Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.
Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.
Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.
Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1 Acara Yayasan
Pagi itu, langit Jakarta cerah tanpa awan. Sinar matahari memantul di dinding-dinding kaca gedung pencakar langit yang berdiri megah di pusat kota. Jalanan mulai dipenuhi kendaraan, sementara orang-orang bergegas menjalani aktivitas mereka.
Di lantai tiga puluh dua sebuah gedung perkantoran, suasana rapat berlangsung tegang. Seorang pria duduk di kursi utama dengan wajah datar. Setelan jas hitam yang dikenakannya tampak sempurna. Tatapan matanya menyapu seluruh ruangan, tak ada yang berani berbicara lebih dulu.
Pria itu adalah Bintang Prakasa, CEO muda yang namanya sedang berada di puncak kesuksesan.
"Jadi?" suara Bintang memecah keheningan. "Apa alasan proyek ini terlambat dua minggu?"
"Kami masih mengalami kendala distribusi, Pak." Seorang direktur menelan ludah, sebelum menjawab.
"Kendala atau kelalaian?" tanya Bintang tegas.
Ruangan kembali sunyi.
"Cari solusi. Bukan alasan." Bintang meletakkan berkas di atas meja.
"Baik, Pak."
Tak ada yang berani membantah, mereka semua tahu seperti apa Bintang Prakasa. Tegas, dingin, perfeksionis, dan tidak pernah mentoleransi kesalahan.
Setelah rapat selesai, satu per satu peserta meninggalkan ruangan. Hanya tersisa Bintang dan seorang pria yang berdiri di dekat pintu. Rangga Wiratama, orang kepercayaannya.
"Kau terlihat kesal," kata Rangga.
"Aku memang sedang kesal," balas Bintang dengan nada kesal.
"Itu bukan hal baru." Rangga tertawa kecil.
"Kalau hanya untuk bercanda, keluar." Bintang meliriknya.
"Oke, bos." Rangga mengangkat kedua tangan.
"Tapi aku membawa kabar," lanjut Rangga.
"Kabar apa?" Bintang langsung fokus.
"Salah satu anak buah Leonard terlihat tadi malam."
Tatapan Bintang berubah tajam. Leonard, nama itu selalu berhasil mengubah suasana hatinya.
"Di mana?" tanya Bintang cepat.
"Daerah Pelabuhan Utara," jawab Rangga.
"Buktinya?"
"Ada foto."
Rangga menyerahkan sebuah tablet dan Bintang langsung memperhatikan layar itu beberapa detik.
"Itu benar anak buah Leonard," Rahangnya mengeras.
"Aku juga berpikir begitu," balas Rangga.
"Awasi mereka," pinta Bintang.
"Siap."
Rangga terdiam sejenak.
"Lalu bagaimana dengan acara yayasan siang ini?"
Bintang mengembuskan napas. Ia hampir lupa, hari ini perusahaannya menjadi sponsor utama sebuah program pendidikan dan sebagai pemilik perusahaan, ia harus hadir.
"Mobil siap?" tanya Bintang lagi.
"Sudah."
"Kalau begitu berangkat."
.
.
.
Sementara itu, di sebuah sekolah dasar sederhana di pinggiran kota, Rania Maharani sedang sibuk membereskan buku-buku muridnya.
"Bu Guru!" Seorang anak laki-laki berlari menghampirinya.
"Iya, Fikri?" jawab guru wanita muda itu.
"Kalau nanti saya jadi dokter, saya boleh traktir Bu Guru es krim?"
"Boleh." Rania tertawa.
"Janji?"
"Janji."
Anak-anak lain langsung ikut mengerubunginya.
"Kalau saya jadi polisi?"
"Kalau saya jadi pilot?"
"Kalau saya jadi presiden?"
"Boleh semua." Rania tertawa semakin lebar.
"Yeay!"
Suasana kelas dipenuhi tawa, namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Kepala sekolah tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
"Bu Rania." sapa ibu kepala sekolah.
"Iya, Bu?"
"Wakil dari sponsor sudah datang."
"Sekarang?" Rania berdiri.
"Iya."
"Baik." Rania segera merapikan pakaiannya.
Ia tidak terlalu memikirkan siapa sponsor yang dimaksud, baginya semua tamu sama saja, yang penting anak-anak mendapatkan bantuan pendidikan.
.
Satu jam kemudian, acara berlangsung di aula sekolah. Para guru dan murid duduk rapi. Di depan ruangan, seorang pembawa acara mulai memperkenalkan tamu kehormatan.
"Dan sekarang, mari kita sambut Tuan Bintang Prakasa."
Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan. Bintang melangkah masuk, penampilannya yang rapi dan berwibawa langsung menarik perhatian banyak orang.
Para guru berbisik-bisik, beberapa bahkan tampak gugup, namun tidak dengan Rania. Baginya pria itu hanyalah tamu seperti biasanya.
Setelah acara selesai, kepala sekolah meminta Rania mengantar Bintang melihat perpustakaan baru yang sedang dibangun.
