NovelToon NovelToon
Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:959
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.

"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Rasa sakit itu masih terasa....

Bukan rasa sakit fisik dari racun arsenik yang merobek usus dan membakar tenggorokannya, melainkan rasa sakit yang jauh lebih dalam, rasa sakit karena dikhianati oleh darah daging sendiri, oleh sahabat yang ia anggap saudara, dan oleh suami yang ia cintai dengan seluruh jiwa raganya.

Li Yuexin membuka matanya.

Yang ia harapkan adalah kegelapan abadi, ketiadaan, atau mungkin neraka tempat para pengkhianat itu menunggu. Namun, yang ia lihat adalah langit-langit kayu cendana yang familiar, dihiasi ukiran phoenix emas yang sedang terbang mengelilingi awan.

Aroma dupa sandalwood yang lembut memenuhi hidungnya. Bukan aroma amis darah atau obat-obatan pahit dari hari-hari terakhirnya di kehidupan sebelumnya.

"Tuan Putri? Apakah Putri sudah bangun?"

Suara itu... suara yang hangat, muda, dan penuh kekhawatiran.

Li Yuexin menoleh perlahan. Lehernya terasa kaku, seolah-olah ia baru saja tidur selama seratus tahun. Di sisi tempat tidurnya, ada seorang gadis muda dengan wajah bulat dan mata bersinar sedang memegang handuk basah. Gadis itu mengenakan pakaian pelayan, namun matanya menyiratkan kesetiaan murni yang jarang bisa ditemukan di istana yang penuh orang bermuka dua ini.

Qingyu.

Itu adalah nama dari pelayan setianya. Pelayan yang di kehidupan sebelumnya difitnah mencuri perhiasan istana, diusir dengan hina, dan meninggal karena kelaparan di jalanan ibukota hanya karena mencoba memperingatkan Li Yuexin tentang keluarga Gu.

Air mata tanpa sadar mengalir di pipi Li Yuexin.

"Nona? Mengapa Nona menangis? Apakah anda mimpi buruk lagi?" Qingyu panik, segera meletakkan handuk dan mendekati ranjang. "Hamba akan segera memanggil tabib untuk kesini memeriksa nona"

"Tidak," suara Putri Li Yuexin terdengar serak, namun tegas. Ia mengangkat tangannya, tangan yang halus, putih, dan belum keriput akibat usia tua atau penderitaan. Tangan seorang gadis berusia dua puluh tahun. "Jangan panggil siapa pun, tolong bantu aku duduk."

Qingyu bingung, tetapi ia patuh. Dengan hati-hati, ia membantu tuannya bersandar pada tumpukan bantal sutra.

Putri Li Yuexin menatap sekeliling ruangan. Ini adalah Istana Bulan Giok, kamarnya. Di atas meja rias, terpajang sebuah kotak perhiasan terbuka. Di dalamnya, berkilau di bawah sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kertas beras adalah sepasang jepit rambut berbentuk phoenix.

Jepit Rambut Phoenix Emas itu adalah hadiah dari Kaisar Li Zhengyuan, ayahnya, saat ulang tahunnya yang ke-20.

Di kehidupan sebelumnya, jepit rambut ini dicuri oleh Lin Meirong dan digunakan sebagai bukti palsu bahwa Putri Li Yuexin melakukan sihir hitam terhadap Selir Rong. Itu adalah awal dari kejatuhannya.

Putri Li Yuexin meraih jepit rambut itu.

Dingin...

Nyata...

"Qingyu," ucap Putri Li Yuexin, suaranya kini stabil, kehilangan getaran ketakutan. "Hari ini tanggal berapa?"

Qingyu mengerjap, bingung dengan perubahan sikap Nonanya yang mendadak tenang setelah menangis. "Ini hari ketiga bulan ketiga, Nona. Festival Bunga Persik akan diadakan lusa."

Bulan ketiga. Tahun ke-15 era Shenghua.

Putri Li Yuexin menutup matanya sejenak, menghitung dalam hati. Ini adalah tiga bulan sebelum pertunangannya dengan Gu Wenhao diresmikan secara publik. Lima bulan sebelum pernikahan mereka dan enam bulan sebelum Lin Meirong "secara tidak sengaja" hamil anak Gu Wenhao.

Ia telah kembali....

Phoenix tidak mati dalam api dan dia bangkit kembali dari abu.

Dan kali ini, api itu bukan untuk membakarnya hingga habis. Api itu akan menjadi alatnya untuk membakar seluruh kekaisaran yang korup hingga bersih.

