Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 SIRENS OVER BAYOER
Gema benturan tinju dan adu otot di SMK PGRI Cikampek semakin gila. Suasana gedung tiga lantai itu benar-benar menyerupai neraka kecil di tengah hari yang terik.
Di Lantai 3, duel para puncak akhirnya menemui titik akhir.
BAM!
Hyto Immanuel mendaratkan knee strike telak ke ulu hati Azasil, membuat musuh bebuyutannya itu jatuh berlutut memuntahkan cairan bening sebelum akhirnya terjerembab pingsan. Tak jauh dari sana, Kairi Shinki melepaskan sabetan tendangan melingkar yang langsung menumbangkan Kaito ke lantai beton.
Kedua anggota Trio Raja Langit itu tersengal-sengal parah. Napas mereka memburu, tubuh bertato tipis mereka dipenuhi lebam. Tanpa tenaga tersisa untuk berdiri tegap, Hyto dan Kairi akhirnya menyandarkan punggung ke dinding koridor, terduduk lemas merapikan seragam mereka yang robek.
Sementara itu, Argantara masih berdiri tegak di depan tubuh Alex Lenord yang sudah terlentang tak berdaya. Meskipun seluruh bajunya basah oleh keringat dan bahunya naik-turun menahan rasa lelah yang luar biasa, mata Argantara tetap memancarkan dominasi mutlak.
Argantara tidak duduk. Dia melangkah perlahan ke tepi balkon lantai 3, memegangi pembatas besi, lalu melemparkan pandangannya ke bawah—menatap arena pertempuran yang masih membara.
Di Lantai 2, pertarungan justru belum menunjukkan tanda-tanda mereda!
Meskipun pertarungan anggota kelas 3 sudah usai, Ryuka dan Zela masih terus bertukar adu jotos membabi buta! Keduanya seolah lupa pada rasa sakit. Setiap kali pukulan Zela mendarat di rahang Ryuka, Ryuka membalasnya dengan hook mematikan ke rusuk Zela. Mereka berputar, saling membanting, lalu bangkit lagi sambil tertawa gila di tengah reruntuhan meja kelas yang hancur.
Nadeo dan Erik yang menyaksikan dari ujung lorong sampai dibuat merinding. Bagi Ryuka dan Zela, ini bukan lagi sekadar tradisi sekolah—ini adalah pelampiasan rasa haus bertarung yang terpendam.
Namun, klimaks sejati dari hari yang berdarah ini terjadi di tempat tertinggi... Atap Sekolah.
BOOOM!!
Sebuah pukulan telak melayang secepat kilat. Tangan kanan Friza melesat membelah udara, menghantam rahang kiri Maruyama Ken dengan daya hancur luar biasa. Benturan itu begitu keras hingga menghasilkan gema di udara atap gedung.
Tubuh Ken terlempar ke udara sebelum akhirnya menghantam ubin beton dengan keras. Papan catur kayu di dekatnya hancur terinjak-injak.
Gedung hening seketika di puncak sana.
Ken terbaring terlentang menatap langit siang Cikampek yang membara. Wajah tampannya penuh luka lebam, sudut bibirnya mengalirkan darah segar, dan dadanya naik-turn dengan sangat cepat. Ken... telah tumbang. Namun, dia sama sekali tidak kehilangan kesadaran.
Perlahan, Ken malah menyunggingkan senyuman tipis. Tawa pelan keluar dari tenggorokannya yang serak.
"Kh... Khahaha..."
Friza melangkah mendekati tubuh Ken yang terbaring. Dengan napas yang masih tersengal, Friza mendudukkan badannya di pinggiran ubin—tepat di samping tubuh Ken yang terlentang. Friza mengambil sebatang rokok dari sakunya, menyulutnya, lalu menghembuskan asapnya ke atas.
Ken melirik Friza dari sudut matanya, masih terkekeh pelan. "Sepertinya lu udah tambah kuat aja semenjak terakhir kita ketemu, Friza..."
Friza cuma tersenyum tipis, menatap lurus ke depan. "Gua gak pernah berhenti, Ken." Friza menghembuskan asap rokoknya lagi, lalu menoleh. "Masuk geng gua Ken. Gabung ke CBC."
Ken tertawa pelan mendengarnya, lalu menggelengkan kepala samar. "Lu tahu jawaban gua. Gua gak tertarik sama pertarungan atau fraksi apa pun. Gua cuma bakalan bertarung... kalau ada yang nyerang gua duluan."
"Masih tetep lone wolf yang membosankan," gumam Friza pelan.
Keheningan melingkupi mereka berdua selama beberapa detik. Hanya ada deru angin siang dan asap rokok Friza yang melayang. Bagi mereka berdua, ikatan di antara mereka jauh lebih rumit daripada sekadar persaingan dua berandalan sekolah.
Mereka adalah teman masa kecil.
Dulu, saat mereka masih bocah, Ken selalu berada di depan Friza. Ken punya bakat alami bertarung yang luar biasa dan selalu memiliki pengikut atau bawahan di sekitarnya. Sebaliknya, Friza dulu adalah anak tunggal yang berjalan sendirian tanpa ada yang mengikutinya. Friza selalu mengagumi Ken, lalu mulai berlatih keras dan mengejar ketertinggalannya agar bisa diakui oleh Ken.
Saat memasuki jenjang SMP, usaha keras Friza membuahkan hasil. Kekuatannya meningkat pesat hingga akhirnya dalam satu duel sengit, Friza berhasil mengalahkan Ken!
