"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.2. Janji bertemu
Kondisi yang sama senyapnya terjadi di mobil Honda Civic milik Rayhan. Lagu jaz instrumental yang mengalun pelan dari speaker mobil sama sekali tidak bisa mencairkan keheningan di antara ibu dan anak itu.
Habibah memalingkan wajahnya ke arah kiri, sengaja menyembunyikan matanya yang kembali berkaca-kaca dari jangkauan pandang Rayhan. Sapu tangan di genggamannya sudah basah oleh keringat dingin.
Kata-kata terakhir Imam di lobi restoran tadi terus terngiang di telinganya seperti kaset rusak.
“Kita harus bicara, Bah. Besok. Tanpa anak-anak.”
Suara bariton itu sudah berubah lebih berat dimakan usia, namun getaran tegasnya masih sama. Pria itu masih memanggilnya 'Bah', panggilan tak resmi yang dulu hanya boleh diucapkan oleh Imam seorang.
Habibah memejamkan mata rapat-rapat. Kenangan buruk saat ayahnya menyeretnya pulang dan mengurungnya di kamar agar tidak bisa menemui Imam kembali berputar. Logika Habibah menolak pertemuan besok, namun hatinya yang keras kepala menuntut jawaban. Mengapa dulu Imam tidak mencarinya? Mengapa pria itu menyerah begitu saja pada keadaan, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali sebagai calon besan?
"Ibu benar-benar cuma pusing karena AC?" Rayhan memecah keheningan saat mobil berhenti di lampu merah. Sorot matanya penuh kekhawatiran. "Wajah Ibu pucat sekali sejak keluar dari ruangan tadi. Apa kita ke klinik sebentar?" tawar Rayhan.
Habibah menarik napas panjang, lalu menepuk lengan anaknya yang kekar. "Tidak usah, Ray. Ibu cuma butuh istirahat. Setelah minum obat di rumah, pasti sembuh."
"Syukurlah kalau begitu," Rayhan menghembuskan napas lega, lalu tersenyum tipis. "Oya Bu, menurut Ibu... Om Imam orangnya bagaimana? Cocok tidak kalau jadi calon Papa mertua Rayhan?"
Deg.
Pertanyaan polos Rayhan laksana belati yang menghujam tepat di dada Habibah. Wanita itu mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik gamisnya, mencoba menahan isak tangis yang nyaris lolos dari tenggorokannya.
Bagaimana mungkin ia mengatakan pada putranya, bahwa pria yang akan menjadi ayah mertuanya itu adalah satu-satunya pria yang namanya masih bertahta di lubuk hati terdalam sang ibu?
**
Malam bergerak semakin larut, namun bagi dua jiwa yang baru saja diguncang badai masa lalu, waktu seolah berjalan di tempat. Di kamar mereka masing-masing, dipisahkan oleh jarak beberapa kilometer, baik Imam maupun Habibah sama-sama tidak bisa tidur.
Dinding kamar yang sunyi justru menjadi saksi bisu berkecamuknya memori yang selama puluhan tahun ini sengaja mereka kunci rapat-rapat.
Imam sudah mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur yang temaram. Namun, matanya tetap terjaga, menatap langit-langit kamar dengan kedua tangan yang saling bertaut di atas perut.
Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Habibah malam tadi langsung tergambar jelas. Senyum canggung wanita itu, cara dia memegang tasnya dengan gugup, hingga tatapan memohon yang menyayat hati, semuanya berputar tanpa henti seperti proyektor rusak.
Imam akhirnya mendesah berat. Ia bangkit dari tempat tidur, melangkah menuju lemari tua di sudut kamar. Dari bagian laci paling bawah, di balik tumpukan berkas-berkas penting, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang sudah berdebu.
Dengan tangan agak bergetar, Imam membukanya. Di dalam sana, ada selembar foto yang pinggirannya sudah menguning. Foto mereka berdua saat masih menjadi mahasiswa, tersenyum lepas ke arah kamera tanpa tahu bahwa masa depan akan memisahkan mereka dengan begitu kejam.
