NovelToon NovelToon
GALACTIC PARCEL SERVICE

GALACTIC PARCEL SERVICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Komedi / Slice of Life
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.

Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.

Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.

Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.

Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Jus Jambu, Memori Masa Kecil, dan Kapten Cengeng

Dengung ribuan bahasa antar-galaksi memenuhi setiap sudut Pelabuhan Orbital Bumi. Derap sepatu bot manusia bersahut-sahutan dengan gesekan cakar, tepukan tentakel di lantai logam, hingga dengungan koper antigravitasi yang melayang rendah.

Di satu sisi terminal, aroma bumbu kacang dari drone-pedagang pecel khas manusia bercampur dengan bau menyengat tentakel panggang khas planet rawa Arcturus. Tidak jauh dari sana, seekor alien bertubuh sebesar badak sibuk berdebat dengan mesin penjual otomatis yang menolak menerima mata uang dari sistem bintangnya.

Pemandangan seperti itu nyaris terjadi setiap hari.

Tak ada yang benar-benar memedulikannya.

Pelabuhan Orbital Bumi bukan hanya gerbang keluar masuk Tata Surya, tetapi juga salah satu persimpangan tersibuk di galaksi.

Di tengah hiruk-pikuk terminal, Arka Orion Saputra berdiri bersandar pada sebuah pilar logam. Sebelah tangannya memijat pelipis, sementara tangan satunya menggenggam alat komunikator.

Suara dari seberang sana terdengar begitu akrab hingga hiruk-pikuk terminal perlahan seperti menghilang.

"Udah tak tandatangani kemarin, Buk," ucap Arka.

"Lha jare adekmu kok belum?" balas suara ibunya di seberang sana, diiringi suara desis panci bertekanan tinggi.

"Lha ya mbuh, coba tanya adik langsung, kok malah nanya aku. Aku hari pertama kerja ini lho, Buk," keluh Arka. Meskipun manusia sudah menetap di ribuan tata surya, keluarganya tetap keras kepala mempertahankan bahasa Jawa. Kata almarhum ayahnya dulu, selama bahasa itu masih dipakai di rumah, mereka tidak akan pernah lupa berasal dari mana.

"Ya wes, udah di orbit ta?"

"Uwes, ini mau beli minum bentar. Habis ini dijemput SPV-ku, terus diantar ke kapal."

"Ya wes, ati-ati. Jadi pulangnya tiga bulan lagi?"

"Katanya sih gitu. Udah dulu ya, Buk."

Arka mematikan komunikatornya.

Ia menyelipkan komunikator itu ke saku seragam.

Mau sejauh apa pun manusia menjelajah galaksi, isi telepon seorang ibu rupanya tidak pernah berubah.

Baru dua langkah meninggalkan tempatnya...

BRUK!

Sesuatu menghantam lantai tepat di depan ujung sepatu botnya.

Seekor makhluk bersisik hijau pucat terjerembap tepat di depan Arka. Ekor panjangnya melingkar rapat di lantai sementara kedua tangannya menutupi kepala.

Dari sisik dan bentuk tubuhnya, Arka langsung mengenali rasnya.

Reptola.

Di atasnya berdiri sesosok Grovax bertubuh mungil dengan kulit merah muda dan dua tanduk kecil di dahi. Tingginya bahkan tidak sampai 150 sentimeter, tetapi aura mengancam yang dipancarkannya membuat makhluk-makhluk di sekitar memilih menyingkir.

Beberapa penumpang mulai memperlambat langkah.

Ada yang berhenti.

Ada pula yang diam-diam mengaktifkan kamera holografiknya.

Bagi terminal sebesar ini, keributan kecil sering kali lebih menarik daripada papan jadwal keberangkatan.

"Berani-beraninya kau numpahin jus jambuku!" bentak si gadis Grovax. Suaranya melengking tinggi, tangannya mengepal erat. "Dalam adat Grovax, menumpahkan minuman seorang pejuang adalah tantangan duel! Kita duel tangan kosong sekarang juga sampai salah satu dari kita menyerah!"

"Tolong... aku kan nggak sengaja," rintih si Reptola, ekor bersisiknya meringkuk di lantai.

"Tolong, aku tidak mau duel...."

Arka hanya bisa memandangi keduanya selama beberapa detik.

Hari pertama kerja. Belum juga ketemu kapal, eh sudah ada duel gara-gara jus jambu.

"Sial..."

Ia melirik ke sekeliling. Belum ada petugas keamanan.

Arka berdeham pelan, lalu memberanikan diri melangkah maju.

"Eee, permisi, Tuan dan Nona," Arka melangkah maju, merentangkan tangannya sedikit untuk menengahi. "Mohon untuk tidak duel di sini. Nanti petugas keamanan stasiun datang. Kan semuanya bisa diselesaikan baik-baik."

Si Reptola menengadah, mata kuning vertikalnya menatap Arka dengan pandangan tersinggung. "Tuan? Aku ini perempuan!"

Si Grovax merah muda itu sontak tertawa terbahak-bahak, memamerkan gigi taringnya. "Hahaha! Makhluk primata buta! Dan asal kau tahu, duel tidak bisa dibatalkan begitu saja!"

