Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01# Kau Kalah Lagi
Plak...
“Kenapa kau mendorong Alena? Bukankah kau tahu dia tidak bisa berenang?” seru seorang laki-laki paruh baya, tepat setelah ia melayangkan tamparan keras ke pipi gadis yang berdiri di hadapannya.
“Papa, jangan salahkan Ayla. Aku jatuh sendiri,” sahut gadis lain yang tubuhnya kini basah kuyup, menggigil kedinginan.
“Alena, cukup! Jangan terus-menerus membela dia. Apakah kau akan terus membelanya sampai dia membuatmu mati konyol?” potong wanita paruh baya sambil membawa handuk. Ia segera menyelimuti tubuh gadis itu dengan penuh perhatian dan kelembutan.
“Lihatlah, kakakmu masih saja berusaha membelamu, padahal kau sudah melakukan banyak hal kejam padanya,” ujar Bayron—sang Papa—dengan nada penuh kemarahan.
“Pa, Ma, aku tidak melakukannya. Aku tidak mendorong Kak Alena. Dia benar-benar jatuh sendiri,” jelas Ayla, berusaha mati-matian membela diri di tengah tuduhan yang menimpanya.
Hikss...
Hikss...
Hikss...
“Ayla benar, Ma, Pa. Aku jatuh sendiri,” sela Alena di sela-sela isak tangisnya.
“Alena, tenanglah. Sebagus apa pun kau membelanya, Mama dan Papa tidak akan pernah percaya. Kau sendiri sangat trauma dengan air, bahkan kau tidak bisa berenang. Bagaimana mungkin kami percaya kau jatuh sendiri? Kau bahkan selalu menghindar setiap kali harus berada di dekat kolam renang,” ungkap Tina, sang Mama. Ia berbicara dengan nada tegas, seolah ia paham betul apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya itu.
“Ada apa ini? Kenapa dengan Alena? Kenapa dia basah kuyup begini?”
“Dan gelangmu mana, Alena? Kenapa kau bisa jatuh ke kolam?”
Dua orang pemuda tampan berjalan menghampiri mereka setelah mendengar keributan di area kolam renang rumah mewah itu. Dari pakaian yang masih mereka kenakan, terlihat jelas sepertinya mereka baru saja pulang dari pekerjaan.
“Kak Bastian... Kak Adnan...” Alena segera menghampiri kedua pemuda itu, menatap mereka dengan pandangan yang memelas dan menyedihkan.
“Astaga, Alena... Kenapa bisa sampai begini keadaannya?” seru Bastian, lalu segera merangkul dan memeluk tubuh gadis itu seolah takut ia akan terluka sedikit saja.
Sementara itu, Ayla—yang kini menjadi sasaran kemarahan seluruh keluarganya—hanya bisa diam terpaku. Ia menatap pemandangan penuh kasih sayang di depan matanya, kehangatan keluarga yang tak pernah sekalipun ia rasakan seumur hidupnya.
Ayla Agustina Gunawan. Ia adalah satu-satunya anak perempuan kandung di keluarga Gunawan. Ia memiliki dua kakak laki-laki bernama Bastian Gunawan dan Adnan Gunawan, serta orang tua bernama Tina Talisa Gunawan dan Bayron Gunawan.
Namun ada satu orang lagi: kakak perempuan yang selalu ada di sisinya, Alena Gunawan. Ia adalah anak angkat keluarga Gunawan.
Jika orang luar tidak mengetahui kisah sebenarnya, mereka pasti akan mengira bahwa Aylalah anak angkat itu, bukan Alena. Kenapa demikian? Jawabannya sederhana: karena perlakuan keluarga itu terhadap keduanya sangatlah bertolak belakang.
Ayla selalu diperlakukan dengan buruk oleh keluarga kandungnya sendiri. Sebaliknya, Alena diperlakukan sangat istimewa, disayangi, dan diprioritaskan dalam segala hal. Ayla sebenarnya tak pernah mempermasalahkan hal itu. Baginya, perlakuan kasar dan dingin itu sudah pantas ia terima, sebab di mata seluruh keluarganya, ia adalah pembawa sial.
Padahal, Alena sejatinya adalah anak kandung kepala pelayan rumah tangga mereka, yang sudah bekerja bertahun-tahun mengabdi di keluarga itu. Alena tumbuh besar bersama Ayla, dengan selisih usia hanya dua tahun saja.
Dulu, saat Ayla masih berusia lima tahun, kedua orang tuanya sempat menitipkannya pada kepala pelayan tersebut. Saat itu, Mama dan Papa sedang harus pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis, sementara kedua kakak laki-lakinya sedang sibuk bersekolah dan tak bisa pulang dalam waktu dekat.
Karena kepala pelayan itu memiliki anak perempuan seusia Ayla—yaitu Alena—orang tua Ayla merasa sedikit lega. Mereka beranggapan Ayla tak akan kesepian selama ditinggalkan karena ada teman bermain.
