NovelToon NovelToon
Bidadari Dalam Sangkar.

Bidadari Dalam Sangkar.

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest
Popularitas:169.8k
Nilai: 5
Nama Author: ekha dewi

Alyra Almeera adalah gadis sederhana, Setelah kematian sang ibu, membuatnya menjadi wanita yang senang mengurung dirinya di rumah, dia hanya menghabiskan waktu, dengan melanjutkan bisnis usaha kue milik peninggalan ibunya.

Dahulu saat dia baru saja kuliah di pertengahan semester delapan, tiba-tiba harus menghentikan kuliahnya, akibat terhambat biaya yang bentrok dengan biaya kebutuhan sehari-hari, dia malah terus mendorong sang adik untuk terus sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Dia berharap sang adik yang akan meneruskan cita-citanya.

Tidak ada kisah cinta sebelumnya, hingga sang ayah sakit, dia rela jadi pembantu demi biaya pengobatan sang ayah yang tiba-tiba harus di operasi.

Dia hanya mengabdi pada ayah dan adik satu-satunya. Semua kasih sayang hanya tercurah untuk keduanya.

Hingga dia bertemu dengan pria yang bernama Bayu Samudra, juga keluarga lainnya, dia tidak menyangka jika pertemuan setiap hari akan membuat keduanya jatuh cinta.



ikuti kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ekha dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BDS.Chapter 10 (Ly)

"Sudah 30 hari"

Bibirnya bergerak, kalender di kamarnya telah penuh dengan bulatan penanya, tanda dia sudah menerima gajih utuh satu bulan ini. setelah di potong saat hari pertama masuk kerja, 10 juta lima ratus ribu, demi biaya kekurangan bayaran rumah sakit sang ayah waktu itu.

Menghela napas panjang melihat telapak tangannya semakin kasar, satu bulan full dia mencuci pakai tangan, memeras, nyetrika nyapu halaman yang hampir setiap hari dia lakukan.

Nggak apa-apa Lyra sakit lelah tapi berkah.

Lyra bergerutu memasukan uang gajinya kedalam tasnya.

Halaman yang luas nampak bersih hari ini, dia sudah merencanakan untuk pulang kerumah sudah rindu sang adik juha ayahnya, yang sudah bisa pulang tiga hari lalu. Dia bingung kembali kerja Atau di rumah saja, yang penting sekarang dia pulang dulu.

******

"Nona, Roti, selai, dan pasta aku simpan di kulkas, baju-baju kerja dan baju kuliah Nona juga sudah aku taruh di tempat biasa, jika keran air mampet bisa coba buka saringannya dulu, dan tempat nyuci aku sudah pindahkan kelantai atas, agar tidak cape turun naik tangga."

Notes yang terletak di atas nakas, sudah tertulis rapi dengan semua permintaan maaf yang Lyra tulis untuk majikan perempuannya.

Suci membaca dengan seksama, dia tidak sadar jika tulisan itu pertanda pembantunya benar-benar telah pergi, entah kenapa dia ingin menangis keras, tidak ikhlas melepas pembantu cantiknya pulang.

Dia baru sadar, dia tidak tahu, asal usul gadis itu, keluarganya, alamat rumahnya, dia terlalu santai menikmati kebersamaan mereka, tanpa sadar dia tidak pernah bertanya, rumah keluarga dan nama lengkapnya, dia seolah tidak peduli, tapi melihat Notes yang tertulis indah dari tulisan tangan itu. dia baru sadar wanita yang sebulan itu bukan hanya gadis biasa tanpa pengetahuan.

***

Selepas maghrib Lyra bergegas menyiapkan tas punggungnya, setelah uang bayaran yang di tinggalkan di meja makan, uang gajih sebulan ini, dia buru-buru membereskan bajunya, tidak kuat jika harus melihat dua majikannya menangis saat berpisah dengannya, yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri itu.