"Kenapa takdir mempertemukan kita lagi dalam keadaan seperti ini, Bah?" bisik Imam parau. Suaranya tenggelam di keheningan malam.
Ada rasa sesak yang luar biasa. Imam tahu, esok hari ia harus menemui Habibah. Mereka berdua harus bicara demi masa depan Ameera dan Rayhan. Namun, menatap foto itu, Imam tersadar akan satu kenyataan pahit: di lubuk hatinya yang paling dalam, ia belum pernah benar-benar melupakan Habibah.
Kondisi yang sama menyiksanya terjadi di rumah Habibah. Wanita paruh baya itu duduk bersandar di kepala ranjang sambil memeluk lutut. Kamarnya terasa begitu dingin, atau mungkin hatinya yang mendadak beku.
Jarum jam di dinding sudah menunjuk angka dua dini hari. Habibah berulang kali mengubah posisi tidurnya, namun rasa gelisah di dadanya tak kunjung mereda. Pikiran-pikiran buruk mulai berkeliaran di kepalanya.
‘Bagaimana jika anak-anak tahu? Bagaimana jika kebenaran masa lalu ini terungkap dan merusak kebahagiaan Rayhan dan Ameera?’
Habibah menatap pantulan dirinya di cermin meja rias yang temaram. Di usia senjanya ini, ia mengira hidupnya sudah tenang. Tugasnya membesarkan Rayhan seorang diri sudah hampir selesai. Namun, kehadiran Imam malam ini membalikkan semuanya. Imam membawa kembali rasa bersalah yang dulu ia pendam, rasa bersalah karena tidak cukup kuat melawan keluarganya demi mempertahankan cinta mereka.
Habibah mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Layarnya menyala, menampilkan sebuah nomor baru tanpa nama yang mengiriminya pesan singkat beberapa jam lalu setelah makan malam usai.
0812-xxxx-xxxx: [Besok jam 10 pagi. Di cafe taman dekat stasiun lama. Kita harus meluruskan ini, Bah.]
Habibah menatap layar itu dengan mata berkaca-kaca. Ibu jarinya gemetar di atas tombol balas. Logikanya berteriak untuk mengabaikan pesan itu demi kebaikan Rayhan. Namun, hatinya, hati seorang wanita yang pernah patah berkeping-keping merindukan sebuah penjelasan.
Dengan sisa keberanian yang ada, Habibah mengetik balasan singkat.
Habibah: [Baik. Aku akan datang.]
Setelah pesan terkirim, Habibah meletakkan ponselnya dengan jantung yang berdegup kencang. Malam itu, di bawah langit kota yang sama, dua manusia paruh baya itu melewatkan malam tanpa memejamkan mata, sama-sama bersiap menghadapi badai yang akan mereka sulut keesokan harinya.
***
Keesokan paginya, matahari naik dengan membawa atmosfer yang berbeda bagi Imam dan Habibah. Jam baru menunjukkan pukul delapan, namun kedua manusia paruh baya itu sudah sibuk di depan cermin masing-masing.
Ada pemandangan menggelitik sekaligus ironis di dua rumah yang berbeda itu. Baik Imam maupun Habibah, tanpa sadar, sedang mati-matian berusaha tampil menarik untuk pertemuan ini.
Imam berdiri di depan lemari pakaiannya yang terbuka lebar. Sudah tiga kemeja ia coba, lalu ia ganti lagi karena merasa warnanya terlalu kusam atau potongannya membuat tubuhnya terlihat terlalu tua.
Ia akhirnya memilih kemeja katun berkerah tegak berwarna biru navy yang membuatnya tampak segar dan rapi. Saat menyisir rambutnya yang mulai memutih di bagian pelipis, Imam mendadak berhenti. Tangannya mematung di udara.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin, lalu menghembuskan napas panjang, merutuki dirinya sendiri.
‘Untuk apa, Mam? Untuk apa kamu berdandan seperti ini?’ batinnya bertanya dengan nada menyindir.
