"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Frekuensi Terdistorsi
"Selamat malam, Subjek 0. Sudah sepuluh tahun aku menunggu momen reuni kita ini," tegur Zero dengan kekehan dinginnya.
Nio refleks menarik lengan Nora ke belakang tubuhnya, melangkah mundur satu tapak dengan tatapan mengunci gerak-gerik Zero.
Pria tinggi kurus itu berdiri santai di bawah pendar lampu jalanan yang berkedip, menggenggam sebuah detonator jarak jauh.
"N-Nio... dia... dia siapa...? D-detonator itu..." cemas Nora berbisik gemetar di balik punggung Nio.
"Tetap di belakang gue dan jangan bersuara," pangkas Nio tenang tanpa menoleh sedikit pun.
Nio meraba transmiter nirkabel di saku jaketnya, menggeser tuas frekuensi ke mode peretas arus pendek.
'Cih! Bajingan ini sengaja nunggu di pintu keluar buat jebak gue!' batin Nio menggeram kesal.
"Kau masih saja suka bermain-main dengan alat peretas kecilmu itu, Subjek 0," ejek Zero sambil mengangkat detonatornya tinggi-tinggi.
"Gue gak punya waktu buat nostalgia sama orang gila," sahut Nio dingin.
"Nostalgia...? Ini bukan sekadar nostalgia! Kau adalah karya masa lalu yang gagal kubuang dari sistem!" bentak Zero dengan nada meninggi.
Jemari Zero menekan tombol pemantik pada detonator tersebut tanpa ragu.
Bzzzt!
Suara berdengung nyaring mendadak memekakkan telinga, disusul pendar percikan api kecil dari dalam detonator tangan Zero.
Transmiter nirkabel di tangan Nio berhasil memuntahkan gelombang terdistorsi, mematikan fungsi pemantik sinyal bom seketika.
"Hah?! Apa-apaan ini?!" seru Zero kaget melihat detonatornya mati total.
"Gue bilang apa. Alat murah begitu gak bakal mempan," ejek Nio datar.
'Mampus lu! Dikira cuma lu doang yang bisa mainan frekuensi, hah?!' batin Nio bersorak puas.
Nio membanting transmiter nirkabelnya ke tanah hingga hancur, memutus pancaran sinyal pelacak musuh.
Dia menarik tangan Nora dengan kencang, menerobos kegelapan lorong samping menuju area pemukiman kumuh.
"LARI, NORA!!" teriak Nio memecah senyapnya malam.
"I-iya, Nio!!" jerit Nora histeris sambil memacu fisiknya sekuat tenaga.
Langkah kaki mereka berdua berpacu cepat di atas tanah basah, meninggalkan koridor bunker yang terancam bahaya.
Zero berdiri terpaku di bawah pendar lampu, menatap kepergian mereka dengan raut wajah menggelap.
Dia membuang detonator rusak itu ke tanah, lalu menyentuh alat penerima sinyal radio pribadi di telinganya.
"Jalurkan frekuensi audio langsung ke perangkat komunikasi pria itu sekarang," perintah Zero dingin.
Sepuluh menit berlalu, Nio dan Nora berhasil bersembunyi di balik reruntuhan bangunan tua Sektor Sembilan.
Nora terduduk di atas lantai beton, napasnya memburu parah dengan pelipis dibasahi keringat dingin.
"Ngh... N-Nio... aku... aku sudah gak kuat lagi... kaki aku lemas banget..." rintih Nora pasrah.
Nio berlutut di samping Nora, memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan wanita itu untuk memastikan kondisinya.
"Tahan sebentar. Kita sudah cukup jauh dari pendar lampu jalanan," ujar Nio merendahkan vokalnya.
"A-aku takut banget, Nio... Pria tadi bilang kamu... kamu Subjek 0... Apa itu benar...?" tanya Nora bergetar.
Nio terdiam sejenak, meraba tekstur selembar kertas kosong di saku pakaiannya untuk menenangkan kepalanya yang mulai berdenyut.
'Kertas kosong ini gak pernah bohong sama gue. Gue harus tahu siapa diri gue sebenarnya!' batin Nio menegaskan niatnya.
"Gue gak tahu. Tapi yang jelas, dia dalang di balik hilangnya adikmu," sahut Nio mengalihkan fokus.
Tiba-tiba, earphone nirkabel di telinga Nio memancarkan statik nyaring yang memecah keheningan malam.
Kreeek... Bzzzt...
"Tes... tes... Bisakah kau mendengarku dengan jelas, wahai karya masa laluku yang terbuang...?" suara mekanis Zero bergema langsung di telinga Nio.
Nio refleks menyentuh earphone-nya, matanya menyempit tajam merespons retakan frekuensi liar itu.
"Bagaimana bisa lu meretas frekuensi audio pribadi gue?!" seru Nio menahan amarah.