"Nona kalian semoga mendapat kebahagiaan, besok lusa kakak mu akan segera melangsungkan pernikahannya, berarti kalian ada yang akan menemani setiap hari dan menyiapkan kalian sarapan."

Grutu Lyra Dia ingin menangis, untuk pertama kalinya jauh dari ayah dan adiknya, dan menatap sekali lagi rumah majikannya, membuat Alyra sadar tentang arti keluarga, rindu yang menggebu, juga rasa haru harus meninggalkan majikan yang sudah dia anggap saudara sendiri itu, membuat dadanya sesak.

Setiap hari bertemu dengan Bayu dan adiknya membuatnya sudah terbiasa, namun juga kadang hatinya merasa kikuk, saat bertemu langsung di pagi hari, Lyra tidak tahu rasa apa yang bersarang di hatinya, hanya dia sering sedih, saat melihat majikan pria tampannya pulang dari kantor, dan datang bersama dengan pasangan kekasihnya, yang semakin terlihat mesra.

Dia tabu soal itu, namun hatinya saat ini hanya ingin menangis, saat pergi jauh dari rumah sejuta kenangan itu.

"Lyra kamu harus bahagia, bukankah keinginanmu sudah tercapai, keluar dari rumah hantu tersebut."

Rutuk Lyra pelan sambil melihat Casing hp yang sama dengan majikan perempuannya, terdapat foto kebersamaan mereka bertiga, saat bermain ke acara pasar malam minggu lalu, dan di cetak menjadi sebuah casing hp ketiganya.

Dia menikmati suasana kota,terlihat lampu kerlap kerlip menghias malam menambah kesan suasana ramai di jalan, dia melihat udara malam dari atas Busway.

***

Murni, setelah malam itu, dia tidak pernah jauh dari kasur lepet Milik Lyra. bisa saja seharian dia duduk disana, belajar membaca Iqra, dan menghabiskan waktu dengan pembantunya, dan saat sang kakak pulang, dia sudah tertidur disana.

Suara gaduh terdengar, dia menangis meraung saat masuk kamar Alyra, dia tidak menemukan pembantunya di sana, hanya tulisan kalender yang sudah full di kasih lingkaran tinta hitam.

Murni menangis saat bangun tidur dari kamarnya lalu dia turun mencari Lyra, namun dia tidak menemukan Lyra di kamarnya dia duduk terisak tidak menemukan baju murni dan tas yang biasa menggantung di kamarnya.

kembali dia menangis keras.

Dia terpukul gadis itu tidak pamit padanya.

Pintu utama terbuka, langkah lesu dan penat hari ini terasa oleh Bayu. Bayu mendengar tangisan Murni pecah dia menuju kearah suara, dan ternyata Murni di kamar gudangnya Lyra, sedang menangis memeluk bantal yang biasa di pakai Lyra.

Bayu sadar, tadi pagi Lyra pamit minta pulang, dan dia hanya mengiyakan dan memberikan gaji sesuai perjanjian di muka, dia tidak minta kapan balik lagi dan minta alamat rumah atau pun nomer telponnya.

Bayu termenung, melihat sang adik menangis keras. dia tidak tahu sudah lama dia tidak melihat adiknya menangis seperti itu.

Dia membiarkan Murni menangis agar dia tenang setelah meluapkan kesedihannya. Berjalan dengan perasaan tidak menentu, kepalanya kembali seperti ingin meledak, apalagi Sonia Minta setelah nikah minta di belikan rumah baru, dia tidak ingin serumah dengan Adik-adiknya.

Dia menekan gagang pintu kamar Suci, gadis itu nampak termenung, sambil menatap Notes di tangannya, dengan mata berkaca-kaca. Bayu kembali tertegun saat melihat tulisan tangan yang begitu cantik terdapat gambar smile di ujung Notes itu. Dengan tag nama Mbak Ly.

