NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Awan

elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Sikap Ibu Mertua

Akta perkawinan itu sudah kembali ke laci ketika suara Ibu Kho terdengar dari ruang makan.

“Iya, sebentar lagi Nan Shin di rumah terus.”

Nan Shin berhenti di ujung tangga.

Ibu Kho sedang mengirim pesan suara ke grup keluarga. Di meja terletak paket HRD yang semalam ia tinggalkan bersama Cheng An.

“Bagus juga,” lanjut Ibu Kho. “Ada yang urus anak-anak dan rumah. Cheng An bisa fokus kerja.”

Pesan terkirim dengan bunyi pendek.

Balasan mulai muncul sebelum Ibu Kho meletakkan ponsel. Satu kerabat mengirim gambar tangan bertepuk. Yang lain menulis bahwa cucu memang lebih baik dijaga ibu sendiri. Sebuah pesan suara bahkan menyebut penghasilan Cheng An akan segera cukup setelah promosi.

Ibu Kho memutar pesan itu tanpa mengecilkan volume.

“Tuh, semua juga pikir ada sisi baiknya.”

“Mereka tahu saya diberhentikan atau Mama hanya bilang saya akan di rumah?”

“Kenapa harus memakai kata diberhentikan? Kedengarannya jelek.”

“Karena itu yang terjadi.”

“Mama menjaga muka keluarga.”

Nan Shin melihat layar ponsel Ibu Kho. Dalam beberapa menit, kehilangan yang belum sanggup ia ceritakan sendiri sudah diubah menjadi kabar menyenangkan untuk seluruh keluarga besar.

“Mama tidak berhak memberi tahu orang lain,” kata Nan Shin.

Ibu Kho menoleh tanpa rasa bersalah. “Mereka tanya kabar promosi Cheng An. Mama sekalian cerita perubahan di rumah.”

“Pekerjaan saya bukan pengumuman tambahan untuk promosi Cheng An.”

“Memangnya harus disembunyikan?”

“Hari terakhir saya belum tiba.”

“Dua minggu lagi juga sama.”

Nan Shin mengambil dokumen dari meja. Salah satu sudutnya terlipat.

“Mama baca?”

“Cuma lihat jumlahnya.”

“Itu dokumen pribadi saya.”

“Kita satu keluarga. Kenapa semua sekarang dibilang pribadi?”

“Karena Mama mengambil dan membacanya tanpa izin.”

Ibu Kho tertawa pendek. “Sejak urusan kerja bermasalah, kamu jadi sensitif sekali.”

Nan Shin merapikan dokumen di dalam map. “Meminta izin sebelum membaca berkas orang bukan sikap sensitif.”

“Mama bukan orang lain.”

“Justru keluarga seharusnya tahu batas tanpa harus diingatkan.”

Ibu Kho mengangkat dagu. “Sekarang semuanya pakai batas.”

“Karena selama ini batas saya tidak pernah dianggap ada.”

Yi Ming dan Yi Chen turun untuk sarapan. Nan Shin tidak melanjutkan pertengkaran di depan mereka. Ia memasukkan dokumen ke tas dan menuangkan susu.

Yi Chen menunjuk piring. “Mama, rotinya dua.”

Nan Shin menambahkan satu potong.

“Nanti kalau Mama di rumah, sarapan bisa lebih lengkap,” kata Ibu Kho. “Nggak perlu buru-buru seperti sekarang.”

Yi Ming menatap ibunya, lalu menunduk.

“Mama masih kerja dua minggu,” ujar Nan Shin.

“Mama bicara nanti.” Ibu Kho mengoles selai pada roti cucunya. “Untung juga kamu berhenti. Di rumah kan bisa urus cucu. Yi Ming nggak perlu antar-jemput, Yi Chen bisa latihan baca tiap sore, makanan Cheng An juga lebih teratur.”

Nan Shin menggenggam gagang teko.

“Saya tidak berhenti. Saya diberhentikan.”

“Hasilnya sama. Kamu ada di rumah.”

“Tidak sama.”

“Untuk orang rumah, sama.”

Kata-kata itu diucapkan di depan anak-anak, di meja yang selama bertahun-tahun dibeli dari gaji Nan Shin juga.

Yi Ming meletakkan roti. “Mama sedih?”

Ibu Kho menyela, “Jangan tanya begitu. Mama kamu cuma perlu menyesuaikan diri.”

Nan Shin menyentuh bahu putranya. “Makan dulu. Kamu harus berangkat.”

Setelah anak-anak pergi, Ibu Kho mengambil buku catatan dan mulai berbicara seolah rapat keluarga sudah dimulai.

“Kalau kamu tidak shift lagi, pagi antar Yi Ming. Setelah itu belanja dan bersihkan rumah. Siang jemput Yi Chen. Sore dampingi mereka belajar.”

