"Cynta, kenalin ini Gama ... temen kampung gue" ucap Maya sambil meraih pergelangan tangan Cynta untuk berkenalan dengan seorang cowok yang terlihat dingin dan angkuh.
"Dan perlahan rasa itu datang dan tumbuh bersemi begitu saja tanpa bisa gue cegah ...." Cynta.
"Jangan salahkan dirimu jika rasa itu datang ... Karna rasa kita sama ...." Gama.
Bagaimana akhir kisah Gama dan Cynta, meski keduanya memiliki rasa yang sama akankah cinta mereka berlanjut di saat Cynta mengetahui bahwa Maya sangat mencintai Gama semenjak sahabatnya itu duduk di bangku SMP ...
Akankah Cynta tega menyakiti Maya ...???
Mampir yak ke lapak Gama and Cynta biar bisa tau kisah akhir ceritanya ...
Kita lanjut baca yukkk ...
Nama tokoh, tempat, alur cerita hanyalah kehaluan othor ... tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan real othor yakk ...
Selamat Membaca ...
Semoga syukak ... Tengyu so much for my beloved readers 😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikha dito, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Pak Damai
"Cynta jangan perdulikan omongan dosen sedeng itu ya ...." Pak Damai berkata sambil memiringkan jari telunjuk pada keningnya.
Cynta tersenyum.
"Bapak jangan khawatir, saya sudah biasa dengar guyonan Pak Aji. Udah kebal. Ibarat transjogja udah lempeng aja gak mau naik turunkan penumpang di halte." jawab Cynta bercanda.
"Syukurlah kalau gitu." Pak Damai merasa lega.
Suasana pun sesaat terlihat hening tanpa suara. Cynta sudah kembali menyelesaikan koreksi lembaran tugas adik tingkatnya yang menjadi mahasiswa dari Pak Damai.
Sedangkan dosen muda yang masih betah melajang meski tampan tersebut terlihat kembali sibuk berkutat dengan laptopnya.
Sesekali Cynta terlihat menguap, akibat kurang tidurnya semalam dan itu sempat terlihat oleh Pak Damai.
"Apa yang dikerjakan anak itu semalam, terlihat ngantuk dan lelah sekali. Bahkan di ruangan kelas tadi gadis itu terlihat tertidur ...." Pak Damai bertanya dalam hati.
Pak Damai pun menghentikan aktivitas mengetik pada keyboard laptopnya, menghirup oksigen dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.
Ehemm ... hemm ... hem ...
Pak dosen muda nan tampan itu berdehem untuk memecah keheningan dalam ruangannya.
Dan itu membuat Cynta sedikit gelagapan dan sempat terantuk karena dirinya mengantuk sesaat.
Cyntapun membuka kedua matanya lebar - lebar, untuk kembali berkonsentrasi pada tugas koreksinya.
"Cynta!" Pak Damai berseru menyebut nama gadis di depannya.
"Iya Pak." sahut Cynta dengan mendongakkan kepala menghadap dosen di depannya.
Pak Damai menelisik wajah Cynta yang terlihat sayu, tidak seperti hari - hari biasanya.
"Kamu lelah, kurang tidur?!" tebak Pak Damai, dan itu benar adanya.
"Eh ... iya Pak. Maaf ...." sahut Cynta dengan menunduk malu karena ketahuan mengantuk oleh dosen pembimbing sekaligus bos yang memberikan pekerjaan paruh waktu sebagai asissten dosen padanya.
"Habis ngapain semalam, kencan ...?" Kali ini tebakan Pak dosen muda itu salah.
"Enggak Pak ... bukan seperti itu. Saya lembur menyelesaikan tugas laporan dari Bu Wiwik." Jelas Cynta dengan masih menunduk sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Ah ... gak usah bohong, kayak saya gak pernah muda aja." Pak Damai berkata dengan tersenyum, tidak percaya dengan penjelasan Cynta.
"Beneran Bapak ... saya nyelesain tugas. Gimana mau kencan orang pacar aja gak punya ...." Cynta memperkuat penjelasan yang sempat di katakan tadi.
"Mana mungkin gadis secantik kamu gak punya pacar?!" Pak Damai berkata dengan memandang Cynta yang tetap saja menunduk, seakan belum percaya dengan perkataan Cynta.
"Ah Bapak bisa aja, saya gak cantik Pak ... biasa saja. Beneran deh Pak, saya belum punya pacar, gak ada yang mau. Lagian saya juga sibuk kuliah, gak ada waktu buat pacaran. Bapak tau sendiri kan tugas dari Bapak saja sudah menyita waktu saya." Cynta menjelaskan panjang kali lebar, tidak mau dosen muda di depannya tersebut salah paham terhadapnya.
Dan entah mengapa perkataan Cynta yang menekankan tidak mempunyai pacar membuat perasaan pak dosen muda tersebut menghangat, kemudian tersenyum tipis. Sangat tipis sehingga Cynta yang saat ini memandang Pak Damai pun tidak menyadari jika kedua sudut bibir dosen tampan tersebut sedikit naik ke atas.
