NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 2 Malam di Bawah Bulan Purnama

Biksu tua kuil itu membersihkan altar dengan tenang sambil sesekali mengusap debu di dinding batu yang mulai kusam dimakan usia. Di hadapannya tergantung sebuah lukisan kuno seorang wanita yang sedang memeluk bulan di langit malam. Warna lukisan itu mulai memudar, namun sosok wanitanya masih terlihat begitu hidup hingga membuat siapa pun merinding saat menatapnya terlalu lama. Sang biksu tersenyum tipis sambil mengelap bingkai kayunya perlahan. “Lukisan ini makin tua… tapi masih tetep bagus,” ucapnya pelan.

Di sudut ruangan, wanita dari dalam lukisan itu sedang duduk sembarangan di atas lemari kayu sambil memakan burger yang dicurinya dari tas seorang pengunjung. Bau daging panggang bercampur saus memenuhi udara kuil yang biasanya dipenuhi aroma dupa. Ia menatap biksu tua itu dengan wajah sinis lalu mendecakkan lidah. “Hah… makin tua si penjaga kuil malah makin menjengkelkan,” keluhnya sambil menggigit burger besar itu tanpa rasa bersalah.

Sang biksu berhenti membersihkan sejenak lalu melirik ke arah sudut ruangan meski tak ada siapa-siapa di mata manusia biasa. “Kalau mencuri makanan, setidaknya jangan mengotori lantai kuil.”

Wanita itu langsung menatap ke bawah dan melihat remah roti berjatuhan di sekitar kakinya. Wajahnya kesal seketika. “Kakek tua… pendengaranmu kenapa masih bagus sekali?” katanya pelan sambil memalingkan wajah, sementara biksu itu hanya menghela napas pasrah seperti sudah terbiasa menghadapi roh menyebalkan tersebut.

Biksu tua itu kembali melanjutkan pekerjaannya membersihkan altar sambil tersenyum kecil melihat tingkah wanita tersebut. Ia menggeleng pelan lalu berkata santai, “Pantas saja para dewa menghukummu. Sifatmu memang buruk sejak dulu.”

Wanita itu langsung menurunkan burgernya dengan wajah kesal. “Hei! Jangan bicara seolah kau paling suci, kakek tua.”

Namun biksu itu malah terkekeh pelan. “Aku hanya mengatakan kebenaran.” Ia lalu duduk di dekat altar sambil menata dupa. “Lagipula para pengunjung selalu suka mendengar kisahmu. Wanita cantik yang dikutuk karena keras kepala dan arogan.”

“MENGARANG lagi!” bentak wanita itu kesal.

“Bukan mengarang,” jawab sang biksu sambil tertawa kecil. “Semuanya benar.”

Wajah wanita itu makin merah menahan emosi. Selama ratusan tahun biksu tua itu selalu menceritakan kisah hidupnya kepada para pengunjung seolah tragedinya adalah dongeng hiburan kuil. Ia mendecakkan lidah kasar lalu menendang kendi kayu di sampingnya hingga jatuh berguling di lantai batu.

BRAK.

Suara benda jatuh menggema di dalam kuil.

“Berhenti mempermalukanku di depan manusia!” gerutunya tajam sambil menatap biksu itu penuh kesal.

Namun sang biksu hanya tertawa makin keras hingga matanya menyipit. “Kalau kau tidak ingin diceritakan buruk, seharusnya dulu jangan membuat para dewa marah.”

Wanita itu langsung melempar sisa bungkus burger ke arah pria tua tersebut, walau bungkus itu menembus tubuhnya begitu saja karena wujudnya hanyalah roh yang terikat pada lukisan kuno di kuil itu.

Ravin merebahkan tubuhnya di sofa sambil menatap undangan ulang tahun Dewi yang tergeletak di meja. Sejujurnya ia sedang malas datang ke pesta ramai seperti itu, apalagi di villa mewah milik keluarga Dewi yang pasti dipenuhi teman-teman mereka. Kepalanya terasa penat sejak beberapa hari terakhir, namun karena yang mengundang adalah Dewi, ia tetap tidak bisa menolak.

