Kota Mecha, pusat teknologi tercanggih di dunia, kini menjadi incaran kota-kota luar yang iri dan ingin menghancurkannya. Demi menjaga kedamaian, pemerintah dan perusahaan Mechabest mencari pahlawan generasi baru berhati mulia untuk menggantikan para pahlawan senior yang pensiun.
Kehidupan empat sahabat—Yasing, Maul, Alfian, dan Sahla—berubah drastis ketika agen rahasia mendatangi rumah mereka dan mengundang mereka mengikuti trial khusus. Berbekal Jam Perubah berkekuatan berbasis keahlian hewan, mereka harus bekerja sama menghadapi musuh, menguasai mode robot masing-masing, dan bertahan dari petualangan yang penuh aksi sekaligus aksi kekonyolan khas persahabatan mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Omega & Bayangan Masa Lalu
Kabut tebal membungkus lereng Pegunungan Terlarang. Udara dingin yang mencengkeram kulit tidak menyurutkan langkah delapan pahlawan Mechabest. Didampingi langsung oleh Teh Caca dan Opik, Yasing, Maul, Alifian, Sahla, Pasya, dan Kelay menyusuri celah-celah batu cadas menuju titik koordinat sinyal komando utama yang telah dilacak oleh Opik.
"Sinyalnya makin kuat," bisik Opik sambil menatap layar pemindai portabel di tangannya. "Markas utamanya tepat berada di balik bukit batu di depan kita."
"Hati-hati semuanya," pesan Teh Caca tegas. Kerudung taktisnya berkibar pelan tertiup angin gunung yang kencang. "Kita gak tahu jebakan apa lagi yang dipasang oleh sang 'Omega' di tempat ini."
"Teori penyusunan wilayah terlarang bilang kalau lokasi terisolasi seperti ini biasanya punya sistem pertahanan mandiri," bisik Alifian sambil menaikkan kacamatanya.
"Baguslah, biar kalau tarung gak ada gedung warga yang hancur kayak di kota," celetuk Maul dengan gaya datarnya, walau matanya tetap siaga memantau sekeliling.
Begitu mereka melewati celah bukit batu terakhir, sebuah pelataran luas berlapis baja hitam terhampar di hadapan mereka. Di tengah pelataran tersebut, berdiri sebuah struktur bangunan futuristik berarsitektur gelap. Dan tepat di depan pintu gerbang bangunan itu, berdiri tunggal sosok yang telah memanipulasi seluruh kejadian dari balik bayang-bayang.
Pria itu mengenakan jas hitam elegan bertrikoma emas. Wajahnya tertutup penuh oleh topeng naga bersisik mengkilap yang memancarkan pendar merah dari celah matanya.
"Selamat datang, anak-anak Mechabest..." suara pria bertopeng naga itu terdengar berat dan bergema, terpancar langsung melalui pengeras suara di sekeliling pelataran. "Suatu kehormatan melihat generasi baru berkumpul di markas pribadiku."
Yasing melangkah paling depan, mengepalkan kedua tinjunya. "Lu yang namanya Omega?! Lu yang udah bikin kerusuhan di Kota Mecha, nyuri data kita, dan bikin robot tiruan buat hancurin kita?!"
Pria bertopeng naga itu tertawa pelan. Tawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Kreatif sekali penyebutannya... 'Omega'," ujar pria itu sambil perlahan-lahan mengangkat kedua tangannya ke atas, membuka jepitan topeng naganya. "Tapi sebelum kalian menghakimiku sebagai musuh, ada baiknya kalian tahu siapa sebenarnya yang sedang kalian lawan."
KLIK!
Topeng naga itu terlepas. Di balik topeng tersebut, tampak wajah seorang pria berusia akhir tiga puluhan dengan bekas luka bakar tipis di garis rahangnya. Matanya tajam, memancarkan kepahitan dan dendam yang telah mengendap bertahun-tahun.