"Bu Rania, tolong antarkan Tuan Bintang," pintah kepala sekolah.
Rania mengangguk.
"Silakan."
Bintang berjalan di sampingnya. Keduanya sama-sama diam, hingga akhirnya Rania berbicara lebih dulu.
"Terima kasih atas bantuannya."
"Bantuan?" Bintang melirik.
"Iya."
"Perusahaanku yang membantu," jawab Bintang datar.
"Tetap saja. Keputusan akhirnya ada di tangan Anda." Rania tersenyum tipis.
Bintang tidak menjawab. Sudah lama tidak ada orang yang berbicara padanya senormal ini. Biasanya orang-orang selalu berusaha menyenangkan dirinya. Atau takut padanya, namun wanita ini berbeda.
"Tidak banyak orang yang bisa berterima kasih langsung." Rania tertawa kecil. "Karena tidak banyak orang yang datang langsung ke sini."
Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Bintang bergerak sedikit. Sangat sedikit, tetapi cukup membuat Rangga yang berjalan di belakang mereka hampir tersedak.
"Aku tidak salah lihat, kan?" gumamnya.
Saat mereka tiba di area parkir sekolah, sebuah keributan mendadak terjadi. Seorang pria berteriak marah.
"Kalian menipu saya!" ucap pria itu lantang.
Semua orang menoleh, pria itu tampak emosi. Ia membawa tongkat kayu.
"Ayah Fikri?" Rania terkejut.
"Kalian memungut uang tambahan!" Pria itu menunjuk kepala sekolah.
"Bapak tenang dulu," kata kepala sekolah menenangkan.
"Saya tidak mau tenang!"
Situasi mulai kacau, beberapa murid ketakutan. Pria itu mengangkat tongkatnya.
"Pak, jangan!" Refleks, Rania maju.
Namun pria itu justru mendorongnya. Tubuh Rania kehilangan keseimbangan, sebelum jatuh ke tanah sebuah tangan menahannya, Bintang.
Semua orang terdiam, tatapan Bintang berubah dingin. Sangat dingin hingga pria yang marah tadi mendadak gugup.
"Berani menyentuh guru di depan murid-murid?" Bintang melangkah maju.
"Itu bukan urusan Anda!" jawab pria itu.
"Mulai sekarang jadi urusanku."
Suasana mendadak mencekam. Rania bisa merasakan perubahan itu entah kenapa, aura pria di sampingnya tiba-tiba berbeda. Lebih gelap dan lebih berbahaya.
Pria itu hendak mengangkat tongkatnya lagi, namun sebelum sempat bergerak, Rangga sudah berdiri di depannya.
"Turunkan tongkatnya," nada suara Rangga datar, tapi mengandung ancaman.
Pria itu langsung mundur. Tak lama kemudian satpam datang dan mengamankan situasi, keributan akhirnya mereda.
"Terima kasih." Rania menghela napas lega.
"Kau selalu menghadapi masalah seperti itu?" Bintang menatapnya.
"Kadang-kadang," jawab Rania.
"Berbahaya."
"Sudah risiko pekerjaan." Rania tersenyum.
Bintang menggeleng pelan, wanita ini benar-benar aneh.
.
.
.
Sore harinya, Bintang kembali ke kantornya, namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
"Ada masalah."Rangga masuk dengan wajah serius.
"Apa?"Bintang langsung tahu ini bukan masalah biasa.
Rangga meletakkan sebuah foto di meja.
"Itu..." Wajah Bintang berubah.
"Iya."
Foto itu menunjukkan seseorang yang selama ini mereka cari, salah satu orang yang terlibat dalam kematian ayah Bintang.
"Aku mendapatkannya satu jam lalu."
"Di mana dia?" tanya Bintang.
"Masalahnya bukan itu."
"Lalu?"
"Dia ditemukan tewas." Rangga menarik napas pelan.
Ruangan mendadak sunyi.
"Tewas?" Bintang berdiri perlahan.
"Ya."
"Siapa yang membunuhnya?" tanya Bintang lagi.
"Itu yang belum kami ketahui."
Bintang mengepalkan tangan, seseorang sedang membersihkan jejak dan itu berarti musuh mereka mulai bergerak lebih dulu.
Ponsel Rangga tiba-tiba berdering, ia menerima panggilan itu. Beberapa detik kemudian wajahnya berubah pucat.
"Bintang..." panggil Rangga pelan.
"Apa lagi?"
"Orang kita yang mengawasi pelabuhan, diserang."
"Siapa pelakunya?" Tatapan Bintang mengeras.
"Mereka meninggalkan pesan." Rangga menelan ludah.
"Pesan apa?"
Rangga menatapnya, lalu mengucapkan kalimat yang membuat suhu ruangan terasa turun drastis.
"Leonard bilang... dia tahu kau masih mencarinya."
Keheningan memenuhi ruangan dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun... musuh yang selama ini bersembunyi akhirnya menunjukkan dirinya.