Tujuan pertemuan ini adalah untuk meluruskan keadaan demi masa depan anak-anak mereka. Ini adalah pertemuan antar-calon besan, bukan janji temu sepasang kekasih remaja yang sedang kasmaran. Namun, ego seorang pria paruh baya di dalam dirinya menolak untuk terlihat menyedihkan, atau ringkih di depan wanita yang pernah menjadi dunianya. Imam ingin Habibah melihat bahwa pria yang dulu diusir karena miskin, kini telah menjelma menjadi sosok ayah yang mapan dan berwibawa.
*
*
Hal yang sama terjadi pada Habibah. Meja riasnya mendadak berantakan oleh beberapa kerudung dan lipstik. Wanita itu menghabiskan waktu lima belas menit hanya untuk memilih warna hijab yang pas.
Ia mematut diri di depan cermin, menyesuaikan letak bros di bahunya, lalu menambahkan sedikit bedak tipis dan lipstik berwarna peach natural agar wajah pucatnya akibat kurang tidur semalaman bisa tersamarkan. Habibah ingin terlihat segar, anggun, dan tak tersentuh.
Namun, saat menyemprotkan sedikit parfum beraroma melati lembut ke pergelangan tangannya, gerakan Habibah mendadak terkunci. Jantungnya berdesir hebat.
Melati. Ini adalah aroma parfum yang sama dengan yang sering ia pakai tiga puluh tahun lalu, saat berkencan dengan Imam di taman kota.
Seketika, rasa bersalah dan malu menyergap dada Habibah. Ia menurunkan botol parfum itu dengan tangan gemetar.
‘Untuk apa aku bersolek seperti ini? Untuk siapa?’
Habibah merasa bodoh. Di usianya yang sudah hampir kepala lima, di saat ia seharusnya memikirkan cucu dan masa pensiun, mengapa ia justru bertingkah seperti gadis belia yang ketakutan penampilannya dinilai buruk oleh cinta pertamanya? Ada ketakutan luar biasa di dalam hati Habibah jika Imam melihatnya sebagai wanita tua yang layu dan digilas waktu. Ia ingin tetap terlihat cantik di mata pria itu, sebuah keinginan egois yang seharusnya sudah mati puluhan tahun lalu.
*
*
Goncangan batin itu akhirnya membawa mereka ke tempat yang dijanjikan. Cafe bernuansa semi-terbuka itu cukup sepi di jam kerja. Angin pagi berhembus lambat, memainkan ujung hijab marun yang akhirnya dipilih Habibah pagi ini.
Habibah datang lebih awal. Ia duduk di sudut yang menghadap ke arah pintu masuk, meremas pelan cangkir teh hangatnya untuk mengurangi rasa gugup.
Tepat pukul 09.55, lonceng di pintu cafe berdenting.
Seorang pria dengan kemeja biru navy melangkah masuk. Postur tubuhnya yang tegap langsung mengenali sosok Habibah yang duduk di pojok ruangan. Tatapan mereka bertemu di udara.
Dan di detik itu juga, usaha mereka untuk tampil menarik dan berjarak runtuh seketika. Karena sedetik setelah Imam berjalan mendekat dan duduk di kursi hadapannya, aroma melati yang familier langsung menusuk indra penciuman Imam, sementara Habibah bisa melihat dengan jelas binar mata Imam yang persis sama dengan dua puluh lima tahun lalu.
Sialnya, pesona masa muda itu ternyata belum pudar. Mereka masih saling mengagumi satu sama lain, justru di saat situasi menuntut mereka untuk saling menjauh.
"Kamu tidak banyak berubah, Bah. Masih sama cantiknya," ucap Imam parau, memecah kecanggungan yang mencekam.
Habibah menunduk, menyembunyikan rona merah yang mendadak terbit di pipinya yang mulai berkerut. "Kita di sini untuk membahas Rayhan dan Ameera, Mas Imam. Bukan untuk hal lain.”
***