Awalnya semua berjalan baik-baik saja. Namun, siapa sangka, di hari itu sebuah tragedi mengerikan menimpa keluarga mereka. Ayla kecil yang baru berusia lima tahun sedang bermain bersama Alena di dapur. Entah apa yang terjadi saat itu, tiba-tiba saluran gas di dapur rumah itu bocor dan memicu kebakaran hebat. Sang kepala pelayan tewas seketika karena berusaha menyelamatkan Ayla dari ledakan dahsyat tersebut. Peristiwa mengerikan itu terjadi tepat di depan mata Alena. Sejak hari itu, Alena selalu berkata bahwa kebakaran itu terjadi karena kelalaian dan kesalahan Ayla.
Sedangkan Ayla sendiri harus dirawat di rumah sakit selama satu minggu penuh, dan mengalami trauma mendalam akibat kejadian yang membekas di ingatannya itu.
Karena rasa bersalah yang mendalam serta rasa hutang budi, keluarga Gunawan pun memutuskan mengangkat Alena sebagai anak angkat mereka. Sejak saat itu, kehidupan yang dulu terasa biasa saja bagi Ayla berubah seketika menjadi mimpi buruk yang panjang. Orang tua dan kedua kakaknya kini selalu mencurahkan perhatian lebih kepada Alena, yang dikabarkan mengalami trauma berat akibat kehilangan ibu kandungnya di usia yang masih sangat muda.
Alena juga kerap jatuh sakit. Kondisinya itu membuat seluruh waktu dan perhatian keluarga Gunawan tersita, terutama Mama dan Papa. Ditambah lagi, kedua kakak laki-lakinya semakin membenci Ayla, menganggap Ayla adalah anak pembawa nasib buruk yang membuat Alena kehilangan kasih sayang seorang ibu di usia belia.
Di hadapan siapa pun, terlebih di hadapan keluarga Gunawan, Alena selalu menampakkan diri sebagai sosok gadis yang lemah, rapuh, seolah-olah nyawanya tak akan bertahan lama jika tak dijaga dengan baik.
Hal itu perlahan namun pasti, membuat Ayla menjadi gadis yang tersisihkan di tengah keluarganya sendiri.
“Alena, gelang yang kuberikan padamu mana?” tanya Adnan tiba-tiba, menatap gadis itu yang kini berdiri di sampingnya.
“Kak Adnan... aku minta maaf... gelang itu... putus lalu jatuh ke dalam kolam saat aku...” Alena menghentikan ucapannya. Ia tak melanjutkan kalimatnya, namun matanya menatap tajam ke arah Ayla.
“Apa? Kenapa kau menatapku begitu? Kau ingin menyalahkanku atas gelang itu? Bukankah kau sendiri yang—”
“Ma, Pa, bawa Alena masuk ke kamar untuk istirahat. Biar aku dan Adnan yang mengurus anak ini,” potong Bastian cepat. Ia mulai menggulung lengan kemejanya dengan gerakan kasar.
“Baiklah. Ayo, Alena, kita masuk dan istirahat. Jangan sampai kau jatuh sakit lagi. Segera ganti bajumu yang basah itu,” ujar sang Mama lembut, lalu berjalan pergi bersama suami dan Alena.
Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, Alena sempat berbalik badan. Ia mengarahkan pandangannya tepat ke arah Ayla, lalu tersenyum tipis—senyum penuh kemenangan yang hanya bisa dilihat oleh Ayla seorang saja.
“Kau kalah lagi.”
Gerakan bibirnya membentuk tiga kata itu dengan sangat jelas, sebelum akhirnya mereka menghilang di balik pintu kaca rumah mewah itu.
Kini, hanya tersisa Ayla yang berdiri sendiri, menatap kedua kakak kandungnya. Dan tatapan yang ditujukan kedua kakaknya padanya... begitu mengerikan, seolah mereka sedang menatap musuh yang ingin segera mereka musnahkan.
“Ayla, kenapa kau selalu berbuat begini pada Alena? Dia sudah cukup menderita sejak kecil. Dan kau tak lupa, bukan? Kaulah penyebab dari segala penderitaannya itu,” ucap Bastian dingin, lalu mencengkeram lengan Ayla dengan sangat kuat hingga terasa perih.
“Kak Bastian, sudahlah. Tak perlu bicara halus padanya lagi. Dorong saja dia masuk ke kolam, biar dia merasakan rasa sakit yang sama seperti yang dirasakan Alena!” sambar Adnan dengan nada tak sabar, seolah ia sudah lama ingin menghakimi adiknya itu.
“Kenapa, Kak? Kenapa kalian tak pernah mau percaya padaku? Aku ini adik kandung kalian! Darah daging kalian sendiri! Bukan Alena!” jerit Ayla, yang akhirnya tak sanggup lagi menahan segala rasa sakit dan kecewa yang memuncak di dadanya.
Bastian dan Adnan seketika terdiam mendengar teriakan itu. Namun, tak ada sedikit pun raut iba atau penyesalan yang terlihat di wajah mereka. Yang ada hanya kebencian dan kekecewaan.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya