Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Sabtu sore, hujan turun tipis di Jakarta.
Maya berdiri di depan cermin kamar, hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Ia memakai tunik panjang warna biru pucat dengan potongan sederhana, kainnya jatuh lembut tanpa menekan perut. Jilbabnya senada, disematkan rapi oleh Wati. Di pergelangan tangannya ada jam kecil yang dipilih Raka, tipis dan tidak mencolok, tapi Maya tahu harganya mungkin cukup untuk membayar sewa rumah setahun.
“Bu cantik,” kata Wati.
Maya tersenyum canggung. “Mbak Wati jangan berlebihan.”
“Saya serius.”
Maya melihat wajahnya lagi. Kerutan halus di sudut mata tetap ada. Kulitnya tidak sekencang perempuan muda. Tangannya masih kasar. Tapi untuk pertama kalinya setelah lama, ia tidak terlihat seperti orang yang selalu terburu-buru bekerja.
Ia terlihat seperti perempuan yang punya waktu untuk bernapas.
Pintu kamar diketuk.
Raka masuk setelah Maya menjawab.
Ia berhenti.
Maya langsung tegang. “Aneh?”
“Tidak.”
“Terlalu mahal?”
“Tidak.”
“Terlalu muda untuk saya?”
Raka menatapnya. “Kamu ingin aku menjawab berapa pertanyaan?”
Maya menunduk, malu.
Raka mendekat. Di tangannya ada kotak beludru kecil.
“Pakai ini.”
Maya mundur sedikit. “Apa itu?”
“Anting.”
“Saya tidak perlu.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa dibeli?”
“Karena aku ingin melihatnya kamu pakai.”
Jawaban itu terlalu langsung.
Maya kehilangan kata.
Anting itu sederhana, mutiara kecil dengan pengait emas putih. Tidak mencolok. Raka seperti mulai memahami batas malu Maya.
“Mas Raka,” katanya pelan, “kalau saya terbiasa menerima semua ini, nanti saya bisa jadi orang yang tidak tahu diri.”
Raka membuka kotak itu.
“Orang yang tidak tahu diri tidak akan khawatir dirinya tidak tahu diri.”
Ia mengangkat anting, lalu berhenti.
“Boleh?”
Maya menatapnya melalui cermin.
Jarak mereka dekat. Terlalu dekat. Tangannya besar, tapi gerakannya saat memasangkan anting sangat hati-hati. Ujung jarinya menyentuh daun telinga Maya, membuat napasnya tertahan.
Raka memasang satu, lalu satu lagi.
“Selesai.”
Maya menyentuh mutiara kecil itu.
“Terima kasih.”
“Jangan menunduk terus di sana.”
“Saya tidak menunduk terus.”
“Kamu menunduk bahkan saat tidak bersalah.”
Maya ingin membantah, tapi tidak bisa.
Raka mengambil tas kecil yang sudah disiapkan Wati dan menyerahkannya.
“Bima menunggu di luar ballroom. Sari akan dijemput dari rumahnya. Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, telepon aku.”
“Saya bukan anak kecil.”
“Aku tahu. Anak kecil lebih mudah diatur.”
Maya menatapnya tajam.
Raka tampak puas karena berhasil membuatnya kesal.
Hotel Kartika tidak semewah hotel Raka, tapi cukup mahal untuk membuat banyak orang merasa penting. Reuni itu diadakan di ballroom kecil lantai dua. Di pintu masuk, poster bertuliskan `Temu Kangen Alumni SMA 88` berdiri dengan foto lama angkatan mereka.
Maya berhenti sebentar.
Di foto itu, ia masih tujuh belas tahun. Rambutnya dikepang, senyumnya malu, seragamnya paling sederhana. Di sampingnya ada Ratna muda yang berdiri percaya diri, juga Yudha Pratama, ketua kelas yang dulu sering membantunya membawa buku.
“May,” bisik Sari di sampingnya, “kalau kamu ingin pulang, kita pulang.”
Maya menatap pintu ballroom.
Dari dalam terdengar tawa.
Ia menarik napas.
“Tidak. Kita masuk.”
Begitu mereka memasuki ruangan, beberapa kepala menoleh. Suara obrolan tidak langsung berhenti, tapi melambat. Mata-mata itu bergerak dari wajah Maya ke bajunya, ke tasnya, ke antingnya, lalu kembali ke wajahnya.
Sari meremas tangan Maya.
“Maya?” seorang perempuan berkata ragu.
Maya tersenyum sopan. “Halo, Lilis.”
Lilis menutup mulut. “Ya ampun, benar Maya!”
Beberapa orang mendekat. Ada yang benar-benar senang, ada yang sekadar penasaran. Mereka memuji penampilannya, menanyakan kabar, bertanya tinggal di mana sekarang. Maya menjawab pendek-pendek.
Lalu Ratna muncul.
Bu Ratna malam itu memakai kebaya merah marun dan perhiasan besar. Ia berjalan dengan senyum yang terlalu manis.
“Maya. Akhirnya datang juga.”
Maya menatapnya. “Kamu yang mengundang berkali-kali.”
Senyum Ratna sedikit kaku.
“Aku cuma takut kamu tidak nyaman. Bagaimanapun, teman-teman di sini banyak yang… ya, kehidupannya sudah mapan.”
Sari langsung hendak bicara, tapi Maya menahannya.
“Aku nyaman.”
Ratna melihat sekeliling, memastikan cukup banyak orang mendengar.
“Bagus. Aku senang. Tadinya aku khawatir kamu minder. Kamu kan lama tidak muncul. Terakhir dengar, kamu kerja di hotel sebagai cleaning service.”
Beberapa orang pura-pura sibuk mengambil minum.
Maya merasakan wajahnya panas, tapi ia tidak menunduk.
“Benar. Aku pernah kerja sebagai cleaning service.”
Ratna tampak tidak menyangka Maya mengaku begitu tenang.
“Oh. Kamu tidak keberatan aku menyebutnya?”
“Kenapa harus keberatan? Itu pekerjaan halal.”
Sari tersenyum lebar.
Ratna tertawa kecil. “Tentu, tentu. Aku tidak merendahkan. Hanya saja hidup memang lucu, ya. Dulu kamu murid paling pintar, sekarang…”
“Sekarang apa?” tanya Maya.
Ratna menatapnya. “Sekarang kamu beruntung.”
Kata itu tajam.
Beruntung. Seolah seluruh hidup Maya hanya lotre yang tiba-tiba menang karena menempel pada laki-laki kaya.
Maya belum menjawab ketika layar besar di sudut ruangan menyala. Beberapa foto lama sekolah muncul. Semua orang tertawa melihat seragam putih abu-abu dan gaya rambut zaman dulu.
Lalu foto berganti menjadi video.
Maya langsung kaku.
Itu video dirinya di hotel. Ia sedang mengepel lantai lobi, memakai seragam cleaning service, rambut tertutup ciput, wajah lelah. Kamera jelas diambil diam-diam.
Suara bisik-bisik memenuhi ruangan.
Sari terkejut. “Ratna!”
Ratna memasang wajah pura-pura kaget. “Loh, siapa yang putar ini? Aduh, panitia bagaimana sih?”
Tapi matanya penuh kepuasan.
Di layar, Maya membungkuk membersihkan tumpahan kopi. Seorang tamu melewati tanpa melihatnya. Video itu diperbesar, seolah ingin memastikan semua orang melihat betapa kecil dan lelahnya ia.
Dada Maya sesak.
Tangannya dingin.
Ia tahu pekerjaan itu halal. Ia tahu ia tidak mencuri. Tapi melihat dirinya dipajang sebagai bahan tontonan tetap menyakitkan. Bukan karena malu bekerja, melainkan karena orang-orang itu sengaja menjadikannya luka.
“Kasihan ya,” seseorang berbisik.
“Tapi sekarang bisa menikah dengan Raka Wijaya. Nasib orang siapa tahu.”
“Kira-kira bagaimana kenalnya?”
Bisik-bisik itu menusuk satu per satu.
Sari maju hendak mematikan layar, tapi seorang panitia kebingungan mencari remote.
Maya berdiri diam.
Ia ingin pergi.
Sangat ingin.
Namun kalimat Raka teringat.
Kamu menunduk bahkan saat tidak bersalah.
Maya mengangkat wajah.
“Biarkan.”
Sari berhenti. “May?”
Maya menatap layar. Dirinya di video terlihat kurus, lelah, dan sendirian. Ia ingat hari itu. Ia baru selesai shift malam, lalu langsung bekerja lagi karena Dimas meminta uang tambahan untuk ulang tahun Rafi.
Perempuan di layar itu bukan aib.
Perempuan itu bertahan.
Maya berbalik menghadap teman-temannya.
“Iya, itu aku.”
Ruangan perlahan sunyi.
