Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 20 KEHEBOHAN
"Hamil..." ucap mereka berbarengan hingga kedua pasangan paruh baya itu membeku saat mendengar kalimat itu. Mereka saling melirik satu sama lain saat sudah berada di kamar putranya.
Aline dan Erlangga yang sedang berada di kamar mandi seketika langsung menoleh saat mendengar suara itu.
Aline terpaku di tempatnya dengan mulut yang masih basah karena baru saja ia membilasnya. Kedua netranya melihat kedua pasangan paruh baya yang diam membeku di depan pintu kamar mandi.
"Mom, Dad, bukannya kalian sudah tidur." Suara Erlangga menyadarkan mereka dari keterkejutannya.
Tanpa menjawab pertanyaan putranya Alya langsung mendekat ke arah wanita muda itu. Ia menatap lekat-lekat Aline yang masih terpaku bak patung.
Alya memegang kedua tangan Aline dengan lembut. "Tadi kamu barusan bilang apa?"
Aline melirik Erlangga seolah meminta bantuan pria itu apa yang harus ia katakan. Tangannya mulai gemetar saat wanita paruh baya itu memegangnya.
Erlangga yang melihat tatapan Aline berusaha mengendalikan situasi di bawah tatapan tajam ayahnya. "Mom, biar aku jelaskan—"
Kalimatnya terhenti dikala sang ibu mengangkat salah satu tangannya agar ia tidak perlu mengatakan apapun.
Alya membawa Aline ke luar dari kamar mandi lalu mendudukkannya di sofa yang ada di kamar itu.
Aline semakin berkeringat dingin dengan situasi ini. Jujur saja ia masih belum siap dan tidak tau harus memulai dari mana, hingga akhirnya ia menarik napas dalam-dalam mencoba mengatur napasnya agar lebih tenang.
Ia menoleh ke arah Erlangga seolah meminta persetujuan lewat tatapan matanya dan pria itu membalas dengan anggukkan kepala.
"Aku..." Suara Aline terdengar ragu. "Sebenarnya aku memang sedang hamil, Tante."
Aline sudah siap jika ia harus menerima caci makian dari wanita paruh baya itu. Seperti halnya ketika ayahnya mengetahui ia hamil bahkan sampai memutuskan hubungan dengannya.
Seketika suasana kamar itu hening hanya suara jam dinding yang terdengar di antara mereka. Sebelum akhirnya suara Alya terdengar ke seluruh sudut ruangan itu hingga sampai ke luar.
"Aaaa... akhirnya aku punya cucu!" teriak Alya histeris.
Aline terperangah, mulutnya sedikit terbuka melihat respon wanita paruh baya di sampingnya. Ia sama sekali tidak menyangka jika wanita paruh baya itu akan seantusias itu mendengar kabar dirinya hamil.
Seketika pintu terbuka dengan kasar. Bram dan istrinya yaitu Rara masuk ke dalam kamar dengan napas yang memburu.
"Ada apa Mom? Suara Mommy terdengar sampai lantai bawah." panik Bram seketika wajahnya pucat pasi takut terjadi apa-apa dengan ibunya.
Kusuma memberi kode lirikkan mata pada putra sulungnya ke arah Aline.
Rara dan Bram seketika terperangah dengan keberadaan wanita muda itu. Siapa dia? Pikir mereka.
Namun, lagi-lagi suara Alya menggema di kamar itu. "Rara sini, Nak! Sebentar lagi Mommy akan punya Cucu dan teman arisan Mommy yang julid itu nggak akan ngeledek Mommy lagi!" Alya tampak sangat bahagia.
Rara tersenyum bahagia. Namun, sudut hatinya merasakan perih karena ia masih belum memberikan keturunan untuk keluarga Dewangga.
Rara mendekat ke arah kedua wanita itu. Ia tersenyum lembut kepada Aline. "Selamat ya, Dek. Akhirnya ada juga penerus keluarga ini."
Aline menatap mata wanita di hadapannya yang memancarkan kesedihan yang mendalam. Sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Mau punya anak atau tidak Mommy tetap sayang kamu, Ra." Alya memeluk kedua wanita muda itu dengan penuh perasaan.