Wajah Arka memanas. "Ah... maaf, Nona-nona. Saya memang agak sulit membedakan jenis kelamin ras Reptola. Mohon maafkan saya." Arka buru-buru membungkuk kecil, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu si Reptola berdiri.

Ia lalu menatap si gadis Grovax. "Nona, bagaimana kalau begini. Sebagai ganti rugi duel yang dibatalkan, saya akan ganti uang jus jambu Nona dengan nominal dua kali lipat. Nona bisa beli jus jambu kelas premium setelah ini. Setuju?"

Si Grovax terdiam. Alis merah mudanya bertaut, tampak sedang menghitung sesuatu di kepalanya. "Hmm... jus jambu premium ya... Baiklah! Duel dibatalkan. Mana kreditnya?!"

"Biar saya transfer," ucap Arka pasrah. Ia segera mentransfer kredit digital ke perangkat si Grovax.

Si Reptola, yang kini sudah berdiri sambil membersihkan debu dari pakaiannya, diam-diam melirik Arka. Manusia itu baru saja mengeluarkan uangnya sendiri demi menghentikan pertengkaran yang bahkan bukan urusannya.

Tanpa sadar, ujung ekornya bergoyang pelan.

​"Makasih loh, Mas...?" sapa si Reptola dengan nada yang jauh lebih tenang.

"Arka. Nama saya Arka," jawabnya santai sambil memasukkan kembali perangkat komunikasinya.

"Oh, iya. Salam kenal Mas Arka, saya Rizer..."

"Tunggu dulu," potong si Grovax tiba-tiba. Gadis mungil itu memiringkan kepalanya, memicingkan mata merah mudanya ke arah wajah Arka. "Arka? Arka Orion Saputra? Si cengeng?!"

Arka tersentak. Tidak banyak yang memanggilnya dengan julukan laknat itu. Ia menunduk, menatap wajah si Grovax dengan lebih teliti. Rambut merah muda yang diikat dua, tanduk kecil, dan postur mungil dengan tenaga super bar-bar. Memori masa kecilnya meledak seketika.

"Pipi? Kamu Pipi, kan? Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul?!"

"Iya, ini aku!" Pipi memekik kegirangan, melompat dan meninju lengan Arka, pukulan "persahabatan" yang sukses membuat bahu Arka mati rasa seketika. "Weeee, lama nggak ketemu! Gimana kabarmu?!"

"B-baik... baik," ringis Arka sambil mengelus lengannya. "Kok kamu ada di Bumi?"

"Yah, aku dapat kerjaan di sini, makanya aku balik ke sistem tata surya ini lagi!"

Di sela-sela reuni heboh itu, Rizer merasa sudah tidak punya urusan lagi. Ia tidak ingin mengganggu dua teman lama yang sedang bernostalgia. Dengan senyum tipis, ia berbalik untuk pergi.

Namun, suara bariton itu memanggilnya.

"Mbak Rizer!"

Rizer berhenti dan menoleh. "Iya, Mas Arka?"

Arka berlari kecil menghampirinya, lalu menyodorkan sebuah benda persegi panjang dan beberapa lembar uang fisik. "Ini, HP-nya tadi jatuh. Maaf ya, Mbak, teman saya ini memang dari dulu agak bar-bar. Ini ada uang lebih buat Mbaknya aja, hitung-hitung kompensasi karena kaget diancam duel barusan."

Rizer menggenggam ponsel dan uang itu sedikit lebih erat.

"Terima kasih banyak, Mas Arka."

Ia membungkuk singkat, lalu berbalik.

Baru beberapa langkah, ia sempat menoleh ke belakang.

Arka sedang tertawa bersama teman kecilnya, seolah keributan beberapa menit lalu memang tidak pernah menjadi masalah besar baginya.

Rizer ikut tersenyum tipis.

"Semoga harimu menyenangkan..."

gumamnya pelan sebelum kembali membaur ke dalam keramaian terminal.

"Ayo ngobrol di sana!" Pipi menarik kerah seragam Arka tanpa ampun, menyeret laki-laki itu menuju deretan meja dan kursi di tepi koridor yang memiliki jendela raksasa.

Mereka duduk berhadapan. Di luar jendela baja transparan itu, lengkungan Bumi terlihat biru dan menakjubkan, dikelilingi ribuan stasiun satelit yang mengorbit seperti cincin logam.

"Jadi, kamu udah jadi kapten sekarang?" Pipi memulai interogasi, matanya memindai lencana di dada Arka. "Hebat juga. Sesuai cita-citamu waktu SD dong?."

Arka bersandar di kursinya, tersenyum kecut. "Iya, jadi kapten sih. Tapi bukan untuk pasukan ekspedisi pencarian ras baru, apalagi jadi kapten armada kapal perang. Hmmm."

"Terus? Kapten apa?"

"Haah... kapal kargo barang di GPS. Cuma ngantar-ngantar paket," jawab Arka setengah merendah. "Kamu sendiri kerja apa sekarang?"

