Dhanil anak yatim piatu yang mencoba untuk menggapai cita cita, selesai SMA bersama dengan beberapa teman akrabnya, Dhanil juga meneruskan studinya di salahsatu perguruan tinggi swasta di Ibukota Sumatera Utara. Dhanil punya pacar bernama Yani, yang sudah memiliki hubungan spesial sejak dari SMA, akan tetapi hubungan mereka ditantang oleh orang tua Yani, karena Dhanil dipandang bukan orang yang tepat karena alasan harta dan kedudukan, akan tetapi keduanya dengan segala konsekuensinya tetap menikah setelah meraih gelar Sarjana, dan memutuskan kembali ke kampung halaman mereka, Kota Sibolga.
Hubungan yang baru sebentar dirasakan manisnya akhirnya bubar, mereka kalah oleh trik yang dilakukan Ibu Yani. Disinilah kisah Dhanil bergulir dan mengalir berubah ubah, mulai dari keputusannya meninggalkan kota tempat dia dibesarkan menuju tanah peninggalan almarhum ayahnya, kehidupan berliku membuat Dhanil menemukan saudara kandung ayahnya dan kakak kandungnya yang sudah lama terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum Bisa Menjawab
Dada Dhanil cukup terganggu dengan pertanyaan itu. Ada yang tiba tiba seperti mengetuk ngetuk jantungnya hingga terus berdebar kencang. Jika boleh jujur, sebenarnya Dhanil juga pengen dengan itu, itu pasti akan membuat Dhanil lebih bahagia. Tapi untuk melakukan itu bukan sesuatu yang mudah. Dhanil sesungguhnya belum memikirkan sampai kesana. Dhanil masih lebih fokus pada upanya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari yang ia lakoni selama ini, dengan sudah mengantongi ijazah sarjana, Dhanil punya keyakinan lebih untuk mendapatkan yang lebih bagus dari yang sekarang.
Tapi sejurus Dhanil juga merasa bahwa kata kata Yani itu membuat Dhanil juga jadi ikut kepikir kearah sana, itu memang tujuan akhir dari hubungan yang mereka bina, kini Dhanil malah kepikiran kalau itu mungkin akan menjadi jalan yang bagus juga bagi kelanjutan hubungan mereka.
“Kenapa Bang ?”.
“Nggak apa apa Yan. Tapi ...”. Dhanil memang tampak resah.
“Abang kok ragu ?”.
“Bukan Ragu Yan”.
“Jadi apa dong Bang ?”.
“Nggak tahu juga”.
Jadi Yani yang agak bingung dengan jawaban jawaban singkat Dhanil. Yani berpikir seperti itu karena Yani merasa tak ada halangan yang dapat membuat cintanya berubah pada Dhanil, Yani saat ini amat yakin akan Dhanil bakal jadi suaminya.
“Gini aja Yan”.
Yani tampak serius. “Kenapa Bang ?”.
“Yani besok balik ke Sibolga kan ?”.
Yani anggukkan kepala. “Iya Bang”.
“Jadi. Lusa atau kapan Abang minta orang tua angkat abang datang kerumah Yani”.
Yani akhirnya tersenyum simpul. Ada raut bahagia yang langsung ambil kesempatan menguasai wajahnya. Dhanil juga mengalami hal yang sama, itu yang membuat keduanya tampak hanyut dalam utas senyum yang tampaknya tak mau habis habisnya. Dhanil merasa kurang cocok kalau harus melepaskan pandangannya dari wajah Yani yang tampak merona, itu yang membuat Yani dimata Dhanil tampak semakin cantik luar biasa.
“Gitu juga bagus Bang”.
“Abang rasa juga baiknya begitu”.
“Yani tunggu ya”.
Dhanil anggukkan kepala. “Pasti Yan”.
Jika seandainya ini bukan kantin, Dhanil pengen rasanya memeluk Yani erat karena berhasil menyimpulkan rencana besar yang akan membawa hal besar pada hubungan mereka. Tapi Dhanil tentu harus mampu menahan diri, karena Kantin sesungguhnya adalah tempat sarapan, makan atau mencari minuman, bukan tempat kencan.