Friza berpikir bahwa setelah kekalahan itu, Ken akan mengejar balik dirinya—seperti yang selalu Friza lakukan dulu ketika dia kalah. Friza ingin Ken menatap dirinya sebagai rival sejati. Namun, harapan Friza pupus. Ken justru menerima kekalahannya dengan santai, melangkah mundur, dan sama sekali tidak berniat mengejar Friza balik. Ken memilih berhenti berambisi dan menjadi seorang lone wolf.
Hal itu membuat Friza frustrasi setengah mati. Friza ingin membuat Ken kembali melihat dirinya!
Saat masuk SMK, Friza mendirikan fraksi sendiri di sekolah, sedangkan Ken tetap berjalan sendirian. Namun anehnya, meski Ken tidak memiliki fraksi, kekuatan Ken mendadak meroket menjadi sebuah anomali yang berada di atas segalanya. Mereka berduel berkali-kali di awal masa SMK, dan Friza selalu kalah. Bahkan ketika bertarung melawan Argantara dulu, Friza sempat menelan kekalahan pahit.
Hingga akhirnya, Friza memutuskan turun ke dunia malam. Dia masuk ke dalam organisasi CBC (Cikampek Boys Celebrity) dan berhasil merebut posisi sebagai pemimpin tertinggi. Kekuatannya meledak gila-gilaan. Dalam sebuah insiden rahasia, Friza bahkan sanggup bertarung dan menumbangkan Trio Raja Langit—Argantara, Hyto, dan Kairi—sekaligus tiga-tiganya sendirian!
Tapi, apakah Friza puas? Tidak sama sekali.
Bagi Friza, mengalahkan Trio Raja Langit tidak ada artinya jika Ken belum mengakuinya sebagai rival seimbang. Rasa frustrasi itu membuat Friza makin gila dan sering bolos sekolah.
Hingga satu tragedi pecah di awal semester ini. Seorang guru bertindak tidak adil. Guru itu berniat mengeluarkan Ken dari sekolah karena Ken sering bolos, namun sang guru sengaja membiarkan Friza lolos karena takut pada koneksi geng CBC di luar. Friza murka! Bukan karena dia membela Ken, tapi karena jika Ken dikeluarkan dari sekolah, maka tujuan hidup Friza di Bayoer akan musnah seketika.
Dalam kemarahannya, Friza menghajar guru itu hingga babak belur di lorong sekolah. Insiden itulah yang membuat Friza dijatuhi hukuman skorsing selama tiga bulan oleh pihak sekolah.
Friza yang muak akhirnya membubarkan fraksinya di dalam sekolah. Dia memilih menjadi lone wolf—sama persis seperti yang dilakukan Zela.
Sebenarnya, cita-cita terbesar Friza bukanlah sekadar menjadi penguasa sekolah. Friza ingin mencatatkan namanya dalam sejarah baru Kota Cikampek. Dia ingin menaklukkan seluruh aliansi jalanan dan menundukkan era baru ini. Namun, Friza sadar... selama dia belum diakui secara mutlak oleh Ken—orang yang pernah dia kagumi sejak kecil—setiap pertarungan yang dia jalani rasanya hampa. Rasa hampa itulah yang menyumbat jalan dan menahan ambisi besarnya.
"Lu tau, Ken..." bisik Friza pelan, mematikan puntung rokoknya di beton atap. "Pertarungan lawan orang sekuat apa pun di luar sana... gak akan pernah terasa memuaskan... kalau lu masih natap gua pakai pandangan yang sama kayak pas kita masih bocah."
Ken diam menatap langit. Senyum tipisnya belum pudar. "Lu itu udah kuat, Friza. Lu cuma terlalu terbebani sama bayangan masa lalu lu sendiri."
Friza menghela napas panjang, lalu berdiri dari posisinya. "Mungkin. Tapi hari ini... gua udah menang dari lu."
Tepat di saat Friza menyelesaikan ucapannya...
KRAAAAKKK! BAMM!!
Sebuah suara dentuman besi patah yang sangat keras bergema dari arah pintu gerbang depan SMK PGRI Cikampek!
Argantara yang sedang berdiri di lantai 3 langsung membelalakkan matanya. Dia menunduk kencang menatap ke arah gerbang utama sekolah.
Gerbang besi raksasa Bayoer yang kokoh... telah dirobohkan total! Puluhan kayu, besi, dan truk pickup bekas dipakai buat merobohkan barikade tersebut. Dan dari luar gerbang, gelombang ratusan siswa berseragam beda—gabungan dari sekolah-sekolah rival terkuat di Cikampek—melesat masuk menyerbu halaman Bayoer bagaikan semut hitam!
"MEREKA DATANG! SERANGAN DARI LUAR!!" teriak siswa kelas 1 di lapangan bawah panik.
NEEEW-WOOOW-NEEEW-WOOOW!!
Sirine darurat sekolah berbunyi nyaring! Suara sirine merah yang melengking membelah udara SMK PGRI Cikampek, memberi peringatan otomatis bahwa benteng pertahanan Bayoer telah diserang oleh aliansi musuh luar!
Di Lantai 2, pukulan Ryuka dan Zela mendadak terhenti di udara. Keduanya menoleh cepat ke arah jendela yang bergetar hebat akibat raungan sirine dan teriakan ratusan musuh di luar.
Di Atap Sekolah, Friza dan Ken sama-sama menoleh ke tepi atap, menatap lautan musuh yang mulai membanjiri halaman sekolah mereka.
Puncak Tradisi Bayoer telah diinterupsi... Perang yang sebenarnya baru saja dimulai!