Nan Shin menatap daftar di tangannya. “Siapa yang membuat jadwal itu?”

“Mama sedang membantu supaya kamu nggak bingung.”

“Saya belum minta.”

“Lalu kamu mau seharian apa? Tidur?”

“Saya akan mencari pekerjaan.”

Ibu Kho mengangkat wajah. “Di usia kamu? Rumah sakit saja sudah melepas.”

Kalimat itu jatuh tanpa teriakan, tetapi lebih kejam daripada suara keras.

“Saya masih punya STR. Saya punya pengalaman.”

“STR juga harus diperpanjang dan pelatihan butuh biaya, kan?”

“Itu syarat profesi saya.”

“Kalau akhirnya kerja di tempat kecil dengan gaji lebih rendah, apa masih sepadan? Ongkos jalan, makan, lalu anak-anak tetap perlu diantar.”

“Saya belum melamar. Mama sudah menghitung semua alasan agar saya gagal.”

“Mama menghitung kenyataan.”

Nan Shin mengambil buku catatan dari tangannya dan membalik halaman. Tidak ada satu pun jadwal untuk Cheng An. Tidak ada tugas malam untuk Ibu Kho. Semua kotak dari pagi sampai sore berisi namanya.

“Kalau saya dapat wawancara, siapa yang mengantar anak?”

“Atur di luar jadwal mereka.”

“Kalau tempat kerja meminta shift?”

“Cari yang jam kantor.”

“Kalau tidak ada?”

Ibu Kho mengangkat bahu. “Berarti belum waktunya.”

Setiap jalan keluar diberi syarat sampai tidak ada jalan yang tersisa.

“Mama nggak bilang kamu nggak bisa apa-apa. Tapi realistis. Kalau dapat pekerjaan jauh, siapa urus anak? Kalau shift malam lagi, masalah rumah kembali seperti dulu.”

“Masalah rumah bukan karena saya bekerja.”

“Lalu karena siapa?”

“Karena semua orang menganggap waktu saya bisa diambil.”

Ibu Kho menutup buku catatan. “Mama sudah bantu keluarga ini bertahun-tahun. Kalau sekarang kamu lebih banyak di rumah, jangan dibuat seperti hukuman. Banyak perempuan ingin bisa fokus pada anak.”

“Kalau mereka memilihnya.”

“Kamu selalu bicara pilihan. Dalam keluarga tidak semua orang bisa hanya memilih yang enak.”

“Aneh. Kalimat itu selalu ditujukan kepada saya.”

Ibu Kho berdiri. “Karena Cheng An bekerja untuk masa depan keluarga. Anak-anak sekolah. Mama sudah tua. Kamu yang paling mungkin menyesuaikan.”

“Saya juga bekerja untuk masa depan keluarga.”

“Sekarang sudah tidak.”

Nan Shin tidak menjawab.

Sesuatu di dalam dirinya seperti kehilangan suara. Bukan karena tidak ada bantahan, melainkan karena setiap bantahan hanya akan dipakai untuk membuktikan bahwa ia sulit, tidak tahu bersyukur, atau tidak memikirkan keluarga.

Ia mengambil tas dan naik ke lantai atas.

Ibu Kho memanggil dari bawah. “Mama belum selesai bicara.”

Nan Shin tetap berjalan.

Di kamar, ia menyimpan dokumen HRD ke koper kecil berkunci, bukan lagi di laci keluarga. Ia memindahkan foto akta perkawinan, kontrak, dan perhitungan ke penyimpanan daring pribadi.

Pada buku biru, ia menulis dua baris baru: keputusan penghentian diumumkan ke grup keluarga tanpa izin; jadwal penuh waktu dibuat sebelum hari kerja terakhir.

Di kolom bukti, ia mencatat waktu pesan suara dikirim dan memotret daftar yang baru saja dibuat Ibu Kho.

Lalu ia masuk ke kamar mandi.

Pintu dikunci.

Nan Shin membuka keran. Air menghantam lantai keramik dengan suara keras.

Ia berdiri di depan wastafel, menahan bibir agar tidak mengeluarkan suara. Air mata jatuh sebelum sempat dihapus. Bahunya bergerak sekali, lalu sekali lagi.

Dari luar terdengar ketukan kecil.

“Mama?” suara Yi Ming memanggil. Rupanya kendaraan sekolah kembali karena buku tugasnya tertinggal. “Mama lama?”

Nan Shin membasuh wajah dan mencoba menjawab seperti biasa.

“Sebentar.”

“Mama sakit?”

“Nggak. Buku kamu di meja kamar.”

Langkah Yi Ming menjauh.

Nan Shin menyalakan keran lebih besar.

Suara air menutupi tangis yang tidak boleh didengar siapa pun.

1
Lili Inggrid
tetap semangat...
Ika Kirana
terlalu lambat alur ny thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!