Teh Caca dan Opik mendadak terbelalak. Wajah mereka pucat pasi seolah melihat hantu dari masa lalu.
"R-Rendra?!" seru Teh Caca tak percaya. "Lu... lu masih hidup?!"
"Rendra?" ulang Pasya dan Kelay serempak, kebingungan melihat reaksi komandan mereka.
Pria bernama Rendra itu mengukir senyum miring yang penuh kepahitan. "Ya, Caca... Opik... Ini aku. Pahlawan utama yang pernah disanjung oleh seluruh warga Kota Mecha, sebelum 'Profesor Agung' kalian itu mengutukku menjadi sampah sejarah."
25 Tahun Yang Lalu
Langit Kota Mecha saat itu belum semegah sekarang. Kubah pelindung energi baru saja dibangun separuh, dan teknologi Mecha Watch masih dalam tahap prototipe awal.
Di sebuah laboratorium riset sederhana, dua pria muda sedang berdiri di depan layar konsol energi utama. Pria pertama adalah Prof. Einstein muda yang masih berusia 28 tahun—berambut cokelat pendek rapi, mengenakan kacamata bulat dan jas lab putih dengan semangat keilmuan yang membara. Pria kedua adalah Rendra muda (20 tahun)—seorang pemuda karismatik berwajah tampan yang mengenakan seragam ujian Mechabest bernomor seri 01.
"Bagaimana respons zirahnya, Rendra?" tanya Einstein muda penuh antusias sambil mengetik data di konsol.
"Sempurna, Einstein!" jawab Rendra muda sambil menyeringai bangga, mengacungkan pergelangan tangannya yang terpasang prototipe Mecha Watch generasi pertama. "Daya dorong Mode Serigala ini seratus persen stabil! Kota Mecha aman di tangan kita!"
Saat itu, Rendra adalah pahlawan pertama sekaligus pelindung tunggal Kota Mecha. Setiap kali ada ancaman monsters mekanis liar atau gangguan keamanan, Rendra selalu turun ke garis depan. Warga kota menyembahnya bagaikan dewa, anak-anak memakai topeng bergambar dirinya, dan namanya dielu-elukan di setiap sudut kota.
Namun, ketenaran dan sanjungan yang melimpah perlahan-lahan meracuni pikiran Rendra muda.
Dia mulai merasa bahwa Kota Mecha berdiri bukan karena sains Einstein, melainkan karena darah dan keringatnya di lapangan. Ambisinya tumbuh melampaui batas. Rendra tidak lagi puas hanya menjadi pahlawan pelindung; dia ingin menjadi penguasa tunggal Kota Mecha dan seluruh teknologi Mechabest.
Suatu malam di laboratorium pusat, Einstein muda menemukan kejanggalan dalam arus lalu lintas data kota. Sebagian besar cetak biru rahasia inti Mecha Watch dan kode pertahanan kubah kota telah diunduh secara ilegal dan dikirimkan ke jaringan gelap kota-kota luar yang iri pada Kota Mecha.
Einstein muda dengan cepat melacak jejak enkripsi tersebut. Jejak itu mengarah langsung ke konsol pribadi milik Rendra.
Einstein muda yang terkejut langsung mendatangi Rendra di aula latihan.
"Rendra! Apa maksud dari semua ini?!" bentak Einstein muda sambil melemparkan berkas bukti transaksi data ke atas meja. "Kamu menjual data rahasia pertahanan Kota Mecha ke kota-kota luar?!"
Rendra muda yang sedang merapikan zirahnya tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. Dia justru terkekeh dingin.
"Jual? Jangan sebut itu penjualan, Einstein," balas Rendra muda santai. "Aku cuma membagikan sedikit 'umpan' pada kota-kota luar yang iri itu. Saat mereka menyerang Kota Mecha gara-gara data itu, aku akan tampil sebagai penyelamat tunggal, menghancurkan mereka semua, dan membuktikan pada dunia bahwa akulah penguasa sejati teknologi ini!"
