NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Tuan Albert

Istri Kesayangan Tuan Albert

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

《Chapter 2》

Kamar yang sekarang akan Emily tinggali memiliki pencahayaan yang baik dengan tempat tidur yang besar, selain itu terdapat kamar mandi dalam dan jendela yang begitu besar, nampak seperti yang biasa ia tonton di film-film bertemakan Kerajaan.

"Kecuali ruang kerja dan kamar milik Tuan Albert, anda diperbolehkan Tuan untuk masuk kemana saja," ucap seorang pelayan yang mengikutinya sampai ke kamar tidur setelah makan malam.

Emily hanya mengangguk, ia juga paham jika seseorang butuh privasi jadi menurutnya ini adalah hal yang wajar untuk membatasi seseorang dari ruang lingkup pribadinya.

"Apakah ada hal lain yang akan kau sampaikan lagi?" tanya Emily pada pelayan itu yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.

"Tidak nona," jawab pelayan itu lalu keluar dari sana dan tak lupa menutup pintu.

Beberapa hari berikutnya Emily hanya tinggal di dalam mansion dan sesekali pergi mengikuti sekretaris dari Albert untuk melakukan fitting gaun pengantin yang akan di pakai saat acara pernikahan berlangsung nanti.

Selain dari itu, tidak ada kesibukkan di luar dari mansion, ia hanya bermain game, makan, tidur dan melakukan aktivitas santai lainnya.

Ia juga nampak akur dengan para pelayan yang ada di mansion, salah satu pelayan favorit nya yaitu Bibi Vei, ia adalah seorang koki di sana dan sangat pandai memasak.

Setiap hari Emily merasa sangat senang bila menyantap makanan karna sangat pas dengan selera nya.

"Terimakasih Bibi Vei, kau memang yang terbaik!" Entah sudah berapa kali ia mengucapkan kalimat ini, namun setiap kali ia selesai makan, ia akan berterimakasih pada Bibi Vei.

"Apa hari ini Albert akan pulang?" tanya Emily pada Bibi Vei.

"Sepertinya tidak," Jawaban Bibi Vei tidak membuat Emily kecewa, ia malah bahagia karna tidak harus mengaja image di depan orang itu.

Ia sudah mendengar bahwa Albert adalah orang yang gila dengan pekerjaan, ia bahkan rela tinggal di apartemen dekat kantor agar lebih cepat sampai di kantor, Albert hanya akan punya ke mansion satu atau dua kali dalam seminggu.

Itu juga yang menjadikan perusahaannya berkembang dengan cepat dibanding yang lain.

"Tapi Bibi percaya ia akan sering pulang setelah menikah nanti," Sambung Bibi Vei.

Padahal Emily tidak mengharapkannya.

Setelah makan, Emily naik menuju kamarnya lagi, seperti biasa, ia akan bermalas-masalan lagi.

Ia sangat berterimakasih bisa menikah dengan Albert dan menerima hidup yang santai, meski ini adalah sebuah Novel.

***

Dalam perjalanan pulang ke mansion, Albert menyenderkan kepala dan memejamkan matanya sejenak, sudah beberapa hari belakangan ini, ia lembur.

"Tuan, izinkan saya melaporkan keadaan Nona Emily selama tinggal di mansion," ucap sopir, Albert kemudian membuka mata, hal itu bisa di lihat oleh sopir dari kaca spion.

"Nona terlihat senang tinggal disana, ia hanya melakukan aktivitas biasa seperti menonton serial, bermain game," Jelasnya pada Albert.

"Baguslah," kata Albert yang ingin kembali memejamkan mata.

"Sepertinya Nona memiliki masalah kesehatan," Sambung sang sopir kembali menjelaskan.

"Apa dia sakit?" tanya Albert.

"Beberapa kali ia terlihat seperti terkena asma atau mungkin serangan panik," lanjutnya menjelaskan.

Kini Albert hanya menganggukkan kepala, beberapa meter lagi mereka akan segera tiba di mansion.

Begitu memasuki ruang utama, Albert dapat melihat Emily yang sedang memakan cemilan sambil menonton televisi di sana.

"Mengapa kau belum tidur?" tanya Albert, namun ia berlalu begitu saja tanpa mendengar apa jawaban yang hendak Emily sampaikan, Emily dapat melihat bahwa ia memasuki ruang kerja.

