Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan yang Berdiri di Sampingnya Bukan Aku
Pov..
Joyce yang tidak tahu apa yang akan dilihat bersama Rike di dalam ballroom, terus mengikuti langkah sahabatnya itu. Rombongan bapak-bapak yang membawa mereka berpamitan, dan meninggalkan mereka berdua. Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Sampai akhirnya…
"Rike... tidak salahkah mataku untuk mengenali yang ada di atas panggung..?" wajah Joyce mendadak pucat, ketika tatapan matanya tidak sengaja melihat ke arah panggung, karena magnet suara dari MC pembawa acara.
Tubuh Joyce langsung membeku, matanya berkaca. Dengan tersenyum lembut, Rike memeluk sahabatnya, dan tangannya mengusap punggung Joyce dengan lembut.
"Sabar Joyce... aku memang sengaja membawamu kesini.. Aku tidak mau, kamu menuduhku main fitnah pada orang yang selalu kamu anggap sebagai belahan jiwamu itu." tenggorokan Rike seakan tercekat, dan dia menghentikan perkataannya.
Rike teringat bagaimana pertengkaran hebatnya dengan Joyce terjadi. Hal tersebut dipicu hanya karena perkataan Rike tentang Arka. Tanpa sengaja Rike memergoki sendiri bagaimana laki-laki itu sering bermain belakang dengan perempuan lain. Namun sepertinya nama Arka sudah tertanam dalam di hati gadis itu.
"Hiks.." air mata Joyce akhirnya luruh juga akhirnya.
Tatapan mata Joyce terlihat sendu, dan gadis itu kembali menatap ke arah lelaki yang selama tiga tahun terakhir memanggilnya “sweetie.”
Arka Gunawan.....
Lelaki yang dua hari lalu masih mengatakan sedang dinas ke luar kota.
Joyce mencoba menyangkal tatapan dan pikirannya sendiri. Ia berharap itu hanya kebetulan nama yang sama, dan wajah yang mirip. Namun...
"Kamu harus bersyukur Joyce... Allah telah menunjukkan semuanya kepadamu. Lebih baik terjadi, dan sakit saat ini, daripada semua terjadi ketika tali pernikahan sudah mengikat kalian berdua.." dengan lembut dan lirih, Rike berusaha menguatkan sahabatnya.
Dan dunia Joyce runtuh saat itu juga. Dengan penuh kasih sayang sahabat dekat, Rike melipat tissue, dan membantu mengusap air mata yang mulai menetes dari sudut mata Joyce. Gadis itu berusaha untuk menahan air mata yang terus mengalir. Bahkan beberapa orang melihatnya dengan tatapan ingin tahu.
Tiba-tiba...
"Tibalah saatnya, kak Arka untuk menyematkan cincin dengan batu ruby berwarna biru ke jari manis kak Celine." suara MC yang lembut namun tegas seakan jarum menusuk kalbunya.
Terlihat di depan matanya, laki-laki pujaan dan kekasih hatinya itu menjatuhkan kedua kakinya ke lantai.. Dengan senyuman, tangan laki-laki mengangkat cepuk kecil. sinar lampu meng highlight kilau biru nan indah .. Ketika jari tangan perempuan bernama Celine itu terulur untuk menerima sematan cincin di jari manisnya...
"Arka..."
Suara lengkingan Joyce memanggil nama kekasihnya menggema memenuhi ruangan ballroom. Semua tamu yang semula terdiam, karena fokus dengan pemandangan di atas stage, seketika menoleh ke arah Joyce...
Sementara itu, Celine, Arka dan keluarga mereka turut menoleh ke arah sumber suara.. Wajah Arka sesaat pucat, melihat siapa yang berteriak memanggil namanya..
"Kak Arka... siapa gadis itu kak..?" dengan lirih Celine bertanya pada calon tunangannya. Tatapan gadis itu tampak menyelidik ke arah calon tunangannya..
"Abaikan saja Celine... kenapa kamu tidak percaya padaku.. " tidak mau kehilangan gadis di depannya, bibir Arka menjawab, berusaha untuk menepis kekhawatiran gadis itu.
Namun sebelum menenangkan Celine, sudut mata Arka melirik ke arah pengawal yang siap siaga di pinggir stage. Dan tanpa mendengar perintah, terlihat ada 2 pengawal bergegas menuju ke arah Joyce dan Rike.
