Merantau selama enam tahun di Kalimantan sebagai operator buldoser besar dan ekskavator pengeruk nikel—itulah profesi tangguh seorang Tara Pratiwi. Selama itu pula, ia bekerja keras menjadi "pesuruh" andalan bagi bos-bos asing bermata sipit di area pertambangan.
Tara pikir, saat ia pulang kampung nanti, semuanya akan tetap sama seperti saat ia tinggalkan dulu. Oh, tentu saja dugaan itu salah besar! Rupa-rupanya, kompleks perumahan tempat tinggal kedua orang tuanya kini sudah sangat padat, berimpitan dengan tetangga-tetangga baru di sisi kanan dan kiri rumah.
Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Cakrawala—seorang duda cerai mati dengan satu anak laki-laki super bandel yang siap mengusili hari-hari tenang Tara.
Tara mengacak rambutnya frustrasi. "Haduh, pusing, pusing! Alamat aku pergi nunggang ekskavator lagi ini mah kalau begini caranya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal
"Tara! Ibuk mau pergi arisan ke rumah Bu RT, ya! Kamu tolong jaga rumah," ucap Bu Hayati sembari melongokkan kepalanya melalui celah pintu kamar sang anak.
"Heeemh... Pergilah..." sahut Tara bergumam tidak jelas. Pasalnya, matanya masih terasa amat berat dan mengantuk. Subuh tadi ia baru saja tiba di rumah setelah menempuh perjalanan melelahkan hampir satu minggu lamanya menaiki kapal laut dari tanah rantaunya.
Belum sempat matanya kembali terpejam sempurna, pintu kamarnya kembali diketuk pelan. "Ra! Ayah mau ke sawah dulu, ya! Tolong jaga rumah lho... Itu si Cio jangan lupa dikasih makan," ucap Ayah Anton, melongokkan kepalanya dengan posisi yang persis sama seperti yang dilakukan istrinya beberapa menit lalu.
"Ck, iya!..." jawab Tara mulai dongkol karena tidurnya terus-menerus diganggu.
Tak lama setelah kedua orang tuanya pergi, Tara akhirnya berhasil terlelap pulas. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sekitar satu jam. Kali ini, tidurnya benar-benar terganggu secara brutal oleh entakan suara musik DJ yang berdentum sangat keras, berasal tepat dari rumah di samping kamarnya. Dinding pembatas yang tipis membuat getaran basnya terasa sampai ke ulu hati.
Wanita itu seketika ingin mengutuk habis-habisan tetangga tak tahu aturan yang menyetel musik sekencang itu di pagi buta. Dengan cepat, Tara bangkit dari tempat tidur. Rasa kantuknya menguap, digantikan oleh emosi yang membubung. Ia mengepalkan tangan lalu menggedor dinding papan kamarnya dengan kencang.
"Berisiiiiiik! Woy, kalau mau dugem pergi ke diskotik sana, jangan di sini dong! Gue lagi tidur ini!" teriaknya sekuat tenaga.
Bukannya mereda, dari seberang dinding justru terdengar samar beberapa suara tawa riang yang saling bersahutan. Seolah sengaja menantang dan tidak peduli, volume musik sound system itu malah diputar semakin kencang hingga memekakkan telinga.
Tara menggertakkan giginya hingga berbunyi. Dengan langkah tegas penuh percaya diri, wanita itu membuka pintu kamarnya dan langsung berjalan cepat keluar rumah. Di belakangnya, Cio—kucing gemuk kesayangan ayah dan ibunya—ikut menyusul, berjalan mengekor dengan langkah kaki yang tergesa-gesa.
Tara menyobloskan kakinya ke sandal Teplek kesayangannya, lalu berjalan cepat menuju rumah sebelah. Dengan jengkel, ia menggedor pintu rumah minimalis itu berkali-kali. Namun, tak ada tanda-tanda seseorang akan membukakan pintu, padahal suara musik dugem masih mengalun-alun dengan dentuman dahsyat dari arah dalam.
"Buka!... Cepat buka pintunya!" gebrak Tara sekali lagi. Amarah sudah terkumpul penuh di kepalanya, siap diledakkan kapan saja.
Tiba-tiba, langkah seorang pria jangkung yang baru saja pulang bekerja sebagai satpam Bank BRI terhenti seketika. Cakrawala—pria bertubuh tegap itu—mendadak kaku di tempatnya saat melihat sosok wanita yang tengah menggedor pintu rumahnya dengan brutal.
