NovelToon NovelToon
Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Permen

Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.

Tapi takdir berkata lain.

Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.

Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepuluh

Pintu Paviliun Timur ditutup.

Bukan bunyi "klik" biasa saat pintu ditutup sehari-hari, melainkan Mama Zhang yang datang sendiri membawa orang-orang untuk menguncinya. Gembok dipasang dari luar, palang pintu dikaitkan, bahkan dua orang pelayan tua ditinggalkan untuk berjaga di depan gerbang. Di permukaan, alasannya adalah "agar Nyonya bisa beristirahat dengan tenang", tetapi kenyataannya, itu tak ubahnya tahanan rumah.

Qingxing mengintip dari celah pintu. Saat kembali, wajahnya sudah pucat pasi.

"Nyonya... pintunya dikunci dari luar."

"Mm." Lin Xiao duduk di dekat jendela sambil membolak-balik buku catatan keuangan tanpa mengangkat kepala. "Kalau dikunci, biarkan saja. Justru lebih tenang."

Qingxing mondar-mandir dengan gelisah.

"Nyonya, kenapa Anda sama sekali tidak cemas? Nyonya Tua sudah mengurung Anda. Selir Zhou pasti sedang diam-diam menertawakan kita. Kalau Marquis tahu..."

"Kalau Marquis tahu pun, dia tidak akan datang." Lin Xiao membalik satu halaman buku lagi. "Dia sedang berada di tempat Selir Zhou sekarang. Mungkin sedang menggenggam tangannya dan menghiburnya. Mana sempat memedulikan istri sah yang sedang dikurung ini?"

Qingxing langsung terdiam.

Lin Xiao menutup buku catatan itu dan meletakkannya di atas meja. Buku itu adalah buku lama yang ia minta Qingxing "pinjam" dari bagian keuangan. Di dalamnya tercatat pengeluaran Paviliun Timur selama setengah tahun terakhir.

Setelah membacanya selama setengah jam, ia menemukan sesuatu yang menarik.

Jatah Paviliun Timur sebenarnya hanya lima tael perak setiap bulan, tetapi catatan pengeluaran menunjukkan bahwa setiap bulan selalu ada kelebihan tujuh atau delapan tael. Bagian yang melebihi anggaran itu dicatat sebagai "pembelian pakaian baru" dan "perbaikan rumah".

Masalahnya, selama setengah tahun terakhir, Paviliun Timur sama sekali tidak membeli pakaian baru, bahkan atap yang bocor pun tak pernah diperbaiki.

Lalu, ke mana perginya uang itu?

Ia tidak mengatakan apa-apa. Setelah menyimpan buku catatan, ia berdiri dan meregangkan tubuh.

"Qingxing, apa masih ada makanan di dapur kecil?"

"Masih ada setengah ayam sisa kemarin dan beberapa sayuran..."

"Masak saja. Siang nanti kita makan mi kuah ayam."

Qingxing tercengang.

"Nyonya... dalam keadaan seperti ini, Anda masih sempat memikirkan makan mi?"

"Kalau tidak makan mi, memangnya mau apa?" Lin Xiao memiringkan kepalanya menatapnya. "Menangis?"

Qingxing membayangkan seperti apa wajah Nyonya-nya saat menangis. Semakin dipikirkan, semakin terasa aneh. Akhirnya, ia hanya bisa menurut dan pergi ke dapur.

Lin Xiao duduk sendirian di dalam kamar beberapa saat, lalu mengeluarkan kembali kertas yang penuh dengan nama orang.

Di bawah tulisan "orang-orang Nyonya Tua", ia menambahkan satu baris:

Mama Zhang datang sendiri mengunci pintu. Sikap Nyonya Tua: untuk sementara menekan keadaan, tetapi belum jelas memihak siapa. Lalu, di bawah tulisan "orang-orang Selir Zhou", ia menambahkan:

Tabib He. Belum pasti apakah bersekongkol, tetapi dasar diagnosisnya sangat lemah. Setelah meletakkan kuas, ia mulai memikirkan satu hal.

Mengapa hari ini Nyonya Tua tidak langsung menghukumnya?

Di permukaan, alasannya adalah karena pertanyaan-pertanyaannya membuat Tabib He tak mampu menjawab, sehingga tuduhan "meracuni" berubah menjadi perkara yang penuh tanda tanya.

Namun, jika dipikir lebih dalam, apabila Nyonya Tua benar-benar yakin Selir Zhou telah diracuni, sebenarnya ia tak perlu peduli apakah Tabib He bisa menjelaskan semuanya atau tidak. Ia cukup menggunakan hukuman keluarga.

Nyonya Tua adalah penguasa tertinggi di kediaman Marquis. Ia tidak membutuhkan "bukti yang tak terbantahkan" untuk menghukum menantu perempuan yang tidak disukainya.

Fakta bahwa ia tidak menghukum berarti satu hal:

Ia tidak percaya.

Setidaknya, tidak sepenuhnya percaya.

Lalu muncul pertanyaan lain:

Jika Nyonya Tua tidak percaya pada Selir Zhou, mengapa ia tetap mengurungnya?

Lin Xiao bersandar di kursi sambil menatap balok kayu di langit-langit. Setelah berpikir sejenak, ia tiba-tiba tersenyum.

