Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
“Sar… pelan-pelan dong bawa motornya. Mau terbang rasanya aku ini!” jerit Tini. Ia mencengkeram kuat ujung jaket Sarah, menahan hembusan angin yang menerpa wajah mereka.
“Kalau aku pelan, yang ada nanti tu anak udah ke terminal. Malas banget tau kalau harus ke terminal. Ntar kita kena catcalling,” balas Sarah setengah berteriak. Fokus matanya tetap lurus menatap jalanan yang berlubang.
“Tapi jangan ngebut banget juga, Sar! Aku baru punya anak lho, ini. Ntar jadi anak piatu anakku kalau kita kecelakaan!” protes Tini. Suaranya bergetar menahan takut.
“Ya paling suami kamu cari ibu baru buat anak kalian,” seloroh Sarah santai.
Plak…!
“Tini… enak aja main geplak-geplak kepala orang!” teriak Sarah di tengah lajunya ia membawa motor. Ia sedikit meringis di balik kaca helmnya.
“Siapa suruh mulut kayak nggak disekolahin gitu!” jawab Tini dengan nada ketus dari kursi penumpang.
“Udah, Tin, pegangan yang kuat. Kita harus buru-buru ini ngejar si Ali. Jangan sampai dia udah ke terminal. Mending kita temui dia di pasar,” ujar Sarah, kembali menstabilkan stang motornya.
Terdengar helaan napas kasar di belakang Sarah. Tini hanya bisa pasrah memeluk erat sahabatnya itu.
“Hah… gini amat, ya, jadi guru,” keluh Tini.
“Siapa suruh jadi guru di daerah terpencil,” jawab Sarah sambil tertawa kencang.
Sarah Aini semakin menarik gas motor maticnya semakin dalam. Ia terus mengejar waktu untuk menghentikan Ali. Hingga akhirnya, setelah memacu motornya selama dua puluh menit, mereka tiba di sebuah pasar yang cukup besar di daerah tersebut.
Sarah dan Tini bergegas membuka helm mereka. Keringat tipis mulai membasahi dahi keduanya karena cuaca yang cukup terik.
“Ayo cepat, Tin. Keburu Ali pergi,” ajak Sarah sambil melangkah lebar.
“Iya, sebentar, Sar. Tasku tersangkut,” jawab Tini setengah berlari mengejar.
Keduanya langsung berjalan masuk ke dalam area pasar yang sangat ramai. Bau khas ikan asin dan sayuran segar langsung menyengat indra penciuman mereka. Keduanya menyusuri area pasar, mulai dari area basah hingga area kering, namun tak jua bertemu dengan yang dimaksud.
“Ali nggak ada, Sar. Apa udah pergi ke terminal?” tebak Tini sambil menyeka keringat di lehernya.
Sarah hanya diam. Matanya fokus menatap ke segala arah. Ia sibuk mencari salah seorang anak muridnya yang sudah tidak masuk sekolah hampir selama sebulan. Sebagai wali kelas, Sarah merasa memiliki tanggung jawab penuh untuk membawa sang anak kembali ke bangku sekolah.
“Jangan menyerah dulu, Tin. Kita coba cek ke arah deretan kios sayur di sebelah sana,” kata Sarah penuh tekad.
“Tapi kalau di sana nggak ada, kita langsung ke terminal?” tanya Tini ragu.
“Kita cari sampai ketemu, Tin. Ini kesempatan terakhir kita sebelum dia naik bus,” tegas Sarah.
Pandangan Sarah akhirnya tertuju pada sebuah kios yang menjual sayur-mayur di pojok pasar. Dari posisinya berdiri, Sarah merasakan jika dirinya sangat mengenali sosok pemuda di sana. Pemuda itu tengah bersiap memikul karung goni berukuran sedang yang Sarah yakini berisi sayuran.
“Tin, itu Ali!” seru Sarah tiba-tiba.
Ia langsung berlari kencang, meninggalkan Tini yang terengah-engah di belakangnya.
“Sar! Sarah, tunggu! Jangan lari-lari di pasar!” teriak Tini, namun suaranya tenggelam di antara keriuhan para pedagang.
Sarah terus menerobos kerumunan orang hingga langkahnya berhenti tepat beberapa meter di depan kios sayur tersebut. Pemuda yang dipanggil Ali itu baru saja hendak mengangkat karung goni ke atas pundaknya.
“Ali!” panggil Sarah dengan napas yang memburu.
Pemuda itu tertegun. Ia menoleh lambat-lambat ke arah sumber suara. Begitu melihat sosok guru wali kelasnya berdiri di sana dengan wajah kemerahan, matanya langsung membelalak kencang. Ali refleks menurunkan kembali karung goninya ke tanah.
“Bu… Bu Sarah? Kok bisa di sini?” tanya Ali terbata-bata. Ia tampak sangat terkejut sekaligus salah tingkah.
“Kenapa? Kamu kaget melihat Ibu di sini?” tanya Sarah, melangkah mendekat sembari mengatur napasnya.