Wanita itu berpakaian super minim. Celana hotpants ketat dipadukan dengan kaos lengan panjang berkerah longgar yang melorot, memperlihatkan setengah bahu mulusnya yang putih bersih. Rambutnya dicepol asal-asalan, menyisakan beberapa anak rambut yang jatuh berantakan di atas bahu dan tengkuknya, memberikan kesan berantakan yang justru terlihat sangat seksi.
Merasa heran sekaligus terkesiap dengan pemandangan di depannya, Cakra melangkah mendekat ke arah Tara. "Cari siapa, Mbak?" tanyanya.
Tara yang sedang emosi mendengar suara berat nan serak khas pria dewasa dari arah belakangnya. 'Set-buset... Pagi-pagi denger suara orang kayak habis main ninu-ninuan, enak bener! Jadi candu,' batinnya spontan bergejolak nakal.
Tara membalikkan badannya dengan cepat. Detik itu juga, matanya membelalak. Di hadapannya berdiri seorang pria dengan perawakan tinggi menjulang dan tubuh tegap berotot. Persis seperti gapura kabupaten! 'Kok bisa ada Kang Elmir di sini?' ucapnya bertanya-tanya dalam hati, sibuk menyamakan bentuk wajah tegas Cakra dengan Elmir, aktor tampan terkenal dari Turki.
"Cari siapa, Mbak?" tanya pria itu lagi, mengulangi pertanyaannya karena Tara malah melamun menatapnya.
Pandangan mata Cakra kemudian menyapu seluruh tubuh Tara yang berdiri begitu dekat dengannya. Tatapan pria itu perlahan turun ke bawah, jatuh tepat pada kaki Tara yang mengenakan sandal teplek tipis, memperlihatkan bagian tumitnya yang merah muda. 'Wow, pink...' batin Cakra berdesir.
Namun, pandangan mata Cakra tidak berhenti di sana. Matanya naik beberapa inci, dan sedetik kemudian pandangannya terkunci tepat di belahan tembam yang menjiplak jelas di antara kedua paha Tara akibat celana pendeknya yang terlalu ketat. 'Ya Tuhan! Pagi-pagi godaan...' batin pria itu menjerit. Jakunnya naik turun, menelan air liur dengan susah payah saat merasakan sesuatu di balik celana seragamnya mendadak menegang kasar.
Cakra langsung memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir pikiran kotor yang tiba-tiba menyerang otaknya. Tara yang menyadari gelagat aneh itu langsung mengikuti arah pandang sang satpam yang tertuju tepat ke arah inti sensitif miliknya. Wanita itu tersentak. 'Wah, bahaya iki!...' batinnya panik.
Untuk menutupi rasa salah tingkahnya, Tara segera berkacak pinggang. "Eh! Mas... Situ yang punya rumah ini?" tanyanya dengan nada ketus dan judes.
Cakra membuka matanya perlahan, berusaha bersikap senormal mungkin lalu mengangguk. "Nggih, Mbak!" jawabnya lembut.
'Halah! Lembute... Koyo permen Yupi, kenyale bikin hepiii,' seru batin Tara, gemas sendiri mendengar suara lembut pria berbadan kekar itu.
"Sopo sih, Mas, yang stel musik kuenceng pol? Buedek ki kopokku loh! (Budeg ini telingaku!)" semprot Tara, meluapkan kekesalannya dengan menunjuk telinganya yang memerah.
Cakra langsung tersadar dari keterpakuannya. Dengan cepat, pria itu menatap ke arah pintu rumahnya sendiri yang tertutup. "Maaf nggih, Mbak! Itu pasti Candra. Nanti tak kasih tahu anaknya," ucap Cakra pelan penuh penyesalan.
Pria itu kemudian bergegas maju dan langsung memutar handle pintu tanpa kesulitan. Klik. Pintu pun terbuka lebar.
Melihat hal itu, Tara melongo. 'Lah, ndak dikunci toh... Kalau gitu ngapain aku gedor-gedor dari tadi? Duh! Emang dasar bloon aku nih ya,' rutuknya kesal pada diri sendiri.
Tanpa menunggu lama lagi, Tara langsung berbalik arah dan melangkahkan kakinya dengan cepat, berjalan kembali menuju rumah orang tuanya yang berada tepat di samping rumah Cakra, meninggalkan sang duda yang masih berusaha mengatur napas dan debaran jantungnya.
sukses slalu y 🫶🫶🫶