Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Gaun Merah
Gaun merah itu bukan pilihan Keira.
Stylist yang direkomendasikan Evan membawanya keluar dari ruang gantung dengan wajah seperti baru menemukan senjata rahasia. Kain satin merah gelap jatuh mengikuti tubuh Keira tanpa terlihat vulgar. Bahunya terbuka tipis, pinggangnya tegas, dan belahan roknya hanya cukup untuk membuat langkahnya bebas.
Keira menatap cermin, lalu terdiam.
Ia jarang memakai merah.
Dulu, merah selalu terasa seperti warna milik Celine, warna untuk dilihat, dipuji, dan dijaga agar tidak kusut. Keira lebih sering memilih warna aman, warna yang tidak mengundang komentar.
Malam ini, merah di tubuhnya tidak meminta izin.
"Direktur Keira," kata stylist itu pelan, "ini yang paling cocok."
Naomi tidak ada di sana, tetapi Keira bisa membayangkan teriakannya. Ia hampir tersenyum.
"Terlalu mencolok?"
"Gala bertopeng di Balai Agung Estate memang bukan tempat untuk bersembunyi."
Kalimat itu membuat Keira menatap dirinya lebih lama.
Benar.
Ia tidak datang untuk bersembunyi.
Ia datang sebagai pendiri BC Entertainment, bukan anak Hartono yang baru diingat saat berhasil. Ia datang membawa nama perusahaan yang kemarin masih diremehkan, hari ini sudah dibicarakan. Kalau orang-orang di ruangan itu ingin melihat apakah Keira hanya keberuntungan satu drama, biarkan mereka melihatnya dengan jelas.
Di luar studio, malam Jakarta basah setelah hujan. Jalanan memantulkan lampu gedung seperti kaca pecah. Keira baru saja memasang anting kecil ketika pesan dari Pavilion masuk.
Rey: Sudah makan?
Keira tersenyum sendiri.
Belum. Kamu?
Rey: Sudah. Tidak enak.
Keira: Kenapa?
Rey: Tidak ada Kei.
Keira menggigit bibir agar tidak tersenyum terlalu lebar di depan stylist. Ia mengetik cepat.
Aku pulang secepat mungkin. Jangan tunggu sambil duduk dekat jendela.
Rey: Rey tunggu di sofa.
Keira merasa hatinya melunak.
Ia hampir menulis hati-hati, tetapi batal. Kalimat itu terasa terlalu berat, seolah ada sesuatu yang ia sendiri belum berani sebut.
Saat ia keluar dari studio, sebuah sedan hitam sudah menunggu di depan pintu. Bukan mobil Evan yang biasa. Mobil itu terlalu tenang, terlalu rapi, dengan supir yang berdiri tegak membuka pintu.
Jendela belakang turun setengah.
Di dalam, seorang pria memakai setelan hitam dan topeng perak duduk dengan kaki panjang terlipat rapi. Rambutnya disisir ke belakang, garis rahangnya tajam, dan seluruh tubuhnya memancarkan ketenangan yang membuat orang otomatis menurunkan suara.
Evan berdiri di dekat mobil dengan senyum yang tampak dipaksa.
"Kei," katanya, "kenalkan. Pendampingmu malam ini. Panggil saja Tuan Xiu."
Keira menatap pria itu.
Mata di balik topeng itu gelap dan tenang.
Terlalu tenang.
Ada sesuatu yang aneh menusuk ingatannya. Bukan wajah, karena separuh wajahnya tertutup. Bukan suara, karena ia belum bicara. Lebih seperti cara lelaki itu menoleh, cara jarinya diam di atas lutut, cara seluruh dunia seolah bergerak sedikit lebih pelan di dekatnya.
Ia mengusir pikiran itu.
Rey ada di Pavilion. Rey duduk di kursi roda, mungkin sedang memeluk Rubik sambil cemberut karena ia belum pulang. Pria di depannya berdiri saat pintu mobil dibuka untuk menyambutnya, tinggi, tegap, dan sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang membutuhkan bantuan untuk berjalan.
"Selamat malam, Nona Keira," kata pria itu.
Suaranya rendah.
Keira berkedip sekali.
Mirip.
Tidak. Banyak pria punya suara rendah.
"Selamat malam, Tuan Xiu."