Tini akhirnya tiba di samping Sarah dengan napas yang tidak kalah habisnya.
“Aduh, Ali… kamu ini ya. Guru kamu sampai ngebut kayak pembalap cuma buat nyari kamu ke pasar ini.”
Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak berani menatap langsung mata kedua gurunya. Kedua tangannya yang tampak kasar karena bekerja berulang kali meremas ujung bajunya yang kotor.
“Maaf, Bu…” lirih Ali.
“Ali, Ibu mau tahu langsung dari mulut kamu sendiri. Kenapa kamu sudah hampir sebulan ini tidak masuk sekolah tanpa kabar sama sekali?” tanya Sarah dengan nada yang melembut, tidak lagi menggebu-gebu seperti saat mengejarnya tadi.
Ali terdiam sejenak. Ia melirik karung goni di dekat kakinya sebelum menjawab. “Saya harus bekerja, Bu. Ibu saya lagi sakit di rumah, dan adik-adik butuh makan. Saya nggak bisa kalau cuma diam dan tetap sekolah.”
Tini menghela napas panjang, merasa iba mendengar penuturan muridnya itu.
“Ali, kami paham kondisi keluarga kamu. Tapi kenapa kamu nggak bicara baik-baik sama sekolah?”
“Saya malu, Bu. Saya juga mikir kalau saya sekolah terus, saya nggak bisa menghasilkan uang buat beli beras,” jawab Ali dengan suara yang mulai serak.
Sarah melangkah satu tapak lagi hingga jaraknya sangat dekat dengan Ali. Ia menyentuh pundak remaja itu dengan lembut.
“Ali, dengar Ibu. Kamu sekarang sudah kelas sembilan. Perjalanan kamu di sekolah ini tinggal beberapa bulan lagi. Sebentar lagi kamu akan menghadapi Ujian Nasional. Apa kamu nggak sayang dengan perjuangan kamu selama hampir tiga tahun ini?” tanya Sarah serius.
Ali tetap bergeming, air matanya mulai menggenang di sudut mata.
“Tapi sekolah butuh biaya, Bu. Saya juga sudah banyak tertinggal pelajaran. Pasti saya nggak akan lulus.”
“Siapa yang bilang kamu nggak akan lulus? Kamu itu anak yang cerdas, Ali. Soal pelajaran yang tertinggal, Ibu dan guru-guru lain siap bantu kamu kejar materi lewat les tambahan,” sela Sarah cepat, berusaha membesarkan hati muridnya.
“Benar, Ali. Sekolah juga punya program bantuan untuk murid yang kurang mampu. Masalah biaya sekolah, jangan kamu jadikan alasan untuk mundur. Biar kami para guru yang bantu urus ke kepala sekolah,” tambah Tini, meyakinkan.
Ali mendongak, menatap Sarah dan Tini bergantian dengan pandangan tidak percaya.
“Apa benar begitu, Bu? Saya masih boleh kembali ke sekolah?”
“Tentu saja boleh, Ali. Ibu ke sini khusus untuk menjemput kamu. Ibu nggak mau melihat salah satu murid terbaik Ibu putus sekolah di tengah jalan, apalagi pas mau ujian nasional seperti sekarang. Tanggung, Ali. Tinggal sedikit lagi kamu lulus,” ujar Sarah sambil tersenyum hangat.
Ali mengusap air matanya yang sempat menetes dengan punggung tangannya. Kehangatan dan perhatian dari kedua gurunya meruntuhkan tembok keputusasaan yang sempat menguasai pikirannya selama sebulan terakhir.
“Tapi… pekerjaan saya di kios ini gimana, Bu? Pemilik kios sudah baik mau kasih saya kerjaan harian,” tanya Ali lagi, masih menyisakan sedikit keraguan.
“Kamu bisa bicarakan ini dengan pemilik kios. Kamu bisa tetap bantu di sini setelah jam pulang sekolah atau saat hari libur. Yang paling utama, pagi hari kamu harus ada di dalam kelas, belajar bersama teman-teman kamu. Gimana? Kamu mau, kan, kembali sekolah?” tanya Sarah, mengulurkan tangannya di depan Ali.
Ali menatap uluran tangan Sarah. Setelah ragu beberapa saat, ia akhirnya mengangguk kuat dan menyambut tangan gurunya.
“Iya, Bu. Saya mau sekolah lagi. Saya janji akan belajar sungguh-sungguh buat ujian nanti,” ucap Ali dengan nada tegas penuh haru.
Sarah dan Tini saling berpandangan lalu tersenyum lega. Lelah karena harus kejar-kejaran menggunakan motor matic dengan kecepatan tinggi tadi seketika menguap tanpa bekas.
“Bagus! Kalau begitu, besok pagi Ibu tunggu kamu di kelas. Jangan sampai terlambat, ya!” seru Sarah bersemangat.
“Siap, Bu Sarah! Terima kasih banyak sudah mau nyari saya sampai ke sini,” jawab Ali, kini dengan senyuman yang merekah di wajahnya.
Panas....cemburu melanda😂
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor