NovelToon NovelToon
Bukan Ibu Tiri Biasa

Bukan Ibu Tiri Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Panggil Aku Mama

Ujung telinganya pelan-pelan memerah.

Kian menurunkan gelas jus delima tanpa meminumnya.

Di meja makan, suara sendok menyentuh mangkuk mendadak terdengar terlalu jelas. Kevin tetap duduk di kepala meja, wajahnya datar, tapi tangannya berhenti di atas cangkir kopi. Ning bisa merasakan pria itu memperhatikan mereka tanpa ikut campur.

"Gak ada," jawab Kian akhirnya.

Terlalu cepat.

Ning menahan senyum yang hampir bocor. "Tidak ada?"

"Tidak."

"Semalam kamu masuk kamar."

"Gue cari Pak Kevin."

"Aku tahu."

"Ya sudah."

"Kamu bilang sesuatu."

Kian langsung mengambil roti panggang, lalu meletakkannya lagi karena sadar ia belum memberi selai. "Gak inget."

"Kamu yakin?"

"Orang ngantuk bisa ngomong sembarang."

Ning menatap telinganya yang makin merah. Hatinya lunak, begitu lunak sampai hampir sakit.

"Kian," katanya pelan, "kalau kamu bersedia, kamu boleh memanggilku Mama."

Seluruh tubuh Kian membeku.

Kevin mengangkat mata.

Ning menaruh kedua tangan di pangkuan, mencoba menjaga suaranya tetap tenang walau dadanya bergetar. "Aku tahu ini aneh. Untuk dunia, aku baru datang ke rumah ini. Dulu aku cuma tutor kamu. Sekarang aku... secara hukum memang istri Kevin, tapi untukmu, aku tidak mau memaksa apa pun."

Kian tidak menatapnya.

"Kalau kamu belum siap, tidak apa-apa. Kalau kamu tidak mau, juga tidak apa-apa." Ning menelan ludah. "Aku hanya ingin kamu tahu, pintu itu ada. Kamu boleh masuk kapan pun kamu mau."

Kian tetap diam.

Ning mulai merasa ia sudah salah langkah. Mungkin ia terlalu serakah. Baru semalam ia mendengar satu kata, pagi ini ia sudah meminta lebih. Anak ini baru saja melewati badai yang bahkan belum bisa ia sebutkan keras-keras di depan ibunya sendiri.

"Maaf," bisik Ning. "Aku tidak seharusnya..."

"Lo bangun semalam?"

Suara Kian memotongnya.

Ning terdiam. "Apa?"

Kian mengangkat wajah. Matanya tidak malu lagi. Ia marah.

"Lo bangun semalam?" ulangnya. "Lo dengar?"

Ning membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.

Kian berdiri mendadak. Kursinya bergeser keras.

"Jadi lo pura-pura tidur?"

"Kian..."

"Gue kira lo tidur beneran. Gue kira lo gak gerak karena udah pulas atau karena obatnya bikin lemas." Suaranya naik, bukan keras karena benci, tapi karena panik yang baru menemukan jalan keluar. "Gue masuk karena lampu koridor terlalu terang, oke? Gue takut lo keganggu. Tapi lo malah pura-pura tidur?"

Ning menatapnya dengan mata melebar.

Itu alasannya?

Kian marah bukan karena ia mendengar panggilan itu. Kian marah karena mengira ia mungkin tidak baik-baik saja.

"Aku takut kalau aku bergerak, kamu malu," jawab Ning pelan.

"Ya memang malu!"

Kevin menutup mata sebentar.

Ning hampir tertawa, tapi air matanya sudah lebih dulu naik.

Kian menunjuknya dengan tangan gemetar. "Tapi lain kali kalau lo bangun, bilang. Jangan diem aja. Orang bisa khawatir."

"Orang?"

"Gue!" bentak Kian, lalu langsung tampak menyesal karena terlalu jujur.

Ning menunduk. Bahunya bergetar kecil.

"Kamu khawatir padaku."

"Bukan begitu."

"Tadi kamu bilang."

"Gue salah ngomong."

"Kamu khawatir."

"Terserah!"

Kian menyambar tas sekolahnya dari kursi. Gerakannya kacau. Ia hampir menjatuhkan buku matematika, lalu memungutnya dengan wajah semakin merah.

"Gue berangkat."

Kevin berdiri. "Kian."

"Apa?"

"Sarapanmu belum selesai."

"Gue makan di mobil."

Ning juga berdiri, cepat-cepat menghapus air mata. "Aku antar sampai sekolah."

