NovelToon NovelToon
Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Horor / Action / Fantasi
Popularitas:304
Nilai: 5
Nama Author: Origin-Reynvold

Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Anomali

Pernahkah kau membayangkan bahwa dunia yang kita tinggali kini terbagi menjadi dua waktu?

Waktu ketika manusia hidup, dan waktu ketika manusia harus bersembunyi.

Semuanya bermula pada malam pergantian tahun. Malam yang seharusnya dipenuhi pesta dan cahaya kembang api itu berubah menjadi malam pembantaian.

Makhluk yang selama ini hanya dianggap sebagai cerita horor atau legenda yang diwariskan turun-temurun akhirnya menampakkan diri. Mereka mencabik, memangsa, dan mempermainkan manusia seolah-olah kita hanyalah serangga di hadapan mereka.

Namun, saat matahari terbit, mereka menghilang tanpa jejak, seakan tidak pernah ada. Siklus itu terus berulang dari hari ke hari hingga umat manusia kehilangan separuh populasinya.

Apakah ini kiamat? Ataukah ini benar-benar akhir dunia?

Pertanyaan itu menghantui benak setiap orang. Mereka teringat pada perkataan seorang anggota suku pedalaman di luar negeri yang pernah meramalkan bahwa dunia akan berakhir pada tahun 2012.

Kala itu, tak seorang pun mempercayainya. Lagi pula, bagaimana mungkin manusia biasa dapat mengetahui kapan dunia akan berakhir? Namun, setelah semua bencana itu terjadi, banyak orang mulai bertanya-tanya apakah ramalan tersebut selama ini memang benar.

Di tengah keputusasaan yang menyelimuti seluruh dunia, mereka yang selama ini hidup dalam bayang-bayang akhirnya muncul sebagai benteng pertahanan terakhir.

Mereka adalah Esper.

Sejak dahulu, orang-orang yang mampu melihat makhluk astral selalu dipandang rendah. Mereka dicap sebagai pengidap gangguan mental karena mengaku melihat sesuatu yang dianggap tidak nyata.

Kini, justru merekalah harapan terakhir umat manusia.

Mereka mengendalikan kekuatan yang bagi orang awam tampak seperti sihir. Kekuatan itu disebut energi spiritual, yang memungkinkan mereka menciptakan berbagai keajaiban.

Makhluk astral yang kebal terhadap senjata konvensional, bahkan bom nuklir sekalipun, ternyata tidak mampu melawan para Esper.

Namun, para makhluk astral juga memiliki pemimpin yang jauh lebih kuat. Sosok-sosok yang telah hidup dalam legenda selama ribuan tahun bukanlah musuh yang sanggup dihadapi manusia dengan mudah.

Untungnya, para penguasa itu jarang meninggalkan wilayah kekuasaan mereka. Berbeda dengan para makhluk astral kelas rendah yang berkeliaran bebas dan meneror manusia di mana-mana.

Waktu terus berlalu. Demi mempertahankan kelangsungan hidup, umat manusia pun mengembangkan sebuah teknologi.

Itu adalah Menara Pelindung.

Bangunan raksasa yang menjulang tinggi layaknya sebuah landmark ini mampu menghasilkan kubah energi yang melindungi setiap manusia di dalamnya dari serangan para penguasa malam.

...

SMK Media Kota Cirebon seharusnya menjadi tempat pelarian yang tenang bagi Rahman. Sebagai remaja dari garis keturunan bangsawan kuno yang peka terhadap hal spiritual, dia terpaksa mengubur mimpinya masuk ke Sekolah Khusus Esper(SKE) karena kendala biaya.

Seiring perubahan zaman selama ribuan tahun, meskipun termasuk keturunan bangsawan, keluarganya hanya mewarisi kekuatan turun-temurun. Kekayaan mereka perlahan menghilang, seolah tergerus oleh waktu.

Di sekolah biasa ini, dia hanya ingin belajar dengan tenang, mendapatkan lisensi Nightwalker agar dapat berburu hantu demi membantu ekonomi keluarganya.

Namun, ketenangan itu hancur berantakan pada hari pertama sekolah.

Saat bel masuk berbunyi, langkah kaki seseorang di koridor membuat atmosfer di dalam kelas tiba-tiba turun drastis. Rahman membeku di bangkunya. Di dalam batinnya, Khodam Harimau Putih—warisan leluhurnya yang biasanya gagah berani—mendadak meringkuk di sudut jiwanya, gemetar ketakutan.

Seorang pemuda berjalan masuk. Tingginya rata-rata, sekitar 170 cm, dengan rambut hitam yang agak acak-acakan. Di balik kacamata kotak berbingkai hitam, sepasang mata sipitnya memancarkan ekspresi yang sedatar dinding semen.

Bagi murid lain, dia hanyalah anak baru biasa. Namun di mata spiritual Rahman, pemuda itu diselimuti oleh sesuatu yang aneh: kabut aura hitam pekat.

“Siapa dia? Mengapa auranya seperti itu?”pikir Rahman, napasnya tersengal. Menurut semua literatur spiritual, manusia biasa memiliki aura putih dan Esper memiliki aura biru. Aura merah biasanya menunjukkan hantu atau monster. Namun, aura hitam? Apa makna warna itu? Apakah ini menandakan puncak semua kekuatan?

Saat giliran pemuda itu berdiri untuk memperkenalkan diri, suaranya terdengar datar tanpa intonasi, memotong keheningan kelas.

"Ryan Lee..."

Hanya dua kata. Singkat, dingin, dan meninggalkan sejuta tanda tanya di kepala Rahman yang masih bergelut dengan rasa ngeri di sudut kelas.

