THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: MISI PERTAMA: KUCING DI MENARA LANGIT
Misi pertama Squadron Aurora yang baru saja dilantik ternyata bukan melawan monster mutan, bukan juga mencegah kebocoran reaktor nuklir, apalagi menghadapi pemberontak dari sektor luar.
Misi mereka adalah: Menyelamatkan seekor kucing.
"Lo serius, Kai?" Raka menatap layar hologram di pergelangan tangannya dengan ekspresi tidak percaya. "Kita, pasukan elit penjaga fajar, dikirim cuma buat ngambilin kucing pejabat yang nyangkut di antena?"
Kai mengetuk-ngetuk datanya dengan cepat, wajahnya serius seolah sedang memecahkan kode enkripsi tingkat dewa. "Bukan sembarang kucing, Rak. Ini 'Lord Fluffy', hewan peliharaan kesayangan Gubernur Sektor 4. Nilainya... well, secara emosional mungkin tak terhingga. Secara strategis, kalau kucing ini jatuh dan mati, anggaran makan siang kita bulan depan bisa dipotong. Jadi, ini misi krusial!"
Bimo, yang sedari tadi sudah memakai helm pendakian dengan salah (terbalik), mengacungkan jempol tebalnya. "Tenang! Bimo siap memanjat! Demi Lord Fluffy, demi anggaran ayam goreng!"
Elara menghela napas panjang, tangan di pinggang, menatap Menara Langit yang menjulang tinggi di depan mereka. Menara itu adalah struktur komunikasi tertinggi di Neo-Solara, ujungnya menyentuh lapisan atas kubah tempat lampu matahari buatan dipasang. Angin di ketinggian itu cukup kencang untuk membuat rambut rapi Elara mulai berantakan.
"Rencana sederhana," kata Elara, mencoba mengambil alih kendali sebelum Bimo memanjat tiang listrik terdekat. "Kai, kau akan meretas sistem lift servis di sisi utara untuk membawa kita sampai lantai 80. Dari sana, kita panjat sisa tangga darurat menuju puncak antena. Bimo, kau di tengah untuk menahan beban jika diperlukan. Raka, kau di belakang untuk memastikan tidak ada yang jatuh. Aku di depan."
"Siap, Kapten!" seru Bimo semangat.
"Siap-siap aja sih," gumam Raka sambil mengecek tali pengaman, meski dalam hatinya ia berharap kucing itu bisa turun sendiri.
Mereka masuk ke dalam lift servis yang sempit dan berkarat. Kai hanya butuh tiga detik untuk membobol panel kontrol.
"Lift aktif. Menuju lantai 80. Mohon berdiri jauh dari pintu," suara robotik yang serak terdengar.
Lift naik dengan getaran yang membuat gigi Raka bergemeretak. Di dalam keheningan besi yang bergetar itu, Bimo tiba-tiba bersenandung lagu anak-anak. Kai ikut-ikutan membuat beatbox aneh. Elara memijat pelipisnya, tapi Raka melihat senyum tipis di wajah gadis itu.
"Sampai tujuan," bunyi ting yang sumbang.
Pintu terbuka, menyambut mereka dengan hembusan angin kencang dan suara dengungan listrik statis yang keras. Mereka berada di platform terbuka. Di atas sana, sekitar lima puluh meter lagi, terlihat titik putih kecil tergeletak di atas rangka antena parabola raksasa, mengeong lemah tertiup angin.
"Misi dimulai!" seru Elara.
Dan kekacauan pun terjadi.
Bimo, dengan semangat membara, memutuskan bahwa tangga darurat terlalu lambat. "Aku punya jalan pintas!" teriaknya, lalu melompat meraih pipa vertikal di samping platform. Masalahnya, pipanya licin karena lumut sintetis. Bimo meluncur turun dua meter sebelum berhasil mencengkeram kembali, kakinya menendang panel kontrol pintu hingga penyok. "Aman! Cuma sedikit... gesekan!"
Kai mencoba menggunakan drone kecil miliknya untuk menerbangkan jaring penangkap. "Target terkunci. Meluncurkan jaring..."
Wussh! Jaring itu melesat, tapi karena perhitungan angin yang meleset dua derajat, jaring itu malah menjerat kepala Raka.
"Hei! Aku nggak bisa lihat!" teriak Raka, tersandung kabel drone dan hampir terjungkal ke luar pagar pembatas kalau saja Elara tidak sigap menarik kerah seragamnya.
"Kai! Matikan drone-nya! Bimo, jangan manjat pipa licin itu!" perintah Elara, suaranya hampir tertelan angin. "Kita pakai cara manual! Ikuti aku!"
Mereka akhirnya menaiki tangga darurat dengan susah payah. Bimo yang badannya besar sering tersangkut di celah tangga. Kai yang kurus malah takut ketinggian dan memejamkan mata setiap kali melangkah. Raka? Dia sibuk melepaskan jaring dari kepalanya sambil tertawa geli melihat kelakuan teman-temannya.
"Astaga, kalian ini tim penyelamat atau sirkus keliling?" celetuk Raka saat mereka finally mencapai platform puncak.
Di sana, di ujung bilah antena yang paling runcing, seekor kucing putih gemuk dengan kalung berlian duduk meringkuk, tampak sangat tidak peduli dengan drama yang baru saja terjadi. Sesekali ia mengeong, seolah berkata, "Akhirnya kalian datang. Lama sekali."
"Aku yang ambil," kata Elara, merayap pelan. Tapi angin berhembus lebih kencang, membuat kucing itu tergeser sedikit ke tepi.
"Jangan! Nanti dia kaget!" bisik Kai panik.
