NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 : Teratai Hitam dan Bisikan Karang Tua

Uap air yang mendingin dan deru gelombang pecah membasahi dinding-dinding batu ketika Bahari Perkasa berlabuh di celah karang luar Gua Karang Berbisik. Kapal perang itu terombang-ambing perlahan, ditambat erat menggunakan empat utas tali tambang tebal pada ceruk karang mati agar tidak terseret arus bawah laut Selat Lintah Laut yang ganas.

Kapten Wardana beserta prajuritnya bersiap siaga di atas geladak untuk menjaga jalur melarikan diri jika kelompok bajak laut Ki Ranajaya kembali membawa bala bantuan. Sementara itu, Marno, Sari, dan Si Mbah melangkah turun melintasi titian batu licin menuju mulut goa yang gelap.

Udara di dalam goa terasa jauh berbeda dari udara laut di luar. Bau asin garam perlahan memudar, berganti dengan aroma lembap tanah kapur tua, lumut basah, dan wangi manis yang samar namun menusuk hidung—sebuah aroma misterius yang membuat bulu kuduk merinding. Suara gemericik air tawar yang menetes dari stalaktit memantul di dinding-dinding goa, menciptakan gema seperti cicitan ghaib yang tak putus-putus. Inilah alasan mengapa tempat ini dinamai Gua Karang Berbisik.

"Hati-hati menapak, Marno," bisik Sari seraya menyalakan obor bambu kecil dari tasnya. Cahaya jingga meliuk-liuk menerangi celah-celah goa yang sempit. "Batu-batu di sini dilapisi lumut lendir. Satu langkah keliru bisa membuat kita jatuh ke ceruk karang tajam di bawah sana."

Si Mbah berjalan merayap di dinding batu di atas mereka, matanya yang tajam menembus kegelapan. Kera kecil itu sesekali mengeluarkan cicitan peringatan setiap kali melihat bayangan kelelawar raksasa yang bergelantungan di langit-langit goa.

Marno menggenggam gagang martil besinya dengan erat, bersiap menghadapi ancaman apa pun. Langkah kaki mereka membawa mereka menyusuri lorong sempit yang makin menurun ke dasar bumi. Semakin dalam mereka melangkah, bising deru ombak di luar perlahan terkikis, digantikan oleh gema bisikan angin rawa subterranean yang aneh.

Setelah menembus lorong berbatu sepanjang ratusan meter, mereka akhirnya sampai di sebuah telaga bawah tanah yang sangat luas. Di tengah telaga air jernih berkilauan itu, berdiri sebuah bukit karang kecil yang disinari oleh celah cahaya alami dari langit-langit goa. Dan tepat di puncak bukit karang tersebut, mekar sebatang bunga yang amat langka—Teratai Hitam.

Kelopak Bunga Teratai Hitam itu tampak bagaikan terbuat dari kain beludru gelap yang pekat, dengan benang sari berwarna keemasan yang memancarkan cahaya kebiruan lembut. Namun, keindahan bunga itu tidak berdiri tanpa penjaga. Air telaga di sekitar bukit karang mendadak bergolak hebat!

BWOOOOSH!

Dari dalam kedalaman telaga jernih itu, muncul sesosok makhluk raksasa berlapis sisik abu-abu gelap dengan delapan lengan panjang bergerigi yang dipenuhi cengkeraman kait tajam. Makhluk itu adalah Gurita Karang Purba, penjaga alami ekosistem bawah tanah Gua Karang Berbisik. Matanya yang merah menyala menatap tajam ke arah tiga musafir yang berani mengusik kedamaian telaganya.

"Marno, jangan diserang dengan kekerasan secara langsung!" teriak Sari menahan Marno yang hendak melompat maju. "Gurita itu bukan binatang jahat. Ia hanya melindungi tempat bertumbuhnya Teratai Hitam dari jamahan manusia rakus!"

Marno menahan langkahnya, berdiri tegak di tepi telaga. "Lalu bagaimana kita mengambil bunganya tanpa melukainya, Sari?"