“Aku membersihkan kamar hotel. Aku mengepel lantai. Aku mencuci toilet. Aku melakukan itu karena aku harus makan dan membayar kebutuhan keluarga. Kalau ada yang merasa pekerjaan itu lucu, mungkin kalian belum pernah benar-benar takut tidak bisa membeli beras.”
Ratna tertawa kecil. “Maya, jangan terlalu sensitif. Ini cuma nostalgia.”
“Nostalgia sekolah kenapa memakai video pekerjaanku?”
Ratna terdiam.
Maya melanjutkan, “Dulu aku malu karena miskin. Sekarang aku sadar, yang memalukan bukan miskin. Yang memalukan adalah sengaja mempermalukan orang lain untuk merasa lebih tinggi.”
Beberapa orang menunduk.
Ratna menggenggam gelasnya lebih kuat.
“Kamu berubah setelah menikah dengan orang kaya.”
“Mungkin,” jawab Maya. “Atau mungkin aku hanya baru punya tenaga untuk menjawab.”
Pintu ballroom terbuka.
Semua orang menoleh.
Raka berdiri di sana.
Jas hitam, wajah dingin, dan aura yang langsung membuat ruangan kehilangan udara. Bima berdiri di belakangnya.
Maya terkejut.
“Mas Raka…”
Raka berjalan masuk tanpa melihat siapa pun selain Maya. Ia berhenti di sampingnya, lalu menatap layar yang masih menampilkan video.
Matanya menggelap.
“Siapa yang memutar ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Ratna mencoba tersenyum. “Tuan Raka, ini hanya acara alumni. Mungkin ada salah teknis.”
Raka menatapnya.
“Salah teknis yang sangat spesifik.”
Wajah Ratna memucat.
Raka mengambil remote dari tangan panitia, mematikan layar, lalu menghadap semua orang.
“Perempuan di video itu bekerja dengan jujur. Dia tidak mencuri, tidak menipu, tidak menjual keluarganya demi proyek. Kalau ada yang merasa berhak menertawakannya, silakan tertawa sekarang. Saya ingin melihat wajahnya.”
Ruangan membeku.
Maya menatap Raka.
Ia ingin menghentikannya, tapi kata-kata itu sudah menutup semua mulut.
Yudha Pratama, yang sejak tadi berdiri di sisi lain ruangan, maju perlahan.
“Maya,” katanya lirih, “maaf. Aku tidak tahu mereka akan memutar video itu.”
Raka menoleh kepadanya.
Maya melihat perubahan kecil di wajah Raka.
“Kamu siapa?” tanya Raka.
Yudha menatapnya, lalu menjawab dengan sopan, “Teman lama Maya.”
Udara yang tadi sudah dingin terasa turun beberapa derajat lagi.
Maya segera berkata, “Mas Raka, ini Yudha. Dulu satu kelas.”
Raka menatap Yudha dari kepala sampai kaki.
Yudha tidak mundur, tapi wajahnya tampak tegang.
Ratna, meski pucat, masih sempat menangkap kesempatan.
“Oh iya, Yudha dulu dekat sekali dengan Maya. Bahkan sampai sekarang sepertinya masih perhatian.”
Maya menoleh tajam. “Ratna.”
Raka tersenyum tipis.
Senyum itu membuat Bima di belakangnya menunduk lebih dalam.
“Begitu?”
Yudha membuka mulut, “Tuan Raka, saya hanya—”
Raka memotong, “Maya, kita pulang.”
Maya menatapnya. “Saya belum pamit pada Sari.”
Raka diam satu detik. “Pamit.”
Nada itu membuat Maya ingin marah, tapi di depan semua orang ia memilih menarik napas. Ia memeluk Sari sebentar, lalu berjalan keluar bersama Raka.
Di lorong hotel, Maya akhirnya berhenti.
“Mas Raka, kenapa datang? Bukankah saya bilang hanya menjemput?”
“Aku menjemput.”
“Masuk ke ballroom bukan menjemput. Itu menyerbu.”
Raka menatapnya.
“Aku melihat video itu dari kiriman Bima.”
Maya terdiam.
“Aku tidak akan berdiri di luar ketika istriku dipermalukan.”
Kata istriku membuat amarah Maya goyah.
Namun sebelum ia sempat menjawab, ponsel Raka berdering.
Ia melihat layar, wajahnya langsung dingin.
Nama yang muncul hanya satu kata.
Sabrina.
Maya melihatnya juga.
Entah kenapa, dadanya terasa tidak nyaman.
Raka menolak panggilan itu.
Tapi beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.
`Aku sudah di Jakarta. Kita harus bicara sebelum istrimu terlalu percaya diri.`
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