepat ke arah wajah Vano, mendesak sahabatnya itu agar segera sadar dari kegilaannya.
Do you even realize what this means?!
"Kau tahu, kan, apa artinya?!"
Melihat Vano yang hanya diam dan tampak acuh, Eren akhirnya menghela napas panjang. Ia menyerah karena kesal. Ruangan kembali hening untuk beberapa saat.
Vano yang menyadari kepasrahan sahabatnya mulai mencari celah untuk bicara. Ia melangkah mendekat, berusaha menenangkan Eren yang masih didera kegelisahan.
I have a plan, Eren,
"Aku punya rencana, Eren," ucap Vano lirih namun penuh penekanan.
But—!
"Tapi—!" Eren mencoba memotong, wajahnya masih memancarkan kecemasan yang mendalam.
You're coming with me,
"Kau harus ikut denganku." potong Vano cepat.
I'm ready to risk my entire life for this.
"Aku bahkan siap mempertaruhkan seluruh hidupku untuk urusan ini."
Vano menjawabnya dengan nada santai. Ia berusaha meyakinkan Eren bahwa semuanya akan baik-baik saja, seolah taruhan nyawa di depan mereka hanyalah sebuah permainan kecil.
^^^Bersambung...^^^
semoga next bab ada adegan baku hantam sampai meninggal
Tapi .. ya gitulah🤣🤣