Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15 - Tidak Ada Jalan Pulang yang Mudah
Foto dari pengadilan muncul di akun gosip malam itu.
Judulnya dibuat seolah tahu segalanya.
Dokter Cantik Rebut Kembali Mayor dari Janda Sahabatnya?
Di bawahnya ada foto Arga menatap Nadira di koridor Pengadilan Agama. Ada juga foto lama Laras dan Kendra di rumah sakit, ketika Kendra memeluk kaki Arga sambil menangis.
Narasinya jahat.
Nadira disebut istri yang tiba-tiba muncul setelah Arga selamat dan mulai mendapat sorotan. Laras disebut janda pahlawan yang selama ini didampingi Arga. Kendra disebut anak kecil yang kehilangan figur ayah karena Nadira cemburu.
Maya mengirim tangkapan layar itu ke Nadira dengan pesan penuh huruf kapital.
JANGAN BUKA KOMENTAR.
Tentu saja Nadira sudah membukanya.
Ia duduk di ruang istirahat dokter, menatap layar dengan perasaan aneh. Komentar datang seperti batu.
Kasihan anaknya.
Dokter kok tega sama janda.
Kalau benar istri sah kenapa baru muncul sekarang?
Pasti karena Arga dari keluarga kaya.
Pelakor berkedok istri sah.
Nadira mematikan layar.
Ia tidak menangis.
Mungkin karena terlalu lelah. Mungkin karena komentar orang asing tidak lebih menyakitkan daripada ucapan orang yang ia sayangi. Atau mungkin karena ia sudah mulai kebal menjadi tokoh jahat dalam cerita orang lain.
Pintu ruang istirahat terbuka.
Perawat Santi masuk dengan wajah cemas. "Dok, jangan pedulikan akun gosip itu."
Nadira menatapnya.
Santi menggigit bibir. "Maaf, Dok. Semua orang lihat."
"Tidak apa-apa."
"Kami tahu Dokter tidak seperti itu."
Kalimat itu sederhana, tapi membuat dada Nadira hangat.
"Terima kasih."
Santi meletakkan teh hangat di meja. "Ini dari pantry. Bukan dari orang asing. Saya yang buat."
Nadira tersenyum. "Saya percaya."
Setelah Santi pergi, Nadira membuka ponselnya lagi. Ada pesan dari Arga.
Aku sudah lihat. Jangan jawab apa pun. Aku urus.
Nadira membalas cepat.
Jangan membuat masalah lebih besar.
Balasan Arga masuk.
Aku akan membuat masalahnya kembali ke orang yang membuatnya.
Nadira memejamkan mata.
Itu terdengar seperti Arga lama.
Tapi kali ini ia tidak sepenuhnya kesal.
Di rumah Wijaya, Arga berdiri di ruang kerja Papa Surya. Bima ada di sana, bersama seorang staf IT kepercayaan keluarga.
"Akun itu menerima materi dari siapa?" tanya Arga.
Staf IT menjawab, "Masih dilacak, Pak. Tapi foto pengadilan dikirim dari nomor sekali pakai. Foto rumah sakit kemungkinan dari seseorang di dalam rumah sakit atau tamu waktu itu."
Bima menambahkan, "Narasi mengarah untuk membela Bu Laras dan menjatuhkan Dokter Nadira. Tapi gaya bahasanya mirip akun yang biasa dipakai tim PR keluarga Hartono."
Arga menatap layar.
"Vania."
Papa Surya duduk di kursi, wajahnya dingin. "Kamu mau apa?"
"Buat klarifikasi."
"Klarifikasi dari siapa?"
"Dari aku."
Papa Surya menatapnya tajam. "Kalau kamu bicara emosional, Nadira bisa makin diseret."
"Aku tahu."
"Kamu yakin?"
Arga mengangguk.
Ia mengambil ponsel dan menulis pernyataan singkat. Tidak menyebut detail operasi rahasia. Tidak menyerang Kendra. Tidak membuka aib Laras terlalu jauh.
Tapi jelas.
Nadira Prameswari adalah istri sah saya sejak empat tahun lalu. Selama saya bertugas dan tidak dapat kembali, beliau tinggal bersama keluarga saya dan menjalankan peran sebagai menantu dengan penuh hormat. Laras adalah istri almarhum sahabat saya, dan Kendra adalah anak sahabat saya. Saya bertanggung jawab membantu mereka karena amanah almarhum, bukan karena hubungan pernikahan atau hubungan romantis. Setiap narasi yang menyebut Nadira sebagai perebut adalah fitnah.
Arga berhenti.
Lalu menambahkan satu kalimat.
Orang yang saya sakiti dalam pernikahan ini adalah Nadira. Jangan menambah luka itu dengan kebohongan.
Ia menunjukkan pada Papa Surya.
Papa membaca lama, lalu mengangguk.
"Kirim."
Pernyataan itu diunggah lewat akun resmi keluarga Wijaya dan diteruskan oleh beberapa rekan militer yang mengenal Arga. Tidak sampai satu jam, arah komentar mulai berubah.
Maya mengirim pesan ke Nadira.
Oke. Kali ini suamimu lumayan.
Nadira menatap kata suamimu lama sekali.
Belum tentu, ia ingin membalas.
Tapi ia tidak mengetik apa pun.