"Gampang sekali. Kau sendiri yang menciptakan arsitektur frekuensi ini sepuluh tahun lalu saat masih menjadi bagian dari Proyek Mnemnosyne," kekeh Zero terkekeh puas dari seberang saluran.
"DIAAAMM!!! JANGAN SOK TAHU SOAL MASA LALU GUE!!!" bentak Nio dengan kapitalisasi penuh ketegangan.
Nora terkejut mendengar bentakan Nio, merapat ketakutan sambil memegang erat lengan jaket Nio.
"N-Nio... ada apa...? Siapa yang bicara di earphone kamu...?" bisik Nora panik.
"Sssht! Tetap diam!" tegas Nio menahan napasnya.
Suara mekanis Zero kembali terdengar, melantunkan ancaman dingin yang memicu residu ketakutan di dada Nio.
"Dengarkan aku baik-baik, Nio. Eksistensimu itu hanyalah anomali yang belum tereliminasi dari sistemku," kata Zero.
"Lu cuma penjahat frustrasi yang obsesif sama identitas orang lain," balas Nio tajam.
"Salah! Identitas adalah sumber penderitaan utama manusia! Aku membebaskan mereka dari kurungan sejarah!" seru Zero histeris dari balik saluran radio.
Zero menghentikan kekehannya sejenak, berganti menjadi hembusan napas berat yang mengintimidasi.
"Hentikan penyelidikanmu tentang Milo dan Stasiun Induk ini sekarang juga," ancam Zero pelan.
"Kalau gue gak mau, lu mau apa?!" tantang Nio keras kepala.
"Maka aku tidak hanya menghapus namamu secara permanen dari dunia ini..." bisik Zero dengan intonasi mematikan.
"Gue gak takut sama gertakan sampah lu," pangkas Nio.
"Tapi aku akan mencabut presensi wanita di sebelahmu itu! Aku akan membuat Nora tereliminasi total hingga tidak ada satu orang pun di dunia ini yang ingat kalau dia pernah bernapas!" ancam Zero kejam.
Nio membeku seketika, dadanya bergemuruh hebat mendengar ancaman langsung terhadap keselamatan Nora.
'Cih! Bajingan ini beneran mau jadiin Nora target eliminasi berikutnya!' batin Nio mengutuk dalam hati.
Nora melihat raut wajah Nio yang mendadak pucat, memegang jemari Nio dengan desahan napas terputus-putus.
"N-Nio... dia... dia mengancam aku, ya...?" rintih Nora pasrah, air matanya menetes pelan.
"Gak ada yang bisa menyentuh lu selama ada gue di sini," tegas Nio mencoba memberikan kepastian.
"Pilihan ada di tanganmu, Subjek 0. Serahkan pelat mikro itu di Loker B-12 Stasiun Induk, atau wanita itu menghilang malam ini," tutup Zero dingin.
Klik!
Sambungan radio itu terputus seketika, menyisakan keheningan pekat yang kembali menekan ruangan reruntuhan tersebut.
Nio mencabut earphone dari telinganya dan meremas alat kecil itu hingga hancur berkeping-keping.
Dia menatap Nora yang sedang menangis sesenggukan, merasakan penyangkalan batin yang sangat kuat di dalam dadanya.
"Nio... h-haruskah kita menyerah saja...? Aku gak mau kamu kenapa-napa..." bisik Nora memohon.
"Gak ada kata menyerah dalam kamus gue. Lu mau adikmu kembali, kan?" tanya Nio menatap lurus mata Nora.
"I-iya... aku mau Milo kembali..." sahut Nora pelan.
"Kalau begitu, percaya sama gue. Kita bakal ambil data fisik adikmu di Stasiun Induk malam ini juga," pangkas Nio mantap.
Nio berdiri, mengulurkan tangannya ke arah Nora untuk membantunya bangkit dari lantai beton yang dingin.
Nora menatap telapak tangan Nio, menyambut uluran tangan itu dan berdiri tegak dengan sisa kekuatannya.
"Aku percaya sama kamu, Nio... Sepenuhnya..." gumam Nora tulus.
"Bagus. Sekarang kita susun rekonstruksi rencana untuk menerobos Stasiun Induk Sektor Sembilan," ujar Nio.
Mereka berdua berjalan melangkah keluar dari reruntuhan bangunan, menembus kabut malam yang mulai menyelimuti kota.
Langkah kaki Nio terasa makin mantap, meski ancaman Zero terus terngiang-ngiang menguji daya tahan mentalnya.
Namun, baru saja mereka melangkah sejauh seratus meter menuju area stasiun, pendar cahaya sirine polisi mendadak memotong jalan utama.
Dua mobil patroli konsorsium berhenti melintang di depan mereka, dan beberapa petugas bersenjata lengkap keluar sambil mengarahkan laras senapan.
"JANGAN BERGERAK! KALIAN BERDUA DITAHAN ATAS TUDUHAN ANOMALI IDENTITAS!!" teriak seorang petugas dari balik megapon.