NovelToon NovelToon
Terjebak di Antara Si Kembar: Dosa Terlarangku

Terjebak di Antara Si Kembar: Dosa Terlarangku

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Cinta Terlarang / Beda Usia / Satu wanita banyak pria / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: DulceSilencio

Valentina Mahendra tidak pernah benar-benar menjadi putri keluarga Mahendra. Ia dibesarkan sebagai pengganti Sofia, gadis yang mati meninggalkan luka di rumah itu, lalu dijadikan syarat dalam aliansi politik dengan keluarga Raharja. Ketika Sebastian Mahendra membakar surat penerimaannya dari Universitas Nasional dan memaksanya menikah, Valentina akhirnya melawan.
Namun kebebasan tidak datang tanpa harga. Di satu sisi ada Sebastian, pewaris dingin yang mengendalikan segalanya dengan rasa takut. Di sisi lain ada Satria, saudara kembarnya yang menawan, berbahaya, dan terlalu pandai membaca kelemahannya. Di luar mereka, Alexander Raharja menawarkan perlindungan yang terasa seperti jalan keluar, sementara Mateo Raharja datang dengan ketulusan yang justru membuat semuanya semakin rumit.
Di antara cinta terlarang, rahasia adopsi, permainan kekuasaan, dan kematian Sofia yang tidak pernah benar-benar selesai, Valentina harus memilih: tetap menjadi bidak yang diperebutkan, atau menghancurkan papan permainan yang sejak awal dibangun di atas hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DulceSilencio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Surat yang Terbakar

Kertas itu gemetar di antara jemarinya.

Valentina melintasi lorong Kediaman Mahendra dengan surat penerimaan dari Universitas Nasional dipeluk rapat ke dada, seolah kapan saja seseorang bisa merampasnya. Delapan tahun. Delapan tahun tidur di bawah atap orang lain, makan di meja tempat tak seorang pun benar-benar menginginkannya, menelan setiap penghinaan dengan kepala tertunduk. Semua demi tiba di saat ini: selembar kertas berlogo universitas, dengan namanya tercetak di bawahnya. Valentina Mahendra. Diterima di Fakultas Kesejahteraan Sosial.

Ia mendorong pintu ruang kerja Sebastian tanpa mengetuk.

Pria itu berdiri di dekat jendela, membelakanginya. Cahaya senja memotong siluetnya di kaca: setelan gelap, bahu tegak, postur seseorang yang seumur hidupnya tak pernah perlu meminta izin kepada siapa pun. Di usia dua puluh lima, Sebastian Mahendra sudah mengendalikan Grup Mahendra, kekayaan keluarga, dan setiap orang yang keluar-masuk rumah itu.

Termasuk dirinya.

"Aku perlu bicara denganmu," kata Valentina dari ambang pintu.

Sebastian tidak menoleh.

"Tutup pintunya."

Valentina patuh. Bunyi klik kait pintu terdengar terlalu keras dalam sunyi ruang kerja itu. Dinding berlapis kayu gelap, rak-rak berisi buku yang tak pernah dibaca, perapian yang menyala padahal kota itu malam itu tidak cukup dingin untuk membenarkannya. Segala sesuatu di ruangan itu ada untuk mengingatkan siapa pun yang masuk tentang siapa yang berkuasa.

Valentina berjalan ke meja dan meletakkan surat itu di atas permukaan mahoni.

"Aku diterima di Universitas Nasional," katanya, lalu membenci getar dalam suaranya sendiri. "Kesejahteraan Sosial. Semester dimulai tiga minggu lagi."

Sebastian berbalik perlahan. Matanya turun ke surat itu, menyapunya tanpa ekspresi, lalu kembali naik ke wajah Valentina. Ia tidak mengatakan apa pun selama beberapa detik. Valentina merasa jantungnya berdetak sampai ke tenggorokan.

"Lalu?" tanya Sebastian.

"Aku butuh izinmu untuk mendaftar."

Kata itu membakar lidahnya. Izin. Ia sudah delapan belas tahun dan masih membutuhkan persetujuan kakak angkatnya untuk kuliah. Seolah ia anak kecil. Seolah ia pegawai.

Seolah ia benda.

Sebastian mengitari meja dengan langkah lambat. Ia mengambil surat itu dengan dua jari, menahannya setinggi mata, lalu membacanya dalam diam. Valentina mengepalkan tangan di dalam saku hoodie-nya.

"Kesejahteraan Sosial," ulang Sebastian, seolah kata-kata itu meninggalkan rasa tidak enak di mulutnya. "Untuk apa?"