Tak lama kemudian Cynta pun memutus pandangannya dari pak dosen muda yang juga menatapnya tersebut. Memilih melanjutkan koreksinya, daripada nanti dikira dirinya senang memandangi wajah tampan Pak Damai yang memang benar tampan tersebut.
Meski Cynta mengakui jika wajah Pak Damai itu tampan dan lagi kadar ketampanannya akan semakin bertambah jika dosen muda itu menyunggingkan senyum. Namun dirinya tidak merasakan hal yang lebih selain rasa suka karena dosen tersebut memberikan penjelasan yang sangat mudah dicerna jika mengajar di kelas.
Hanya itu yang Cynta rasakan sampai saat ini, tidak seperti para mahasiswi ataupun ketiga sahabatnya yang selalu saja histeris saat melihat dosen tersebut. Apalagi saat beliau terlihat tersenyum.
"Kalau kamu lelah, diselesaikan besok saja. Saya juga tidak terburu - buru untuk memasukkan nilainya kok."
Tiba - tiba saja dosen muda yang menjadi most wanted di kampus Cynta tersebut berkata sambil berdiri di depan Cynta yang masih terlihat fokus membolak - balik lembaran tugas dan sesekali memberikan coretan pada kertas tersebut.
Cyntapun tersentak kaget.
"Eh Bapak ... ngagetin aja sih Pak." Cynta mendongak kemudian sedikit memundurkan tubuhnya dengan memegangi depan dadanya.
"Maaf" Pak Damai mengucapkan kata maaf sambil tersenyum kikuk karena membuat Cynta kaget.
"Eh... gak papa Pak, Bapak gak usah sungkan. Gak perlu minta maaf juga Pak." Cynta mengibaskan telapak tangan kanannya berulang, merasa tidak enak telah membuat dosen muda itu mengucapkan kata maaf padanya.
"Gak papa, saya memang salah sudah membuat kamu kaget. Jadi saya juga harus meminta maaf sama kamu." ujar Pak Damai terdengar lembut di gendang telinga Cynta.
Hek.
Cynta sedikit tercekat mendengar suara lembut dosen di depannya, dengan sedikit kesusahan Cynta menelan ludahnya perlahan. Namun entah kenapa hal itu terasa sulit saat ini.
Meskipun Pak Damai tidak pernah memarahinya, akan tetapi beliau tidak pernah berkata selembut itu saat mereka hanya berdua di dalam ruangan tersebut. Cynta merasa sedikit grogi dan salah tingkah.
Cynta pun mengangguk perlahan dengan menunduk, pura - pura berkonsentrasi pada lembaran - lembaran tugas mahasiswa yang belum selesai dikoreksi olehnya. Hanya ini jalan satu - satunya yang bisa dilakukan saat ini untuk mengusir rasa grogi yang tetiba mendera dirinya.
"Kenapa Pak Damai kek perhatian banget sih sama gue, mana gak pergi - pergi lagi dari hadapan gue ... Aduh gimana ini, kok gue jadi gak bisa konsentrasi ya ...." gumam Cynta dalam hati.
Cynta tidak berhenti menggerakkan jemari tangan kirinya yang berada di bawah meja tempatnya mengkoreksi lembaran tugas dari mahasiswa Pak Damai untuk menghilangkan rasa grogi dan tidak nyamannya saat ini. Sedangkan tangan kanannya tidak berhenti mengetuk pelan berulang meja yang di atasnya terdapat tumpukan tebal lembaran - lembaran tugas.
"Masih banyak kerjaan kamu?" lagi suara dosen muda bernama bapak Damai Nasution itu terdengar lembut di gendang telinga Cynta.
"Ah ... eh ... enggak kok Pak dikit lagi selesai. Tinggal beberapa lembar terus bisa langsung rekap hasilnya, biar bapak nanti tinggal copy paste datanya." Cynta menjawab sedikit gugup, namun sebisa mungkin dirinya tidak menunjukkan kegugupan yang entah mengapa tiba - tiba muncul begitu saja dari dalam dirinya.
Padahal sudah hampir dua tahun dirinya menjadi asdos dosen ganteng bin tamvan yang masih setia membujang itu, dan belum pernah dirinya merasakan rasa grogi, gugup serta tidak nyaman yang saat ini diborong oleh tubuhnya.
"Kalau kamu lelah biar saya teruskan, tinggal dikit kan?" kembali Pak Damai bertanya masih dengan setia berdiri di hadapan Cynta.
"Enggak kok Pak, ini sudah hampir selesai." Cynta menjawab dengan mendongak dan memandang wajah dosennya sekilas. Setelah itu kembali menunduk menekuri tugasnya.
"Ya sudah selesaikan ... Tapi besok - besok lagi kalau kamu merasa kelelahan ngomong ke saya, saya gak mau lihat kamu tidur saat mengikuti kelas saya." Pak Damai berkata sambil melangkahkan kaki menuju mejanya kembali.
Hek
Cynta tercekat, Pak Damai lihat gue tidur di kelasnya tadi ..., batin Cynta sambil menelan ludahnya dengan kesusahan.
❤❤❤❤
Sedeng : gila
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Ya Readers......😍😍😍