"Nona," Qingyu memberanikan diri bertanya sambil menuangkan teh hangat ke dalam cawan porselen tipis. "Tuan Gu Wenhao mengirim surat pagi ini. Tuan Gu meminta izin untuk mengunjungi Nona sore nanti untuk membahas desain paviliun taman yang akan dia bangun sebagai hadiah pertunangan."

Mendengar nama itu, dada Putri Li Yuexin sesak sesaat. Rasa jijik yang mendalam naik ke tenggorokannya.

Gu Wenhao. Pria yang selalu tersenyum manis di depannya, namun menusuk punggungnya dari belakang. Pria yang membiarkan Putri Li Yuexin membesarkan anak hasil perselingkuhannya, sambil tertawa di balik layar bersama Lin Meirong.

Putri Li Yuexin mengambil cawan teh. Uap hangat menyentuh wajahnya. Ia menghirup aroma teh Longjing yang segar.

"Baca isi suratnya," perintah Putri Li Yuexin datar.

Qingyu mengambil gulungan kertas dari meja samping. "Isinya... cukup puitis, Nona. Tuan Gu menulis: 'Seperti bunga persik yang membutuhkan hujan musim semi, hamba membutuhkan kehadiran Mutiara Kekaisaran untuk menyempurnakan hidup hamba.'"

Putri Li Yuexin hampir tertawa, tertawa karena kepura-puraan yang begitu murahan. Dulu, ia menganggap kata-kata itu sangat romantis. Tapi sekarang, ia hanya melihat ambisi licik seorang pria yang ingin menumpang nama besar Keluarga Shen.

"Balas suratnya," kata Putri Li Yuexin sambil meneguk tehnya. Rasanya sedikit pahit di ujung lidah, namun meninggalkan rasa yang manis. Seperti hidupnya yang baru.

"Apa yang harus hamba tulis, Nona?"

Putri Li Yuexin meletakkan cawan teh dengan bunyi ting yang nyaring di atas meja kayu. Matanya yang sebelumnya lembut kini berubah menjadi tajam seperti elang.

"Tulis: 'Bunga persik bisa mekar sendiri di bawah hujan alam. Jika Tuan Gu ingin bertemu, silakan datang ke Aula Bacaan Umum istana, bukan ke kediaman pribadiku. Seorang calon pejabat negara, seharusnya lebih fokus pada pembelajaran klasik daripada merancang paviliun mewah.'"

Qingyu terbelalak. "No-Nona? Itu... itu terlihat sangat dingin. Tuan Gu mungkin akan tersinggung."

"Biarkan dia tersinggung," jawab Putri Li Yuexin sambil berdiri dari tempat tidur. Ia berjalan menuju jendela, membuka kisi-kisinya. Angin pagi membawa aroma peoni dari taman di bawah. "Kesopanan adalah milik mereka yang layak menerimanya, Qingyu. Untuk orang yang hanya melihatku sebagai tangga kekuasaan, ketegasan adalah bahasa satu-satunya yang mereka pahami."

Qingyu menatap punggung tuannya. Ada sesuatu yang berbeda pada Putri Li Yuexin hari ini. Bukan lagi gadis lembut yang mudah dibohongi. Ada aura dingin, berwibawa, dan berbahaya yang memancar darinya.

"Hamba mengerti, Nona," ucap Qingyu pelan, meski hatinya masih bingung. Ia melipat surat itu dan menyiapkan tinta.

Putri Li Yuexin menatap langit biru di luar jendela. Di kejauhan, terlihat atap-atap istana yang megah. Di salah satu sudutnya, terletak Istana Zamrud, kediaman Selir Rong.

Tunggu sebentar, Bibi Rong, pikir Yuexin dalam hati, senyum tipis terukir di bibirnya. Dan tunggu sebentar, Gu Wenhao. Kalian berpikir kalian sedang memainkan catur denganku. Padahal, kalian hanyalah bidak-bidak yang sedang kubawa menuju kehancuran.

"Qingyu," panggil Putri Li Yuexin lagi, tanpa menoleh.

"Iya, Nona?"

"Siapkan tinta dan kertas kaligrafi terbaikku. Aku ingin menulis sesuatu sebelum tamu-tamu tak diundang itu datang."

"Apa yang ingin Nona tulis?"

Putri Li Yuexin mengambil kuas dari meja rias. Bulu kuas itu halus, siap menyerap tinta hitam pekat.

"Aku akan menulis tentang api," bisik Putri Li Yuexin. "Dan bagaimana abu bisa menjadi senjata yang lebih tajam daripada pedang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!