Karena Nyonya Tua membutuhkan sebuah "jawaban".

Selir Zhou menangis dan membuat keributan di Paviliun Barat. Marquis pasti akan ikut campur jika mendengarnya. Jika Nyonya Tua tidak melakukan apa pun, ia tidak akan bisa memberi penjelasan kepada putranya.

Jadi, ia memilih jalan tengah.

Lin Xiao dikurung.

Selir Zhou juga dilarang keluar.

Kedua belah pihak ditekan sekaligus agar tidak membuat keributan.

Ini hanyalah solusi sementara.

Namun, solusi sementara tidak akan bertahan lama.

Dalam beberapa hari ke depan, Nyonya Tua harus mencari tahu dua hal:

Pertama, apakah Selir Zhou benar-benar diracuni.

Kedua, jika memang benar, siapa pelakunya.

Sementara itu, Lin Xiao kini terkurung di Paviliun Timur. Ia tak bisa keluar, tak bisa mencari informasi, dan praktis terputus dari seluruh sumber berita.

Langkah ini cukup cerdas.

Sayangnya, Nyonya Tua tidak tahu bahwa kemampuan terbaik Lin Xiao justru adalah membuat kesimpulan di tengah minimnya informasi.

Ia berdiri dan berjalan menuju lemari, mengeluarkan mangkuk obat penenang yang telah disegel, lalu meletakkannya di atas meja untuk diamati.

Warna obat itu lebih gelap dibanding kemarin. Endapan putih di dasar mangkuk pun terlihat semakin jelas.

Ia mencelupkan jarinya sedikit, lalu mengecapnya dengan ujung lidah.

Pahit.

Sangat pahit.

Begitu pahit hingga seluruh wajahnya berkerut.

Namun, di balik rasa pahit itu, ia menangkap sedikit rasa manis yang terasa begitu familiar.

Persis sama seperti aroma yang ia cium beberapa hari lalu.

Lin Xiao meletakkan mangkuk dan menyeka tangannya.

Obat ini adalah "obat penenang" yang dikirim oleh Nyonya Tua.

Tetapi, ada sesuatu yang ditambahkan ke dalamnya.

Dan apakah benda itu sama dengan "serbuk dingin" yang konon dimasukkan ke makanan Selir Zhou?

Ia tidak tahu.

Tetapi ia tahu satu hal.

Jika obat ini bermasalah, berarti orang yang meracuni bukan hanya bergerak di Paviliun Barat, melainkan juga di Paviliun Timur.

Jika kedua tempat sama-sama bermasalah, maka pelaku sebenarnya mungkin bukan Selir Zhou yang sedang berpura-pura, dan juga bukan Shen Qingyue yang dituduh mencelakai orang.

Melainkan orang ketiga.

Seseorang yang sedang mencelakai kedua belah pihak sekaligus.

Lin Xiao mengembalikan mangkuk itu ke lemari dan menepuk debu di tangannya.

Tiba-tiba, ia teringat sesuatu.

Selama tiga tahun sejak Shen Qingyue menikah ke kediaman Marquis, tubuhnya selalu lemah. Ia minum obat sepanjang tahun dan hampir selalu terbaring di tempat tidur.

Nyonya Tua menyebutnya "iri hati dan mandul".

Marquis menyebutnya "berwatak muram".

Semua orang menganggap kelemahannya berasal dari sifat buruknya sendiri.

Namun...

Bagaimana jika tubuh lemahnya bukan bawaan?

Bagaimana jika selama tiga tahun ini ia terus meminum sesuatu yang perlahan-lahan menggerogoti kesehatannya?

Sebuah bayangan melintas di benak Lin Xiao.

Dalam ingatan Shen Qingyue, gadis itu duduk di dekat jendela sambil memegang mangkuk obat. Uap putih mengepul dari permukaannya. Dengan wajah berkerut, ia meneguknya sedikit demi sedikit, lalu meletakkan mangkuk itu dan kembali berbaring, memejamkan mata sambil menunggu serangan sakit kepala berikutnya.

Ia meminumnya selama tiga tahun.

Dan semua orang hanya mengira tubuhnya memang lemah.

Lin Xiao berdiri di depan lemari, memegang pintunya dalam diam untuk waktu yang lama.

Lalu ia menutupnya, berjalan ke meja tulis, dan menuliskan beberapa kata:

Langkah pertama: cari tahu apa yang dicampurkan ke dalam obat ini.

Ia tidak membutuhkan tabib.

Ia juga tidak membutuhkan alat pemeriksaan.

Yang ia butuhkan hanyalah seseorang.

Seseorang yang telah lama tinggal di kediaman Marquis, mengenal banyak obat, mengetahui banyak hal, tetapi tak pernah diperhatikan.

Orang itu ada di Paviliun Timur.

"Qingxing."

"Saya di sini!"

Qingxing berlari masuk sambil membawa semangkuk mi kuah ayam.

"Nyonya memanggil saya?"

"Bukan kau." Lin Xiao menerima mangkuk itu dan menyantap sesuap mi. "Pergi panggil Xiao He."

Qingxing tertegun.

"Xiao He? Untuk apa memanggilnya?"

"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan."

1
Trie Broto
critanya penuh teka-teki...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!