Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis Prolog
...Percaya tidak percaya, pertemuan itu akan berakhir perpisahan~...
...- Ardanayudha -...
...Dan dari perpisahan itu sendiri, akan ada pertemuan yang tidak terduga~...
...- Yumnallasha -...
"Kau tidak perlu terlalu percaya padaku ataupun orang lain. Tapi percayalah pada dirimu sendiri. Jika jalan yang kau pilih saat ini memang benar. Walaupun kau harus merendahkan harga diriku, mencoreng nama baik ku untuk kebenaran." Kalimat itu keluar dari mulut insan yang tersenyum hangat pada lawan bicaranya.
Kepalanya mengangguk sekilas, tanpa mengalihkan pandangan mata dari sang nona. Hanya bisa diam menjadi pendengar yang baik. Karena waktunya untuk membuka suara belum tiba. "Kau harus yakin tanpa ragu. Kau tidak boleh menoleh jika kita saling kenal. Dunia kerja itu harus mengorbankan orang-orang di sekitar, yang menurut kita itu sangat menghalangi jalan kita untuk maju."
"Jika kau memintaku untuk percaya pada diri ku sendiri__" ludah getir itu tertelan sebagai jeda sang nona yang terlihat sedikit kecewa akan tuan di depan matanya saat ini. "Aku akan melakukannya, aku akan mempertahankan siapapun yang memang baik untuk ku."
"Aku akan menutup mata. Karena bagiku sendiri, tidak selamanya yang terlihat buruk itu sebuah kejahatan. Kesalahan itu pasti ada alasannya. Kenapa dia melakukan hal itu?" Timpal sang nona sebagai lanjutan.
Lengkungan tidak begitu sempurna tapi sangat manis berhasil sang nona perlihatkan untuk menghilangkan rasa khawatir di benak sang tuan hanya mampu membuang napas gusar. Tetap berusaha tegar.
"Kita bisa pergi ke tempat itu dengan yang lainnya setelah semuanya selesai. Kau harus menepatinya." Ucapan sepihak dari sang nona, setelah menyodorkan sebuah foto polaroid kepada tuan di hadapannya. Menerima itu tanpa ragu.
Mempertahankan seseorang itu tidak akan mudah baginya. Apalagi jika sang insan sudah merasa lelah dengan keadaan hidupnya, tanpa tahu harus melakukan apa. Tapi sebisa mungkin, sang nona akan terus berusaha untuk menjadi seseorang yang selalu ada. Di saat tuan butuh pendengar keluh kesahnya.
"Jika kita sudah ada disana, aku hanya memintamu untuk bersenang-senang. Karena kebahagian itu harus kita prioritaskan, disaat semua orang ingin melihat kita terkurung dalam rasa bersalah." Akhir sang nona, yang menampilkan senyumannya.