NovelToon NovelToon
Keluargaku Adalah Hama

Keluargaku Adalah Hama

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Umar

Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.

Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,

Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Aminah menghela nafas dirinya masih kelelahan baru pulang bekerja dari toko tapi dia harus melihat keadaan rumahnya yang berantakan tapi tak ada yang mau membereskannya.

"Kenapa masih berdiri disitu?, ke dapur sana cucian piring dan baju menumpuk". Ucap sang ibu dengan enteng.

Aminah menatap sang ibu berusaha mencari sedikit rasa peduli padanya tapi yang didapatnya hanya tatapan biasa saja .

"Aku baru pulang bekerja Bu, tidak bisakah aku istirahat sebentar?, lagian dirumah banyak orang, kenapa tidak ada yang membereskannya dan malah menungguku seperti ini?". Jawabnya dengan memelas.

Tubuhnya terasa pegal karena hari ini dia harus lembur untuk bisa mendapatkan uang tambahan pribadinya karena semua gajinya dikuasai oleh ibunya, dia hanya diberi ongkos angkot saja.

"Tidak usah banyak bertanya Aminah, itu sudah tugasmu sebagai anak sulung, ketiga adikmu kan sekolah dan perlu istirahat karena lelah belajar". Jawabnya tanpa peduli dengan tatapan dan keluhan anaknya itu.

"Tapi Bu aku juga capek, aku baru pulang bekerja dan bahkan belum sempat makan dan istirahat, dan aku yakin makanan dirumah ini juga pasti sudah habis seperti biasa, padahal akulah yang bekerja memenuhi semua kebutuhan rumah". cicitnya pelan.

Mata sang ibu langsung melotot tidak terima atas perkataannya, dia langsung mendekati sang anak dengan wajah garang

"Apa kamu bilang tadi?, kamu mau hitung-hitungan pada ibu setelah ibu susah payah membesarkan mu begitu?". Bentak sang ibu dengan keras.

Suaranya menggema diruangan itu semakin membuat dada Aminah semakin menyempit.

"Aku hanya berbicara apa adanya Bu, tak ada bermaksud melawan ibu, selama ini semua yang ibu katakan aku turuti tapi ibu tak pernah melihat ku sedikitpun bahkan ketika perkara makan seperti ini pun aku harus mengusahakannya sendiri padahal seluruh gajiku ada pada ibu".

Tubuhnya sudah kelelahan tapi hatinya jauh lebih lelah dan terluka, dia seperti anak tiri padahal dia yang selalu mengorbankan segalanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tapi dia selalu tidak mendapatkan makanan.

"Dasar anak tidak tahu diuntung, baru seperti itu saja sudah mengungkit jasa bagaimana jika kamu jadi orang kaya, kau akan menendang ibu ".

Halimah sang ibu kini berkacak pinggang menatap berang sang anak seolah ingin memakannya hidup-hidup.

"Maaf Bu aku sedang lelah sekarang, aku ingin istirahat, tolong untuk kali ini saja jangan bebankan aku pekerjaan rumah, aku manusia Bu bukan robot".

Dia melangkah menuju kamarnya dengan langkah yang lunglai, dia tidak menghiraukan amarah sang ibu yang mengeluarkan kata-kata kasar dan makian dari sang ibu, yang dia butuhkan hanya istirahat sejenak .

"Dasar anak kurang ajar, beraninya dia". Kesalnya menatap punggung sang anak.

"Ada apa sih Bu, kok ibu berisik banget?". Ucap adik kedua Aminah bernama Lisa.

Usianya terpaut 2 tahun dari Aminah dan kini tengah berkuliah semester awal.

"Itu kakak kamu, kurang ajar banget, dia tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah padahal itu tugasnya katanya dia capek, belum lagi tadi dia mengungkit semua yang dia lakukan tapi bahkan untuk makan saja katanya dia sering tidak kebagian". Sungutnya dengan kesal

Lisa melotot mendengar kakaknya sudah mulai melawan ibunya, itu tidak bisa dibiarkan, kakaknya itu harus tetap tunduk pada ibunya agar seluruh gajinya tetap pada ibunya agar dia bisa mendapatkan uang jajan dan bisa tetap berjalan-jalan sambil kuliah.

