NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.

Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.

Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Simbol Perlawanan

"Dasar bocah tidak berguna! Menyusupkan ulat saja sampai ketahuan!"

Suara Hardiman menggelegar dari balik pintu kayu jati ruang kerjanya yang tertutup rapat. Pria paruh baya itu mondar-mandir di atas karpet Persia, napasnya memburu menahan amarah yang mendidih. Di luar sana, Rian pasti tengah dihajar habis-habisan oleh Supri. Namun, bagi Hardiman, rasa sakit keponakannya itu tidak ada artinya dibanding pukulan memalukan yang baru saja meremukkan gengsi keluarga mereka di pasar induk kota kabupaten.

Cerita tentang putra Supri yang gagal menyabotase dagangan Seroja telah menyebar liar menjadi bahan tertawaan kuli panggul dan sopir truk. Gema cemoohan itu menjalar cepat melintasi lorong-lorong aspal, masuk menyelinap lewat pintu belakang kantor dinas pertanian tempat Hardiman bernaung. Mantan istrinya, Siti, beserta anak perempuannya yang dibuang, kini menjadi simbol perlawanan tak terkalahkan di mata rakyat kecil kecamatan. Seroja berhasil meruntuhkan wibawa Supri tanpa sedikit pun mengotori tangannya dengan lumpur.

Hardiman meninju permukaan meja kerja mahoninya. "Anak sialan! Dari mana dia belajar kelicikan seperti itu? Dulu dia cuma tahu menangis memeluk kaki ibunya!"

Pintu ganda ruang kerja terbuka tanpa ketukan.

Ningrum melangkah masuk membawa aura dingin yang langsung menurunkan suhu ruangan. Istri kedua Hardiman itu tidak mengenakan piyama satin seperti biasanya. Ia tampil elegan berbalut kebaya sutra merah marun dan rambut disanggul rapi sempurna. Ningrum baru saja pulang dari pertemuan rutin organisasi persatuan istri pejabat, dan gurat wajahnya menampakkan ketidaksukaan yang amat pekat.

"Kamu pikir ini lucu, Mas?" tegur Ningrum tajam. Wanita awal tiga puluhan itu tidak berteriak, namun suaranya menyayat setajam belati.

Hardiman memutar tubuhnya, menelan ludah berhadapan dengan murka putri seorang menteri. "Itu ulah Supri dan anaknya, Rum. Aku sudah bilang agar mereka membereskan urusan ini secepatnya. Rian terlalu bodoh."

"Dan kebodohan mereka menyeret namaku masuk ke dalam kubangan gosip rendahan ini!" potong Ningrum cepat. Matanya menyipit, menusuk langsung ke ulu hati suaminya. "Istri Kepala Dinas Pekerjaan Umum baru saja bertanya padaku sambil tersenyum sinis. Dia bertanya apakah benar keluarga kita menyuruh preman menaruh ulat ke dalam tomat janda miskin dari pinggir hutan. Kamu tahu betapa memalukannya pertanyaan itu di depan meja jamuan?"

Hardiman terdiam kaku. Lidahnya kelu. Reputasi adalah mata uang termahal bagi keluarga Ningrum. Membiarkan gosip kampungan merusak nama baiknya setara dengan menantang murka ayah mertuanya di ibu kota.

Ningrum melangkah pelan mendekati suaminya. Ia memegang pinggiran meja mahoni itu, mengamati Hardiman dengan raut wajah merendahkan. "Kamu ini pejabat dinas, Mas. Berhenti menggunakan cara-cara preman pasar yang kasar dan kotor. Menyiram minyak tanah, melepas ulat, menagih utang palsu... itu semua taktik murahan yang berisiko besar tertangkap tangan."

Ningrum menarik napas panjang, merapikan selendang sutranya. "Seroja itu bukan gadis desa bodoh yang bisa kamu gertak pakai senjata tajam. Dia cerdas. Dia membalikkan jebakan Rian dengan teliti di depan petugas. Dia tahu cara menggunakan logika hukum dan kekuatan opini massa."

"Lalu aku harus bagaimana, Rum? Membiarkan mereka terus membesarkan lahan dan menjadi saudagar baru di kabupaten ini?" bantah Hardiman frustrasi.

"Gunakan otakmu, bukan otot premanmu," desis Ningrum dingin. "Kita ini pemerintah. Kita punya kuasa atas stempel, izin usaha, dan jalur birokrasi. Seroja boleh saja hebat menanam tomat. Tapi tanpa tanda tangan izin distribusi resmi dari kecamatan dan kabupaten, sayurannya itu hanya akan menjadi sampah busuk di gudangnya. Cekik perizinan Koperasi Tani Mandiri miliknya secara diam-diam. Buat dia lumpuh di atas meja kertas."

Hardiman tertegun. Nasihat istrinya menampar telak. Selama ini ia terlalu fokus menggunakan kekuatan fisik Supri karena terbiasa memanipulasi penduduk desa yang buta huruf. Ia lupa bahwa dirinya memiliki senjata birokrasi yang jauh lebih mematikan.

"Dan untuk urusan memperbaiki nama baik keluarga kita di mata masyarakat kecamatan," lanjut Ningrum tenang, membalikkan badannya menghadap pintu. "Aku yang akan turun tangan langsung. Aku muak melihat kalian dipermainkan oleh anak ingusan."

Hardiman mengernyitkan dahi. "Kamu mau apa turun ke kecamatan gersang itu, Rum? Jalanannya berdebu."

"Aku akan mengadakan kegiatan amal pembagian sembako atas nama organisasi istri pejabat," jawab Ningrum santai namun mematikan. "Aku akan berdiri di tengah-tengah pasar kecamatan mereka. Membagikan beras pada rakyat kecil. Aku ingin melihat sendiri, seperti apa rupa gadis bernama Seroja itu dari jarak dekat. Sekaligus menunjukkan padanya, siapa yang memegang kendali nyata di wilayah ini."

Ningrum melangkah keluar dari ruang kerja Hardiman. Suara hak sepatu tingginya berderit pelan melintasi lorong rumah dinas yang sepi. Wanita itu masuk ke dalam kamar tidur utama, menutup pintunya rapat.

Ia berdiri di depan cermin rias berbingkai jati ukir. Ningrum menatap pantulan wajah cantiknya yang terawat mewah, menyentuh kalung emas bertahtakan berlian kecil yang melingkar di leher jenjangnya. Perhiasan mahal ini adalah simbol kasta dan kekuasaan yang ia bawa sejak lahir.

Seroja boleh saja merasa menang karena berhasil meraup uang dari tomat dan lolos dari sabotase ulat. Tapi Ningrum tahu, pertarungan kasta sosial adalah arena yang berbeda. Di arena ini, pakaian lusuh dan keringat petani tidak akan pernah memenangkan simpati melawan senyum anggun dan bantuan sembako dari seorang istri pejabat.

1
watno antonio
yang banyak punya thor
Miaaaoowww😸
tumben kk ceritanya update 1 biasanya banyak😘😘😘, sehat2 y kk authorrrr
vania larasati
lanjut
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
hadir thor
INeeTha: Makasih kaka🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!