Aline yang baru merasakan kembali kasih sayang seperti ini semenjak ibunya meninggal, tidak bisa lagi menahan rasa haru yang membuncah di dalam hatinya. Ia mengeluarkan air mata kebahagian yang membuat keluarga itu seketika khawatir saat melihatnya menangis.
"Astaga! Apa pelukkan Mommy terlalu kencang dan membuat kamu sakit."
Aline menggeleng pelan. "Nggak sama sekali, Tante."
"Jangan panggil Tante, harus panggil Mommy seperti Rara. Kalian berdua itu mantu kesayangan Mommy, kalau anak-anak bandel itu sampai menyakiti kalian biarkan Mommy yang menghajarnya." Cerocos Alya dengan penuh perhatian sambil melirik ke arah putra sulung dan bungsunya.
Erlangga yang di tatap tajam sang ibu hanya mengusap pelipisnya. Ia sudah tau pasti keluarganya akan sebahagia ini apalagi mereka sudah lama menunggu kehadiran seorang anak kecil di tengah-tengah keluarga ini.
"Mom, bisa tidak mengobrolnya besok saja. Aline harus istirahat dan itu tidak baik dengan kondisinya." ucap Erlangga tiba-tiba saat melihat gelagat Aline yang merasa sudah tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya.
"Haiss! Ganggu saja." gerutu Alya. Namun, ia tetap beranjak dari tempat duduknya. "Baiklah demi kesehatan Mantu dan Cucu, Mommy."
Rara pun beranjak dari tempatnya. Namun, tiba-tiba saja salah satu pergelangan tangannya tertahan akibat cekalan seseorang ia menoleh dan ternyata calon adik iparnya lah yang menahannya. Rara mengkerutkan dahi bingung.
Aline membawa tangan wanita itu ke atas perutnya yang masih datar, seolah ia juga ikut merasakan kesedihan yang dialami wanita itu. "Kita akan membesarkannya bersama-sama Kak."
DEGH!
Seluruh keluarga Dewangga terkejut dengan tindakkan Aline.
Rara terkejut. Namun sudut bibirnya membentuk senyum yang merekah seolah ia baru saja dibangunkan dari mimpi buruk. Ia langsung memeluk Aline sambil terus mengucapkan terima kasih dan rasa syukur karena sudah mempunya adik ipar yang bisa melengkapi kekurangannya.
Malam itu, dengan kedatangan Aline seolah memberikan warna baru bagi keluarga Dewangga karena mendapatkan kabar kebahagian yang selama ini mereka nantikan.
Waktu semakin larut, kini mereka satu persatu ke luar dari kamar itu meninggalkan Aline dan Erlangga agar beristirahat.
Erlangga yang melihat kelelahan di wajah Aline dan langsung membantu wanita itu untuk berbaring, lalu dengan lembut ia memijat kaki wanita itu.
Lagi-lagi Aline dibuat terkejut dengan semua perlakuan pria itu dan keluarganya. Entah kebaikan apa yang pernah ia lakukan sampai ia mendapatkan pria dan keluarga sebaik itu.
"Apa kamu nggak merasa lelah?" tanya Aline, saat melihat Erlangga yang masih setia memberikan pijatan lembut pada kakinya.
"Tidak ada kata lelah untuk menjaga dan menemaimu, Aline." Suaranya terdengar lembut dan penuh kejujuran.
BLUS!
Pipi Aline berasa seperti terbakar setiap kali mendapatkan perhatian lembut dari pria itu. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum tulus yang terbit dari bibir tipisnya.
"Terima kasih... Erlangga." ucap Aline tulus.
Erlangga menghentikan gerakkan tangannya saat mendengar kalimat itu, sejenak ia menatap lembut ke dalam mata Aline.
"Untuk apa? Ucapan terima kasih itu. Seharusnya aku yang mengatakan itu, terima kasih karena sudah menerimaku dan juga memberikan kebahagiaan untuk keluarga ini. Sekarang apapun yang kamu inginkan akan selalu aku usahakan untuk kamu, Aline." Suara lembut Erlangga yang tersirat akan janji dan tekad untuk membahagiakan wanita itu.
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