"Ini tidak bisa dibiarkan Bu, nanti kak Aminah semakin ngelunjak , ibu mau dia melawan ibu dan gajinya dia makan sendiri?". Ucapnya mengompori sang ibu.

"Tapi nak, seperti nya kakak kamu itu sedang tidak enak badan, wajahnya tadi pucat, ibu takut nanti dia sakit dan tidak bekerja, malah akan jauh lebih repot kalau dia sakit, gajinya akan dipotong dan tidak akan ada yang membereskan rumah". jawabnya dengan pelan.

Dia baru menyadari kalau wajah anak sulungnya itu memang sedikit pucat dan tampak kelelahan.

Lisa mendengus kasar, tapi tidak berkata-kata lagi, dia juga khawatir dan takut jika kakaknya sampai sakit, dia tidak mau disuruh mengurus pekerjaan rumah

"Ya sudah, biarkan saja dulu Bu, besok saja suruh kak Aminah membereskan rumah". Kesalnya ingin langsung kabur.

Dia tidak mau ibunya malah menyuruh dirinya membersihkan rumah yang tampak sangat berantakan.

"Mau kemana?, bantu ibu dulu bereskan rumah, ibu pusing lihat rumah berantakan begini". Cegatnya sambil memegang tangan sang anak.

Lisa cengengesan, dia langsung berpikir cepat karena harus mencari cara agar ibunya tidak menyuruh dirinya.

"Maaf Bu aku harus belajar, tadi aku sedang mengerjakan tugas dikamar tapi keluar karena mendengar keributan dan teriakan ibu, ibu saja yah". Ucapnya tanpa memperdulikan sang ibu.

Dia langsung melesat setengah berlari menuju kamarnya tanpa mendengar apapun jawaban sang ibu.

Halimah membuang nafasnya kasar, nafasnya memburu karena sangat kesal, karena anak sulungnya tidak mau membereskan rumah malah dirinya yang kena sekarang.

"Sial sekali punya banyak anak gadis malah harus capek sendirian ". Sungutnya melangkah menuju dapur membereskannya.

Aminah yang berada di kamarnya mendengar jelas perkataan ibu dan adiknya itu, air matanya menetes tanpa henti, hatinya teramat sakit.

"Aku harus cari cara untuk keluar dari rumah ini, sudah cukup aku memberikan hidupku dan semua yang ku hasilkan untuk keluarga ini". Dia menghapus airmata nya dengan kasar.

Dia bertekad untuk membahagiakan dirinya sendiri karena selama ini jangankan menikmati gajinya, dia bahkan selalu menahan lapar karena saat pulang bekerja makanan dirumah sudah tidak ada padahal seluruh gajinya dipegang oleh sang ibu.

Keesokan harinya Aminah bangun lebih dulu, dia segera bersiap untuk bekerja lebih awal karena sudah tak ingin mengurus rumah.

"Mau kemana kamu Aminah?, kenapa tidak buat sarapan?, kamu mau membuat seisi rumah kelaparan?". Tegur sang ibu begitu melihat Aminah hendak keluar dari rumah.

Aminah menoleh dan menatap ibunya dengan sendu tapi penuh kesungguhan.

"Maaf Bu, Aminah harus ketempat kerja, kemarin ada yang salah dan perlu diperbaiki sebelum jam kerja utama, aku pergi dulu". Jawabnya tanpa menghiraukan ibunya lagi.

Dia harus segera kabur agar ibunya tidak banyak bertanya dan menyuruhnya lagi.

Melihat sikap Aminah yang terkesan kurang ajar, Halimah segera menyusulnya untuk memberi anaknya itu pelajaran tapi saat dia keluar, motor Aminah telah keluar dari rumah.

"Aminah berhenti, ibu belum selesai bicara". Teriaknya dengan penuh emosi.

Aminah seakan tuli, dia melajukan motornya segera agar bisa lolos dari ibunya, dia tidak mau moodnya pagi-pagi rusak karena berhadapan sama ibunya.

"Dasar anak kurang ajar, awas saja kalau pulang, ibu beri pelajaran".

"Kenapa Bu, kok kamu teriak panggil Aminah, memang dia kemana?".

"Entahlah, biar mati saja sekalian". Sungutnya tanpa menghiraukan suaminya

1
Anime aikō-kā
Keluargaku Adalah Hama
Test Baru
kak kok belum up lagi 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!