Dhanil agak lega, Yani juga. Yani entah kenapa memang yakin betul kalau semua inginnya akan berjalan dengan baik, akan berjalan sesuai rencana yang ia susun bersama Dhanil, sehingga Yani kembali ke Sibolga dengan harapan yang luar biasa baru. Digerbang mereka berpisah, Yani naik angkot sedang Dhanil hanya berjalan saja, karena memang jarak dari kampus menuju kostnya cukup dilewati dengan hanya berjalan kaki.
OO oo OO
Fadli dari tadi terus memandangi Dhanil yang kasak kusuk entah kenapa, Fadli akhirnya mendekat dan menepuk pelan bahu Dhanil sebelum duduk tepat disampingya.
“Kenapa ?, tampak resah”.
Dhanil buang nafas agak berat. Ini tentu menambah daya dorong rasa heran dalam hati Fadli, satu hal yang pati Fadli belum pernah melihat Dhanil seresah ini. Fadli hanya punya anggapan kalau Dhanil punya sesuatu dalam pikirannya yang perlu dibantu penyelesaiannya.
“Kenapa Dan ?”.
Dhanil kembali buang nafas berat. “Yani Fad”.
“Yani ?, Kenapa Yani ?”.
Dhanil tampak ragu ragu menjawab. Cukup lama Dhanil dan Fadli saling pandang. Fadli mencoba senyum tipis, Dhanil memang membalas senyuman Fadli dengan tipis juga, tapi Fadli yakin betul kalo senyum yang terutas dari bibir Dhanil amat sangat terpaksa keluarnya.
“Yani kenapa Dan ?, sakit ?”.
Dhanil geleng kepala. “Bukan itu”.
“Lantas ?”.
“Yani ngajak nikah”.
Bukan hanya Fadli yang setengah melonjak lengkap dengan mata yang mendelik. Irfan yang baru masuk dan lewat didepan mereka berhenti total langkahnya, tubuh Irfan malah tampak sedikit membungkuk dengan pandangan mata lurus ke Dhanil. Fadli dan Irfan cukup terkejut, sempat saling pandang dan sama sama anggukkan kepala. Fadli dan Irfan tentu tak pernah sebelumnya membayangkan kalimat semacam itu muncul dari Dhanil, apalagi mereka baru aja diwisuda, Irfan bahkan belum sampai kesana, Irfan baru merasakan aroma wisuda tiga minggu lagi. Masa secepat itu ngomong nikah, aneh.
Irfan mendekat dan duduk didepan Dhanil dan Fadli. “Kau ngomong tidak dalam keadaan fly kan Dan ?”.
Dhanil angkat kepala menatap Irfan. “Fly kepalamu. Ini serius”.
Dhanil tampaknya sudah mulai bisa menguasai resahnya. Pertanyaan Irfan memang termasuk pertanyaan yang sulit diterima Dhanil yang saat ini memang sedang benar benar bingung kesimpulan apa yang harus diambilnya agar lebih baik dan terbaik bagi dia dan Yani. Dhanil memang betul betul bingung, ingin memang melakukan apa yang dikatakan Yani, tapi ada pikiran lain yang cukup sangat mengganggu, Dhanil juga mengakui ada banyak hal yang bisa jadi akan membuat apa yang diputuskan hari ini adalah kesimpulan yang punya potensi kesalahan yang cukup mengganggu, itu yang membuat Dhanil tampak kelimpungan.
Irfan buang nafas berat. “Serius gimana ?”.
Dhanil mendesah juga. “Tadi Yani ngomong begitu di kantin”.
“Lantas kau bilang apa ?”.
Dhanil hanya anggukkan kepala saja sebagai jawaban atas pertanyaan Irfan yang diajukan padanya. Fadli dan Irfan kembali saling pandang dan kembali sama geleng kepala, kemudian kembali menatap Dhanil dalam dalam dan cukup lama. Baik Fadli maupun Irfan merasa kalau teman mereka yang satu ini berada dalam posisi cukup aneh, membuat sebuah keputusan yang tampaknya masih cukup janggal, terkesan prematur.
“Jadi.. kata kata Yani kau iyakan Dan ?”.
Dhanil menatap Fadli yang bertanya sesaat. “Lantas aku bilang apa ?”.
“Bilang apa kek, nanti dulu, tunggu dulu.. atau apa..”. Fadli bahkan tampak seperti menggerutu.
Dhanil geleng kepala. “Macam nggak tau Yani aja kau Fad”.
