" Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali.
kisah Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriaki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak di cintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi yang juga majikan tempatnya bekerja. Namun kisah cinta Ana dan Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. bagaimana kisah mereka? Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?
Malam berakhir dengan gemerlap bintang-bintang dan bunga-bunga yang bermekaran mengantarkan pada mimpi yang menjanjikan sebuah harapan. Malam ini Ana lupa akan traumanya bunga di hatinya memaksa bersemi mesti tak pasti akankah tumbuh atau kembali layu dan mati.
ikuti terus kisah Ana dan jangan lupa dukungannya ....
terimakasih .. Update setiap hari, No libur kecuali mati lampu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IbuAnna30, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Maaf Nak,
Ana masih memandang lekat anak-anak nya, sesekali diusap nya satu persatu kening sang putra. Rasa bersalah bercampur sakit menyeruak di hati nya. ''Tuhan tidak akan menguji hamba nya di atas batas kemampuan hamba nya, tapi sampai mana batas ini ,'' batin Ana Kembali sesak bersamaan dengan tangis yang kembali mendominasi.
Isak Ana mengusik putra sulung nya, Danu, hingga sang putra terbangun,
"Ibu nangis ya?" Ucap Danu Sembari mengucek matanya.
Ana yang tertangkap basah Danu sedikit kikuk dengan cepat ia mengusap sisa air mata di pipi nya , "Ndak. Ibu ndak nangis kok," jawab Ana.
"Nggak nangis apa nya, lihat nih pipi Danu sama adek-adek basah semua." Sungut Danu seraya mengelap pipi nya yang lembab karena air mata .
"Itu iler mas.'' Kilah Ana sembari mengusap pipi sang anak.
"Ibu kenapa?" Tanya Danu kembali dengan suara sendu, Ibu berantem sama ayah?" Lanjutnya.
Seketika Ana tak kuat menahan sesak yang kembali menyeruak , di peluk nya anak sulungnya itu . Danu memang masih terbilang remaja usianya baru 15 tahun namun dia sangat dewasa. Dia lah tempat Ana menumpahkan air mata tiap kali penat melanda. Sedikit ragu Ana mulai berbicara.
" Mas ibu kerja jauh ya?" ucap Ana. masih dengan sisa isak tangis nya.
Danu yang turut meneteskan air mata pun bertanya dengan suara yang sedikit tersedat " Kerja kemana Bu?". 'Luar negri?' tanya nya seolah mengerti maksut Ana,
Ana tak mampu menjawab hanya anggukan kecil dengan air mata yang kembali tumpah,
sekuat tenaga Ana mengatur emosi nya untuk memberi penjelasan pada Danu, dan Raka yang tiba-tiba juga terbangun dari tidur nya.
"Mas tau kan keadaan kita disini, kalo Ibu gak nekat, hidup kita nggak berubah mas," buat sekolah kalian juga."Jelas Ana menahan tangis.
"Tapi Aidar gimana Bu?", "Aidar masih kecil, Aidar masih butuh ibu!", garis kecewa dan sedih tergambar jelas di wajah polos Danu.
"Ibu percaya mas Danu bisa jaga adik-adik," jawab Ana mencoba meyakin kan si sulung.
''Apa tidak ada jalan lain bu, maksut nya kenapa ibu yang pergi bukan Ayah,'' sahut Raka. ''Kan mencari nafkah itu tanggung jawab seorang ayah.'' imbuh nya.
Ana memeluk anak ke dua nya itu, Raka memang selalu ceplas ceplos kalau berbicara, meski terkadang apa yang di katakan benar ada nya,
''Ngomong nya jangan kaya gitu nak, nanti kalo ayah denger jadi salah paham,'' lirih Ana.
Raka nampak tidak setuju dengan yang barusan Ana ucap kan, dengan sedikit sinis dia
kembali menjawab,'' ya bener kan!.
Ana tersenyum masam, '' iya benar, tapi terkadang kita juga harus hati-hati dalam mengungkapkan, jangan sampai yang harus nya bener jadi nggak bener karna salah paham.''
''Terserah ibu lah.'' jawab Raka yang kemudian kembali berbaring membelakangi Ana dan Danu.
Danu yang tau bagaimana sifat keras adik nya itu hanya menghela nafas,
'' Ka, kamu jangan kaya gitu, ibu juga ngelakuin ini dengan terpaksa,'' ucap Danu pada sang adik.
Raka membalikkan badan nya,'' Ya terus harus gimana mas?'' tanya nya sinis.