Suci menatap wajah sang kakak. "Apakah dia meminta ijin padamu untuk pergi dari sini kak?" pertanyaan Lyra di iringi airmata yang terjun tidak bisa di bendung.

"Iya."

Hanya itu yang keluar dari mulut Bayu.

"Kenapa sih dengan kalian, kita tinggal cari pembantu baru, kenapa harus repot melihat Notes tidak penting itu sich."

Kesal Bayu dia langsung nyolot, dan Suci terheran, "Aku tidak peduli dengan notes ini, Namun aku peduli padanya, dia bahkan tidak pamit langsung padaku."

Suara Lyra terdengar Lirih, dengan mata terpejam, dia menangis terisak, sebulan ini dia menemukan sosok ibu, kakak juga sahabat dia sudah tidak merasa dia seorang pembantu.

"Mbak Ly kenapa kamu meninggalkan aku?" Suara dengan isakan-nya terus terdengar, membuat Bayu tidak bisa lagi bersuara, hatinya pun sama dia menemukan kenyamanan setelah kehadiran gadis bermata bulat itu.

Dia melangkah keluar, langsung masuk kekamarnya, membuka lemari pakaiannya berniat mengambil baju tidurnya.

Dia baru menyadari susunan baju yang nampak rapi, dari semua warna terpisah, sampai ********** pun tertata dengan rapi, jika melihat dari usia Lyra tidak jauh berbeda dari usia adiknya.

Tapi dia sudah tahu bagaimana cara bekerja mengurus rumah tangga.

Bayu mematung, kamar yang selalu rapi, dan dia baru sadar, semua itu pekerjaan pembantunya.

"Ly."

Bayu mengucapkan nama itu, entah sadar atau tidak dia rindu nasi goreng buatan gadis itu atau memang rindu pada gadis itu.

"Bahkan aku tidak tahu nama kamu yang Asli, aku selalu meremehkan pekerjaanmu selama ini, padahal aku tidak bermaksud meremehkan mu, aku suka melihat mu sering bergerutu kesal, tapi kamu bisa dan mampu melewati rintangan bekerja di rumah angker ini."

Gerutu Bayu pelan, lalu mengambil satu setel pakaian tidurnya.

Dia bergegas mandi menatap seluruh isi dalam ruangan kamar mandinya, bersih wangi dan rapi. dia baru sadar jika semua itu hasil pekerjaan gadis itu.

Mandi kilat lalu bergegas turun, melihat keadaan rumah sunyi, dia membuka tudung saji yang ada di meja makan, nasi goreng sudah tersedia disana, "mungkin sebelum pergi gadis itu membuat ini untukku." Gerutu Bayu sambil mencoba memakan nasi goreng yang sudah hampir dingin itu.

Namun Bayu begitu menikmatinya. Dia melahap habis nasi goreng itu tanpa sisa. Hingga dia mengambil minum di depannya, nampak tertata rapi semuanya.

Murni tertidur di kamar Lyra, dengan memeluk bantal yang sering di pakai Lyra. masih nampak Airmata di pelupuk matanya.

Dia rindu sosok yang selalu mengajarkannya mengaji dan shalat, saat dia sedang butuh-butuhnya, gadis itu malah pergi dari rumahnya tanpa pamit.

Bayu kembali menatap kalender itu, dia membalik kalender itu, "Ayah aku rindu kalian." Tulisan tangan itu menggetarkan hati Bayu, siapa gadis itu sebenarnya, kenapa selama ini dia seolah menganggapnya tidak ada, tidak berarti sama sekali.

Bayu kembali keluar dari kamar Lyra.

Kini dia berdiri di dapur yang nampak tertata rapi.

"Sampah plastik."

"Sampah Organik."

Membaca tulisan itu, tercubit hati Bayu, dia sadar hal hal sederhana itu malah membuatnya semakin kepikiran gadis supel tersebut.