"Kamu sudah gila!" teriak Einstein muda penuh kemarahan. "Kamu mengorbankan keselamatan warga kota cuma demi ambisi gila dan haus kekuasaanmu sendiri! Kamu mencoba mengambil alih Mechabest dan kota ini!"
"Sainsmu itu lemahh tanpa kekuatanku, Einstein!" Rendra muda menunjuk dada Einstein. "Warga kota mencintaiku! Mereka tidak akan pernah percaya pada tuduhanmu!"
Tapi Rendra salah menilai Einstein muda. Einstein bukan sekadar ilmuwan naif. Demi melindungi warga Kota Mecha dari ancaman perang dan pengkhianatan dalam, Einstein muda secara berani membongkar seluruh bukti kejahatan dan kasus peretasan data yang dilakukan Rendra dalam sidang terbuka dewan kota.
Skandal itu menggemparkan seluruh negeri. Pahlawan yang paling dicintai warga ternyata adalah dalang di balik masuknya gelombang serangan kota luar yang sempat merusak pinggiran Kota Mecha. Rasa cinta warga seketika berubah menjadi kekecewaan dan kemurkaan yang mendalam.
Dengan keputusan tegas dari Dewan Kota dan Einstein muda, status pahlawan Rendra dicabut secara tidak hormat. Prototipe Mecha Watch miliknya disita paksa, dan Rendra dibuang serta diusir selamanya dari wilayah Kota Mecha.
Kembali ke Masa Kini
Rendra alias Sang Omega tertawa terbahak-bahak di atas pelataran baja Pegunungan Terlarang. Suara tawanya sarat akan rasa benci yang telah dipendam selama seperempat abad.
"Einstein membuangku seperti sampah!" teriak Rendra dengan mata menyala penuh amarah. "Dia menghancurkan nama baikku, mengambil zirahku, dan mengusirku ke tempat terisolasi ini! Tapi dia tidak tahu... selama dua puluh lima tahun di pengasingan, aku membangun kekuatanku sendiri! Aku mempelajari setiap kelemahan ciptaannya!"
"Jadi... lu bikin organisasi 'Prototype Omega' dan nyuri data kita cuma buat balas dendam pribadi sama Prof. Einstein?!" seru Yasing tak percaya.
"Bukan cuma balas dendam, Bocah!" potong Rendra tajam. "Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal: Kota Mecha dan seluruh sistem Mechabest! Dan kalian... generasi baru yang sok suci ini, bakal jadi batu pijakan pertamaku!"
Sahla melangkah maju, memegang erat jam tangannya dengan pandangan jijik pada Rendra. "Lu yang egois! Lu ngorbankan warga cuma demi dipuji-puji! Lu gak pantas disebut pahlawan!"
"Bener," tambah Maul dengan nada datar namun sangat menohok. "Muka lu boleh sok keren pas muda, tapi kelakuan lu lebih murahan dari robot tiruan yang lu bikin."
"Tutup mulut kalian!" bentak Rendra murka.
Rendra merogoh saku jas hitamnya, mengeluarkan sebuah jam tangan berdesain naga melingkar berwarna hitam-emas—Dark Mecha Watch Prime. Jam tangan itu memancarkan aura energi kegelapan yang sangat dahsyat, jauh melebihi aura energi robot Copy Paste sebelumnya.
"Akan aku tunjukkan pada kalian... bagaimana rasanya bertarung melawan pahlawan pertama Kota Mecha!" seru Rendra sambil memasangkan jam tersebut ke pergelangan tangannya.
"Semuanya siaga!" teriak Teh Caca memimpin barisan. "Ini pertarungan yang sebenarnya!"
Yasing, Maul, Alifian, Sahla, Pasya, Kelay, Teh Caca, dan Opik secara serempak mengacungkan tangan kiri mereka ke udara. Delapan pendar cahaya Mechabest menyala terang membakar kegelapan malam di Pegunungan Terlarang, siap menghadapi kebangkitan sang Omega dari masa lalu!