Ia mengusap wajahnya kasar lalu berdiri pelan. “Kalau bukan karena dia, aku pasti pilih tidur di rumah,” gumamnya malas.

Dari dapur, ibunya menoleh sambil tersenyum kecil. “Bukannya kamu dekat sekali sama Dewi? Kenapa malah mengeluh?”

Ravin hanya mendecakkan lidah kecil. “Dekat bukan berarti suka keramaian.”

Meski berasal dari keluarga kaya, Ravin tidak pernah terlalu bergantung pada harta keluarganya. Ia lebih suka melakukan semuanya sendiri dan hidup sederhana bersama ibu serta adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMP. Rumah mereka nyaman, hangat, dan jauh dari kesan pamer kekayaan seperti keluarga besar lainnya.

Sebelum berangkat, Ravin mengambil kunci mobil di meja ruang tamu lalu berkata, “Bu, aku pinjam mobilnya sebentar.”

“Hati-hati di jalan,” jawab ibunya lembut.

Adiknya yang sedang belajar di ruang makan langsung menyahut jahil, “Titip makanan mahal dari villa orang kaya ya, Kak!”

Ravin terkekeh kecil lalu melempar bantal sofa ke arah adiknya. “Belajar sana.”

Tak lama kemudian ia keluar rumah dan masuk ke mobil milik ibunya. Lampu jalan mulai menyala saat Ravin menghela napas panjang sambil menyalakan mesin mobil. Walau wajahnya masih terlihat malas, jauh di dalam hatinya ada rasa senang karena bisa datang ke ulang tahun Dewi lagi tahun ini.

Ponsel Ravin bergetar saat mobilnya berhenti di lampu merah. Ia melirik layar dan melihat pesan dari Dewi masuk dengan cepat.

“Ravin, sebenarnya aku cuma ngajak kamu, Juna, sama Lia. Aku nggak mau pesta rame… cuma pengen rayain ulang tahun bareng kalian sambil menikmati villa keluarga.”

Ravin membaca pesan itu beberapa detik lebih lama dari biasanya. Angin malam masuk pelan dari jendela mobil yang sedikit terbuka. Entah kenapa dadanya terasa hangat saat tahu Dewi tidak mengadakan pesta besar seperti yang ia bayangkan. Namun rasa itu langsung berubah rumit ketika melihat nama Juna disebut di sana.

Ia menyandarkan kepala ke kursi lalu menghela napas panjang.

“Kenapa harus ada Juna juga…” ucapnya pelan dengan wajah malas.

Jauh di dalam hatinya, Ravin sebenarnya berharap malam ulang tahun itu hanya ada dirinya dan Dewi. Tanpa orang lain. Tanpa gangguan. Hanya mereka berdua menikmati suasana villa yang tenang di pinggir danau.

Namun meski perasaannya sedikit kesal, Ravin tetap datang membawa sebuah kotak hadiah besar di kursi sampingnya. Di dalamnya tersimpan gaun putih elegan yang ia pesan langsung dari designer kenalannya beberapa minggu lalu khusus untuk Dewi. Gaun itu dibuat lembut dan sederhana, tetapi tetap terlihat mewah—sangat cocok dengan wajah Dewi yang selalu terlihat cantik bahkan tanpa banyak riasan.

Ravin melirik kotak hadiah itu sekilas lalu mendecakkan lidah kecil.

“Aku bahkan sampai repot pesan khusus…” katanya lirih sambil tersenyum tipis penuh pasrah.

Ponselnya kembali berbunyi.

“Jangan telat yaa,” pesan Dewi lagi lengkap dengan emoji tersenyum.

Ravin menatap layar itu beberapa saat sebelum akhirnya membalas singkat.

“Aku otw.”

Meski wajahnya masih terlihat malas, tanpa sadar ia mulai menekan pedal gas lebih cepat menuju villa keluarga Dewi.