Ia masuk ke mobil dan memilih duduk dengan jarak sopan. Aroma kayu cedar dan sesuatu yang dingin seperti udara setelah hujan memenuhi kabin. Evan duduk di depan, terlalu sibuk dengan ponsel untuk melihat ke belakang. Atau pura-pura sibuk.
Mobil mulai bergerak.
Beberapa menit pertama diisi keheningan. Keira tidak canggung dengan diam, tetapi diam bersama Tuan Xiu terasa berbeda. Ia tidak menekan, namun kehadirannya memenuhi ruang.
"Anda sering menghadiri acara Charles Family Foundation?" tanya Keira akhirnya.
"Tidak sering."
"Tapi Mr. Charles mengatur Anda sebagai pendamping saya."
"Dia suka ikut campur."
Keira hampir tertawa karena jawaban itu terlalu datar. "Anda terdengar tidak keberatan."
"Malam ini tidak."
Ia menoleh sedikit. Cahaya jalan menimpa tepi topengnya.
"Anda tidak nyaman?"
"Saya lebih suka tahu siapa pendamping saya sebelum hari acara."
"Wajar."
"Dan Anda?"
"Saya lebih suka menemani orang yang ingin saya temani."
Keira menatapnya. Kalimat itu terdengar sopan, tetapi terlalu pribadi.
Evan tiba-tiba batuk dari depan. "Macetnya lumayan, ya."
Keira menatap belakang kepala Evan. "Van, kau gugup?"
"Aku? Tidak. Aku hanya warga Jakarta yang trauma macet."
Tuan Xiu tidak bereaksi, tetapi Keira seperti melihat sudut bibirnya bergerak sedikit.
Mobil mendadak mengerem.
Keira yang sedang menoleh ke depan kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terdorong ke samping. Sebelum bahunya membentur pintu, sebuah lengan kuat menahan punggungnya.
Ia jatuh tepat ke dada Tuan Xiu.
Kain jasnya dingin. Telapak tangannya hangat di punggung Keira. Dalam jarak sedekat itu, Keira bisa mendengar napasnya tertahan sekejap.
Jantung Keira ikut kacau.
"Maaf!" Evan berseru terlalu cepat. "Motor nyelip."
Keira segera duduk tegak. "Tidak apa-apa."
Tuan Xiu menarik tangannya perlahan. "Hati-hati."
Satu kata itu membuat telinga Keira panas.
Ia menatap keluar jendela, berusaha mengabaikan rasa familier yang semakin mengganggu. Di kepalanya, bayangan Reynard muncul. Rey bertanya apakah ia sudah makan. Rey menunggu di sofa. Rey yang kalau cemburu akan bilang naskah tidak tampan.
Keira mengeluarkan ponsel.
Rey: Sudah sampai?
Belum. Macet.
Rey: Kei cantik?
Keira hampir tersedak.
Apa maksudmu?
Rey: Mau lihat.
Keira menatap gaun merahnya, lalu mengetik: Nanti saja.
Di sampingnya, Tuan Xiu menoleh ke arah jendela, tetapi dari pantulan kaca Keira melihat matanya turun sebentar ke layar ponselnya.
Ia segera mematikan layar.
Mobil akhirnya tiba di Balai Agung Estate. Lampu-lampu besar menyala di halaman, memantul di lantai marmer basah. Para tamu bertopeng turun dari mobil mewah satu per satu, gaun dan jas mereka berkilau seperti adegan film.
Tuan Xiu keluar lebih dulu. Ia berdiri di sisi pintu dan mengulurkan lengan.
Keira tidak melihatnya.
Ia sudah membuka pintu sisi lain dan turun sendiri, memegang rok agar tidak tersangkut.
Di kursi depan, Evan menunduk, bahunya bergetar.
Tuan Xiu menarik kembali lengannya dengan sangat pelan.
"Ada apa?" tanya Keira saat mereka bertemu di dekat karpet merah.
"Tidak ada."
Suaranya tetap tenang, tetapi Keira merasa ia baru saja melewatkan sesuatu.
Mereka berjalan masuk berdampingan. Begitu melewati pintu utama Balai Agung Estate, ruang pesta terbuka dengan lampu kristal, musik orkestra, dan deretan meja amal yang dipenuhi barang lelang.
Seorang pria tua berambut putih tersenyum lebar dan berjalan menyambut mereka.
"Xiu," katanya dalam bahasa Indonesia beraksen asing yang rapi, "akhirnya kau membawa teman wanita."