Kian berhenti di pintu ruang makan. Punggungnya kaku.

"Gak perlu."

"Aku ingin ikut."

"Lo nanti telat kerja."

"Aku sudah izin masuk lebih siang."

Kian tidak punya alasan lagi.

Perjalanan ke JEIS berlangsung dalam diam yang penuh suara.

Pak Liu mengemudi dengan sangat hati-hati. Kevin duduk di kursi depan, memberi ruang bagi Ning dan Kian di baris tengah. Kian menatap jendela, earbud terpasang, tapi Ning bisa melihat kabelnya tidak tersambung ke ponsel.

Di pangkuannya, kotak bekal yang tadi belum sempat ia makan terbuka sedikit. Roti panggangnya masih utuh.

Ning ingin bicara, tapi ia menahan diri.

Pintu itu ada.

Ia sudah mengatakannya.

Sekarang ia harus menunggu.

Mobil melewati jalanan Pondok Indah yang ramai oleh kendaraan sekolah. Seragam putih biru, tas mahal, orang tua yang terburu-buru, satpam sekolah mengatur antrean mobil. Semua terlihat biasa, seperti pagi sekolah lainnya.

Tapi di dalam Alphard, udara terasa seperti menahan napas.

Ketika gerbang JEIS mulai terlihat, Kian tiba-tiba melepas earbud.

"Tadi pagi," katanya, menatap lutut sendiri, "lo bilang pintunya ada."

Ning menoleh pelan.

Kevin melihat dari kaca spion.

"Iya," jawab Ning.

Kian menarik napas dalam.

Tangannya mengepal di atas tas sekolah. Rambut peraknya jatuh menutupi sebagian wajah, tapi Ning melihat ujung telinganya merah sekali.

Ia teringat malam pertama perempuan itu berdiri di depan pintu rumah dan ia mengusirnya tanpa memberi kesempatan bicara. Ia teringat nomor ponsel yang diselipkan di celah pintu. Ia teringat tangan dingin yang memeluknya saat benturan mobil datang, juga kotak bekal yang selalu muncul di meja tanpa menuntut ucapan terima kasih.

Selama enam belas tahun, kata itu hanya hidup di makam, di nama karakter gim, dan di tempat paling sunyi dalam kepalanya. Setiap kali ingin mengucapkannya, lidah Kian terasa seperti menggigit kaca.

Sekarang orangnya duduk di sampingnya.

Bukan di foto.

Bukan di cerita orang dewasa.

Bukan di makam.

Di sampingnya, menunggu tanpa memaksa.

"Kalau gue masuk," katanya, suara kecil, "jangan tutup."

Ning menutup mulut dengan tangan.

"Tidak akan."

Kian menelan ludah. Ia tampak seperti sedang menghadapi ujian paling sulit dalam hidupnya. Lebih sulit daripada matematika, lebih sulit daripada bicara pada guru BK, lebih sulit daripada mengakui ia pernah menangis.

Lalu, sangat pelan, tapi sangat jelas, ia berkata:

"Mama."

Dunia Ning berhenti.

Tidak ada suara mobil. Tidak ada klakson. Tidak ada satpam. Tidak ada kota.

Hanya satu kata.

Mama.

Kian masih menatap bawah, seolah kalau ia mengangkat wajah, keberaniannya akan pecah.

Ning ingin memeluknya.

Keinginan itu begitu kuat sampai kedua tangannya bergerak sendiri. Tapi ia berhenti di tengah jalan. Anak ini sudah berjalan begitu jauh pagi ini. Ia tidak boleh membuat satu langkah besar itu berubah menjadi rasa malu di depan gerbang sekolah.

Jadi Ning hanya menahan kedua tangannya di pangkuan, mengepal di atas rok, membiarkan air mata turun tanpa menyentuh Kian.

Pengendalian diri itu lebih sulit daripada semua hal yang pernah ia lalui sejak membuka mata di rumah sakit.

"Kalau mau nangis," gumamnya cepat, "jangan keras-keras. Ini depan sekolah."

Ning gagal.

Air matanya jatuh deras.

Ia menutup mulut, tapi bahunya tetap bergetar. Tawa dan tangis keluar bersamaan, membuat napasnya patah-patah.

"Iya," bisiknya. "Mama tidak akan keras-keras."

Kian mengusap hidung dengan punggung tangan, lalu pura-pura melihat luar jendela. "Udah. Jangan ulang-ulang."

"Boleh Mama dengar sekali lagi?"

"Gak."

"Sekali saja."

"Tadi sudah."

"Kian..."

"Nanti," katanya sangat pelan.

Ning memegang dadanya.

Nanti.

Kata itu pun sudah cukup.

Di kursi depan, Kevin menatap kaca spion. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, senyumnya muncul tanpa ia sembunyikan. Tipis, lelah, tapi terang.

Pak Liu, yang sejak tadi pura-pura tidak mendengar, mengerjapkan mata cepat-cepat.

Mobil berhenti di depan gerbang sekolah.

Kian membuka pintu dengan tergesa, seolah takut kalau tinggal satu detik lagi, ia akan dipeluk di depan seluruh JEIS.

Tentu saja Ning tidak sekejam itu.

Ia hanya berkata lembut, "Belajar yang baik."

Kian berhenti setengah langkah.

"Iya."

Ia turun.

Felix sudah menunggu di dekat pos satpam dengan tas selempang dan wajah penuh energi yang terlalu pagi untuk ukuran manusia normal. Begitu melihat Ning menunduk dari dalam mobil sambil mata merah, ia langsung mendekat.

"Ci Ning, lo kenapa? Kian bikin nangis lagi?"

Kian langsung menarik kerah hoodie Felix. "Jangan ribut."

Ning menghapus air mata sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, Felix."

Felix menatapnya, lalu menatap Kian. "Ini aura keluarga pagi-pagi kok intens banget?"

Kian membuang muka.

Felix makin curiga. "Bro?"

Kian menarik napas seperti hendak masuk ke kolam dingin.

Lalu ia berkata, lebih cepat dari sebelumnya, "Gue tadi manggil dia Mama. Puas?"

Mulut Felix terbuka.

Tidak ada suara selama tiga detik.

Lalu ia menunjuk Ning, menunjuk Kian, menunjuk Kevin di kursi depan, lalu kembali menunjuk dirinya sendiri.

"Sebentar. Jadi yang kemarin tutor, terus jadi istri Om Kevin, sekarang jadi Mama lo?" Felix menepuk dahinya sendiri. "Ini... naik generasi brutal banget, bro!"

Kian menendang sepatunya pelan. "Berisik."

"Gue harus panggil apa sekarang? Tante Ning? Ci Ning? Aduh, pusing."

"Panggil Tante Ning," kata Kian cepat.

Felix menatapnya, senyum usil muncul. "Wih, protektif."

"Masuk kelas."

"Oke, oke." Felix mengangkat tangan, lalu membungkuk dramatis ke arah mobil. "Selamat pagi, Tante Ning. Selamat datang di keluarga absurd kami."

Ning akhirnya tertawa di tengah air mata.

Sore harinya, Felix pulang ke rumah dengan kecepatan orang membawa berita negara.

Yenni baru duduk di ruang keluarga ketika anaknya muncul, masih memakai seragam, napas terengah.

"Ma!"

Yenni mengangkat wajah dari cangkir teh. "Kenapa?"

"Ma, kamu tahu gak? Kian manggil guru les itu Mama!"

Yenni memegang cangkir dengan sangat tenang.

"Aku tahu."

Felix membeku.

"Kamu tahu?"

Yenni tersenyum.

"Iya."

Felix menatap ibunya seperti dunia baru saja mengkhianatinya.

"Semua orang tahu?" suaranya naik satu oktaf. "Cuma aku yang gak tahu?!"

1
Siti Hawa
ceritanya bagus, ku kasih Bintang 5 thoor..
Siti Hawa
lanjut thoor.. mawar untuk mu
Anbu Hasna
sementang aku juga punya pr essay Bahasa, aku disuru tunggu juga. sama kayak Kian... 🤣🤣🤣
neng ade
sukaa banget dengan interaksi keluarga kecil ini .. ❤️
neng ade
akhirnya Ning menemukan kebahagiaan nya bersama anak dan suami nya ❤️
neng ade
😭😭 selamatkan Ning
neng ade
nyesek ..🥹
neng ade
sedikit demi sedikit mulai ada titik terang
neng ade
syukurlah mereka semua nya baik-baik aja
neng ade
semoga Ning bisa selalu dekat dengan Kian dan Kevin ❤️
neng ade
semoga suatu saat nanti Kian bisa menerima kehadiran Ning
Anbu Hasna
hal yang sama yg aku ucapin tiap Mama ketemu bestinya... "setengah bulan lagi kujemput, aku mau tidur". 🤣🤣
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya
Anbu Hasna
Kian mulai ogah punya bapak kulkas
End Shara
sukaa ceritanya,beda dr yg lain...semangat k up yg banyak
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!