Pipi meledak dalam tawa renyah. "Lah, sama dong! Kalau aku sih niatnya ngikutin kemauan ortu, disuruh milih jadi tentara Kekaisaran atau polisi antar-galaksi. Tapi karena kelincahanku yang melebihi batas pemahaman kosmos ini, aku malah nyasar jadi Security di divisi logistik GPS."

"Ahahaha, bilang aja kamu nggak lulus tes tertulisnya kan?" ledek Arka.

"Iya, iya, bawel! Lagian nasib kita ternyata sama aja jatuhnya di kurir logistik," sungut Pipi sambil menopang dagu.

Arka tiba-tiba mengerutkan kening. Sedari tadi ada satu kata yang mengganjal di telinganya.

"Sebentar. Barusan kamu bilang kerjanya di GPS kan? Galactic Parcel Service?"

"Ya iyalah. Apalagi nama perusahaan pengiriman GPS di sistem tata surya ini? Emangnya ada lagi?"

Mata Arka membulat. Arka mendadak tersedak ludahnya sendiri.

​"Jangan bilang..." Mata Pipi ikut melebar.

​Tanpa bicara lagi, keduanya serentak merogoh saku. Arka menarik layar pad-nya, sementara Pipi memunculkan ID holografiknya. Mereka saling menempelkan layar identitas itu tepat di depan muka masing-masing.

​GPS-731 Andromeda

​Meja mereka hening seketika. Dua detik berlalu tanpa ada yang bernapas, sebelum akhirnya Pipi menggebrak meja hingga cangkir mereka bergetar, lalu meledak dalam tawa bahak-bahak.

"Waaaaah! Arka si cengeng jadi kaptenku?! Hahahaha! Bakal seru banget ini!"

Arka hanya bisa memijat pangkal hidungnya. "Haduuh... semoga kapalku nanti nggak hancur di tanganmu, Pi."

Mereka terus mengobrol, bernostalgia tentang masa sekolah dan kejadian-kejadian konyol di Bumi bertahun-tahun silam. Sampai akhirnya, suara lembut namun tegas dari AI stasiun bergema melalui pengeras suara di langit-langit.

"Panggilan ditujukan kepada Kapten Arka Orion Saputra. Harap segera menuju ke Ruangan Administrasi GPS Sektor Timur. Supervisor Anda tidak dapat hadir, proses serah terima berkas membutuhkan otorisasi manual Anda sekarang juga."

Pipi menunjuk pengeras suara dengan dagunya. "Tuh, namamu dipanggil, Ten Kapten."

Arka menghela napas panjang, merapikan seragamnya yang sedikit kusut karena ditarik Pipi tadi, lalu berdiri. "Iya, denger kok. Ya udah, aku duluan ngurus berkas. Nanti kita ketemu langsung di kapal aja ya?"

"Siap, Bos Cengeng! Bye-bye!" Pipi melambaikan tangannya dengan riang. Arka membalas lambaiannya dengan senyum tipis, lalu berbalik melangkah membelah kerumunan terminal, meninggalkannya di meja kafe.

Setelah punggung Arka menghilang di balik lautan makhluk antar-galaksi, Pipi kembali bersandar di kursinya. Sambil masih tersenyum geli, ia mengetuk ID holografiknya beberapa kali, memunculkan proyeksi transparan daftar kru inti kapal Andromeda.

Kapten: Arka Orion Saputra (Manusia)

Kepala Keamanan: Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul (Grovax)

Mata Pipi lalu turun ke baris ketiga.

Kepala Kargo: ██████████

Status: Entitas Materi Gelap

Senyum di wajah Pipi perlahan berubah menjadi seringai lebar yang memamerkan gigi taringnya.

"Lho..." gumam Pipi dengan mata berbinar jahil. "Si Ireng juga?"

1
Feburizu
Mirip Guardian galaksi ya
helena (Hiatus 12/8/26- idk)
ilustrasinya remind me film the guardians of the galaxy 😍
Sarah
Lyra ini yang muncul di bab berapa yah Thor? Hehehe aku lupa. Soalnya tokoh cerita ini emang banyak banget. 😅😆
Maya: Bab 3 & 14, Lyra itu pilot yang tangannya ada 6 😁
total 1 replies
Sarah
Iyeyyyy lanjut!
Eka
wkwkkw🤣
Eka
pasti di suri nyari putri itu
Eka
apakah ini villain pertama?
MayAyunda
mampir kak
Eka
apa itu berarti bu Maya lebih kuat dari pipi? secara dia kan authornya 👀b🤣
Eka
wkwkkw
Eka
bagus sih ini
Eka
tapi kasian GK sih? nanti suaminya pasti kan berpulang duluan kalo kek gitu🥲
Eka
yak authornya nongol
Eka
maksa banget namanya Thor? 🤣
Eka
Hajar mbak zer!! 🤭
Eka
ini yui tuh robot kan ya? apa settingannya emang gitu?
Eka
Author sering sekali pake Kyaaaaa kenapa Thor ? 🤣
Eka
ternyata di masa depan kita tidak financial freedom ya 🤣
Eka
alasan pembully emang always klasik
Eka
pijat apa ne 👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!