Dia ingat uang gaji yang dia berikan, gadis itu tidak pernah protes sama sekali. dia melihat pagi tadi gadis itu menunduk saat dia bilang terserah, ketika meminta pulang, dia tidak minta lebih gajih yang menjadi dua kali pembayaran itu.

Dia pikir gadis itu akan minta bonus, dan tidak akan lansung pulang sore ini, Bayu termenung padahal sumpah dia bulan lalu, saat pembantunya berhasil melewati seminggu bekerja, akan ada bonus besar untuknya.

Bayu lupa pada sumpahnya sendiri.

termenung melihat keadaan sekitar, biasanya dia mendengar clotehan kedua adiknya, saat berkumpul di kamar sempit itu.

Bayu Berdiri melangkah menuju kamarnya, dia merebahkan badannya di ranjang miliknya, otaknya dan pikirannya hanya di penuhi gadis bermata bulat itu.

mengelus seprai lembut dan wangi, sosok gadis bermata bulat itu kembali bergelayut di pelupuk matanya.

Sial kenapa hanya gadis jelek itu terus yang hadir di pelupuk mata ku.

Gerutu Bayu kesal pada otaknya, yang enggan sirna bayangan wajah gadis yang selalu terlihat santai itu.

Padahal tiga hari lagi dia akan melakukan akad nikah dengan Sonia.

tapi hatinya masih gamang tentang pilihan hatinya, apalagi tadi sempat adu mulut masalah tinggal setelah menikah.

Bayu meraih hpnya, menekan galeri foto, nampak foto gaun yang di pilih Sonia, juga cincin berlian yang akan mereka pakai setelah acara Ijab qabul besok lusa, tidak ada rasa yang istimewa, atau bahagia yang membuncah.

Dia hanya datar saja, tidak ada getaran aneh ketika dia akan melepas setatus masa lanjangnya, menyentuh menggeser melihat foto-foto dirinya dan Sonia, dia melihat foto minggu lalu saat foto berdua dengan Sonia, dan sosok samar Lyra dan kedua adiknya nampak sedang tertawa melahap permen kapas.

Dia ingat saat mereka bermain di pasar malam minggu lalu, mereka terlihat Akrab dan ceria. dia tekan zoom ketika melihat wajah dengan kerudung berwarna peach tengah tertawa lepas, dengan mulut penuh dengan perment kapas.

Deg.

Dia berdebar mengingat gadis itu, senyum tulusnya membuat dia enggan menggeser foto itu. Hingga Bayu terlelap dia masih dalam bayangan gadis itu.

*****

Ting nong.

Ting nong.

Rekeet pintu samping rumahnya terbuka nampak sang adik membuka pintu rukonya, berdiri mematung saat melihat siapa yang datang.

Matanya membulat sempurna tercekat dia tidak percaya siapa yang berdiri di hadapannya, airmata meleleh.

"Kakak Lyra"

Luna memeluk tubuh di hadapannya dia menangis meluapkan rindu yang menggebu, dia merasakan kebahagiaan yang tidak bisa di lukiskan.

Setelah sekian lama, mereka merenggangkan pelukan, saling bertatap wajah, menilik seksama masing-masing merasakan khawatir saat melihat wajah masing-masing.

"Sayang kamu baik-baik saja kan?"

Lyra bertanya dengan kembali mencium pipi sang adik, meluapkan rindu selama ini.

Luna mengangguk lalu memboyong sang kakak, untuk masuk, mereka berdiri di depan pintu kamar sang ayah, terdengar sedang mengaji mereka saling berpegangan tangan.

"Assalamu'alaikum Ayah."

Suara Lyra terdengar, ayah masih terus menyelesaikan bacaannya hingga sampai di akhir ayat.

"Siapa?"

Suara ayah datar dan dia bergegas membuka pintu, matanya terkejut, di ujung matanya terlihat Air mata terjatuh.

"Sayang."

Papa terlihat lebih segar, badannya tegap, dia memeluk putri sulungnya, menangis meluapkan kerinduan selama ini.