Tiba-tiba, Bimo yang tidak sabar berlari maju. "Sini, Tuan Fluffy! Bimo bawa ikan sintetis!"
Langkah berat Bimo membuat seluruh struktur antena bergoyang hebat. Kucing itu terkejut, kakinya terpeleset, dan—
"Gawat!" teriak Raka.
Tanpa berpikir panjang, insting Raka mengambil alih. Ia melesat maju, lebih cepat dari yang ia kira bisa dilakukan. Tubuhnya bergerak ringan, hampir seperti melayang. Saat kucing itu jatuh, tangan Raka sudah siap.
Gotcha.
Raka menangkap tubuh bulu putih itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencengkeram tiang penyangga. Tapi momentumnya terlalu kuat. Kaki Raka tergelincir dari permukaan logam. Mereka berdua—Raka dan kucing—terjun bebas ke udara.
"RAKA!" teriak Elara dan Bimo bersamaan.
Di udara, waktu terasa melambat. Raka memeluk kucing itu erat-erat. Ah, jadi begini rasanya jadi pahlawan, batinnya ironis. Matikonyol demi kucing.
Tapi tiba-tiba, sesuatu yang aneh terjadi. Dari telapak tangan Raka yang memegang tiang (sebelum terlepas), muncul cahaya keemasan samar. Cahaya itu bukan berasal dari mana-mana, tapi sepertinya... dari dalam kulitnya sendiri. Cahaya itu membentuk semacam lendiran energi lunak yang menempel pada baju Bimo yang sedang menjulurkan tangan dari atas.
Bzzzt.
Raka dan kucing itu tidak jatuh menghantam tanah. Mereka terhenti mendadak, tergantung di udara, ditahan oleh semacam jaring cahaya tipis yang menghubungkan tangan Raka dengan sabuk pengaman Bimo. Itu bukan teknologi standar Squadron. Itu... lain.
Raka terbelalak menatap tangannya yang masih berpendar emas redup sebelum cahaya itu padam secepat kilat. Tidak ada yang menyadari kecuali mungkin Kai yang sedang merekam semuanya dengan drone.
"Bimo! Tarik!" teriak Elara, menyadarkan semua orang.
Bimo, dengan kekuatan beruangnya, menarik tali pengaman. Raka dan Lord Fluffy terangkat kembali ke platform dengan aman.
"Huh... selamat," napas Raka tersengal-sengal, jantungnya berdegup kencang. Bukan karena takut jatuh, tapi karena kejadian aneh di tangannya tadi. Ia cepat-cepat menyembunyikan tangannya ke dalam sarung tangan.
Lord Fluffy, si kucing, justru menjilati hidung Raka dengan santai, seolah baru saja naik roller coaster yang menyenangkan. "Meong," katanya puas.
Mereka turun dari menara dengan suasana yang jauh lebih riuh daripada saat naik. Bimo terus memuji keberanian Raka ("Gila, Rak! Kayak ada magnet di tanganmu!"). Kai sibuk menganalisis rekaman drone ("Ada anomali energi di detik ke-45, aneh banget"). Elara hanya diam, tapi matanya menatap Raka dengan tatapan menyelidik yang dalam, seolah bertanya: Apa itu tadi?
Sesampainya di tanah, Gubernur Sektor 4 sudah menunggu dengan wajah cemas. Saat melihat Lord Fluffy selamat, sang Gubernur hampir menangis.
"Terima kasih, Kadet! Kalian pahlawan sejati! Apa hadiah yang kalian inginkan? Promosi? Uang? Medali?"
Raka, yang masih berusaha menyembunyikan getaran aneh di tangannya, hanya tersenyum lebar dan menunjuk ke arah kantin markas.
"Kalau boleh minta, Pak... bagaimana dengan voucher makan siang sepuasnya untuk satu skuadron? Dan mungkin... susu segar untuk Lord Fluffy?"
Gubernur itu tertawa lepas. "Deal!"
Malam harinya, di ruang rekreasi markas, mereka duduk melingkari meja penuh makanan. Lord Fluffy (yang ternyata memang manja) tidur di pangkuan Bimo.
"Misi pertama selesai," kata Kai sambil mengangkat gelas jusnya. "Berhasil menyelamatkan aset strategis bernilai tinggi."
"Dengan gaya yang sangat... berantakan," tambah Elara sambil tersenyum, akhirnya tertawa juga mengingat wajah panik Kai di tangga.
"Tapi berhasil," sahut Raka. Ia menatap teman-temannya yang sedang tertawa, mulut penuh makanan, bahagia.
Namun, di bawah meja, Raka membuka telapak tangannya perlahan. Tidak ada luka. Tidak ada bekas terbakar. Hanya ada sensasi hangat yang tersisa, dan butiran debu cahaya emas mikroskopis yang beterbangan dari ujung jarinya, menghilang ke udara sebelum sempat dilihat orang lain.
Dia mengepalkan tangan lagi.
Apa yang terjadi padaku? pikirnya cemas. Apakah ini awal dari... akhir?
"Eh, Rak! Jangan melamun! Ambil ayamnya sebelum habis diserbu Bimo!" teriak Elara, melempar potongan roti ke arah Raka.
Raka tersentak, senyumnya kembali merekah. "Siap, Kapten! Perang makanan dimulai!"
Dan malam itu, di bawah langit buatan yang tenang, mereka tertawa lepas, tidak menyadari bahwa di layar monitor pusat kota, jauh di sana, sebuah grafik energi merah mulai berkedip pelan. Satu titik kecil di lautan data. Sinyal pertama dari badai yang akan datang.
Tapi untuk malam ini, yang ada hanya tawa, makanan, dan persahabatan. Dan itu sudah cukup.
...( Bersambung... )...