*******************
Di tempat lain..
"Ardian... kamu harus mengingat pesan dari oma.. Umurmu sudah tidak muda lagi, bulan Oktober tahun ini, usiamu sudah menginjak 32 tahun.." terlihat seorang perempuan tua tampak marah pada laki-laki yang duduk di sofa yang ada di depannya.
"Iya oma... Ardian juga paham. " dengan santai laki-laki itu menjawab.
"Paham... paham... tetapi tidak pernah ada aksimu. Kali ini sudah yang terakhir kali Ardian.. Jika sampai ulang tahunmu besok, kamu belum juga membawa pasangan, maka kamu harus mau menikah dengan gadis pilihan oma. Tidak ada tawar menawar lagi."
Terlihat laki-laki bernama Ardian itu menghela nafas panjang.. Sepertinya laki-laki itu sudah bosan mendengar petuah dari perempuan itu.
"Kamu malah berani mengabaikan perkataan oma.."
Di luar dugaan, melihat respon cucunya, perempuan tua itu merasa terpancing.
"Aduh oma oma.. kenapa sensitif sekali sih. Ardian diam salah, jika Ardian menjawab, pasti lebih salah lagi. Sebetulnya mau oma itu bagaimana..."
Bukannya takut, Ardian malah mendekat dan berusaha memeluk omanya.
"Buk.. buk.." bukan jawaban, malah sebuah buku besar mampir di punggung Ardian..
"Ampun oma.. hentikan dong. Ardian patuh deh, akan mengikuti apa yang dimaui oma.." tidak mau memperpanjang masalah, Ardian berusaha menghentikan keributan.
Mendengar ucapan cucunya, perempuan tua itu menghentikan tindakannya. Dengan elegan, perempuan itu kembali duduk di sofa. Namun tatapan matanya tetap melihat ke arah Ardian yang hanya meringis, sambil menahan senyum di bibirnya.
"Okay.. kalau begitu besok siang kamu harus bersiap. Cucu teman oma hari ini terbang dari Perancis.."
"Tidak ada alasan apapun, atau kamu aku hentikan dari Direktur Utama PT. AMco... kamu harus kencan buta dengan cucu teman oma. Di resto JW Marriot besok siang, temui cucu teman oma untuk makan siang bersama."
Ucapan perempuan tua itu seperti fatwa, yang tidak bisa disela. Ardian tidak membantah, dan hanya bisa menggaruk kepala yang tidak ada gatal sama sekali. Tapi setelah melihat omanya diam,
"Baik oma... tapi hanya berlaku jika Ardian belum memiliki pasangan kan.. Jika Ardian sudah memiliki pasangan,maka perintah oma batal." dengan berani, laki-laki itu berusaha membantah perkataan omanya.
"Apa katamu..? Melihatmu pergi berdua dengan perempuan saja tidak pernah..., sok sokan sudah memiliki pasangan. Pasangan kambing, atau sapi di peternakan apa.."
"Trust me oma.. Kenapa sih oma meragukan cucu oma yang ganteng ini. Kan kegantengan Ardian menurun dari opa.. Sebenarnya Ardian ini sudah punya pasangan oma.. hanya saja butuh waktu yang tepat untuk membawanya ke depan oma.." sambil senyum-senyum, Ardian berusaha mencuri hati omanya.
Laki-laki itu memang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan omanya. Semenjak kedua orang tuanya meninggal karena mengalami kecelakaan penerbangan pesawat capung, sejak kecil hanya oma dan opanya yang mengasuhnya.
"Terserah apa kata-katamu Ardian.. Oma tidak mau tahu.. Jika kamu memang sudah memiliki pasangan, kamu harus segera mengenalkan pada oma.. Namun jika kamu hanya bebohong, tidak ada pendekatan, kamu harus mau menikah dengan cucu teman oma.." merasa habis kesabaran menghadapi cucunya, oma mengakhiri pembicaraan.
Ardian berdiri sambil tersenyum, kemudian..
"Cup.. oma Mira Pranata memang oma panutan.. Terima kasih oma sayang.." seperti memiliki jalan keluar, setelah memberikan ciuman pada omanya, laki-laki itu bergegas meninggalkan ruangan.