Udara malam di sekitar kuil terasa dingin dan lembap setelah hujan sore tadi. Kabut tipis turun perlahan di antara pepohonan pinus yang mengelilingi jalan pegunungan, sementara cahaya bulan purnama menggantung besar di langit gelap seperti lentera raksasa. Halaman kuil tua itu tampak sepi dan sunyi, hanya suara lonceng angin kecil di atap kayu yang sesekali berbunyi tertiup angin malam.

Di depan gerbang kuil, roh wanita penjaga lukisan berjalan perlahan tanpa suara. Gaun putih bergerak lembut mengikuti langkahnya, rambut hitam panjangnya menjuntai hingga pinggang diterpa angin dingin malam. Ia mengangkat wajahnya menatap bulan purnama dengan mata penuh kagum, seolah setelah ratusan tahun terkurung di kuil itu, bulan masih menjadi satu-satunya hal yang mampu membuatnya tenang.

“Indah sekali…” gumamnya lirih sambil memandang cahaya bulan yang memantul di genangan air batu halaman kuil.

Namun ketenangan malam itu tiba-tiba terganggu oleh cahaya lampu mobil yang muncul dari jalan kecil depan kuil. Suara mesin mobil terdengar pelan sebelum akhirnya berhenti tepat di dekat tangga batu kuil. Roh wanita itu langsung menoleh dengan dahi berkerut heran.

“Sudah malam begini masih ada manusia datang?” katanya pelan sambil menyilangkan tangan.

Dari dalam mobil, Ravin memukul setir pelan dengan wajah kesal. Ban mobil bagian depan kempes total hingga mobil sedikit miring ke satu sisi. Ia menghembuskan napas kasar lalu turun dari mobil sambil menatap keadaan bannya yang benar-benar buruk.

“Sial…” gerutunya pelan.

Jaket hitam yang ia pakai sedikit terkena gerimis dingin yang mulai turun dari langit. Rambut Ravin ikut basah terkena titik-titik hujan kecil. Di kursi samping mobil terlihat kotak hadiah putih elegan untuk Dewi masih tersimpan rapi, membuat Ravin makin kesal karena perjalanan penting malam itu malah berakhir apes di depan kuil tua antah berantah.

“Kenapa harus bocor sekarang…” katanya frustrasi sambil mengusap wajahnya.

Jalan menuju villa Dewi memang cukup jauh dan sepi. Di sekitar sana bahkan tidak ada bengkel ataupun rumah warga. Hanya ada kuil tua dengan lampion redup yang menggantung di depan gerbang kayu.

Karena tidak punya pilihan lain, Ravin akhirnya menaiki tangga batu kuil yang sedikit licin akibat hujan. Suasana kuil terasa tenang namun aneh, dipenuhi aroma dupa dan kayu tua basah. Lampu-lampu kuning kecil menerangi lorong kuil dengan samar, membuat bayangan di dinding terlihat panjang dan sunyi.

Tak lama kemudian pintu kayu kuil terbuka perlahan dan seorang biksu tua muncul sambil membawa lentera kecil.

“Ada yang bisa kubantu?” tanyanya tenang.

Ravin sedikit membungkuk sopan meski wajahnya masih lelah. “Maaf mengganggu malam-malam. Ban mobil saya kempes… apa di sini ada dongkrak?”

Biksu itu menatap Ravin beberapa saat sebelum tersenyum tipis. “Ada.”

Sementara itu, dari balik tiang gerbang kuil, roh wanita tadi diam-diam memperhatikan Ravin dengan tatapan penasaran. Matanya terus mengikuti pria itu dari atas sampai bawah.

“Manusia apes,” gumamnya sinis.

Tak lama kemudian sang biksu kembali membawa dongkrak tua dari gudang belakang lalu menyerahkannya pada Ravin. Saat itu gerimis mulai turun lebih deras, menimbulkan suara rintik halus di atap kayu kuil dan dedaunan sekitar.

“Masuklah dulu,” ujar sang biksu sambil melihat langit malam. “Hujannya belum akan berhenti cepat.”

Ravin sempat ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Terima kasih…”

Ia melangkah masuk ke dalam kuil tanpa sadar bahwa sejak tadi ada sepasang mata asing yang terus memperhatikannya di bawah cahaya bulan purnama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!