''Ya kamu denger penjelasan ibu dulu, jangan langsung kaya gitu.'' jawab Danu pelan.
''Udah jelas kok. '' ibu mau pergi kan, ninggalin kita ninggalin adek,'' ucap Raka sesaat kemudian
Badan nya turut bergetar pertanda bagaimana sesak nya dia menahan kecewa.
Danu dan Ana kembali luruh dalam tangis, berpelukan seraya saling menguatkan, bersama dengan air mata yang semakian deras.
'''Maaf kan ibu nak, ibu tidak ada pilihan lain,'' lirih Ana. '' Ini semua demi masa depan kalian nak,''imbuh Ana.
Tangis kembali mendominasi, menjadikan malam itu malam terperih untuk Ana.
Danu dan Raka memang terbilang dewasa untuk ukuran anak seusia mereka , terlebih Danu terkadang ia jauh lebih peka dengan sekitar di banding Ana sendiri, mungkin karena sedari kecil Danu selalu merasakan semua penderitaan Ana.
Dari mulai KDRT dan segala kemalangan yang terjadi di hidup Ana, Danu lah saksi nya, mungkin itu yang menjadikan nya begitu dewasa.
Raka pun sama, namun beda nya anak kedua nya itu lebih berani dalam mengungkapkan isi hati nya, tanpa peduli bagaimana orang-orang menanggapi kalau menurut nya salah ya dia akan berkata salah pun sebalik nya. atau bisa di katakan Raka lebih jujur hati nya.
Namun di balik semua itu mereka berdua sangat menyayangi Ana . wajar jika mereka kecewa
Dengan keputusan Ana karena untuk pertama kali nya mereka akan jauh dan berpisah lama dengan nya.
Dulu saat awal perceraian dengan ayah mereka, mereka juga di pisah kan dari Ana. Tapi hanya 6 bulan, selanjut nya mereka memilih kembali ke pelukan Ana.
Sedari kecil Ana memang mengajari anak-anak nya untuk berani berpendapat, atau sederhana nya mereka harus bisa mempertahan kan apa yang seharus nya menjadi hak mereka.
Namun sayang nya praktek yang terjadi di lapangan tidak selalu sama, terbukti dari mereka yang tidak mendapatkan hak mereka sebagai anak dari ayah kandung mereka, dan sekarang
Kenyataan pahit lain nya muncul, dimana mereka harus belajar berjauhan dengan sang ibu.
Dengan dalih kebutuhan.
Danu kembali membuka obrolan saat tangis mereka mulai mereda,'' terus bu, ayah gimana?'' ''Apa ayah udah setuju?'' tanya Danu.
''Orang itu apa mungkin nggak setuju seh mas kalau untuk urusan duit,'' sahut Raka frontal.
Ana kembali tersenyum masam, sembari membelai rambut ikal Raka'' Ayah sudah setuju, ibu udah bicarakan kok,'' jawab Ana.
''Pokok nya terserah ibu, tapi adek jangan di bawa kemana-mana, biar di rumah aja Sama aku sama mas.'' ucap Raka kembali sembari memeluk sang adik Aidar yang tidur pulas.
''Adek nanti biar di rumah bude nak, kasian kalo dirumah sini.'' ujar Ana. '' Danu sama Raka denger ibu, nanti kalo ibu sudah jadi berangkat, kalian berdua dengerin omongan ibu yaa, nurut sama bude, pokok nya apapun yang terjadi nurut sama bude, oke,'' imbuh Ana .
''Kenapa memang nya bu?'' Tanya Danu pelan.
''Ibu pasti udah punya rencana ini mas,'' sahut Raka
''Udah pokok nya nurut aja,'' pungkas Ana. '' udah bubuk lagi gih, ayah udah pulang tu,
besok kita obrolin lagi.'' lanjut nya saat di dengar nya motor Roy tiba.
Hampir setiap hari Roy pulang lewat tengah malam atau kadang hampir pagi, nongkrong dengan teman-teman nya tak jarang pula pulang dalam keadaan mabuk, seperti malam ini.
Kalo sudah begini Ana hanya bisa menghela nafas lelah, namun tak berdaya.
Mau marah pun percuma yang ada hanya menambah masalah dan pikiran saja, jadi diam dan pasrah menerima adalah pilihan terbaik nya.
____Bersambung.
Semoga anak-anak ku tumbuh se Green flag Danu ya allah .......
Salam cinta
Ibu❤️