Sepanjang pelajaran, matanya tidak bisa lepas dari punggung Ryan Lee. Aura hitam yang menyelimuti lelaki itu terlalu pekat, terlalu berbahaya. Bahkan Khodam Harimau Putih di dalam tubuh Rahman terus menggeram waspada, seolah mendeteksi predator puncak yang bisa menelan mereka hidup-hidup.

Waktu terus berlalu hingga jarum jam menunjukkan pukul 4 sore dan bel pulang sekolah berbunyi. Namun, ketegangan di dada Rahman masih ada.

Satu per satu siswa melangkah keluar hingga keramaian di koridor perlahan mereda. Di dalam ruang kelas yang sudah sunyi itu, kini hanya tersisa mereka berdua. Ryan masih bergeming di bangkunya, sementara Rahman berpura-pura sibuk membaca buku—meski fokusnya sepenuhnya tertuju pada gerak-gerik remaja misterius itu.

Saat Ryan bangkit dan melangkah keluar kelas, Rahman membuat keputusan nekat. Berdasarkan plot komik yang biasanya ia baca, Rahman mencurigainya sebagai anggota organisasi gelap yang berpotensi membahayakan seluruh orang di sekolah, sehingga ia berniat untuk mengikutinya.

Dengan tetap menjaga jarak, Rahman mengintai dari belakang Ryan sambil mengamati cara berjalannya yang terkesan sangat mantap. Setiap langkahnya kokoh, matanya menatap lurus ke depan, dikelilingi kabut hitam tipis yang berkilau samar, menjadikan Ryan tampak seperti malaikat maut yang sedang menjalankan misi rahasia.

“Ia berkeliling seluruh area sekolah, dan sesekali ia berhenti sejenak saat tiba di sudut-sudutnya,” gumam Rahman dalam hati, sambil menelan ludah dengan susah payah. “Mungkin ia sedang menyusun peta sekolah untuk rencana jahatnya nanti?”

Namun, langkah Rahman mendadak terhenti. Ia kemudian berpikir, Apa ini justru akan mengancamku?. Setelah menyadari bahwa Ryan sudah tidak tampak di pandangannya, ia memperkuat kembali tekadnya dan melanjutkan: Ya, aku bisa lebih waspada, dan bila situasinya menjadi berbahaya, aku akan melarikan diri sebelum diketahui.

Ketika Ryan tiba di depan gerbang, ia berhenti sesaat, menatap papan nama sekolah yang menghiasinya, tersenyum tipis, lalu melanjutkan langkahnya keluar dari sekolah. Ryan kemudian tiba di sebuah persimpangan jalan. Ia berhenti sebentar, menatap tajam ke kanan, kemudian berbelok dengan langkah yang sangat mantap. Sementara itu, Rahman cepat-cepat menyelinap di balik tiang listrik, bersiap bila Ryan tiba‑tiba berbalik.

Namun, rute yang diambil Ryan mulai terasa aneh.

Ryan masuk ke dalam sebuah gang sempit di antara dua ruko kosong. Rahman mengintip dari balik tembok, bersiap melihat ritual mistis. Di ujung gang, Ryan berhenti tepat di depan sebuah dinding beton tinggi—sebuah jalan buntu.

Rahman menahan napas. Apakah dia akan menembus dinding itu?

Ryan berdiri diam di depan tembok itu selama dua menit penuh tanpa bergerak sedikit pun. Suasana menjadi canggung. Perlahan, Ryan mengeluarkan ponselnya, memutarnya beberapa kali karena layarnya tampaknya terbalik, lalu mendongak menatap tembok lagi dengan dahi berkerut.

Setelah helaan napas panjang yang terdengar pasrah, Ryan berbalik arah dan berjalan kembali keluar gang dengan wajah yang tetap sedatar papan gilasan, seolah-olah menabrak jalan buntu adalah bagian dari rencana agungnya.

Rahman buru-buru menyembunyikan wajahnya di balik papan pengumuman toko. Oke... mungkin dia cuma salah lihat peta, pikir Rahman, mencoba berpikir positif.

Namun, dugaannya meleset jauh. Dua puluh menit berikutnya berubah menjadi siksaan mental bagi Rahman—bukan karena takut, melainkan karena kebingungan yang luar biasa.

Ryan berjalan memutar di blok yang sama sebanyak tiga kali. Dia sempat menatap rambu lalu lintas "Dilarang Masuk" dengan ekspresi super serius seolah sedang memecahkan kode kuno, sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan melewati rambu itu, lalu berbalik lagi sambil dikejar beberapa ekor angsa; ternyata jalan tersebut mengarah ke kandang angsa milik warga.

“Eh?” Rahman terkejut atas apa yang baru saja terjadi, namun tetap mengikuti Ryan dengan hati-hati. Ketika Ryan kembali berdiri di tengah persimpangan untuk kelima kalinya, menatap peta di ponselnya dengan tatapan tajam seolah menantang satelit, Rahman hanya bisa mengintip dari balik pohon mangga.

Bahkan di dalam jiwanya, Khodam Harimau Putih-nya yang tadi gemetar ketakutan, kini perlahan menepuk dahinya sendiri dengan cakar depannya.

*Tunggu dulu...”*Rahman memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Anak dengan aura misterius  yang membuatku merinding setengah mati ini... ternyata cuma bocah yang tidak bisa membaca peta?!

Rasa ngeri dan mistis yang dibangun Rahman sejak pagi tadi runtuh seketika, berganti dengan keinginan kuat untuk menghampiri Ryan dan mengantarkannya pulang ke rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!