"Untuk belajar. Untuk punya karier. Untuk..."

"Untuk tidak ada gunanya."

Sebastian berjalan ke arah perapian. Valentina mengikutinya dengan tatapan, belum sempat memahami, sampai pria itu mengulurkan tangan dan menjatuhkan surat itu ke atas lidah api.

Api menangkap salah satu sudutnya. Kertas itu melengkung, menghitam, dan lambang Universitas Nasional lenyap di bawah nyala oranye. Huruf-huruf namanya berubah bentuk. Valentina Mahendra. Tinta menguap menjadi seutas asap hitam yang naik lurus ke langit-langit lalu pecah di dekat lis gipsum.

Valentina tidak berkedip. Tidak berteriak. Ia hanya menatap sudut terakhir kertas itu habis dimakan api, melihat tepinya yang membara menggulung dan jatuh menjadi serpihan kelabu di dalam perapian. Tiga minggu ia menyiapkan pidato untuk momen ini. Tiga minggu berlatih di depan cermin kamar mandi: wajah seperti apa yang harus dipasang, nada seperti apa yang harus dipakai, bagaimana meminta izin tanpa terdengar memohon. Dan Sebastian bahkan tidak membutuhkan tiga puluh detik untuk menghancurkan semuanya.

Panas api membakar wajahnya. Di dalam dirinya, segala sesuatu membeku.

"Apa yang kamu lakukan?" bisiknya.

Sebastian menepis abu tak terlihat dari lengan jasnya.

"Tempatmu bukan di universitas. Tempatmu di sini." Ia kembali ke meja, membuka laci, mengambil sebuah map, lalu menjatuhkannya di depan Valentina. "Keluarga Raharja sudah menerima syaratnya. Pernikahan akan dilangsungkan empat bulan lagi."

"Pernikahan?"

"Aliansi antara Grup Mahendra dan keluarga Raharja. Kamu syaratnya."

Suara Sebastian datar, administratif, seperti sedang membacakan kontrak merger perusahaan. Valentina menunduk ke arah map. Ia melihat sebuah nama: Mateo Raharja. Sebuah foto: pemuda berseragam militer dengan senyum terbuka dan mata terang. Di bawahnya, lembar data yang mirip daftar riwayat hidup: Mayor Angkatan Darat, dua puluh satu tahun, anak angkat Senator Alexander Raharja Solihin.

Anak angkat.

Sama seperti dirinya.

"Tidak," kata Valentina.

Sebastian menutup laptop dengan hentakan kering.

"Ini bukan pertanyaan."

"Aku tidak akan menikah dengan orang asing hanya supaya kamu bisa menutup bisnis!"

"Ini bukan bisnis. Ini kelangsungan hidup keluarga ini." Sebastian menaruh kedua tangan di meja dan mencondongkan tubuh. Bayangannya menutupi map, foto prajurit yang tersenyum itu, juga tangan Valentina yang gemetar. "Keluarga Raharja menguasai tiga komite di Senat. Tanpa aliansi itu, Grup Mahendra kehilangan tender Veracruz. Tanpa Veracruz, imperium ini runtuh dalam delapan belas bulan. Kamu mengerti artinya?"

"Artinya kamu menjualku."

Rahang Sebastian mengeras.

"Artinya aku melindungi semua yang memberimu makan, pakaian yang kamu pakai, dan atap di atas kepalamu. Seharusnya kamu berterima kasih."

Sebastian menatapnya seperti orang menatap perabot yang bergeser dari tempatnya.

"Kamu bukan Sofia," katanya, suaranya turun setengah nada. "Kamu tidak pernah menjadi Sofia. Kamu pengganti. Dan pengganti tidak memilih."

Udara lenyap dari ruangan.

Valentina mengenal kata itu. Ia telah mendengarnya ribuan kali dalam delapan tahun: di lorong, dari mulut para pegawai, dalam tatapan tamu yang melihatnya datang ke jamuan keluarga. Si pengganti. Anak perempuan yang mereka ambil dari panti asuhan untuk menempati tempat Sofia Mahendra, putri kandung yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di usia sepuluh tahun. Valentina memakai nama keluarga Sofia, kamar Sofia, pakaian Sofia, dan tempat Sofia di meja makan. Tetapi ia tidak akan pernah menjadi Sofia.

Semua orang tahu. Tak ada yang mengatakannya keras-keras.

Sampai sekarang.