Malam itu, setelah sif selesai, Nadira keluar dari rumah sakit lewat pintu belakang. Ia sudah meminta Maya menjemput, tapi Maya terjebak liputan kebakaran kecil di Tanah Abang. Fadli juga sedang lembur.
Nadira memesan taksi online.
Saat menunggu di area drop-off yang agak sepi, sebuah mobil hitam berhenti di depannya.
Jendela turun.
Arga duduk di kursi belakang.
"Aku tidak akan memaksa. Tapi Maya minta aku jemput karena dia terjebak liputan."
Nadira mengecek ponsel. Benar. Ada pesan Maya.
Maaf, Dir. Aku kirim Arga. Jangan bunuh aku. Dia pilihan paling aman sekarang.
Nadira menghela napas.
Arga membuka pintu dari dalam. "Kalau kamu tetap mau taksi, aku ikuti dari belakang."
"Itu tetap memaksa."
"Itu menjaga jarak sambil memastikan kamu aman."
"Mas selalu bisa membuat kalimat bermasalah terdengar masuk akal."
"Aku belajar dari Bima."
Nadira hampir tertawa, tapi menahan.
Akhirnya ia masuk mobil.
Bima menyetir di depan. "Selamat malam, Dokter."
"Malam, Mas Bima."
Mobil bergerak meninggalkan rumah sakit.
Beberapa menit pertama mereka diam. Jakarta malam penuh lampu dan suara klakson jauh. Nadira bersandar ke kursi, matanya lelah.
Arga tidak langsung bicara.
Itu kemajuan.
Akhirnya Nadira sendiri yang berkata, "Terima kasih untuk klarifikasinya."
"Aku yang membuatmu diseret ke masalah itu."
"Tidak semua salah Mas."
"Tapi sebagian besar iya."
Nadira menoleh. "Mas sekarang hobi menyalahkan diri sendiri?"
"Kamu tidak suka?"
"Aku tidak suka orang mengambil semua ruang. Bahkan ruang untuk marah pun jangan diambil."
Arga menatapnya, lalu mengangguk pelan.
"Baik. Kamu boleh marah pada Vania, Laras, aku, atau semua orang. Aku tidak akan merebut porsi."
Bima di depan tampak ingin mencatat kalimat itu.
Nadira melihat ke luar jendela. "Aku marah pada diriku juga."
"Kenapa?"
"Karena aku masih bisa duduk di mobil ini."
Arga diam.
"Karena saat akun gosip itu menyerangku, aku menunggu Mas melakukan sesuatu. Padahal aku selalu bilang tidak butuh Mas."
"Butuh bantuan bukan berarti lemah."
"Aku tahu. Aku sering bilang itu pada pasien. Tapi sulit diterapkan pada diri sendiri."
Arga menatap profil wajahnya. Lampu jalan jatuh di pipi Nadira, membuat lelahnya terlihat jelas.
"Nadira."
"Hm?"
"Aku senang kamu masih bisa duduk di mobil ini. Tapi aku tidak akan menganggap itu sebagai tanda kamu sudah pulang."
Nadira menoleh.
Arga melanjutkan, "Aku mengerti. Tidak ada jalan pulang yang mudah."
Kalimat itu membuat Nadira terdiam.
Di depan, Bima pura-pura fokus pada jalan. Ia tahu kapan harus tidak ada.
Mobil tiba di apartemen. Arga turun lebih dulu, tapi tidak membuka pintu Nadira seperti pria sok romantis. Ia hanya berdiri di sisi mobil, menunggu.
Nadira keluar sendiri.
"Terima kasih sudah antar."
"Sama-sama."
"Mas pulang. Jangan naik."
"Aku tidak akan naik."
Nadira tampak sedikit terkejut.
Arga tersenyum tipis. "Aku bilang aku belajar mengetuk. Belum waktunya mengetuk malam ini."
Nadira menatapnya lama.
"Selamat malam, Mas Arga."
Itu pertama kalinya dalam beberapa hari ia memanggilnya dengan "Mas" tanpa nada tajam.
Arga merasa kalimat itu terlalu kecil untuk membuatnya sebahagia ini, tapi begitulah kenyataannya.
"Selamat malam, Nadira."
Ia menunggu sampai Nadira masuk lobi dan menghilang di lift.
Bima turun dari mobil. "Komandan tidak naik?"
"Tidak."
"Kemajuan luar biasa."
"Kau terdengar bangga."
"Saya memang bangga. Biasanya Komandan kalau melihat target langsung serbu."
Arga menatap lobi apartemen.
"Dia bukan target."
Bima tersenyum kecil.
"Nah. Itu kemajuan paling penting."
Di lantai atas, Nadira masuk apartemen dan bersandar di pintu.
Ia membuka ponsel. Pernyataan Arga masih menjadi pembicaraan. Banyak komentar mulai meminta maaf, sebagian tetap jahat, tapi tidak lagi searah.
Nadira menaruh ponsel di meja.
Ia berjalan ke jendela. Dari atas, ia bisa melihat mobil Arga masih berhenti di bawah beberapa detik sebelum akhirnya pergi.
Nadira menyentuh kaca.
Tidak ada jalan pulang yang mudah.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak sepenuhnya menutup kemungkinan bahwa suatu hari jalan itu mungkin ada.