"Ayah maafkan Aku!"

Isak tangis Lyra terdengar menyayat hati, bukan hanya rindu pada sang ayah dia juga sedih meninggalkan rumah majikannya.

"Kamu tidak salah sayang.

Ayah yang membuat kalian menderita."

tangisan ayah membuat Luna memeluk mereka dengan tangisan, dia juga merasakan sedih melihat adegan di depannya.

Mereka duduk di kursi, Lyra menatap sekeliling nampak rapi, dan terlihat bersih sekarang dia menatap sang adik, meraih telapak tangannya mengusap lembut nampak kasar seperti dirinya.

"Sayang kamu mengerjakan semua ini?"

Luna mengangguk, dia tersenyum mencium telapak tangan sang kakak.

"Terimakasih selama ini kakak mengurus kami menyiapkan segalanya untukku. aku baru tahu pekerjaan yang selalu kakak kerjakan setiap hari itu, ternyata melelahkan aku tidak akan membiarkan mu melakukannya sendiri."

Pernyataan sang adik membuat Lyra menangis, dia memeluk sang adik, Menciumnya berkali-kali.

"Kakak ikhlas melakukan itu untuk kalian, jangan berbicara seperti itu." Suara Lyra semakin terisak dan dan ayah Ali menyaksikan itu sungguh bahagia.

"Bagaimana pelanggan kue kita sayang, apakah ramai?"

"Alhamdulilah kak, aku sudah menabung sedikit sedikit, uang saku yang aku kumpulkan sudah bisa membayar 4 bulan kedepan kuliahku."

"Apa benar yang kamu katakan sayang."

"Aku tidak berani berbohong, aku menghentikan kegiatan nongkrong setiap weekand, dan mereka temanku tidak pernah lagi menjemputku, aku punya sudah punya teman baru dan dia kerja di tokok kue kita kak."

Suara Luna di iringi senyum tulus, ada yang banyak berubah dari gadis itu, Lyra menjadi sedih dia bahkan menjadikan adiknya seperti dirinya.

Ayah Akbar bahagia, dia tidak harus repot menegur putri bungsunya dia sudah sadar sendiri menghentikan keluyuran malam yang membuat hatinya selalu kepikiran, dan mungkin karena itu dia sering ngedrop.

Alhamdulillah ya Robb engakau telah membuat anak-anakku rukun dan bersabar atas ujian ini.

Ayah Akbar tersenyum bahagia, sekarang tinggal berpikir bagaimana membuat anak sulungnya supaya mau menikah.

1
Zaim Jepara
mau ketawa takut dosa🤭, semangat Thor sudah 2 novelmu ku baca dan semuanya menguras air mata😭
Ria dardiri
bagusss
Nurul
hmmm dah banyak bc crt... tp cerita ni terasa nyata GT...
Ratna Faidilna
jangan pelit up nya thor
semoga aja mey jodoh nya derek
fairy
up lagi dong
Lasmi Kasman
bahagia
Lasmi Kasman
Sonia engak kapok2
Lasmi Kasman
penasaran
Lasmi Kasman
sunguh menyakitkan
Lasmi Kasman
takut di jual jadi bilang TDK perawan
Lasmi Kasman
semangat Kak
Lasmi Kasman
orang jahat
Lasmi Kasman
Bayu kasihan lyra
Lasmi Kasman
sehat terus Alyra
Lasmi Kasman
lucu
Lasmi Kasman
kasihan
Aisyah Yuni Novita
lanjut thor..segera up donk
♨ˢᶜⰼ⃞☪🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧ🥑⃟ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
Kenapa enggak dilanjut Thor, ayo up lagi
Nur Wahyu
Thor kapan up lagi?
Dini Anggoro
kok di part ini karakter nya alira berubah ya thor.. jd kyk orng gila. td baca di part awal alira aku udh sreg, mungkin di part ini aja kali ya thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!