Sebuah kenangan menembusnya tiba-tiba, begitu jernih hingga ia nyaris bisa mencium disinfektan murah dan kacang yang hangus.

Ia berusia sepuluh tahun. Halaman Panti Asuhan Harapan, di pinggiran kota. Tiga anak perempuan yang lebih besar merebut buku gambarnya dan merobeknya lembar demi lembar. Valentina duduk di tanah, lututnya lecet, matanya kering karena di panti itu menangis tidak ada gunanya.

Sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar. Pemuda tujuh belas tahun turun dari kursi belakang. Tinggi, ramping, mengenakan setelan yang tampak lebih mahal daripada seluruh bangunan panti. Anak-anak itu berhenti merobek buku. Kepala panti berlari menyambutnya.

Pemuda itu berjalan langsung ke arah Valentina, mengulurkan tangan, dan berkata:

"Mulai hari ini, kamu bagian dari Keluarga Mahendra."

Valentina mendongak. Mata pemuda itu gelap, dingin, sepenuhnya yakin pada dirinya sendiri. Mata yang sama yang kini menatapnya dari seberang meja sementara abu surat penerimaannya padam di perapian.

Sebastian tidak berubah. Ia yang berubah.

Kenangan itu larut. Perapian, bau kertas terbakar, map berisi foto prajurit, semuanya kembali menghantam sekaligus. Valentina mengusap matanya dengan punggung tangan, meski ia tidak sedang menangis. Ia tidak akan menangis. Tidak di depan Sebastian.

"Delapan tahun," katanya, dan suaranya tak lagi bergetar. "Delapan tahun aku tidak mengeluh. Tidak meminta apa pun. Aku bangun pukul lima untuk belajar sebelum rumah ini terjaga. Aku meminjam buku karena kamu tidak memberiku uang untuk membelinya. Aku ikut ujian masuk hari Sabtu pukul enam pagi, naik bus umum karena aku tidak punya mobil, sopir, atau pengawal. Dan aku lulus. Sendiri. Tanpa bantuanmu, tanpa uangmu, dan tanpa nama keluargamu."

Ia berhenti sejenak. Sebastian mengamatinya tanpa bergerak, dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca.

"Yang kuminta hanya satu tanda tangan," lanjut Valentina. "Satu tanda tangan, Sebastian. Dan kamu membakarnya."

Sebastian tidak menjawab. Ia duduk di balik meja, membuka laptop, lalu mulai mengetik seolah percakapan itu sudah selesai. Seolah Valentina tidak lagi berada di sana. Seolah Valentina tidak pernah ada.

Valentina tidak bergerak.

Matanya menyapu ruang kerja itu. Rak-rak, ijazah berbingkai, jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh lewat seperempat. Dan di atas meja, setengah meter dari tangan kanan Sebastian, Beretta perak yang selalu diletakkannya di sana seperti pemberat kertas.

Valentina tahu Sebastian menyimpannya tanpa peluru. Itu simbol, bukan senjata. Pengingat visual tentang siapa yang memegang kuasa di rumah itu. Dalam delapan tahun, tak ada yang pernah menyentuh pistol itu selain Sebastian. Para pegawai memutari meja agar tidak lewat terlalu dekat. Kepala pelayan membersihkannya dengan sarung tangan, tanpa berani mengangkat mata.

Valentina tidak pernah menyentuhnya.

Api berderak di perapian. Sisa terakhir surat itu hancur menjadi abu kelabu. Bau kertas terbakar bercampur dengan kayu cedar dan kulit tua kursi-kursi. Di suatu tempat di kediaman itu, sebuah jam berdentang pukul setengah delapan.

Valentina melangkah ke arah meja.

Sebastian terus mengetik. Ketukan jarinya pada tombol-tombol terdengar ritmis, presisi, tak peduli.

Satu langkah lagi.

Sol sepatunya tidak berbunyi di atas karpet Persia. Sandaran kursi Sebastian tinggal sejauh lengan. Beretta itu, setengah meter.

Jari-jari Sebastian berhenti di atas keyboard. Ia tidak mengangkat wajah, tetapi bahunya menegang satu milimeter, seperti makhluk yang merasakan perubahan di udara.

Valentina mengulurkan tangan.

Ujung jarinya menyentuh laras. Logamnya dingin, jauh lebih dingin daripada yang ia bayangkan. Ia menutup jemari pada gagang pistol dan mengangkatnya dari meja. Beratnya lebih dari perkiraannya.

Sebastian mengangkat wajah.

Dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Valentina melihat sesuatu yang berbeda di matanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!