Fadli angkat bahu. Tapi entah kenapa Fadli merasa kalau Dhanil dalam hal ini kurang berani. Kurang punya nyali sebagai seorang laki laki, mau maunya Dhanil tunduk dan ikut dengan keputusan keputusan yang dilontarkan Yani. Tapi itu tadi, cinta memang terkadang aneh, Fadli akhirnya kembali hanya bisa geleng kepala. Yang tepikir sekarang diotak Fadli bagaimana Dhanil kemudian menjadi suami, apakah semudah itu.
Irfan kembali mendesah. “Itu bukan soal kecil kawan. Perlahan lahan dulu lah. Lagian kita belum kerja kan ?, nanti kalau kau nikah, mau kasi makan Yani pake apa. Realistis dulu Dan”.
“Betul”. Sambut Fadli. “Harus ada pertimbangan matang kawan”. Sambung Fadli tampak semangat.
Dhanil mendesah, Fadli juga. Tapi Dhanil harus mengakui kalau apa yang dikatakan Irfan sangat benar. Hidup ini memang harus realistis, kalaupun Dhanil sekarang punya aktivitas saat ini Dhanil juga tidak begitu yakin akan dapat menutupi kebutuhan hidupnya. Tapi entah kenapa Dhanil merasa semua bisa teratur kemudian, lagi pula ia sudah janji dengan Yani soal itu.
“Yani yang meminta”.
Fadli angkat bahu. “Tapi yang laki laki kan kau Dan”.
“Dan kau yang seharusnya lebih dapat mematikan dan menentukan apakah itu sudah waktunya apa belum”. Sambung Irfan.
“Yani yang memberikan usulan”.
“Baru kau iyakan. Iyakan ?”. Kata Fadli.
“Lantas aku mau bilang apa lagi ?”.
“Bilang yang lain kek”.
“Tapi, apa ?”.
“Kau tidak minta bersabar kan ?”.
Dhanil anggukkan kepala. Kembali Fadli dan Irfan buang nafas sedikit berat. Irfan dan Fadli bukan memikirkan masalah lain, banyak orang yang menikah sesudah tamat SMA, bahkan waktu masih SMA, begitu juga masa kuliah, tidak sedikit yang menikah waktu masih semester 4, 5, 6 atau lainnya, tapi itu punya kisah sendiri dan tidak bisa dihubungkan satu sama lain, sehingga kasus Dhanil merupakan kasus tunggal.
“Keyakinanmu gimana Dan ?”. Irfan yang bertanya.
“Mungkin karena aku memang terlampau mencintai Yani. Jadi apa yang diyatakan Yani akan selalu kuusahakan mewujudkannya”.
Fadli mendehem. “Apa cinta sudah cukup untuk itu”.
Dhanil geleng kepala. “Soal itu aku kurang tahu”.
Fadli dan Irfan sama tertawa kecil, pada akhirnya mereka menjadi merasa lucu dengan semua sikap dan pikiran pikiran yang menguasai Dhanil. Bagi Fadli maupun Irfan memandang kalau Dhanil terlalu mudah mengambil kesimpulan, terlalu cepat memutuskan persoalan. Bahkan Fadli menganggap kalau Dhanil dalam hal ini termasuk tipe orang yang kurang memiliki pertimbangan pertimbangan yang matang.
Irfan menepuk bahu Dhanil pelan. “Jadi gimana prosesnya ?”.
“Maksudmu ?”.
“Proses, proses selanjutnya. Caranya gimana ?”.
Dhanil kembali buang nafas berat. “Aku udah telphon Ayah, aku minta mereka datangi keluarga Yani”.
“Melamar maksudmu ?”.
Dhanil anggukkan kepala. “Begitulah kira kira”.
Fadli dan Irfan tertawa juga akhirnya walau belum dapat memastikan apa yang teramat lucu sehingga mereka memilih tertawa. Tapi yang tertawa memang hanya Fadli dan Irfan, Dhanil sama sekali tidak, senyumpun tidak. Lepas itu suasana terasa sunyi, berikunya yang terdengar hanya suara yang dihadirkan Fadli yang sedang memasak masakan yang akan mereka masak siang ini.
kebaikab selalu menemukan jalan untuk meraih bahagia.. syukurlah Anggi akhirnya terbuka hatinya