'Baru pulang kerja, tapi sudah bekerja lagi di rumah..' pikir Emily dan memandang lagi ke arah televisi.

Setelah selesai menonton televisi, Emily berpindah menuju kamarnya.

Ia berbaring di tempat tidur dan berusaha untuk masuk ke alam mimpi, namun tidak lama setelah itu ia kembali bangun, duduk di tepi ranjang sambil memegang dadanya yang terasa sesak.

Ini sudah kesekian kalinya ia mengalami hal ini setelah masuk ke dalam Novel, ia tau bahwa tokoh ini akan mati setelah dua tahun namun ia tidak menyangka bahwa sakit yang di alami tokoh sudah lama dimulai, karna hanya di ceritakan di bab terakhir dari Novel bahwa ia perlahan sakit parah kemudian mati.

Keringat mengucur dari dahi Emily karna menahan rasa sakit, ia berusaha mengontrol pernapasannya namun tetap saja terasa seperti ada yang menghalangi rongga dadanya.

Merasa sudah tidak sanggup, ia berdiri, mencoba untuk mengambil botol obat penenang namun malah menjatuhkan gelas kaca berisi air yang berada di samping botol tersebut kemudian ia terjatuh.

Saat itu Albert yang masih berada di ruang kerja mendengar keributan dari lantai atas dan menghampiri kamar Emily, ia mendapati pintu kamar yang terbuka sedikit.

"Emily?" panggilnya namun tak mendapati jawaban dari perempuan itu, karna pintu terbuka, maka ia memutuskan masuk kesana, mendapati Emily yang hampir hilang kesadaran.

Albert bisa melihat wajah Emily yang begitu pucat dan keringat yang bercucuran dari kening Emily.

Ia mengingat laporan dari sang sopir dan menyimpulkan bahwa Emily sedang mendapat serangan asma atau panik.

Albert segera mengendong Emily menuju ke kasur.

"Dimana inhealer mu?" tanya Albert sambil tetap tenang.

Emily yang sudah kehabisan tenaga hanya bisa menunjukkan letak benda itu yang berada di laci dekat tempat tidur.

Albert segera mencari dan menemukannya disana, kemudian tangannya mengarahkan inhaeler pada mulut Emily, menyuruh gadis itu untuk menghirupnya.

Albert melakukannya sekali lagi ketika di lihatnya bahwa Emily masih merasa sedikit sesak.

Beberapa menit kemudian, setelah merasa baikan, Emily mengucapkan terimakasih pada Albert.

"Apa kau punya riwayat asma?" tanya Albert.

"Ya," Jawab Emily.

Sebenarnya di dunia nyata, ia sama sekali tidak memiliki masalah kesehatan, namun karna dalam Novel sudah di tulis bahwa ia akan meninggal karna penyakit, maka Emily menjawab iya pada Albert.

"Kalau begitu aku akan keluar"

Albert bergegas keluar dari sana dan menutup pintu.

Emily yang sudah lelah dan mengantuk mulai memejamkan mata dan tertidur, sedangkan Albert masih membersihkan diri karna ia tadi masih sibuk dengan berbagai dokumen yang ia kerjakan di ruangannya.

Esok pagi, sekitar pukul 5 subuh, Emily sudah bangun dan mandi dengan air hangat.

Untung saja di sana ada shower dengan pengaturan suhu.

"Selamat pagi Bibi Vei, apa yang sedang Bibi masak hari ini?" tanya Emily yang melihat kesibukkan Bibi Vei di dapur.

Ia sudah beberapa kali ingin membantu Bibi Vei namun di tolak dengan alasan Bibi yang sudah di bayar oleh Tuan Albert untuk memasak di mansion itu.

"Bibi membuatkan mu Sup ayam, Tuan bilang semalam Nona kesakitan"

Emily tak menyangka bahwa Albert memiliki sisi yang lembut.

"Dimana Albert?" tanya Emily.

"Tuan sudah pergi sebelum Nona bangun, ia hanya memberi pesan agar Nona bersiap pergi ke Aula Pernikahan, Tuan akan menunggu anda disana" jawab Bibi Vei dengan tangan yang membawa hidangan untuk Emily.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!