Sari berlutut cepat di atas tanah batu basah. Dari tas kulitnya, ia mengeluarkan serbuk Akar Bangle Laut dan Bunga Melati Gunung yang telah dihaluskan. Ia mencampurkan racikan itu dengan beberapa tetes air tawar dari bumbung bambunya, lalu mengaduknya hingga menguarkan aroma wangi yang sangat lembut dan menenangkan—sebuah racikan herbal yang biasa digunakan guru herbalisnya untuk menidurkan satwa liar yang terluka tanpa menyakitinya.

"Si Mbah! Bawa bumbung ini ke atas dahan stalaktit tepat di atas kepala makhluk itu!" perintah Sari seraya menyerahkan bumbung bambu berlubang yang menguarkan asap wangi herbal tersebut.

Si Mbah menangkap bumbung itu dengan gesit. Kera hitam tersebut melompat tinggi memanjat dinding-dinding goa yang terjal, merayap lincah di antara stalaktit rapuh hingga berada tepat di atas kepala Gurita Karang Purba. Dengan gerakan cerdik, Si Mbah membalikkan bumbung tersebut sehingga serbuk wangi herbal melayang turun bagaikan kabut tipis yang menyelimuti telaga.

Gurita raksasa itu mengendus asap wangi herbal yang terhirup masuk ke paru-parunya. Gerakan lengan-lengannya yang tadinya buas menyerang perlahan melemah. Kelopak matanya yang merah menyala mulai memberat, hingga akhirnya makhluk purba itu merebahkan tubuh besarnya kembali ke dasar telaga basah dan tertidur lelap tanpa terlukai sedikit pun.

"Kerja bagus, Mbah!" puji Marno tersenyum lega.

Tanpa membuang waktu, Marno melompati batu-batu penyeberangan di permukaan telaga dengan ketangkasan yang luar biasa. Ia mencapai puncak bukit karang kecil di tengah telaga dan berdiri tepat di hadapan Bunga Teratai Hitam yang mekar sempurna. Dengan hati-hati, menggunakan pisau perak milik Sari agar energi bunga tidak rusak, Marno memotong tangkai Teratai Hitam itu dan menyimpannya di dalam wadah bambu berlapis kain basah yang diolesi minyak khusus penajam khasiat obat.

"Bunga berhasil kita dapatkan, Sari!" seru Marno sambil memegang bumbung bambu penampung teratai dengan penuh rasa syukur.

Namun, sebelum mereka sempat melangkah keluar dari telaga bawah tanah tersebut, gema langkah kaki yang ramai dan gaung tawa parau mendadak terdengar dari arah lorong pintu masuk goa!

"Hahaha! Terima kasih telah membukakan jalan dan memetikkan bunga itu untukku, Tukang Tempa!"

Dari balik lorong goa yang gelap, muncul Ki Ranajaya bersama belasan anak buahnya yang tersisa. Wajah mantan empu itu tampak dipenuhi dendam dan ketakutan yang bercampur menjadi satu. Di tangannya, ia memegang sebuah obor minyak besar dan sebotol bahan peledak mesiu hitam pelabuhan!

"Kau pikir kau bisa kabur dari Selat Lintah Laut begitu saja?" geram Ki Ranajaya dengan mata mendelik murka. "Jika aku tidak bisa memiliki Bunga Teratai Hitam itu untuk dijual kepada pembeli kaya di lautan utara, maka kalian bertiga dan seluruh obat-obatan itu akan tertimbun hidup-hidup di dalam goa ini!"

Ki Ranajaya melemparkan obor minyaknya tepat ke arah tumpukan wadah mesiu yang telah dipasang anak buahnya di celah lorong keluar!

BWOOOOM!

Ledakan dahsyat menggetarkan seluruh Gua Karang Berbisik! Dinding-dinding kapur tua retak hebat, dan ratusan bongkahan batu karang raksasa runtuh dari langit-langit goa, menutupi satu-satunya lorong jalan keluar menuju pantai!

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!